
Archie mendampingi Kaivan sebagai seorang sekretaris di ruang meeting siang ini. Dengan begitu cekatan Archie mencatat setiap hal penting yang dibicarakan.
Meeting ini dilakukan dengan beberapa divisi itu membahas hal baik yang terjadi di perusahaan. Kenaikan penjualan yang pesat karena promosi besar-besaran.
Era digital seperti sekarang dimanfaatkan perusahaan Kaivan untuk menggunakan media sosial sebagai sarana promosi sehingga cakupannya lebih luas dan berdampak baik karena banyak menjaring pelanggan baru serta para investor.
Atas prestasi para karyawannya, Kaivan pun memberikan bonus liburan sebagai apresiasi.
"Akhir pekan nanti kita akan ke Bali, ini sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian yang telah kalian lakukan." Ucap Kaivan dengan senyuman yang begitu tipis.
Selain liburan, tentu Kaivan juga memberikan reward khusus berupa uang tunai. Kaivan begitu memanusiakan manusia, makanya banyak yang ingin bekerja dengannya.
"Terima kasih banyak, Pak. Anggota kami pasti sangat senang mendengar kabar ini." Ucap salah satu kepala divisi.
"Sama-sama, kalian boleh pergi." Balas Kaivan.
Semua orang yang hadir dalam meeting itu pun bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Rafi yang menjadi salah satu peserta meeting menatap Archie sebentar sebelum keluar. Pria itu hanya menatap, dan di tatap balik oleh Archie.
Archie sebenarnya sadar hal itu sejak ia memasuki ruangan tadi, namun ia memilih untuk diam saja.
"Apa jadwal saya setelah ini?" Tanya Kaivan pada sekretaris sekaligus istrinya itu.
Archie mengambil iPad dan memeriksa jadwal Kaivan. "Tidak ada, Pak. Jadwal anda kosong setelah ini." Jawab Archie.
"Kalau begitu kita pulang, saya mau mengajak istri saya jalan-jalan." Kata Kaivan sembari merapikan jas nya.
"Saya nggak usah pulang, Pak?" Tanya Archie menunjuk dirinya sendiri.
Mendengar pertanyaan aneh istrinya, Kaivan lantas menoleh. Ie mengambil iPad dari tangan Archie lalu meletakkannya di meja.
"Apa? Coba ulangi." Pinta Kaivan sembari berjalan mendekati istrinya.
Archie mundur, menjauhi suaminya. Langkahnya terhenti ketika tubuhnya sudah mentok jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota siang itu.
Kaivan masih mendekat sampai mereka tidak berjarak, bahkan hidung mancung keduanya sampai bersentuhan karena terlalu dekat.
"Mas, ada cctv." Tegur Archie pelan.
"Biarkan saja, saya nggak peduli. Yang penting Istri saya ini harus di hukum karena sangat nakal." Timpal Kaivan.
Archie memekik wajahnya. "Kalau ada karyawan yang lihat gimana, Mas?" Tanya Archie menaik turunkan alisnya.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Kaivan malah menarik pinggang Archie lalu mencium bibirnya dengan penuh damba.
Archie mendesis pelan, namun tidak bisa dicegah ketika tangannya naik dan melingkar di leher suaminya.
Archie membalas ciuman suaminya dengan ritme yang Kaivan mainkan, walaupun masih sedikit kaku tapi Archie berusaha untuk mengimbanginya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kaivan menyudahi aksinya itu. Ia mengusap bibir Archie yang basah, lalu mengecupnya sebagai penutup.
"Ayo kita pulang, hari ini saya mau ajak kamu jalan-jalan." Ajak Kaivan.
"Ngajak saya? Nggak jadi ngajak istri bapak?" Tanya Archie dengan tatapan usil.
Kaivan menatap Archie sinis, namun beberapa saat kemudian pria itu malah menciumi pipi Archie tanpa henti sampai mengundang gelak tawa dari bibir istrinya.
"Nakal." Bisik Kaivan lalu melangkah keluar dari ruang meeting duluan.
Archie tersenyum, ia pun lekas menyusul tanpa lupa membawa barang-barangnya. Ketika keluar, lagi-lagi Archie di pandang horor oleh para karyawan.
Archie melenggang tanpa peduli pada tatapan orang-orang itu, menurutnya sangat tidak penting.
Archie langsung duduk di meja kerjanya sementara Kaivan pasti masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Archie merapikan barang-barangnya dan juga dokumen-dokumen yang penting. Ketika masih sibuk merapikan, tiba-tiba saja Kaivan keluar dari ruangannya.
"Saya tunggu di lobby." Ucap Kaivan.
Archie hendak protes, ia tidak mau ditunggu di lobby namun Kaivan sudah kembali bicara.
"Lobby atau saya gendong kamu menuju lobby?" Tanya Kaivan membuat Archie langsung diam.
Archie mengangguk, akhirnya ia mengalah dan akan naik mobil suaminya dari loby. Kaivan pergi duluan menggunakan lift, dan Archie akan segera menyusul.
***
Seperti yang Kaivan bilang jika dia ingin mengajak Archie jalan-jalan karena pekerjaannya sudah selesai. Mereka tidak pulang ke rumah dulu dan langsung ke pusat perbelanjaan.
Soal pulang dan di jemput Kaivan di lobby tadi, tentu Archie menjadi pusat perhatian karyawan, namun Archie berusaha tidak peduli.
Archie lebih baik menikmati waktunya bersama sang suami saat ini daripada memikirkan hal tidak penting.
"Kita kan mau ke Bali, jadi kamu boleh beli baju yang menurut kamu cocok di pantai." Ucap Kaivan sembari memberikan kartu miliknya.
"Mas, kartu yang kemarin saja aku jarang pakai, ini kartu apalagi." Bisik Archie.
"Bayarnya pakai ini saja, yang kartu kamu itu untuk kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadi kamu seperti skincare." Balas Kaivan sembari mengusap kepala istrinya.
Usai mengatakan itu, Kaivan pun meninggalkan istrinya dan duduk di sofa yang ada di sana. Kaivan membebaskan istrinya untuk beli baju.
Archie menghela nafas, wanita itu lekas mencari pakaian yang menurutnya akan cocok di pakai ke pantai nanti.
Awalnya Archie kira dia dan Kaivan tidak akan ikut ke pantai, namun ia salah. Tidak mungkin si pemberi hadiah tidak ikut jalan-jalan bersama karyawannya.
Archie membeli baju pantai model bunga-bunga dengan tali kecil yang modelnya diikat di leher sementara tangan, leher dan punggungnya terbuka.
Archie suka baju itu dan akan membelinya, entah Kaivan akan setuju atau tidak yang pasti Archie meragukan itu.
Selain baju itu, Archie juga membeli dress berwarna putih yang ia coba dulu sebelum membelinya.
"Bagus juga, langsung bayar kali ya." Gumam Archie sembari menatap dirinya di cermin.
Archie yang sibuk memilih pakaian, beda dengan Kaivan yang sedang melihat pergerakan saham investasi yang ia lakukan.
Kaivan itu main saham juga, makanya bisa di katakan pendapatannya datang dari berbagai sumber dan bisa menjamin kehidupan istri dan anaknya kelak.
"Silahkan diminum, Pak." Seorang pegawai toko pakaian itu memberikan minuman pada Kaivan sebagai pelayanan karena berbelanja banyak.
Kaivan mengalihkan pandangannya, lalu mengangguk kecil. Ia meraih minuman itu dan hendak menenggaknya namun tiba-tiba tatapannya jatuh pada seseorang.
"Aditya, sedang apa dia." Gumam Kaivan mengerutkan keningnya.
Kaivan melihat Aditya mondar-mandir seperti sedang menunggu seseorang, bahkan sesekali matanya akan melirik jam di pergelangan tangannya.
Kaivan mengangkat bahunya, ia memilih untuk tidak ikut campur masalah keponakannya itu karena ia sudah sangat malas.
"Mas, aku sudah selesai." Archie datang dengan membawa paper bag di tangannya.
"Cepat sekali, kamu beli berapa baju?" Tanya Kaivan.
"Dua, Mas." Jawab Archie, membuat Kaivan geleng-geleng kepala.
Keduanya melangkah keluar dari toko baju itu, dan Kaivan sudah tidak menemukan Aditya di tempat yang ia lihat tadi.
"Sekarang kita kemana?" Tanya Archie.
"Kamu mau kemana? Nonton?" Tawar Kaivan.
"Ayo, aku mau banget nonton bareng mas Kaivan." Ajak Archie penuh semangat.
Kaivan terkekeh, pria itu pun lekas mengajak istrinya untuk ke bioskop dan menonton film. Mumpung Kaivan ada waktu dan sedang tidak sibuk, jadi tidak masalah mengajak istrinya jalan-jalan.
Mereka memutuskan untuk menonton film genre romantis agar semakin terasa kencan dadakannya.
Tidak lupa keduanya membeli popcorn sebagai pelengkap first date mereka setelah menikah.
Kursi Archie dan Kaivan berada paling atas dan paling pojok. Sengaja agar bisa menikmati tontonan nya.
"Berasa orang pacaran kita." Bisik Archie lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Kaivan tersenyum mendengarnya, ia mengusap kepala Archie lalu mencium kening dan puncak kepalanya gemas. Kaivan tidak ragu untuk menunjukkan rasa cintanya pada sang istri.
ENAK AMAT PACARAN SETELAH NIKAH 👀
Bersambung....................................