
Aditya masuk ke dalam kamar setelah makan malam bersama keluarganya. Ketika dirinya baru masuk, ia langsung disambut oleh pemandangan Adinda yang melamun.
Sejak kemarin Adinda terus saja melamun, entah apa yang wanita itu pikirkan namun jujur saja itu membuat Aditya sangat muak sekali.
"Kamu mau sampai kapan sih melamun gitu? Bosen banget aku lihatnya." Ucap Aditya sembari melangkah.
Bukan melangkah mendekati Adinda, melainkan mendekati lemari pakaian.
Adinda tersadar, ia menatap suaminya lalu tersenyum dengan manis.
"Aku nggak apa-apa kok, cuma lagi mikirin nanti anak kita mirip siapa ya." Jawab Dinda dengan begitu antusias.
Aditya tidak menjawab, pria itu malah mengganti pakaiannya bahkan memakai jam tangan. Aditya tampak bersiap-siap seperti ingin pergi.
Dinda tentu saja menyadari itu. Ia bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mendekati suaminya.
"Kak, kamu mau kemana malam-malam?" Tanya Adinda bingung.
"Bukan urusan kamu, aku mau pergi karena bosan punya istri yang kerjaannya terus saja melamun." Jawab Aditya dengan sering sewot.
Adinda terhenyak mendengar ucapan suaminya, ia pun memegang tangan Aditya namun malah di tepis oleh pria itu.
"Kak, maksud kakak apa? Tentu saja ini urusan aku, aku kan istri kamu." Ujar Dinda.
Aditya tidak bicara, pria itu malah melangkah mendekati meja rias lalu memakai parfum di beberapa titik tubuhnya.
"Kak, aku lagi ngomong. Kamu mau kemana?" Tanya Dinda masih terus berbicara.
"BERISIK!!" Bentak Aditya.
"Aku mau kemana saja bukan urusan kamu, lebih baik kamu diam saja." Tambah Aditya dengan sewot.
Mata Adinda berkaca-kaca mendengar suaminya membentaknya seperti ini. Meski bukan pertama kalinya, namun kali ini terasa sangat menyakitkan karena Dinda merasa dia tidak memiliki siapapun lagi.
"Kak, aku melawan keluargaku itu demi membela kamu. Aku membentak mbak Archie dan melontarkan kata-kata tidak pantas atas ucapan kamu yang ternyata hanya sebuah tuduhan." Ucap Dinda.
"Setelah apa yang aku lakukan, begini cara kamu memperlakukan aku?" Tanya Adinda pelan dan tidak menyangka.
Aditya mencengkram kedua sisi bahu istrinya. "Memang apa yang sudah kamu lakukan? Tidak ada!" Jawab Aditya.
"Aku bisa bebas dan kembali ke rumah ini itu karena opa ku yang membebaskan, sementara kamu? Kamu sangat tidak berguna." Tambah pria itu dengan lantang.
Aditya menghempaskan tubuh Adinda sampai terbaring di atas ranjang, lalu pria itu pergi dari kamar sambil membawa ponselnya.
Dinda tidak menyerah, wanita itu bangkit dari duduknya lalu lekas menyusul suaminya keluar dari kamar.
"Kak Adit, kita harus bicara." Celoteh Dinda sambil menyamakan langkah suaminya.
Aditya diam saja, ia enggan mendengarkan ucapan istrinya itu dan masih terus melangkah.
"Kak, kamu dengar aku bicara kan." Dinda kembali memegang tangan suaminya sembari menuruni satu persatu anak tangga.
"Apa sih, lepasin!!" Bentak Aditya menepis tangan istrinya lagi.
"Aku pusing di rumah, aku butuh udara segar untuk merilekskan kepalaku." Ucap Aditya lagi.
"Kalau begitu aku ikut." Pinta Dinda dengan tangan terbuka lebar guna menghadang langkah suaminya.
"Minggir atau aku dorong." Ucap Aditya penuh ancaman.
"Aku nggak mau!!" Sahut Adinda menolak dengan menggelengkan kepalanya.
Aditya berusaha untuk menjauhkan istrinya agar tidak menghalangi jalannya, dan tentu saja Dinda menolak, berusaha memperhatikan posisinya di sana.
"Akhhhh!!!" Adinda jatuh dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya sampai berhenti di lantai bawah.
"DINDA!!!" teriak Aditya terkejut bukan main.
Aditya berlari kecil menuruni anak tangga, lalu menghampiri istrinya yang menangis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Tidak lama kemudian Risa, Anto dan papa Jefry datang usai mendengar teriakan dan tangis kesakitan Adinda.
"Hiks … sakit, perutku sakit banget kak!!!" Ringis Adinda sambil mencengkram pakaiannya.
"Adit, apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?" Tanya Risa sembari memegangi tangan Adinda.
"J-jatuh, Ma." Jawab Aditya gelagapan.
"Sudah-sudah, ayo kita bawa dia ke rumah sakit." Ajak papa Jefry.
Aditya lekas menggendong tubuh istrinya. Ketika Aditya menggendong, saat itulah mereka melihat darah di kaki bahkan sampai menetes di lantai.
"Astaga, darah!! Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit." Ujar Anto lalu lekas keluar duluan dari rumah.
Aditya bersama keluarganya pun lekas membawa Adinda ke rumah sakit. Selama perjalanan, Adinda terus meraung kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sakit, hiks … anakku, Kak. Selamatkan anakku." Pinta Adinda sambil berderai air mata.
Aditya tidak menyahut, pria itu hanya menatap istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Sakit, Ma …Mbak sakit!!" Teriak Adinda tanpa sadar memanggil mama dan mbak nya.
Sementara itu di tempat lain, di rumah orang tua Archie. Mama Gita menjatuhkan gelas berisi teh hangat di tangannya sampai pecah dan berserakan di lantai.
"Astaga, Mama!!" Archie memekik terkejut lalu lekas mengambil beberapa lembar tisu untuk menyeka teh yang membasahi kaki ibunya.
Kebetulan saat ini Kaivan dan Archie sedang main ke rumah orang tua Archie.
"Ma, ada apa?" Tanya papa Dito dengan lembut.
"Perasaan mama nggak enak, Pa. Dinda, mama kepikiran Adinda." Jawab mama Gita sembari mengusap dadanya.
Mendengar itu Archie lantas mendongakkan kepalanya, ia kemudian berdiri lalu memeluk tubuh ibunya erat.
"Mama pasti kepikiran Adinda, bagaimanapun dia adalah anak mama. Tenang ya, Ma. Dia pasti baik-baik saja." Tutur Archie dengan lembut.
"Jangan memikirkan dia, Ma. Dia bukan anak kita lagi." Ujar papa Dito dengan cuek.
Mama Gita melepaskan pelukannya, ia kemudian menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan sang suami.
"Tidak bisa begitu, Pa. Bagaimanapun Adinda tetap anak kita, aku yang melahirkannya." Sahut mama Gita.
"Mama yakin dia sedang dalam masalah, mama bisa merasakannya." Tambah mama Gita dengan begitu yakin.
Kaivan mendekati istrinya, ia kemudian menggenggam tangan Archie yang tiba-tiba saja diam.
"Jangan berpikir buruk, semua pasti baik-baik saja." Ucap Kaivan dengan penuh pengertian.
"Nggak, Mas. Aku merasa jika Adinda sedang tidak baik-baik saja, pasti terjadi sesuatu padanya." Sahut Archie lirih.
Archie bisa merasakan apa yang ibunya rasakan. Mendengar ucapan mama Gita, membuat Archie jadi kepikiran pada adik perempuannya itu.
KARMA INSTAN 😭😭
Bersambung...................................