
Karin akhirnya kembali ke kantor setelah cuti karena kecelakaan dan pulang ke kampung halaman. Pulang dengan membawa status sebagai tunangan orang.
Karin menghela nafas, lalu meletakkan tasnya diatas meja kerjanya.
"Halo komputer dan atk, akhirnya aku kerja lagi. Kangen banget sama kalian." Ucap Karin lalu memeluk komputer yang biasa ia gunakan.
"Ngapain, Mbak Karin?" Tanya seseorang yang mana membuat Karin terkejut.
Karin melepaskan pelukannya pada komputer di meja, lalu menatap orang yang bicara padanya.
"Eh, Mbak. Nggak ngapa-ngapain kok, tadi lagi pasang kabel komputer yang copot." Jawab Karin berbohong. Tidak lupa senyuman manis ia berikan sebagai tanda bahwa ia sedang malu.
"Saya kira ngapain, kok peluk-peluk komputer." Sahut official girl itu lalu memilih untuk pergi dari hadapan Karin.
Karin membuang nafas, lalu mengusap dadanya. Dia memilih untuk duduk, kemudian menyalakan komputer untuk melihat sisa pekerjaannya.
"Harus banyak terima kasih sama mbak Archie, soalnya dia sudah mau bantu aku urus ini semua. Baik banget memang mbak Archie." Gumam Karin sambil senyum-senyum.
Sementara itu di rumah sakit. Hari ini Kaivan akan datang telat ke kantor karena mengantarkan istrinya dulu untuk cek up kandungan.
Kaivan tidak mungkin membiarkan istrinya itu untuk pergi sendiri. Dia juga ingin tahu perkembangan anaknya di dalam kandungan Archie.
"Wahh, si baby sehat dan kuat nih. Pasti maminya rajin makan sayur dan buah." Ucap dokter sambil senyum-senyum.
Archie tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, Dok. Saya nggak pernah lupa makan buah, seperti yang dokter anjurkan. Kalau sayuran, nggak semua sayur bisa saya makan." Sahut Archiena.
"Dok, kira-kira jenis kelaminnya apa ya? Saya mau tahu, boleh?" Tanya Kaivan dengan antusias.
"Bisa, Pak. Kebetulan Bu Archie sudah buat jadwal USG dan Minggu depan balik lagi ya untuk cek." Jawab dokter itu dengan ramah.
Kaivan dan Archie menganggukkan kepalanya. Sebelumnya mereka pernah akan USG, namun di baby belum mau menunjukkan jenis kelaminnya. Artinya, posisi baby melon kala itu membuat jenis kelaminnya tidak terlihat.
Archie dan Kaivan pun memutuskan untuk pergi menebus obat dulu sebelum pulang. Bukan obat, melainkan vitamin yang harus Archie konsumsi demi kebaikan calon anaknya.
"Hari ini Karin sudah mulai masuk kantor kan, Mas?" Tanya Archiena.
"Sudah, Sayang. Dia kirim email tadi, dan mungkin sekarang sudah di kantor." Jawab Kaivan menganggukkan kepalanya.
Archie dan Kaivan duduk di kursi tunggu. Kaivan tidak henti mengusap perut istrinya yang sudah semakin membuncit.
"Aku nggak sabar baby melon lahir." Ucap Kaivan sambil terus menatap dan mengusap perut Archie.
"Sabar, Mas. Aku juga nggak sabar, mau peluk cium anak kita." Timpal Archie sembari memegang tangan suaminya yang ada di perut.
Ketika sedang asik berbicara soal ketidaksabaran anak mereka lahir, tiba-tiba ponsel Archie berdering.
Archie melihat, dan ternyata itu panggilan dari adiknya, Adinda. Archie pun mengangkat dan bicara pada adik perempuannya.
"Jadi Adinda di rumah sama mama?" Tanya Kaivan sembari mencium bahu istrinya.
"Jangan gini ih, dilihat orang." Bisik Archie sembari menjauhkan bahunya.
Kaivan tersenyum, ia mencium pipi istrinya yang mana membuat Archie semakin melototkan matanya.
***
Archie sampai di rumah, namun Kaivan tidak bisa ikut masuk karena ada rapat penting sehingga ia harus langsung pergi.
Sebelum pergi, Archie tentu mencium suaminya dulu, begitu pun sebaliknya.
"Jangan kerja berat, istirahat. Makan jangan telat ya, hari ini aku pulang lebih awal." Tutur Kaivan lembut.
Archie mengangguk patuh. "Iya, Mas Kai." Balas Archie.
Archiena lalu keluar dari mobil suaminya. Dia melambaikan tangannya dan membiarkan Kaivan pergi ke kantor.
Setelah mobil suaminya tidak terlihat, dia pun masuk ke dalam rumah dan menemukan mama Fia sedang bicara dengan Adinda di ruang tamu.
"Eh menantu mama sudah pulang. Bagaimana hasilnya, baik kan?" Tanya mama Fia lembut.
"Iya, Ma. Semuanya baik." Jawab Archie manggut-manggut.
Archie duduk di sebelah adiknya. "Lhoo, kamu bawa apa, Din?" Tanya Archie melihat kresek di atas meja.
"Cake kesukaan mbak, sama buah buat ponakan aku." Jawab Adinda lalu mengusap perut Archie.
Archiena tersenyum. "Makasih ya, mbak padahal mau main kesana tapi belum sempat. Kabar mama dan papa gimana?" Tanya Archie.
"Mereka baik, dan merindukan mbak." Jawab Adinda memberitahu.
"Lusa deh ya, pas weekend mbak main." Ujar Archie dan Adinda balas dengan anggukan kepala.
"Kamu ada niat untuk menikah lagi, Dinda?" Tanya mama Fia tiba-tiba.
Adinda tersentak. Kata pernikahan membuatnya cukup tegang, membayangkan air mata dan rasa sakit yang pernah ia rasakan.
"Belum kepikiran, Oma." Jawab Adinda pelan.
"Nggak apa-apa, jangan buru-buru. Masa Iddah kamu juga masih 2 bulan lagi kan?" Tanya Archie, dan Adinda menganggukkan kepalanya.
"Mbak doakan, semoga kedepannya kehidupan kamu semakin baik. Mbak sudah bahagia, dan kamu juga harus bahagia." Tambah Archie sembari menggenggam tangan adiknya.
KALAU KARIN SAMA YOGI, DOKTER DAVI BISA SAMA ......🤔
Bersambung........................