
Archie sedang membantu bi Sari memasak di dapur, ia tidak hanya berdua dengan bi Sari saja tetapi juga mama Fia.
Saat ini Archie sedang membantu memotong sayuran untuk makan siang nanti, sementara mama Fia memotong buah-buahan untuk menantunya makan.
Begitu perhatian mama Fia pada menantu kesayangan nya itu.
"Sayang, buahnya di makan juga ya. Awas, nanti sayur mentah yang kamu makan." Ucap mama Fia sambil bergurau.
Archie terkekeh. "Siap, Ma." Sahut Archie kemudian menyuap sayuran ke dalam mulutnya.
Archie lanjut mengupas wortel, setelah selesai mengupas timun. Niatnya hari ini Archie akan membuat acar kuning yang kata mama Fia sangat di sukai Kaivan.
"Mas Kaivan kurang suka sama sayur ya, Ma?" Tanya Archie tanpa menatap ibu mertuanya.
"Suka, tapi nggak semua sayuran. Contohnya wortel dan timun ini, dua sangat suka." Jawab mama Fia.
Archie manggut-manggut, ia pun selesai memotong sayurannya dan lanjut menyantap buah-buahan yang sudah disiapkan oleh sang mertua tersayang.
"Kamu kapan cek kandungan, Chie?" Tanya mama Fia.
"Dua minggu lagi, Ma. Ada apa?" Tanya Archie balik.
"Tidak apa-apa, mama hanya ingin tahu. Jangan sampai melewatkan cek up." Jawab mama Fia.
Mama Fia bangkit dari duduknya lalu mencuci tangannya yang habis memegang buah-buahan.
"Mama ke kamar dulu ya, Nak." Ucap mama Fia dan Archie menyahut dengan anggukkan kepala beserta senyuman manis.
Mama Fia melangkah menuju kamarnya, ia yang niatnya ingin istirahat nyatanya tidak di restui oleh takdir.
Langkah mama Fia terhenti ketika melihat siapa yang datang ke rumah putra dan menantunya tanpa mengucapkan salam.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya mama Fia dengan tenang.
Risa tersenyum misterius, ia yang tadi melipat tangannya di dada lantas mendekat dengan tatapan yang begitu sombong dan angkuh.
"Aku? Tentu saja aku mau melihat keadaan mama setelah di ceraikan papaku." Jawab Risa dengan nada angkuh.
Mama Fia menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Kamu sekarang sudah melihatnya kan? Mama baik-baik saja." Sahut mama Fia.
"Lalu bagaimana keadaan papa kamu?" Tanya mama Fia balik.
Risa tiba-tiba tertawa. "Kenapa mama peduli? Apa ini artinya mama sangat mencintai papa, dan menyesal telah memilih jalan untuk bercerai?" Tanya Risa meremehkan.
Mama Fia sebisa mungkin tetap tenang dan sabar, ia tidak mau membuat dirinya terlihat terpuruk oleh anak nya itu.
"Mama tidak pernah menyesal, Risa. Sejak dulu kamu tahu jika mama adalah orang yang berprinsip." Jawab mama Fia.
Mama Fia menghela nafas lagi. "Duduk lah dulu, Risa. Mama akan minta bibi untuk menyiapkan minum." Tutur mama Fia.
Mama Fia tidak bicara lagi, ia hendak pergi namun Risa mencegah dengan ucapannya.
"Mama pasti bohong, mama sangat menyesal telah memilih jalan ini kan?" Tebak Risa dengan nada tinggi.
Suara Risa berhasil di dengar oleh bi Sari dan juga Archie yang berada di dapur. Mereka berdua langsung menghampiri sumber suara.
"Ma." Bisik Archie khawatir.
Mama Fia menatap menantunya, ia tidak mau Archie sampai tahu tentang perceraian nya dengan papa Jefry. Ia tidak mau membuat menantunya itu merasa bersalah.
"Archie, kamu tunggu di kamar." Ucap mama Fia.
"Tapi ada apa, Ma? Semua baik-baik saja kan? Kenapa Tante Risa bicara dengan nada tinggi seperti ini?" Tanya Archie cemas.
Risa mendekat, ia mencekal pergelangan tangan Archie namun buru-buru di tepis oleh mama Fia.
"Jangan coba-coba menyakitinya, Risa!" Tegur mama Fia dengan tegas.
"Mama seharusnya tidak membelanya, justru mama harusnya mengusir dia karena dia lah akar dari seluruh permasalahan!" Risa kembali bicara dengan nada tinggi.
"Maaf, Tante Risa. Tante tidak bisa seenaknya bicara begitu padaku, jelaskan apa maksud Tante?" Tanya Archie tidak terima.
"Lancang! Berani-beraninya kamu bicara padaku dengan nada seperti itu." Sahut Risa.
"Kau yakin ingin mendengarnya heuh? Apa kau yakin?" Tanya Risa melototkan matanya.
"Risa, cukup! Pergi dari rumah ini sekarang." Usir mama Fia menunjuk ke arah pintu rumah.
"Nggak akan, Ma. Aku nggak akan pergi sebelum buat perempuan ini tahu jika perceraian papa dan mama adalah karena ulahnya." Tolak Risa dengan angkuh dan lantang.
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Archie mendadak tegang namun sesaat kemudian lunglai. Archie terkejut bukan main mendengar penuturan Risa barusan.
"Maksudnya apa? Maksud Tante apa?" Tanya Archie pelan.
"Aku yakin kau tidak tuli, Archie. Perceraian antara papa dan mama adalah karena ulahmu." Jawab Risa penuh penekanan.
Mama Fia menarik Archie untuk berdiri di belakangnya. "Archie tidak salah, Risa. Ini adalah keputusan papa dan mama. Kamu tidak berhak memojokkan Archie seperti ini." Ujar mama Fia tegas, bahkan jari telunjuknya melayang di depan wajah Risa.
"Ma! Mama harusnya tahu jika Archie adalah–" ucapan Risa terhenti ketika ia merasakan panas di pipinya.
Mama Fia menampar wajah Risa dengan begitu keras. Hal yang baru pertama kali dilakukan oleh mama Fia selama ia menjadi ibu sambung Risa.
"Cukup, cukup sampai disini kamu menyalahkan Archie. Sekarang pergi, Risa." Usir mama Fia.
"Mama berani menamparku? Mama menamparku demi wanita ini?!" Ucap Risa berteriak penuh tenaga.
"PERGI!!" Mama Fia ikut berteriak.
Risa memegangi pipinya yang terasa panas, ia kemudian menatap Archie yang masih syok mendengar kenyataan ini.
"Dan kau, Archie. Aku pastikan kau sangat menyesal telah membuat kedua orang tuaku berpisah." Ucap Risa.
"Pergi, Risa. Daripada kamu mengatakan ini pada Archie, lebih baik pikirkan saja cara acara Jefry tidak menyesal telah mengambil keputusan untuk membebaskan mu dan Aditya." Ucap mama Fia dengan tenang, namun sangat menusuk.
Risa tidak bicara lagi, wanita itu langsung pergi dengan rasa sakit di pipi kanan nya. Rasa sakit akibat tamparan penuh amarah dan kekecewaan dari mama Fia.
"Lihat saja, Archie. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang lebih lagi dari tamparan ini." Ucap Risa penuh penekanan.
HARUSNYA RISA DI TAMPAR PAKE PARUTAN NGGAK SIH??
Bersambung.......................................