
Setelah memberanikan dan meyakinkan diri sendiri, akhirnya Karin pun datang ke tempat peristirahatan Yogi.
Disana gadis itu terduduk dengan tangisan yang kembali pecah. Tangan lentik itu mengusap nisan yang bertuliskan nama sang tunangan.
"Harusnya nama kamu ada di undangan pernikahan kita nanti, Mas. Kenapa nama kamu jadi ada disini, hiks …" lirih Karin dengan kepala yang menunduk.
Karin menyeka air matanya, dia baru ingat jika Yogi tidak suka ketika dirinya sampai menangis.
"Mas nggak suka aku nangis, tapi mas sendiri yang bikin aku nangis. Katanya aku nggak boleh sama orang lain, tapi mas malah pergi." Ucap Karin dengan suara sesegukan karena terus menangis.
Karin menunduk, memeluk nisan bertuliskan nama Yogi disana. Karin menyesal telah meminta Yogi untuk datang ke Jakarta hari itu.
"Aku minta maaf, Mas …" lirih Karin dengan tangisan yang awalnya berhenti, kini kembali terdengar.
Karin datang seorang diri, dan itu disengaja agar dia memiliki waktu untuk berkeluh kesah di makam Yogi.
Jujur saja jika Karin belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Yogi, apalagi dia sudah menerima pria itu untuk menjadi suaminya kelak.
"Udah banyak rencana yang kita buat, Mas. Tapi kenapa kamu harus ninggalin aku, kenapa kita nggak pergi bareng aja." Ucap Karin lagi dengan tangan yang meremat tanah makam Yogi.
Tangisan Karin semakin tak terbendung, bahkan kepalanya sampai terasa pusing karena tidak berhenti menangis sejak kemarin.
Ketika masih di penuhi akan kesedihan dan tangisan, tiba-tiba saja ada yang datang dengan membawa bunga dan menaburkannya diatas makam Yogi.
Karin mendongak, menatap siapa yang melakukan itu. Dia kemudian menyeka air matanya, dan berdiri.
"Anda siapa?" Tanya Karin bingung.
"Kau pasti Karin, tunangannya mas Yogi kan?" Tebak wanita itu dengan ramah.
Karin mengangguk. "Tapi anda siapa? Anda mengenal tunangan saya?" Tanya Karin lagi.
"Saya bukan siapa-siapa, saya hanya salah satu dari banyaknya gadis desa yang tertarik sama tunangan kamu." Jawab wanita itu.
"Apa maksud anda?" Tanya Karin.
"Tunangan kamu itu pria yang baik, sehingga banyak gadis desa tempatnya bekerja tertarik. Tapi dia nggak sama sekali tertarik, karena dia punya kamu. Hanya Karin dan Karin." Jawab wanita itu menjelaskan.
"Kami semua sangat sedih begitu mendengar berita kalo mas Yogi udah pergi untuk selamanya. Kami semua turut berduka, tapi kamu beruntung karena menjadi cinta terakhir mas Yogi." Tambah wanita itu kemudian pergi meninggalkan area pemakaman.
Karin meneteskan air matanya lagi usai mendengar cerita wanita tadi. Cinta Yogi untuknya begitu besar, tapi dulu dia malah pernah memikirkan pria lain.
"Aku jahat banget ya, Mas. Dulu aku nggak bales perasaan kamu dan malah mencintai pria lain, padahal cinta kamu buat aku sebesar itu." Lirih Karin kembali terduduk di samping makam Yogi.
"Aku minta maaf, Mas. Hiks … maafin aku!" Ucap Karin semakin menjerit karena rasa sedih.
***
Seminggu berlalu sejak Karin pulang ke kampung halamannya dan sudah hampir 2 minggu Yogi meninggalkan semua orang untuk selamanya.
Kini Karin duduk di ruang tamu rumahnya begitu ibu dan kedua orang tua mendiang Yogi memanggil dirinya.
Entah apa yang akan dibicarakan, namun sepertinya terlihat sangat penting.
"Ada apa, Bu, Pak. Kalian butuh bantuan aku?" Tanya Karin dengan sopan.
Ibunya Yogi mengusap kepala Karin, dia menyukai gadis itu dan sangat ingin menjadikannya menantu, namun semua itu tidak direstui takdir.
"Sebelum Yogi pergi meninggalkan kita semua, ada pesan yang dia sampaikan sama Bapak." Jawab ayah Yogi dengan tenang.
"Apa, Pak? Apa yang mas Yogi bilang?" Tanya Karin dengan was-was.
"Dia mau kamu menikah dengan orang lain, orang yang menurutnya baik untuk kamu." Jawab ayahnya Yogi.
"Apa? Maksudnya gimana, Pak? Mas Yogi minta aku menikah dengan pria pilihannya?" Karin terlihat sangat bingung.
"Sayang, sebelum pergi ke Jakarta mungkin aja dia udah punya firasat makanya dia titip pesan ini sama bapak." Kata ibunya Yogi menjelaskan.
"Awalnya dikira hanya bercandaan saja, tapi ternyata itu semua terjadi. Yogi pergi untuk selamanya, dan kami semua harus membuat kamu bersatu dengan cintamu." Tambah ibunya Yogi.
"Cinta apa, Bu? Cintaku cuma sama mas Yogi, dia yang aku cinta sekarang, bukan siapapun." Timpal Karin dengan mata berkaca-kaca.
"Pria yang Yogi pilih untuk kamu akan datang sebentar lagi bersama keluarganya." Ucap ayah Yogi.
"Aku nggak mau, Pak. Makam mas Yogi bahkan belum kering, aku nggak mau menikah secepat ini." Tolak Karin menggelengkan kepalanya.
Giliran ibu Karin yang bertindak. Dia menggenggam tangan putrinya dengan erat.
"Kami semua juga nggak mau, Rin. Tapi ini permintaan Yogi, permintaan terakhirnya." Kata ibunya Karin.
"Hiks … kenapa mas Yogi tega banget sama aku, Ma. Aku mau nikah sama dia, tapi dia malah memilih pria lain untuk menikahiku." Lirih Karin menundukkan kepalanya.
"Lakukan ini demi Yogi ya, Nak. Pria itu juga janji akan membahagiakan kamu selamanya." Tutur ibunya Yogi yang ikut menangis.
"Kenapa mas ngelakuin ini …" lirih Karin dengan tangisan yang semakin tak terbendung.
Ditengah suasana yang sedih itu, tiba-tiba saja orang yang mereka tunggu datang.
"Assalamualaikum." Salam dari tamu yang datang.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk." Tutur ibunya Yogi, terdengar tidak mengenakan.
Karin tidak peduli pada tamu yang datang, dia hanya terus menangis dalam pelukan ibunya.
"Karin, dia pria yang Yogi pilih untuk menjaga dan membahagiakan kamu." Tutur ayah Yogi lembut.
Karin menggelengkan kepalanya, dan tetap menangis. Namun usapan lembut dari sang mama membuat Karin akhirnya mau melihat pria itu.
"Dokter Davi!!" Mata Karin seketika membelalak melihat kehadiran Aldavi disana.
"Iya, Karin. Aldavi lah yang dipilih Yogi, dia cintamu kan? Maka Yogi mau kamu bersatu dengannya." Tutur ayah Yogi lagi.
Karin bangkit dari duduknya, dia menatap Aldavi dan kedua orang tua pria itu yang juga hadir disana.
"Karin …" panggil mama Dewiya dengan lembut.
Karin menggelengkan kepalanya. Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung berlari keluar dari rumahnya sambil menangis.
Semua orang terkejut. Ibunya Karin hendak mengejar, namun Aldavi mencegahnya.
"Biar saya saja, Tante." Ucap Aldavi yang dibalas tatapan sinis oleh ibunya Karin.
Aldavi pun pamit untuk mengejar Karin yang berlari entah kemana. Dia tahu jika Karin pasti syok dengan semua ini, apalagi jika tahu tentang kebenarannya.
KARIN PASTI SYOK BERAT YA GUYS 🥺
Bersambung...................................