Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Karyawan kepo


Sesuai ucapan Kaivan jika Archie akan makan siang dengannya. Archie pun merapikan pekerjaannya dan bersiap untuk masuk ke ruangan Kaivan.


Mereka akan makan siang di dalam ruangan Kaivan agar bisa menghemat waktu, karena setelah makan siang, Kaivan ada meeting dengan beberapa divisi.


Archie bangkit dari duduknya, lalu beranjak dari tempat kerjanya. Ketika ia berjalan, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Rafi.


Rafi menatapnya, namun tidak menyapanya hanya memberikan senyuman yang Archie sendiri bingung melihatnya.


Tidak di sapa tentu saja membuat Archie diam. Ia hanya mengangkat bahunya, lalu masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Siang, Pak." Sapa Archie sopan.


"Heumm? Panggil apa sayang?" Tanya Kaivan mengangkat sebelah alisnya.


Archie terkekeh. "Selamat siang, Mas Kaivan." Ralat Archie sembari mendekati suaminya.


Kaivan memundurkan kursi kerjanya, lalu menatap istrinya dengan senyuman penuh arti.


"Sini duduk." Ucap Kaivan menepuk kedua pahanya.


Mata Archie membelalak. "Ngapain, aku barat." Sahut Archie, dengan kata lain ia menolak karena Archie malu.


"Nggak kok, semalam saya pangku kamu nggak ada berat-beratnya." Ujar Kaivan lalu menarik tangan istrinya.


Archie pun jatuh terduduk di atas pangkuan suaminya, tangannya pun dengan reflek langsung mengalung di leher Kaivan.


"Nggak barat kan, malah enak banget." Celetuk Kaivan lalu merapikan rambut istrinya.


"Bagaimana hari ini, apa pekerjaan nya banyak dan melelahkan seperti biasa?" Tanya Kaivan lembut.


Archie menggelengkan kepalanya. Pekerjaannya tidak melelahkan, namun yang mengganggunya adalah gosip tentang dirinya dan Kaivan.


"Nggak melelahkan kok, hari ini sedikit." Jawab Archie sembari menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang di bentuk sedikit celah.


"Begitu? Mau saya tambah?" Kaivan menawarkan dengan usil.


Archie lekas menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Makasih banyak, saya nggak tertarik." Jawab Archie menolak.


"Nggak tertarik? Kalau sama saya gimana, tertarik nggak?" Tanya Kaivan sembari melonggarkan dasinya.


Archie menelan gumpalan salivanya. Jika tanpa jas dan dasi yang melonggar, Kaivan tampak sangat tampan bahkan Archie sampai enggan mengalihkan pandangannya.


"Gimana?" Tanya Kaivan lagi sembari menarik Archie agar semakin menempel padanya.


"Tertarik sekali." Jawab Archie spontan.


Kaivan tergelak, ia lekas mengecup bibir istrinya yang sedikit terbuka itu dengan gemas.


"Sudahlah, ayo kita makan. Jika terus begini, bisa-bisa kamu yang jadi santapan makan siang saya." Ajak Kaivan sembari membantu istrinya turun dari pangkuannya.


Archie dan Kaivan pun duduk bersama di sofa. Di mejanya sudah ada makanan yang Archie order beberapa menit lalu untuk makan siang mereka.


Awalnya Kaivan dan Archie makan dengan tenang, namun tiba-tiba Archie memikirkan gosip yang beredar.


Dia makan bersama Kaivan di ruangan pria itu dan pastinya akan menghabiskan waktu, pasti karyawan-karyawan diluar akan semakin berpikir bahwa dia adalah simpanan Kaivan.


"Simpanan, aku kan istrinya." Gumam Archie garam sendiri.


"Kamu ngomong apa, Sayang?" Tanya Kaivan menajamkan pendengarannya.


Archie tersadar, ia menoleh ke arah sang suami dan langsung menggelengkan kepalanya.


"Hah? Oh enggak kok, Mas. Aku cuma bilang enak." Jawab Archie dengan cepat.


Kaivan menyipitkan matanya, menatap istrinya dengan penuh rasa curiga.


"Benar? Nggak ada yang kamu sembunyikan kan?" Tanya Kaivan memastikan.


"Iya, Mas." Jawab Archie, ekspresi wajahnya ragu dan gugup, itu mudah sekali di tebak oleh Kaivan.


Setelah selesai makan, Archie ingin langsung keluar dari ruangan suaminya namun di cegah oleh Kaivan.


"Nanti, kenapa buru-buru." Tegur Kaivan, kembali menarik Archie agar duduk di sebelahnya.


"Aku masih banyak pekerjaan, Mas." Jawab Archie.


Jawabannya demikian, namun tubuhnya malah menempel dengan Kaivan dan bersandar manja.


"Tadi katanya sedikit, gimana sih." Sahut Kaivan mengingatkan ucapan Archie beberapa saat lalu.


Archie hanya tersenyum, ia tidak menyahut dan malah diam saja.


"Mas, kamu malu nggak sih punya istri kayak aku?" Tanya Archie tiba-tiba.


"Malu? Tentu saja tidak, saya bangga punya istri secantik kamu." Jawab Kaivan jujur.


"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Kaivan balik bertanya.


"Nggak apa-apa, aku cuma mau tanya aja. Siapa tahu sewaktu-waktu aku keceplosan dan bilang kalau aku istri kamu ke karyawan." Jawab Archie tanpa menatap suaminya.


Kaivan semakin curiga, namun ia tidak mengatakannya. Pria itu mengusap bahu istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepalanya berkali-kali.


"Sambung peluk-peluk nya di rumah saja, aku harus bekerja. Gajiku nanti di potong jika ketahuan malas." Ucap Archie sembari melepaskan pelukannya.


"Siapa bos kamu? Saya patahkan tangannya jika berani memotong gaji kamu." Sahut Kaivan sembari merapikan rambut istrinya.


Archie menangkup wajah suaminya. "Bos aku galak, dingin dan sangat cuek. Kamu pasti takut lihatnya." Balas Archie lalu bangkit dari duduknya.


"Aku keluar ya, Mas." Pamit Archie lalu melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan suaminya.


Ketika Archie keluar, ada dua orang karyawan yang berdiri di depan pintu. Keduanya terkejut melihat Archie.


"Sedang apa kalian?" Tanya Archie menyipitkan matanya.


"Kami ingin mengantar ini, Bu." Jawab salah satu dari mereka sembari menyodorkan sebuah dokumen.


"Kami butuh tanda tangan beliau." Sambung wanita yang satu lagi.


"Ingin meminta tanda tangan tapi telinga kalian sampai menempel begitu di pintu?" Tanya Archie dengan alis yang terangkat.


"M-maaf, Bu. Kami masih ada pekerjaan, permisi." Keduanya langsung pergi dari hadapan Archie.


Archie menghela nafas, jadi sebegitu penasarannya para karyawan dengan hubungannya dan Kaivan.


Archie memijat pelipisnya, ia pun meletakkan dokumen itu di meja kerjanya. Archie akan mengurus itu nanti setelah pekerjaannya selesai.


Ada beberapa dokumen lain juga yang perlu Kaivan tanda tangani, namun yang penting sekarang adalah persiapan meeting.


20 menit setelah jam makan siang habis, Kaivan keluar dari ruangannya dengan pakaian yang rapi.


Pria itu mendekati meja sekretarisnya. "Sudah siap untuk meeting?" Tanya Kaivan dengan wajah datar.


Archie tersenyum lalu mengangguk. "Sudah, Pak. Semua orang juga sudah menunggu anda." Jawab Archie lalu mempersilahkan Kaivan untuk jalan duluan.


Archie membawa laptop, iPad dan buku kecil yang akan ia gunakan untuk mencatat hal penting. Sementara notulen nya akan ia ketik nanti.


Ketika Archie berjalan di belakang Kaivan, lagi-lagi banyak yang menatap keduanya. Bedanya, menatap Kaivan dengan sopan namun menatap Archie dengan tatapan merendahkan.


"Ngeliat aku jalan sama mas Kaivan aja panas sinis begini, gimana kalau lihat aku ciuman sama mas Kaivan, kejang mungkin mereka." Batin Archie senyum-senyum sendiri.


Awalnya Archie merasa terganggu, namun kelamaan ia malah merasa lucu karena ternyata karyawan Kaivan itu orang yang kepo, bahkan saking penasarannya sampai rela menguping di ruangan kedap suara seperti tadi.


LUCU YA, CHIE. ORANG-ORANG KEPO ITU BELUM TAHU AJA KAMU SIAPA🤣🤣


Bersambung.....................................