Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Aku menyesal!


Archie bersama suami dan seluruh karyawan telah sampai di Bali. Kini mereka sudah check in di hotel yang sebelumnya sudah direservasi oleh salah orang suruhan Kaivan.


1 kamar hotel diisi oleh dua orang, dan pastinya sejenis. Tidak ada karyawan yang satu kamar dengan lawan jenis kecuali Kaivan dan Archie pastinya.


Namun meski mereka akan tinggal di kamar yang sama, Kaivan tetap memesan dua kamar agar tidak membuat para karyawan curiga.


Archie memilih untuk istirahat di dalam kamar karena ia sangat lelah dan mengantuk, sementara Kaivan keluar kamar untuk berbicara dengan beberapa karyawannya.


"Saya benar-benar berterima kasih karena anda mau mengajak kami jalan-jalan, Pak." Ucap seorang pria yang merupakan kepala divisi keuangan.


"Benar, kami selalu menyukai bonus dari anda." Tambah yang lainnya.


Kaivan tersenyum tipis. "Sama-sama, saya memberikan ini karena kalian memang pantas mendapatkannya setelah bekerja keras." Sahut Kaivan.


"Ayo kita ke pantai, Pak." Ajak seorang karyawan dengan sopan.


"Tidak, kalian saja. Saya ingin istirahat. Selamat menikmati liburan kalian." Ucap Kaivan menolak.


Para karyawan itu tidak memaksa, mereka pun menikmati liburan di Bali itu tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua biaya ditanggung oleh perusahaan.


Sementara Kaivan, pria itu memilih untuk pergi ke kamarnya. Kamar tempat Archie tidur pastinya.


Sebelum masuk, Kaivan sedikit menoleh kanan dan kiri, memastikan kondisi sekitar. Setelah di rasa aman, Kaivan pun masuk ke dalam kamar tersebut.


Tanpa Kaivan sadari, ada sepasang mata yang melihatnya masuk ke dalam kamar hotel Archie.


Kaivan bisa masuk karena Kaivan memegang kartu aksesnya. Ketika dia masuk, Kaivan melihat istrinya berbaring di atas ranjang.


Archie tampak sudah mengganti pakaiannya dengan daster yang santai. Tampak cocok dan cantik di tubuh istrinya.


Kaivan mendekat, ia hendak bergabung untuk tidur di sebelah istrinya, namun dering ponsel membuatnya berhenti.


Suara dering ponsel Kaivan bahkan membuat Archie terbangun. Wanita itu mendesis pelan, lalu sedikit mengangkat tubuhnya dengan pandangan yang buram.


"Maaf ya, Sayang. Sebentar, saya angkat telepon dulu." Ucap Kaivan.


Kaivan merogoh saku celananya, lalu mengambil ponselnya. Pria itu melihat Aldavi yang menelponnya.


Kaivan pun berdiri di dekat balkon, namun tidak sampai keluar sebab balkon kamar hotel Archie langsung menghadap ke pantai dimana banyak karyawannya yang sedang berenang.


"Kenapa, Dav." Ucap Kaivan langsung membuka pembicaraan.


"Laporan cek darah lo sudah keluar, Kai. Ada yang mau gue sampaikan, kapan lo balik?"


"Gue baru berangkat hari ini, Dav. Sekitar seminggu gue disini. Ada apaan sih, bilang aja sekarang." Pinta Kaivan.


Kaivan sedikit bingung mendengar nada bicara sahabatnya yang seperti khawatir, tidak biasanya Aldavi seperti itu.


"Kai, ini sangat serius. Gue nggak bisa kasih tahu lewat telepon."


"Kenapa? Sepenting apa? Bilang saja sekarang." Pinta Kaivan memaksa.


"Nggak, gue bakal bilang setelah lo balik."


Aldavi menolak, lalu lekas menutup panggilannya. Hal itu tentu saja membuat Kaivan menghela nafas, namun ia tidak banyak bicara.


Kaivan beralih menatap istrinya yang terbangun karena dirinya, pria itu mendekat dan duduk di sebelah istrinya.


"Ada apa, Mas? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Archie pelan.


Kaivan menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Sayang. Davi menolak untuk memberitahu lewat telepon, sepertinya sangat penting." Jawab Kaivan.


"Nggak apa-apa, aku yakin baik-baik saja. Selama ini aku lihat kondisi kamu juga baik, Mas. Dan semoga memang benar begitu." Kata Archie menenangkan.


Archie menguap, menandakan bahwa dia masih sangat mengantuk. Melihat itu, Kaivan lantas meletakkan ponselnya, lalu mendorong tubuh Archie agar kembali berbaring.


"Kamu masih ngantuk ya, ayo kita tidur." Ajak Kaivan, lalu dirinya ikut berbaring di sebelah sang istri.


Archie memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Rasa kantuknya semakin bertambah begitu merasakan hangatnya pelukan Kaivan.


Kaivan membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Seperti biasa ia akan mengusap-usap kepala sambil sesekali mencium puncak kepala Archie.


"Kesayangan saya." Bisik Kaivan lalu mencium keningnya dalam-dalam.


Sementara Archie dan Kaivan sedang menikmati liburan bersama, beda hal nya dengan pasangan suami istri lain. Adinda dan Aditya, sepasang suami istri yang belakangan ini sedang berselisih.


Seperti hari ini, Aditya tidak ke kantor karena ia sangat mengantuk setelah pulang begitu malam.


Aditya terkena amarah dari Anto karena lalai dalam bekerja, dan yang disalahkan disini adalah Adinda.


Adinda habis di maki-maki oleh ibu mertuanya yang tidak terima Aditya kena marah ayahnya.


"Ma, aku sudah membangunkan kak Adit tapi dia menolak bangun. Kak Adit malah memintaku untuk pergi." Ucap Adinda menjelaskan.


"Aku juga nggak tahu apa-apa, Ma. Aku pikir kak Adit santai karena memang tidak ada pekerjaan." Tambah Adinda sambil menangis.


"Halah! Kamu memang nggak becus jadi istri. Kamu jauh dengan Archie yang selalu bisa membuat Aditya tertib dan tepat, bukan malah malas-malasan begini." Sahut Risa dengan nada tinggi.


Adinda menundukkan kepalanya, lagi-lagi ia dibandingkan dengan Archie. Wanita itu hanya bisa menunduk sambil mengusap perutnya.


"Jangan hanya menangis, bawakan Aditya jus. Dia pasti sedang marah saat ini." Ucap Risa berteriak.


Adinda pun lekas membawa jus yang ia buat ke kamar. Wanita itu masih menangis dengan harapan bisa mendapatkan pembelaan dari suaminya.


"Kak Adit, jusnya." Ucap Dinda sembari meletakkannya di meja.


Aditya yang sedang memijat pelipisnya sambil memejamkan matanya hanya berdehem. Pria itu pasti merasa pusing karena dia benar-benar habis dimarahi Anto tadi.


Melihat suaminya pusing, Dinda lantas mendekat dan duduk di sampingnya.


"Kak Adit mau aku pijat?" Tawar Adinda.


"Nggak perlu, nanti kamu malah buat aku makin pusing. Mending kamu pergi dulu, aku muak lihat wajah kamu." Usir Aditya dengan nada tidak mengenakan.


"Kenapa kamu bicara begitu, Kak?" Tanya Dinda syok.


"Lalu aku harus bilang apa ketika aku memiliki istri yang sangat tidak berguna seperti kamu. Hanya membangunkan tidur saja tidak bisa!!" Jawab Aditya membentak, bahkan sampai bangkit dari duduknya.


Tubuh Adinda bergetar, namun ia ikut bangkit dan menatap suaminya.


"Kamu nyalahin aku? Kamu nyalahin aku, Kak?" Tanya Dinda dengan berderai air mata.


"Tega kamu nyalahin aku, Kak. Aku udah bangunin kamu tadi, tapi kamu malah marah-marah bahkan mendorongku dan sekarang kamu nyalahin aku. Kamu gila ya, Kak." Tambah Dinda dengan nada tinggi.


Aditya mengepalkan tangannya, tanpa pikir panjang ia langsung melayangkan tamparan di wajah istrinya itu sampai Adinda kembali terduduk di sofa.


"Tidak berguna, aku menyesal menikahimu." Cibir Aditya lalu keluar dalam keadaan marah, meninggalkan istrinya yang sedang kesakitan usai menerima tamparannya.


SATU BAB LAGI AGAK MALAM GPP KAN SYG? AKU ADA KELAS DI KAMPUS HARI INI 😭😭


Bersambung....................................