
Archie menatap suaminya yang masih kesal, dan ia tidak bisa membawa Kaivan pulang dalam keadaan marah begini. Ada mama Fia dan papa Jefry yang pasti akan bertanya nanti.
Archie menghela nafas, ia memegang tangan suaminya dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya.
"Mas, kita ke hotel yuk?" Ajak Archie dengan riang.
Lampu merah, mobil Kaivan pun berhenti. Pria itu menoleh, menatap istrinya yang tiba-tiba mengajaknya ke hotel.
"Tumben, kenapa tiba-tiba Sayang?" Tanya Kaivan bingung.
"Mungkin kita bisa menghabiskan waktu disana." Jawab Archie dengan alis yang naik turun.
Sengaja Archie memberikan ekspresi merayu, setidaknya hal itu mungkin bisa mengurangi rasa marah yang masih tersisa pada Kaivan.
Sebagai istri sebisa mungkin Archie berusaha untuk membuat suaminya tenang, Archie tidak mau Kaivan kembali sulit tidur dan mengkonsumsi obat-obatan.
"Mau nggak?" Tanya Archie lembut.
Kaivan tersenyum tipis. "Tentu saja, siapa yang akan menolak." Jawab Kaivan manggut-manggut.
Lampu hijau, Kaivan pun membelokkan mobilnya menuju hotel yang menurutnya bagus dan berbintang di sekitar sana.
Jika istrinya sudah mengajak untuk menghabiskan malamnya diluar, mana mungkin Kaivan menolaknya.
Kaivan akan mencari hotel paling bagus untuk malam ini, setidaknya agar suasana hari ini bisa berubah setelah sejak tadi hal mengesalkan yang terus muncul.
Sementara Kaivan sedang mengendarai mobilnya, Archie mengambil ponselnya dan mengunjungi ibu mertuanya untuk memberitahu jika mereka akan menginap di hotel.
"Iya, Nak? Semua baik-baik saja?" Suara mama Fia terdengar lembut seperti biasanya.
"Ma, maaf. Aku dan mas Kaivan mau menginap di hotel, apa boleh?" Tanya Archie.
Sejujurnya Archie tidak enak meninggalkan mertuanya yang sedang menginap di rumah, namun ia lebih tidak enak jika harus membawa Kaivan pulang dalam keadaan marah seperti ini.
"Kenapa bertanya pada mama, tentu saja boleh. Kalian pasti ingin menghabiskan waktu bersama." Sahut mama Fia.
Archie tersenyum senang, ia tidak lupa mengucapkan terima kasih sebelum menutup panggilannya tadi.
Setelah selesai menelpon, Archie menyimpan ponselnya yang sebelumnya sudah di mode silent olehnya. Archie tidak mau ada yang mengganggu waktunya malam ini. Hanya dia dan suaminya.
"Sayang, maaf ya." Ucap Kaivan tiba-tiba.
"Maaf soal apa, Mas?" Tanya Archie kebingungan.
"Soal surat laporan tes aku. Sebenarnya saat aku menemui Aldavi waktu itu di ruangannya, laporan itu menunjukkan hasil yang membuatku marah besar." Jelas Kaivan mulai bercerita.
"Memang apa hasilnya? Dan apa itu yang dipalsukan tante Risa seperti kata kamu tadi?" Tanya Archie pelan.
Kaivan menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku nyaris membunuh Davi waktu itu karena berpikir jika dia yang memalsukan laporannya, namun ternyata aku salah. Setelah aku selidiki, ternyata mbak Risa yang melakukannya, dan aku benar-benar marah." Jawab Kaivan.
"Hasil laporan itu menunjukkan bahwa aku mandul, aku tidak bisa mengandung." Tambah Kaivan pelan.
"Apa? Setega itu tante Risa mau menghinaku?" Tanya Archie syok.
"Dia pasti tahu aku sedang hamil, dan dia memalsukan laporan tes nya?" Tanya Archie lagi.
"Ya, Sayang. Tujuannya agar aku hilang kepercayaan dan marah sama kamu. Bahkan fatalnya adalah menyiksa kamu seperti aku menyiksa …" Kaivan menggantung ucapannya, tidak mau menyebut nama masa lalunya.
Archie mengangguk paham, ia mengusap bahu suaminya lalu menggandeng dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku mengerti, Mas. Dan aku benar-benar bersyukur kamu mau percaya sama aku." Sahut Archie lembut.
Kaivan menoleh sedikit lalu mencium puncak kepala istrinya.
Hati Archie selalu menghangat setiap kali mendengar Kaivan menyebutnya dengan kata 'istriku'. Benar-benar enak di dengar.
"Masalah Adit dan tante Risa, apa yang akan mas lakukan?" Tanya Archie ragu-ragu.
"Aku sudah melaporkan mereka ke polisi dan yang bisa mencabut kasusnya nanti adalah kamu sendiri." Jawab Kaivan.
"Aku harap kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, ingatlah apa yang sudah mereka perbuat sama kamu, bukan ingat siapa mereka di hidup kamu." Tambah Kaivan mengingatkan.
Archie terdiam, ia tentu tahu maksud suaminya barusan. Ketika bertengkar dengan Aditya tadi, Archie sudah mencegah suaminya itu untuk menghabisi Aditya karena Adinda dan Kaivan pasti tidak senang akan hal itu.
"Penjara itu tidak akan membuat Aditya mati, aku harap kamu juga mengerti maksudku." Ucap Kaivan lagi sembari mencium punggung tangan istrinya.
Archie menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan sejenak apa yang sedang ia alami.
Aditya adalah suami dari adiknya, tapi juga orang yang sudah jahat padanya. Selain Aditya, Adinda juga adalah orang yang sudah membuat Archie hancur dulu.
Walaupun Adinda jahat, tapi Archie tak bisa menepis jika Dinda itu adalah adiknya, adik perempuannya.
"Mas." Panggil Archie.
"Dalam perang sekalipun, hubungan kekeluargaan tidak di pandang sayang." Sahut Kaivan sembari membelokkan mobilnya ke sebuah hotel.
Ternyata mereka sudah sampai di hotel, mungkin karena sambil mengobrol makanya membuat Archie tidak sadar jika mereka sudah jalan cukup jauh.
Archie membuang nafasnya kasar, ia yang mengajak suaminya untuk ke hotel maka ia tidak boleh merusak malam ini dengan membahas orang lain.
Seperti ucapannya tadi, bahwa malam ini adalah malamnya bersama dengan suaminya dan itu pasti.
"Ayo, Sayang." Ajak Kaivan yang sudah keluar duluan.
Kaivan memutari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk istrinya. Kaivan menggenggam tangan istrinya, lalu mengajaknya masuk ke dalam hotel.
Kaivan memesan satu kamar terbaik yang dimiliki oleh hotel tersebut, lalu setelahnya ia pun mengajak istrinya menuju lantai 8 dengan menggunakan lift.
"Mas, kita tidak membawa baju. Bagaimana?" Tanya Archie sembari menatap suaminya.
Kaivan membalas tatapan suaminya lalu mengusap dagu dan bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Tenang saja, aku akan menyuruh seseorang membawakan baju untuk kita." Jawab Kaivan dengan tenang.
Archie senang mendengar suara suaminya sudah kembali tenang dan lembut. Tidak seperti di mobil tadi yang lembut, namun banyak arti yang tegas.
"Aku senang mas sudah tidak terlihat marah." Ucap Archie sembari menduselkan diri kepada suaminya.
"Begitukah?" Tanya Kaivan dan Archie menganggukkan kepalanya.
Kaivan menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir istrinya singkat.
"Aku tidak mungkin marah sama kamu, Sayang. Apalagi saat ini aku mau dikasih kenikmatan, mana mungkin aku marah." Jelas Kaivan sambil terkekeh.
Mendengar itu Archie lantas menekuk wajahnya. "Bisaan banget." Cibir Archie.
Kaivan hanya memeluk istrinya sambil menciumi puncak kepala Archiena dengan penuh kehangatan.
"Aku mendadak ngantuk, Mas." Celetuk Archie bergurau.
"Enak saja, aku buat biar segar nanti. Jangan khawatir." Sahut Kaivan dengan mata yang mengedip sebelah.
HARI INI AKU CRAZY UP GUYS, TUNGGUIN YAA😉
Bersambung........................