Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Permintaan maaf


Jika biasanya Archie akan turun di tempat yang cukup jauh dari kantor, kali ini berbeda. Archie turun di lobby kantor bersama dengan suaminya.


Meski seluruh karyawan sudah tahu mereka suami istri, namun Archie dan Kaivan tetap menjunjung profesional kerja.


Kaivan dan Archie melangkah dengan Archie yang berdiri di belakang suaminya.


Banyak pasang mata yang menatap mereka, dan Archie berusaha untuk tidak peduli. Wanita itu tetap melangkah dengan pandangan lurus ke depan.


"Selamat pagi, pak Kaivan dan Bu Archie." Sapa resepsionis kantor dengan sopan.


Kaivan tidak menyahut, namun Archie membalasnya dengan ramah bahkan senyumannya begitu manis.


"Pagi juga, Mbak." Balas Archie ramah.


Kaivan dan Archie hendak melakukan masuk ke dekat lift menggunakan kartu akses. Kaivan sudah duluan, namun ketika Archie ingin masuk tiba-tiba ada yang menarik tangan wanita itu.


"Archie." Panggil seseorang sembari memegangi pergelangan tangannya.


Archie terkejut, ia menoleh dan melihat siapa yang datang. Archie pun lekas melepaskan tangan wanita itu dari tangannya.


"Archie, tolong maafkan aku. Aku tidak sengaja, aku hanya disuruh oleh pak Aditya." Pinta Amber sambil menangis.


Wanita itu sudah dipecat oleh Kaivan, dan hari ini datang hanya untuk menemui Archie saja.


"Archie tolong aku, aku akan kesulitan untuk mencari pekerjaan setelah dipecat dari perusahaan ini." Pinta Amber memohon.


Amber berlutut di depan Archie dengan tangan yang menyatu, memohon ampunan pada wanita itu.


Tangisan yang Amber tunjukkan bukan semata-mata sandiwara, melainkan sungguhan. Ia benar-benar merasa hancur saat ini.


"Sayang." Panggil Kaivan, membuat Archie menoleh menatapnya.


Kaivan memberikan kode dengan gelengan kepala, namun Archie tidak tega melihat Amber yang berlutut di hadapannya.


Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, dan itu membuat Archie semakin tidak enak.


Archie perlahan menunduk, dan membantu Amber untuk berdiri tegak. Kini Archie dan Amber saling berhadapan.


"Aku sudah maafin kamu, Amber. Tapi untuk menerima kamu di perusahaan ini, tentu aku tidak bisa. Itu bukan kapasitasku." Ucap Archie dengan lembut.


"Kamu seharusnya minta tanggung jawab sama Aditya, Amber. Dia yang sudah membuat kamu seperti ini." Tambah Archie pelan.


Amber menangis sambil menggelengkan kepalanya, ia bingung harus bagaimana. Amber sudah mencoba menghubungi Aditya, namun hasilnya nihil.


"Aku menyesal, Chie. Hanya demi uang 20 juta, aku kehilangan pekerjaanku bahkan karirku hancur." Ucap Amber lagi.


"Archie." Kaivan memanggil Archie dengan tangan terlipat di dada.


Archie menatap suaminya, lalu kembali menatap Amber.


"Kamu coba lamar di perusahaan papaku ya, tapi aku nggak bisa menjamin kamu akan di terima. Tidak ada salahnya mencoba." Tutur Archie.


Amber menatap Archie, wanita di hadapannya ini benar-benar baik bahkan setelah apa yang ia lakukan Archie tetap mau membantunya.


"Archie, terima kasih." Ucap Amber lalu menyatukan kedua tangannya.


Archie hanya mengangguk, ia pun masuk dan pergi bersama suaminya untuk menaiki lift menuju lantai mereka bekerja.


Sementara para karyawan yang menonton Amber dan Archie tadi mulai bisik-bisik guna membicarakan Amber dan memuji kebaikan Archie.


Ada 2 orang yang mendekati Amber, tentu saja itu Monika dan Rafi. Mereka bertiga dulu berteman, lalu tambah dengan Archie. Mereka tidak menyangka jika Amber akan bersikap begitu pada Archie.


"Archie masih berbaik hati, coba saja kalau gue. Nggak mungkin gue mau." Ucap Monika dengan ketus.


Amber hanya diam saja, menerima cacian dari temannya itu.


"Lo jahat banget, bukan cuma sama Archie tapi sama calon anaknya juga. Coba pikirkan gimana kalau Archie keguguran." Rafi ikut menggunjing Amber.


Rafi selama ini tidak tahu jika ada orang lain yang mengetahui hubungan antara Kaivan dan Archie. Ia pikir hanya dirinya, namun ternyata Amber juga bahkan wanita yang menyebarkan gosip tidak benar.


"Gue minta maaf, tapi gue terpaksa." Ucap Amber lirih.


"Halah, lupain saja." Sahut Monika lalu lekas pergi meninggalkan Amber.


Rafi menatap Amber sebentar, lalu dirinya pun pergi menyusul Monika yang sudah berdiri di depan lift.


Sementara itu Kaivan dan Archie. Pasangan suami istri itu kini berada di ruangan Kaivan yang pintunya tertutup bahkan terkunci.


Archie duduk di pangkuan suaminya guna merayu Kaivan yang Archie terka marah setelah dirinya berbicara dengan Amber tadi.


"Jangan marah, Mas. Aku hanya kasihan sama Amber, lagipula dia hanya disuruh." Ucap Archie dengan lembut.


Tangan Archie mengusap rahang tegas suaminya, namun Kaivan tidak bereaksi apapun, matanya hanya terpejam erat.


"Kiss dulu." Pinta Kaivan menunjuk pipinya.


Archie terkekeh, ia pun langsung mencium pipi suaminya. Daripada Kaivan marah, lebih baik ia cium saja. Bahkan bukan hanya di pipi, melainkan di sudut bibirnya juga.


"Tangguh banget." Kata Kaivan menyindir.


"Sengaja." Sahut Archie sambil tertawa.


"Bilang dulu, istriku yang paling cantik, cium aku dong." Pinta Archie dengan usil.


"Istriku yang paling cantik, cium dong sayang." Pinta Kaivan dengan mudahnya.


Mendengar itu, Archie pun langsung mencium bibir suaminya tanpa keberatan sama sekali. Setelah selesai, ia bangkit dari duduknya dan berdiri di sebelah suaminya.


"Mau kemana pun kamu mengusulkan Amber, dia pasti akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan." Ucap Kaivan dengan lembut.


"Kenapa, Mas?" Tanya Archie.


"Kemampuan suami kamu ini tidak bisa dianggap remeh, harus hati-hati." Jawab Kaivan tanpa menjelaskan.


Archie menghela nafas, ia tidak tahu harus bagaimana. Semoga saja sang papa bisa menerima Amber di perusahaannya.


Setelah merasa selesai berbicara dengan sang suami, Archie pun lekas keluar dari ruangan Kaivan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Archie membawa sebuah dokumen, lalu meletakkannya di meja kerja. Kedatangan Archie mengudang pekikan dari mulut Karin.


"Mbak Archie!!!" Pekik Karin dengan riang.


Archie tersenyum. "Apa? Sampai teriak gitu sih?" Tanya Archie lalu terkekeh.


"Aku senang mbak masuk lagi, kirain mbak udah nggak kerja." Jawab Karin lalu memeluk Archie.


Archie membalas pelukan Karin sebentar, lalu dirinya pamit ke kamar mandi.


Sebelumnya ketika Archie ke kamar mandi atau berpasangan dengan karyawan lain, ia akan mendapat tatapan tajam dan omongan pedas, namun kali ini tidak.


Para karyawan yang berpapasan dengan Archie langsung memberikan sapaan sopan bahkan senyuman ramah.


Tidak ada lagi tatapan sinis, apalagi gunjingan pedas. Semuanya tunduk dengan Archie yang merupakan istri dari atasan mereka.


"Permisi, Bu." Ucap karyawan yang waktu itu menghina Archie habis-habisan bahkan mengatakan bahwa Kaivan tidak akan bertanggung jawab atas kehamilannya.


Archie menghela nafas. "saya senang kamu sudah berubah, lain kali jangan sembarang dalam berbicara." Sahut Archie.


"Iya, Bu. Maafkan saya, saya permisi." Pamit wanita itu lalu langsung berlari ketar-ketir.


Archie menghela nafas, ia pun masuk ke salah satu bilik untuk menyelesaikan urusannya. Setelah selesai, Archie pun keluar dan mencuci tangan di wastafel yang terdapat kaca besar.


"Eh, Bu Archie." Seorang karyawan masuk, lalu menyapa Archie dengan wajah kikuk.


Archie juga masih ingat wanita itu. Sama seperti wanita tadi, namun hanya berbicara di belakang saja tidak berani bicara depan wajahnya.


Archie mengangguk singkat, setelah itu ia pun keluar dari toilet itu. Kali ini benar-benar beda, biasanya ia akan pusing dengan gunjingan orang tapi kali ini tidak.


Sejujurnya Archie tidak butuh di hormati, namun ia hanya ingin tahu jika Archie adalah istri Kaivan agar tidak ada yang bergosip. Sisanya, maka biasa-biasa saja.


Bersikap formal pada Archie, itu tidak perlu. Archie bukan seorang atasan yang patut dihormati, cukup bekerja dengan rukun saja.


"Mbak, hari ini pak Kaivan ada meeting diluar." Ucap Karin mengingatkan sembari memberikan jadwal Kaivan.


Archie menerimanya dan mulai membacanya, ia memijat keningnya karena lupa dengan ini.


"Makasih ya sudah ingatin aku, coba kamu nggak bilang, aku pasti nggak akan ingat." Sahut Archie penuh senyuman.


Karin ikut tersenyum. "sama-sama, Mbak." Balas Karin.


Diantara karyawan yang lain, Archie bisa dibilang yang paling baik karena itulah Karin merasa sangat bersyukur.


"Mbak baik banget sama aku, jadi aku juga harus baik." Kata Karin.


Archie lagi-lagi hanya tersenyum, ia tidak menyahut lebih jauh karena harus mengurus tentang persiapan meeting Kaivan diluar.


Archie kembali masuk ke ruangan Kaivan untuk memberitahu hal ini, namun Kaivan malah menahannya dan menciumnya.


Akhir-akhir ini Kaivan suka sekali menciumnya, membuat Archie ketagihan karenanya.


YAIYALAH NAGIH, KAN OM KAIVAN GANTENG DAN KISSABLE😍😭


Bersambung............................................