Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Mengubur perasaan


Disebuah rumah, tampak empat orang duduk saling berhadapan dengan pembicaraan yang begitu serius.


Si wanita memasang wajah penuh senyuman melihat pria yang menepati janjinya itu.


"Saya takut kehilangan putri anda, Pak Dito. Jika anda mengizinkan, bolehkah jika saya dan Adinda bertunangan dulu?" Tanya Zayn dengan tenang.


Papa Dito tersenyum. Dia menatap putrinya lalu menatap istrinya. Kedekatan antara Adinda dan rekan bisnisnya tentu sudah ia ketahui sebelumnya.


"Menurut mama gimana?" Papa Dito bertanya pada istrinya.


Mama Gita tampak gelisah. Dia membuang nafas, lalu menatap putri bungsunya dan menggenggam tangannya.


"Saya cuma nggak mau ngeliat Dinda menderita lagi, Nak Zayn. Jadi sebelumnya, apakah nak Zayn sudah tahu masa lalu Dinda dan kekurangannya?" Tanya mama Gita.


"Tentu saja, Bu Gita. Saya sudah tahu tentang Dinda, dan saya menerima kelebihan serta kekurangannya." Jawab Zayn dengan tenang.


"Lagipula saya ingin menikahi Dinda bukan untuk mendapatkan keturunan lagi, tapi saya ingin dia menjadi pendamping hidup di sisa umur saya. Bonusnya, saya bisa memberikan putri kecil saya seorang ibu." Tambah Zayn, terdengar tenang dan lembut.


Adinda membalas genggaman tangan sang mama. Dia bisa merasakan keresahan dan kekhawatiran sang mama.


"Mama jangan khawatir, sekarang aku bisa bedain baik dan buruk. Aku udah yakin sama hati aku sendiri kalo mas Zayn baik untukku." Ucap Adinda dengan yakin.


Mama Gita menghela nafas lagi. "Jika kamu sudah yakin, maka mama tidak akan ragu lagi. Tapi mama mohon, Nak. Tolong berbahagialah, mama nggak bisa lihat kamu menderita." Ucap mama Gita.


"Laki-laki itu yang dipegang ucapannya. Saya tidak bisa berjanji, karena rumah tangga pasti ada lika likunya, tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan Adinda, Bu." Zayn menyahut.


Mama Gita tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, karena kamu sudah berani datang malam ini makan sesuai permintaan kamu, pertunangannya akan dilaksanakan bulan depan, dan pernikahannya dua bulan setelahnya." Ucap papa Dito.


Zayn berlutut, dia mencium punggung tangan papa Dito dan mama Gita bergantian sembari mengucapkan terima kasih atas restu mereka.


***


Aldavi duduk di balkon kamarnya sambil menikmati segelas ice coffe. Dia menatap ponselnya, melihat kalender yang bertanda dengan note 'hari pertunangannya'.


Ya, tangga itu Aldavi tandai. Hari dimana Karin bertunangan dengan pria pilihan orang tuanya. Hari dimana dia seharusnya bisa membawa Karin pergi, namun dia malah berlagak seperti pria pengecut.


Aldavi tersenyum miris. "Dia sudah menjadi milik orang lain." Gumam Aldavi.


Aldavi menepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Jantungnya berdebar tiap kali mengingat tindakan yang ia sesali sampai hari ini.


"Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Sadarlah, Aldavi." Gumam Aldavi lalu mengatur nafasnya untuk mengoptimalkan detak jantungnya.


Pria yang merangkap sebagai dokter itu berbaring, menatap langit-langit kamarnya yang di selimuti pencahayaan temaram.


"Mau sampai kapan? Bersembunyi di balik wajah dingin kamu itu??"


Suara itu terdengar dari ambang pintu kamar Aldavi yang memang tidak tertutup.


"Papa, masuklah." Aldavi bangkit, menyalakan lampu kamarnya kemudian menyusul duduk di sofa.


"Kamu suka sama Karin, tapi kamu nggak mau ngaku. Membiarkan diri kamu terluka sendirian." Ucap papa Firman.


"Untuk apa juga mengakui jika dia sendiri sudah menjadi milik orang lain." Sahut Aldavi lalu terkekeh kecil.


"Papa nggak ngajarin kamu untuk menjadi seorang perebut, tapi seenggaknya biarkan dia tahu jika kamu mencintainya Davi." Tutur papa Firman lembut.


"Nggak bisa, Pa. Aku akan mengubur perasaan ini, dan melupakannya." Tolak Aldavi tegas.


"Kamu pergi ke USA demi menghindari nya, tapi apa kamu berhasil menghilangkan perasaan kamu? Jawabannya tidak kan." Papa Firman kembali berujar, lalu bangkit dari duduknya.


"Karin baru hadir dalam hidupku, tapi kenapa dia sudah begitu berpengaruh." Gumam Aldavi.


"Karena Karin juga mencintaimu." Papa Firman menjawab, lalu melenggang pergi meninggalkan kamar putranya.


Aldavi terkekeh sinis. "Mencintaiku apanya. Tidak mungkin!" Gumam Aldavi.


Sementara itu di kost Karin. Gadis itu terlihat sudah siap untuk tidur, namun gerakannya yang hendak menarik selimut terhenti kala suara notifikasi ponselnya terdengar.


Karin meraih ponselnya yang mendapat pesan dari kontak bernama 'Yogi'. Itu tunangannya.


"Rin, dua bulan ke depan mungkin aku jarang hubungi kamu, aku ada pekerjaan ke pelosok desa. Nggak apa-apa kan, Sayang?"


"Kamu jangan khawatir, aku nggak akan macam-macam kok. Inget ya, Rin. Cinta aku cuma buat kamu."


Karin tersenyum membaca pesan dari tunangannya. Dia lekas membalas. Tidak ada kecurigaan apapun karena Karin sudah sepenuhnya percaya pada Yogi.


Karin sudah menerima Yogi sebagai tunangannya, calon suaminya. Perasaannya yang beberapa bulan mencari keberadaan Aldavi kini telah hilang bersamaan dengan sikap pria itu.


"Aku sepenuhnya percaya sama kamu, Yogi. Walaupun aku belum cinta sama kamu, tapi aku akan berusaha untuk jadi pasangan yang baik." Gumam Karin kemudian berbaring lalu memejamkan matanya.


CINTA DALAM DIAM ATAU CINTA YANG TERLAMBAT??


Bersambung...............................