Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kecelakaan


Aditya dan keluarganya tampak sedang berkumpul di kamar Aditya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa saat ini ketika baru saja mendapatkan surat dari pihak bank.


Risa tidak menyangka jika apa yang papanya katakan adalah sebuah kebenaran, jika mereka benar-benar bangkrut dan harus mengosongkan rumah tinggal mereka.


"Ma, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Anto, suami yang sepenuhnya bergantung pada istrinya.


Dulu Anto bekerja sebagai manajer keuangan di perusahaan papa Jefry, namun semenjak menjadi menantu papa Jefry, kerjaan Anto benar-benar semena-mena bahkan masuk kantor pun sangat jarang.


"Diam dulu, Mas. Aku bingung juga, papa tidak ada disini." Jawab Risa kelimpungan.


Aditya berusaha bangkit dari posisinya, dan kini duduk bersandar di kepala ranjang sambil meringis tanpa suara.


"Ma, Pa. Aku sedang sakit, apa harus kita pergi. Bagaimana dengan pengobatanku." Ucap Aditya dengan suara pelan.


"Kamu diam dulu, Adit. Mama juga nggak tahu harus apa, kita hanya bertiga dan papa tidak ada." Timpal Risa dengan sedikit kesal.


Risa lagi-lagi menghela nafas, ia kelimpungan sendiri saat itu. Ia pikir sang papa hanya berkata omong kosong, namun ternyata tidak.


"Kita harus cari papa." Ucap Risa setelah beberapa berpikir.


"Mencari? Papa itu pergi dengan Adinda, mereka pasti sudah pergi jauh, Ma." Sahut Anto.


"Nggak mungkin, mereka pasti pergi ke rumah mama atau rumah Kaivan. Mereka tidak mungkin pergi jauh." Kata Risa dengan yakin.


"Setelah mama melarang semua orang untuk menolong papa kemarin, apa mama yakin papa masih mau menerima kamu, Ma?" Tanya Anto mengingatkan.


Ia masih ingat tengah perbuatan istrinya kemarin yang melarang asisten rumah tangga bahkan sopir untuk mengantar papa Jefry dan Adinda pergi.


"Lupakan itu, kita cari saja dulu ke rumah Kaivan." Ujar Risa dengan cepat.


Risa lalu menatap putranya. "Kamu diam ya, mama dan papa pergi dulu. Kita harus menyelamatkan rumah ini." Tutur Risa pada putranya.


"Tapi, Ma. Aku nggak bisa sendiri, siapa yang akan membantuku jika aku butuh sesuatu." Kata Aditya menolak.


Risa tidak menggubris, ia langsung menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi dari sana untuk mencari papa Jefry.


Keduanya pergi dengan mengendarai mobil yang untung saja masih bisa mereka gunakan.


Mobil tidak termasuk dalam aset kekayaan papa Jefry karena ini sepenuhnya milik Anto.


Pasangan suami istri itu pun pergi meninggalkan rumah mewah mereka untuk pergi ke rumah Kaivan dan Archie.


"Cepat, Pa. Kita harus cepat sampai karena pihak bank hanya memberi satu hari saja." Ucap Risa sembari memegangi tangan suaminya.


"Sabar, Ma. Nanti bahaya kalau cepat-cepat." Sahut Anto.


Risa berdecak, hal itu membuat Anto mau tidak mau meninggikan kecepatan mobilnya.


Mobil melaju begitu kencang, dan apa yang ditakutkan Anto terjadi. Di depannya, sebuah truk pasir berukuran sedang keluar dari sebuah gang dan langsung bertabrakan dengan mobilnya.


Mobil yang Anto kendarai bersama dengan istrinya terpelanting cukup jauh dan berguling hingga mengeluarkan asap.


Penumpang dalam mobil itu sudah bersimbah darah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Orang-orang langsung berkerumun untuk menolong Risa dan Anto, serta sopir truk yang mengalami luka ringan.


Sementara itu di rumah sakit, tampak mama Fia bersama anak dan menantunya serta Adinda berada di kamar rawat papa Jefry.


Mantan suami mama Fia itu sudah sadarkan sejak kemarin, namun baru sekarang semuanya berkumpul untuk menjenguknya.


"Ma." Panggil papa Jefry pada mama Fia, tangannya terulur agar mama Fia mau menggenggamnya.


Mama Fia mendekat dan langsung menggenggam tangan mantan suaminya itu.


"Jangan banyak bicara, dadamu masih sesak bukan." Kata mama Fia menasehati.


"Aku minta maaf, Ma. Aku mohon maafkan kesalahanku yang telah membela Aditya dan Risa." Pinta papa Jefry tanpa mendengarkan nasehat mama Fia tadi.


"Apa yang kamu lakukan bukan sebuah kesalahan. Sebagai ayah, kamu pantas melakukan itu dan aku sudah memaafkan mu." Sahut mama Fia dengan yakin dan tenang.


Papa Jefry tersenyum mendengar ucapan mama Fia.


"Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk meminta maaf sama kamu, Ma." Ucap papa Jefry.


"Setelah ini kita sama-sama lagi kan?" Tanya papa Jefry.


Mendengar pertanyaan papa Jefry, Kaivan dan Archie saling pandang untuk sesaat lalu menatap mama Fia yang memejamkan matanya.


"Aku memang sudah memaafkan kamu, Jef. Tapi untuk menerima kamu lagi, maaf. Aku tidak bisa, aku tidak bisa menerima kamu sebagai suamiku lagi." Jawab mama Fia.


Kaivan terkejut mendengar ucapan mama Fia. Selama ini ia tahu jika sang mama begitu mencintai papa Jefry, tapi sekarang dia menolak untuk kembali rujuk.


Archie memegang tangan suaminya, lalu menggelengkan kepalanya. Archie seakan memberikan kode untuk memberikan kebebasan kepada mama Fia dalam menentukan keputusan hidupnya.


"Kita sudah tua, Jef. Kita tidak seharusnya main-main dalam pernikahan, dan lagi kamu tahu bagaimana aku kan." Ucap mama Fia lagi.


"Setelah ini, kita hidup masing-masing. Tapi kamu jangan khawatir, kamu tetap bisa menganggap Kaivan anakmu dan calon anak Archie sebagai cucumu." Tambah mama Fia seraya memberikan usapan di tangan papa Jefry.


Adinda yang ada disana menjadi sangat bersalah. Semua ini karena Aditya, suaminya. Karena pria itu, kebahagiaan papa Jefry dan mama Fia rusak.


"Oma, aku mohon terima opa lagi. Dia tidak bisa hidup tanpa oma." Pinta Adinda sembari menyatukan kedua tangannya.


"Aku tidak akan tenang, Oma. Semua ini karena kak Adit dan aku, kebahagiaan kalian rusak karena ku." Tambah Adinda dengan pandangan penuh permohonan.


Mama Fia menatap Adinda, lalu menggelengkan kepalanya dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


"Kamu jangan khawatir, Dinda. Setelah ini Jefry akan baik-baik saja, karena …" mama Fia menggantung ucapannya, lalu menatap papa Jefry.


"Karena dia adalah pria yang kuat." Tambah mama Fia.


Papa Jefry tentu saja sedih dan terpukul mendengar ucapan mantan istri yang masih sangat dicintainya. Namun papa Jefry mengerti, dan ia tidak mau memaksa mama Fia untuk merubah keputusan serta prinsip hidupnya.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu, Fia. Terima kasih atas waktu bertahun-tahun nya selama ini, aku beruntung pernah menjadi suami dari wanita yang sangat baik sepertimu." Ucap papa Jefry dengan senyuman meski dadanya terasa sesak.


"Jika kamu mengizinkan, bisa aku meminta satu permohonan?" Tanya papa Jefry.


"Tentu, katakan." Jawab mama Fia menganggukkan kepalanya.


"Biarkan aku tetap menyayangi Kaivan sebagai anakku, dan Archie sebagai menantu ku." Ucap papa Jefry sembari menyatukan kedua tangannya.


"Tanpa kamu minta, Jef. Aku sudah mengatakannya, mereka tetap anakmu dan calon anak mereka adalah cucumu. Hanya hubungan kita yang putus, tapi hubunganmu dengan keluargaku yang lain tidak." Sahut mama Fia dengan lembut.


Archie dan Kaivan tersenyum. Mungkin jodoh antara mama Fia dan papa Jefry memang hanya sampai disini, tapi yang jelas mereka akan tetap saling berhubungan sebagai teman.


"Aku yakin, keputusan mama adalah yang terbaik, Mas." Tutur Archie lembut.


Kaivan menoleh. "iya, Sayang." Balas Kaivan sembari mengusap kepala istrinya.


Adinda yang ada disana menangis, lalu tiba-tiba keluar dari ruang rawat papa Jefry.


Archie yang melihat lekas menyusul. Ia tahu jika adiknya merasa terpukul dengan keputusan mama Fia.


Adinda merasa bersalah karena dia juga turut andil untuk menghasut papa Jefry agar memilih untuk membebaskan Aditya dan menceraikan mama Fia.


"Dinda." Panggil Archie lalu memegang bahu adiknya.


Adinda langsung memeluk kakaknya. "Hiks … ini semua karena aku, Mbak. Aku memang wanita yang jahat …" Ucap Adinda sambil menangis tersedu-sedu.


"Jangan terus menyalahkan diri kamu, Dinda. Kamu sudah minta maaf kan, dan lagi, mungkin sudah takdirnya jika jodoh papa dan mama hanya sampai disini." Tutur Archie lembut.


Adinda tidak menyahut, ia masih mendekap tubuh sang kakak dengan erat.


Sampai akhirnya Adinda terdistraksi oleh brankar yang di dorong oleh suster dimana disana terbaring seorang wanita yang ia kenal.


"Mama …" ucap Adinda tepat di telinga Archie.


Archie melepaskan pelukannya karena bingung, ia lalu menatapnya adiknya yang menatap ke arah belakangnya.


Melihat itu, Archie pun menoleh dan mengikuti arah pandang adiknya.


Mata Archie seketika terbuka lebar melihat siapa yang terbaring di atas brankar dengan bersimbah darah itu.


"Tante Risa!!!" Kejut Archie.


"MAMA!!!" Adinda tidak kalah berteriak lalu lekas menghampiri brankar dimana Risa terbaring tidak sadarkan diri disana.


Archie lekas masuk ke dalam kamar rawat papa Jefry yang memang kebetulan dekat dengan UGD.


Archie masuk untuk memberitahu suami dan mertuanya tentang apa yang ia lihat. Sementara Adinda mengikuti kemana brankar itu di dorong sambil memegangi tangan Risa.


"Apa yang terjadi, Ma. Hiks … kenapa semuanya jadi begini." Lirih Adinda.


INI TA KARMANYA SI RISA SAMA ANTO??


Bersambung..................................