
Karin menguap lalu bangkit tempat tidurnya. Ia sangat bosan karena tidak melakukan apapun sejak tadi pagi.
Karin tidak terbiasa leha-leha seperti ini. Bahkan di rumah pun ia biasa bebenah rumah, bukan rumah tapi kamarnya saja.
Kemampuan Karin hanya sebatas itu saja. Dia belum bisa memasak meski sang mama berkali-kali mengajarinya.
"Aku ngapain ya, bosan banget. Enakan pulang kerja makan di pinggir jalan." Gumam Karin.
Gadis itu melangkah tertatih ke arah jendela kamar. Ia cukup bingung melihat sebuah motor putih terparkir di depan kostnya.
"Motor siapa ya, perasaan penghuni kost sini nggak ada yang punya motor bagus gitu." Gumam Karin bertanya-tanya.
Diluar hujan deras, bahkan di sertai angin kencang. Suasana kost cukup sepi tidak seperti biasanya.
Karin masih melihat keluar jendela, sebelum akhirnya ia dikejutkan dengan seseorang yang muncul di jendela kamar kostnya.
"ASTAGA!!!" pekik Karin memegangi dadanya karena syok.
"Karin, buka pintu. Saya kedinginan." Pinta orang itu sambil mengetuk jendela kamar kost Karin.
Karin melongo sebentar. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena lampu depannya belum di nyalakan.
Karin lekas menyalakan lampu depan, dan melihat siapa yang berdiri di depan kamar kostnya dengan keadaan cukup basah.
"Dokter Davi!!!" Karin buru-buru membukakan pintu dan melihat Aldavi bersandar di tembok teras kamar kostnya.
"Dokter, anda sejak kapan disini?" Tanya Karin sembari menarik Aldavi untuk masuk.
Karin tidak menutup pintu kamar kostnya karena tidak mau ada fitnah yang nantinya malah akan memperumit masalah diantara mereka.
"Satu jam saya berdiri diluar. Awalnya saya mau pulang, tapi hujan dan saya tidak mau keujanan." Jawab Aldavi sambil menggigil.
"Kenapa nggak tunggu ketok pintu, Dok?" Tanya Karin lagi.
"Kamu banyak tanya, nggak mau kasih saya handuk atau keset kaki deh buruk-buruknya." Celetuk Aldavi sembari mengusap bahunya.
Karin melongo, namun selanjutnya ia manggut-manggut. Gadis itu lekas mengambil handuk dan memberikannya pada Aldavi.
"Handuk bekas saya, Dok. Nggak apa-apa?" Tanya Karin hati-hati.
Aldavi tidak menjawab, ia membungkus bagian atas tubuhnya dengan handuk yang Karin berikan.
Bukan tanpa alasan Aldavi datang ke kost Karin malam-malam apalagi sampai rela hujan-hujanan karena mengendarai motor.
"Saya kesini karena mama saya, dia bilang takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Aldavi dengan suara lebih baik.
"Kamu nggak lihat, saking pengen cepat sampai saya jadi pakai motor." Tambah Aldavi tanpa menatap Karin.
"Saya nggak apa-apa, Dok. Kalau gini ceritanya, bisa-bisa dokter yang sakit." Kata Karin geleng-geleng kepala.
"Sebentar saya ambil baju buat anda pakai." Tutur Karin lalu lekas berjalan menuju lemari pakaiannya.
"Ini, Dok. Pakai ini saja, saya mau duduk. Kaki saya pegal jalan-jalan terus." Tutur Karin sembari memberikan pakaiannya dan duduk di sebelah Aldavi.
"Kamu yakin kasih saya ini?" Tanya Aldavi menunjuk pakaian yang Karin berikan.
"Nggak ada lagi, Dok. Lagian mending ini daripada piyama gambar hello Kitty." Jawab Karin sembari mengusap kakinya sendiri.
Aldavi menghela nafas. "Nih makanan. Di makan, bukan di pelototin." Ucap Aldavi sembari beranjak masuk ke dalam kamar mandi Karin.
Karin menghela nafas, ia menatap bingkisan yang Aldavi bawa lalu geleng-geleng kepala.
"Kalau kayak gini sayang mama atau sayang pacar ya, sampai bela-belain kehujanan demi nganterin ginian." Gumam Karin menatap beberapa makanan yang Aldavi bawa.
Ketika Karin masih melamun, tiba-tiba saja pemilik kost Karin datang karena melihat jika anak kostnya kedapatan membawa seorang pria ke kamar kost.
"Karin, dia siapa? Kamu tahu kan nggak boleh masukin cowok ke kost?" Tanya ibu kost itu.
"Dia dokter saya, Bu. Ibu kan tahu saya habis kecelakaan, jadi harus diperiksa. Kebetulan diluar hujan, jadi saya ajak masuk." Jawab Karin memberitahu.
"Lagian Bu, pintunya nggak akan saya tutup supaya nggak ada fitnah." Tambah Karin.
"Yaudah, tapi kalau sudah selesai langsung suruh pulang ya. Awas saja kalau menginap." Tutur ibu kost itu lalu pergi meninggalkan kost Karin.
Setelah kepergian ibu kost, Aldavi keluar dari kamar mandi.
"Karin, kamu gila ya." Tegur Aldavi tiba-tiba.
Mendengar itu, sontak Karin membalik badan. Ia seketika melototkan matanya sambil berusaha menahan tawa.
"Ketawa saya usir kamu dari sini." Ancam Aldavi.
Karin tertawa lepas. "mengusir saya? Sadar, Dok. Ini kost saya." Sahut Karin.
"Saya bisa membeli seluruh kost ini sekarang juga kalau saya mau, jangan macam-macam." Tegur Aldavi.
Karin langsung diam. Ia lupa rules yang mengatakan jangan bermain-main dengan orang berduit.
"Sekarang berikan saya baju lain." Pinta Aldavi mengulurkan tangannya.
"Nggak ada, Dok. Sudahlah itu saja." Tolak Karin menggelengkan kepalanya.
Aldavi mengerem kesal. Ia menoleh ke samping dan menatap pantulan dirinya. Aldavi mengenakan kaos over size berwarna pink soft dengan gambar boneka beruang.
"Tampan kan, Dok?" Tanya Karin dengan usil.
"Diam kamu." Ketus Aldavi.
BAYANGIN GUYS BAYANGIN😭🤣
Bersambung.........................................