
Setelah dirawat selama 1 hari di rumah sakit, Archie pun diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Sepulang dari rumah sakit, Archie tidak dibiarkan untuk melakukan hal-hal yang melelahkan termasuk bekerja.
Bukan hanya itu, Kaivan pun tidak mengizinkan Archie untuk bekerja selama beberapa hari ke depan. Dan selama itu, Kaivan akan menyelesaikan semua masalah yang ada di kantor.
"Nanti aku sendirian dong." Ucap Archie sembari mengusap tangan suaminya.
Kaivan tersenyum, ia lagi-lagi membalas usapan tangan istrinya dengan kecupan di kening. Sejak 10 menit lalu, Archie mengatakan bahwa dia tidak mau ditinggal oleh suaminya bekerja. Archie ingin berangkat juga ke kantor.
"Nanti siang mama dan papa sampai di sini, Sayang. Kamu nggak akan sendiri kok." Tutur Kaivan dengan lembut.
Archie terdiam, ia baru ingat jika mertuanya sedang dalam perjalanan dan akan sampai hari ini.
"Oh iya, aku lupa. Yaudah deh, kamu boleh pergi. Tapi aku nggak di pecat kan?" Tanya Archie dengan riang.
"Tentu saja tidak, siapa yang berani memecat istri Presdir." Jawab Kaivan sambil tertawa.
Archie ikut tertawa, namun tawanya seketika terhenti karena mengingat sesuatu.
"Mas, karyawan yang kemarin–" ucapan Archie terhenti karena Kaivan mengecup singkat bibirnya.
"Sudah aku katakan, jangan pikirkan soal ini. Masalah kantor, aku akan selesaikan semuanya hari ini." Potong Kaivan dengan cepat.
"Mas sudah tahu pelakunya?" Tanya Archie dan Kaivan menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Siapa?!" Archie begitu penasaran bahkan sampai bangkit dari posisi berbaringnya.
Kaivan tersenyum. "Ada, setahuku dia cukup dekat sama kamu." Jawab Kaivan.
Archie mengerutkan keningnya, pikirannya tiba-tiba melayang kepada Rafi. Sejak lama pria itu sudah tahu tentang kedekatannya dengan Kaivan.
Archie memang sempat curiga pada pria itu, dan sepertinya kecurigaannya itu terbukti. Rafi yang sudah menyebarkan gosip tentang dirinya yang menjadi seorang simpanan.
"Kenapa diam, Sayang?" Tanya Kaivan lembut.
"Sepertinya aku tahu siapa, Mas." Jawab Archie menerka.
Kening Kaivan mengkerut. "Maksudnya kamu sudah lama mencurigai dia?" Tanya Kaivan dan Archie menganggukkan kepalanya.
"Ya, mungkin. Dia pernah bertanya padaku tentang hubungan kita, dia juga pernah melihatku turun dari mobil kamu. Dan …" Archie menggantung ucapannya, lalu menatap suaminya.
"Dan?" Tanya Kaivan ketika istrinya itu malah diam dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Dan dia menyatakan perasaan padaku." Jawab Archie ragu-ragu.
Jujur saja, Archie takut jika ini akan membuat emosi suaminya tersulut.
"Apa? Berani-beraninya dia." Geram Kaivan mengepalkan tangannya.
Archie lekas mengurai genggaman tangan suaminya. Ia tidak mau suaminya emosi karena hal yang tidak terlalu penting bagi hubungan mereka.
Memang tidak penting kan, sebab mau berapa kali pun Rafi mengungkapkan perasaannya, jika Archie tidak menanggapi maka akan sia-sia.
"Tapi sayang, sepertinya tebakan kamu salah. Penyebar gosip itu adalah seorang wanita." Ucap Kaivan lagi dengan nada yang masih sedikit kesal.
Archie terkejut, tebakannya salah. Penyebar gosip berarti bukan Rafi karena suaminya bilang adalah seorang wanita.
"Siapa, Mas?" Tanya Archie semakin penasaran.
"Teman kamu." Jawab Kaivan tanpa spesifikasi yang jelas.
Kaivan lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu bangkit, lalu menciumi seluruh wajah istrinya.
"Aku sudah terlambat, aku berangkat sekarang ya, Sayang." Ucap Kaivan lembut.
"Tapi mas, jawab dulu siapa." Pinta Archie menahan pergelangan tangan suaminya.
Kaivan tersenyum. "Aku akan menelpon kamu saat sidang di kantor nanti, kamu bisa lihat wajah wanita itu." Sahut Kaivan lalu kembali mencium bibir istrinya.
Archie mencium punggung tangan suaminya dan membiarkan Kaivan untuk pergi ke kantor walaupun rasa penasaran Archie belum terpecahkan.
"Sebenarnya siapa." Gumam Archie bertanya-tanya.
Archie memilih untuk tidak terlalu memikirkan, ia tidak mau jika sikapnya ini malah membuatnya harus masuk ke rumah sakit lagi.
Archie lalu mengusap perutnya. "Baik-baik di perut mami ya, Nak." Bisik Archie penuh senyuman.
Ini sudah tiga hari sejak kepergiannya dari rumah suaminya, namun tidak ada tanda-tanda jika suaminya akan menjemputnya untuk pulang.
Saat ini dia sedang hamil, tapi Aditya tidak peduli sama sekali. Jangankan menjemput, untuk sekedar menelpon dan menanyakan keadaannya saja tidak.
"Kenapa kak Adit berubah." Gumam Adinda dengan lirih.
Adinda menangis setiap kali mengingat suaminya membandingkan dirinya dengan Archie. Bukan hanya itu, bahkan Aditya mengatakan bahwa dia menyesal telah menikahinya.
Adinda benar-benar merasa sakit hati, ia menangis setiap malam di rumah kedua orang tuanya. Adinda cukup beruntung karena kedua orang tuanya masih mau menerima kehadirannya ini.
"Ini semua karena mbak Archie, dia selalu membuatku seperti gadis tidak berguna." Ucap Adinda dengan tangan mengepal.
"Aku benci mbak, sangat membenci mbak." Tambah Adinda lalu memukuli paha nya sendiri.
Adinda benar-benar dendam, ia muak dengan keadaan dimana setiap kondisi mendukung kakaknya. Tidak pernah sekalipun ada yang membuatnya merasa berguna.
Selalu Archie dan Archie. Adinda sangat muak dengan orang yang membanggakan Archie, termasuk suaminya.
Ditengah rasa kesalnya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk. Adinda buru-buru menyeka air matanya dan berdehem.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, dan mama Gita masuk ke dalam.
"Makan, Dinda. Ini sudah siang, sekarang mama mau pergi dulu." Ucap mama Gita dengan nada biasa-biasa saja.
Adinda menatap sang mama. "Mama mau kemana?" Tanya Adinda.
"Antar sop untuk mbak kamu, dia baru pulang dari rumah sakit tadi." Jawab mama Gita.
Adinda bangkit dari duduknya, lalu mengepalkan tangannya. Matanya kembali berkaca-kaca mendengar ucapan sang mama yang begitu peduli pada kakaknya.
"Ma, mbak Archie itu punya suami. Mama seharusnya lebih pikirin aku yang sekarang sedang ada masalah." Ucap Adinda dengan nada tinggi.
Mama Gita terkejut mendengar nada bicara putrinya. "Dinda, jangan begitu." Tegur mama Gita.
"Mama yang memaksaku gini, mama selalu saja mendahulukan mbak Archie. Mama bahkan nggak peduli sama aku yang pernikahannya sedang goyah saat ini." Timpal Adinda sembari menangis.
"Aku pulang ke rumah mama karena suami aku nggak peduli, tapi mama dan papa juga sama-sama tidak peduli padaku." Tambah Adinda lalu kembali duduk di pinggir ranjang.
Mama Gita masuk, lalu mendekati putrinya.
"Dinda, mama dan papa peduli sama kamu." Kata mama Gita pelan.
"Bohong, hanya mbak Archie yang mama pedulikan. Mama hanya sayang pada mbak Archie." Sarkas Dinda.
"Aku benci sama mbak Archie, aku membencinya. Semua yang aku alami saat ini adalah karena dirinya!!" Teriak Dinda dengan tangan terkepal.
"ADINDA!!" suara bariton itu terdengar tegas dan penuh amarah.
Papa Dito masuk dengan rasa terkejut dan marah mendengar ucapan putri keduanya itu.
"Jangan pernah menyalahkan Archie atas masalah yang kamu alami saat ini. Tidak ada yang memaksa kamu, semua ini adalah keinginan kamu sendiri." Tegur papa Dito.
"Kamu kan yang ingin menikah dengan Aditya, bahkan sampai rela merebut tunangan mbak mu sendiri. Lalu sekarang, seenaknya kamu menyalahkan Archie. Kamu ini tidak punya perasaan sama sekali, Dinda." Lagi, papa Dito bicara dengan nada tinggi.
"Papa lebih tidak punya perasaan. Aku juga anak papa, aku seharusnya bisa mendapatkan apa yang mbak Archie dapatkan." Sahut Adinda sambil berderai air mata.
"Tapi tidak, aku tidak mendapatkan apa yang mbak Archie dapatkan dan karena itulah aku merebutnya. Aku merebut Aditya darinya dan aku tidak menyesal sama sekali!!" Teriak Adinda begitu emosional.
"DINDA!!" Kali ini mama Gita yang membentak bahkan mengangkat tangannya pada sang putri.
Adinda menyeka air matanya lalu tersenyum remeh. Dia menatap sang mama, kemudian memegang tangannya.
"Pukul aku, Ma. Tangan mama itu mungkin memang hanya untuk memukulku, dan memberikan kasih sayang untuk mbak Archie." Pinta Adinda dengan sedikit memaksa.
Papa Dito mendekat, ia menarik tangan istrinya agar menjauh dari Adinda.
"Papa benar-benar tidak menyangka kamu seperti ini, Adinda. Archie yang tersakiti, tapi kamu yang merasa paling disakiti." Tukas papa Dito lalu menarik tangan istrinya keluar dari kamar Adinda.
ADINDA OH ADINDA😫😭
Bersambung....................................