Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kaivan cemburu


Archie dan Kaivan pergi ke restoran yang ada di dekat kantor untuk meeting bersama dengan calon klien sesuai dengan jadwal yang tadi sudah Karin beritahu.


Mereka pergi secara bersamaan, namun tetap profesional. Tidak ada yang namanya suami istri jika sedang jam kantor kecuali jika mereka sedang berdua saja di ruangan Kaivan.


Jika hanya berdua di ruangan Kaivan, maka tidak ada yang namanya atasan dan bawahan. Kaivan tidak akan membiarkan Archie untuk bersikap formal jika mereka sedang berdua saja.


Pasangan suami istri itu kini sudah masuk ke dalam mobil, bergegas untuk ke tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Walaupun dekat, namun tetap saja mereka akan pergi naik mobil, Kaivan tidak mau istrinya kelelahan.


“Padahal kan dekat, Mas. Segala naik mobil, padahal jalan kaki juga nggak jauh-jauh banget.” Ucap Archie sembari menikmati cilok, jajanan yang Archie beli di depan kantor.


“Walaupun dekat, aku nggak mungkin biarin kamu jalan kaki. Aku nggak mau nanti kamu pegal, lagian kasihan anakku.” Sahut Kaivan tanpa menatap istrinya, namun tangannya mengusap perut Archie.


Archie memegang tangan suaminya yang sedang asik mengusap perutnya, lalu menoleh dengan wajah yang sedikit masam.


Kaivan keterlaluan sekali, jalan kaki saja tentu tidak akan membuatnya kelelahan, apalagi tidak terlalu jauh.


“Padahal nggak akan capek, Mas. Tapi yaudah deh, aku kan istri yang baik, jadi akan selalu nurut sama suami.” Kata Archie lalu memeluk lengan suaminya erat.


“Apalagi kalau suaminya ganteng kayak mas Kaivan gini.” Tambah Archie membuat Kaivan tertawa.


Kaivan yang sekarang berbeda dengan Kaivan yang dulu, semenjak bersama Archie Kaivan jadi tidak ragu lagi untuk tersenyum dan tertawa.


Archie benar-benar membawa pengaruh baik untuk Kaivan. Setidaknya pria itu tidak terus memasang wajah datar lagi.


“Istriku sekarang pandai sekali merayu ya, membuatku ingin terus tersenyum dan tertawa.” Ujar Kaivan lalu mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Kan diajarin sama mas Kaivan.” Sahut Archie lalu tertawa.


Perjalanan yang diiringi dengan candaan itu membuat mereka tidak sadar jika kini mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Waktu yang mereka habiskan tidak sampai 10 menit, keduanya pun langsung keluar dari dalam mobil tanpa lupa membawa apa saja yang dibutuhkan.


Kaivan berjalan didepan Archie, selayaknya atasan dan bawahan.


Kaivan begitu gagah dan tampan, membuat banyak pasang mata memperhatikannya. Percayalah jika itu membuat Archie sedikit cemburu.


“Suami aku huu … enak banget sih perhatiin gitu, matanya sampai mau copot.” Batin Archie dengan perasaan yang sedikit kesal.


Kaivan tentu saja tidak tahu jika istrinya sedang menggerutu, pria itu langsung saja duduk di depan calon kliennya dan barulah Archie yang duduk disebelahnya.


Kini mereka saling berhadapan dengan orang yang akan bekerja sama dengannya.


“Maaf kami terlambat.” Ucap Kaivan pada pria yang duduk di depannya itu.


“Tidak masalah sama sekali, Pak Kaivan. Kami juga baru datang.” Sahut pria itu dengan penuh senyuman.


“Oh ya, perkenalkan. Dia Archie, sekretaris saya.” Ucap Kaivan memperkenalkan Archie.


Archie tersenyum, ia lalu membalas uluran tangan pria yang ada di hadapannya. Sejujurnya Archie sangat takut, ia takut suaminya akan marah padanya.


“Saya sebenarnya sudah tahu, sekretaris anda cukup terkenal karena kecantikannya, dan hari ini saya tahu jika sekretaris anda memang sangat cantik.” Ujar pria itu dengan senyuman manis untuk Archie.


Archie tersenyum canggung, ia lekas menarik tangannya lalu melirik suaminya yang sedang melonggarkan dasinya sambil berdehem. Kaivan sudah sangat sesak saat ini.


“Jika anda sudah pernah mendengar tentang sekretaris saya ini, maka saya yakin anda juga tahu jika dia adalah istri saya. Benar kan?” Ujar Kaivan dengan wajah datarnya.


“Kalau begitu saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu, saya pikir itu hanya gosip saja tapi hari ini saya menjadi tahu kebenarannya langsung dari anda.” Tambah pria itu dengan cepat.


Kaivan hanya mengangguk singkat, mereka pun melanjutkan urusan mereka dengan lebih serius. Kaivan ingin cepat-cepat selesai dan mengajak istrinya untuk pergi, ia sudah sangat cemburu saat ini.


Archie pun merasakan hal yang sama, bahkan selama meeting pun ia berusaha untuk tetap fokus walaupun matanya akan melirik suaminya sesekali. Archie tidak mau jika Kaivan sampai emosi.


Setelah beberapa saat, akhirnya meeting pun selesai dengan kesepakatan yang berhasil.


Perusahaan Kaivan akan bekerja sama dengan perusahaan kliennya hari ini.


“Baiklah, karena meeting sudah selesai, kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu ya.” Ucap Kaivan lalu bangkit dari duduknya.


Archie ikut bangkit dan berdiri di sebelah suaminya, Ia memperhatikan Kaivan yang berjabat tangan, ia ingin melakukannya juga namun suaminya itu malah memegang tangannya dengan erat.


“Kami permisi, selamat siang.” Pamit Kaivan lalu menarik tangan suaminya menjauh dari sana.


Archie pasrah, ia bahkan langsung masuk ke dalam mobil begitu suaminya membukakan pintu untuknya. Tidak lama, Kaivan ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.


“Mas.” Panggil Archie, namun Kaivan hanya diam saja.


Kaivan langsung mengendarai mobilnya pergi meninggalkan restoran itu. Bahkan karena cemburu, Kaivan sampai tidak memesan makanan apapun atau mengajak istrinya itu untuk makan disana.


“Cari rujak yuk, Mas. Baby kayaknya lagi mau makan yang pedas dan asam.” Ajak Archie dengan riang.


Kaivan pun menoleh, menatap istrinya. Mendengar permintaan istrinya, seketika amarah Kaivan mereda.


Kaivan itu sebenarnya tidak marah pada Archie, ia hanya kesal dengan pria tadi yang memuji istrinya.


Archie itu memang cantik, tapi memuji tanpa maksud itu rasanya tidak mungkin apalagi itu seorang pria.


“Aku lagi cemburu.” Celetuk Kaivan lalu kembali menatap lurus ke depan.


“Apa, cemburu kenapa? Apa karena pria tadi?” Tanya Archie dan Kaivan menyahut dengan deheman.


Mendengar jawaban dari suaminya seketika membuat Archie tertawa. Jika Nisa bilang suaminya menyeramkan ketika sedang cemburu, maka menurut Archie itu tidak benar.


Kaivan malah terlihat lucu saat ini, benar-benar menggemaskan.


“Kok ketawa, kamu senang dipuji laki-laki tadi?” Tanya Kaivan melototkan matanya.


“Nggak dong, mana mungkin aku senang. Gantengan suami aku, suaranya juga lebih seksi suami aku, suami aku pemenangnya.” Jawab Archie sampai memejamkan matanya, seakan begitu mendalami ucapannya barusan.


Mendengar jawaban istrinya seketika membuat Kaivan tersenyum malu-malu. Ahh, jika begini maka amarah Kaivan benar-benar akan mereda.


“Baiklah, demi istriku yang cantik ini, ayo kita cari rujak seperti keinginannya.” Ujar Kaivan lalu membelokkan mobilnya dimana ia biasa membeli rujak untuk Archie.


Archie hanya tersenyum, wanita itu lalu menggandeng dan memeluk lengan suaminya dengan begitu manja. Bagai anak kucing yang asik mengusap-usap diri ke majikannya.


AWAL BARU, UPDATE NYA TIPIS-TIPIS YAA🤣


Bersambung..................................