
Di sebuah kamar yang cukup besar itu, tampak sepasang suami istri yang sedang berdebat kecil.
Beruntung kamar mereka berada di lantai satu, sehingga Kaivan dan Archie tidak akan mendengar perdebatan mereka.
"Aku nggak nyangka kamu akan minta hal itu dari Kaivan, Mas. Kamu tahu kan apa yang sudah dilakukan oleh Risa dan Aditya." Ucap mama Fia dengan nada bicara yang pelan.
"Kaivan dan Archie hampir saja diterpa masalah besar karena mereka berdua, dan kamu malah seenaknya minta dia memaafkan mereka." Tambah mama Fia sambil geleng-geleng kepala.
"Sayang, aku tahu. Tapi reputasi perusahaan yang sama-sama kita bangun sejak lama, kamu mau itu hancur dalam sekejap?" Tanya papa Jefry.
"Ingat, perusahaan kita. Terutama perusahaan kamu yang di pimpin sama Kaivan itu menjadi perusahaan terbesar, kamu mau citra perusahaan itu hancur karena dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab." Tambah papa Jefry.
"Tetap saja, Mas. Aku nggak bisa, aku nggak bisa paksa Kaivan maupun Archie, lagipula Aditya dan Risa itu harus bisa bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri." Sahut mama Fia menolak menerima usulan suaminya.
Papa Jefry menghela nafas. "Terserah kamu, Ma. Aku malas berdebat sama kamu." Ucap papa Jefry lalu memilih untuk diam dan duduk di pinggir ranjang
"Kamu memang nggak akan peduli dengan perasaan Kaivan dan Archie, karena bagaimanapun Kaivan bukan anak kandung kamu, iya kan?" Tanya mama Fia.
Mendengar itu, sontak papa Jefry terkejut. Ia bangkit dari duduknya, menatap istrinya dengan mata yang membelalak.
"Ma, kamu ini bicara apa sih!" Tegur papa Jefry seraya bangkit dari duduknya.
"Aku benar kan, Mas? Kamu peduli pada Risa karena dia anak kandungmu." Sahut mama Fia.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu tidak memikirkan Risa, apa itu artinya kamu nggak sayang sama dia?" Tanya papa Jefry balik.
"Kamu nggak bisa membuat balik seperti itu, Mas. Kasusnya beda, disini Risa memang bersalah." Jawab mama Fia dengan cepat.
Papa Jefry hanya menggelengkan kepalanya, pria itu memilih untuk keluar dari kamar daripada terus berdebat dengan istrinya.
"Mas, aku belum selesai bicara. Mas?!!" Panggil mama Fia, namun tidak dihiraukan oleh suaminya.
Sementara itu, tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada yang mendengar perdebatan mereka.
Wanita itu yang berniat untuk mengisi air minum di dapur, tanpa sengaja malah mendengar perdebatan di kamar mertuanya.
Archie tidak bermaksud untuk menguping, namun saat ia mendengar namanya dan nama suaminya disebut membuat ia tahu alasan mereka bertengkar adalah masalahnya dan suaminya dengan Aditya serta Risa.
Archie memejamkan matanya sebentar, ia merasa sangat bersalah dengan kejadian hari ini. Mertuanya bertengkar itu karena berselisih paham untuk membelanya atau membela Aditya.
Archie menyeka sudut matanya, lalu lekas melangkah menuju kamarnya. Archie harus bicara dengan suaminya tentang ini.
Sampai di kamar, tampak Kaivan sedang duduk sambil memangku laptopnya. Pria itu sedang bekerja dengan begitu serius sehingga Archie jadi ragu untuk mengganggunya.
"Aku bilang besok saja kali ya." Batin Archie seraya meletakkan teko kaca berisi air ke atas meja nakas.
Archie lalu duduk di pinggir ranjang, pertengkaran mertuanya tadi benar-benar membuat Archie kepikiran.
Mama Fia bahkan sampai menyinggung tentang status Kaivan yang bukan anak kandung papa Jefry, itu yang membuat Archie semakin merasa bersalah.
"Sayang." Panggil Kaivan.
Archie tersadar, ia bergumam lalu menatap suaminya dengan senyuman yang khas.
Kaivan menutup laptopnya dan meletakkan nya di atas meja. Kaivan lalu bangkit dari duduknya, dan mendekati sang istri.
Kaivan memegang dagu Archie, lalu mengangkatnya sedikit. Kaivan mengecup bibir istrinya singkat.
"Kenapa melamun?" Tanya Kaivan lembut.
"Menurut kamu, bagaimana jika kita mencabut laporan atas tante Risa dan Aditya?" Tanya Archie balik.
Archie sejujurnya ragu, namun ia harus membersihkan diri untuk bicara dengan suaminya tentang hal ini.
"Papa yang meminta kamu bicara begini?" Tanya Kaivan menebak.
Archie menggelengkan kepalanya, namun sudah terlambat. Kaivan bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar dari kamar.
Archie buru-buru mengejar. "Mas, dengerin aku dulu." Pinta Archie.
Kaivan tidak mendengarkan, pria itu turun ke lantai satu dan bersamaan itu papa Jefry kembali setelah duduk di teras rumah.
Papa Jefry tampak bingung melihat Kaivan yang menghadang langkahnya.
"Ada apa, Kai?" Tanya papa Jefry.
"Papa tidak bisa dapat izin dariku untuk membebaskan Aditya dan mbak Risa, lalu papa minta pada istriku. Papa pikir itu akan berhasil?" Tanya Kaivan dengan sedikit kesal.
"Mas, dengarkan aku dulu. Papa nggak–" ucapan Archie terhenti saat Kaivan mengangkat tangannya, meminta dirinya untuk diam.
"Kamu diam, Archie. Saya akan bicara dengan papa, dan saya juga sudah katakan sebelum bahwa kamu tidak seharusnya mencegah tindakanku selanjutnya." Potong Kaivan dengan formal.
Begitulah Kaivan, ketika sedang marah maka Kaivan akan bicara dengan formal pada istrinya itu.
"Kamu ini bicara apa sih, Kai? Papa nggak ngerti?" Tanya papa Jefry.
Tidak lama kemudian mama Fia datang setelah mendengar keributan di ruang tamu.
"Kaivan, Archie. Ada apa?" Tanya mama Fia.
"Mas, papa nggak ngomong apa-apa sama aku." Ucap Archie sembari memegang tangan suaminya.
"Bohong! Jika papa tidak bicara, lalu kenapa kamu tiba-tiba membahas sesuatu yang papa bahas dengan saya tadi." Bantah Kaivan.
"Kai, kenapa bicara begitu dengan istrimu." Tegur mama Fia.
"Aku nggak bohong, Mas. Papa nggak ngomong apapun sama aku, sebenarnya aku …" Archie menggantung ucapannya, lalu menatap mertuanya bergantian.
"Apa, Nak?" Tanya papa Jefry.
"Aku tidak sengaja mendengar pertengkaran papa dan mama tadi." Jawab Archie pelan.
Mendengar jawaban Archie, sontak mama Fia dan papa Jefry saling pandang. Sementara Kaivan memandang orang tuanya bergantian.
"Bertengkar? Kalian?" Tanya Kaivan mengerutkan keningnya.
"Mas, papa dan mama bertengkar karena masalah kita dengan keluarga Aditya. Jadi, lebih baik kita cabut saja laporannya." Pinta Archie dengan lembut.
"Tidak, Archie. Itu tidak perlu, Aditya dan Risa wajib bertanggung jawab atas perbuatan mereka." mama Fia menyahut tidak setuju.
Papa Jefry menghela nafas, ia memilih untuk pergi dari sana tanpa berkata apapun.
"Tapi ma, jika ini membuat mama bertengkar dengan papa, bagaimana bisa. Aku merasa bersalah, Ma." Ucap Archie pelan.
Kaivan tidak bicara, ia juga memilih untuk pergi tanpa bicara apapun bahkan pada istrinya. Kaivan ke kamarnya.
"Jangan sampai kamu dan Kaivan ikut bertengkar karena masalah ini. Kamu jangan khawatir, mama bisa menyelesaikannya." Tutur mama Fia dengan lembut.
Usai mengatakan itu, mama Fia pun pergi meninggalkan menantunya sendiri. Kini tinggal Archie disana, wanita itu menghela nafas dengan perasaan serba salah.
KASIAN ARCHIE, INI SEMUA GARA-GARA SIAPA GUYS??
Bersambung........................................