Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Bertemu = Ribut


Setelah beberapa hari terkahir dipenuhi dengan duka atas kematian Anto dan kondisi Risa, akhirnya semuanya sudah kembali membaik.


Risa sudah mengikhlaskan kepergian Anto usai mendatangi langsung makan mendiang Anto dan meminta maaf di sana.


Kaivan dan Archie tentu saja membantu keluarga papa Jefry, bahkan Kaivan membiarkan mereka tinggal di rumah yang seharusnya menjadi milik Kaivan karena Kaivan lah yang melintasi hutang-hutang di bank.


Namun Kaivan bukan pria yang seperti itu, apalagi istrinya adalah wanita yang berhati baik. Kaivan bukan hanya membiarkan mereka tinggal di rumah itu, tapi juga mengurus perusahaan yang hampir bangkrut dan merekrut Aditya sebagai karyawan biasa dulu.


Hari ini adalah hari pertama Aditya bekerja setelah kurang lebih 1 Minggu pria itu terpuruk dalam kesedihannya karena kehilangan segalanya.


"Saya nggak bisa langsung kasih kamu posisi penting, tapi jika kamu dinilai bagus maka saya pasti akan menaikkan jabatan kamu." Ucap Kaivan pada keponakannya itu.


"Iya, Om. Nggak apa-apa, aku tahu dan menerimanya. Aku akan berusaha bekerja keras agar tidak membuat om malu." Balas Aditya dengan yakin.


Kaivan senang mendengarnya, ia pun tanpa berkata apa-apa pada Aditya langsung bicara pada bagian manager yang nantinya akan bantu memantau perkembangan Aditya.


"Selamat bekerja, saya pergi dulu." Ucap Kaivan memberi semangat, lalu setelah itu pergi dari perusahaan papa Jefry.


Kaivan tentu harus kembali ke perusahaannya, ia tidak bisa meninggalkan perusahaanya dan terus fokus pada perusahaan papa Jefry.


Kaivan masuk ke dalam mobil dimana ada sosok wanita cantik yang sedang menikmati bubur ayam.


"Sudah, Mas?" Tanya Archie pada suaminya.


"Sudah, Sayang." Jawab Kaivan manggut-manggut.


"Sekarang cepat habiskan bubur kamu, kita harus cepat ke kantor." Tambah Kaivan lalu menyeka sudut bibir istrinya yang terdapat noda bubur.


"Sudah ayo sambil jalan saja, aku bisa kok makan sambil kamu bawa mobil." Kata Archie.


Kaivan pun akhirnya langsung menyalakan mesin mobilnya, dan pergi meninggalkan area kantor.


Kenapa Archie menunggu di mobil dan tidak ikut Kaivan ke dalam kantor tadi, karena Kaivan melarang.


Entahlah, Kaivan yang begitu posesif sampai-sampai tidak rela meski istrinya hanya dilirik oleh Aditya saja.


Kaivan cemburuan, tapi menggemaskan.


Sambil Archie makan, wanita itu sesekali menyuapi suaminya. Sebelumnya mereka sudah sarapan di rumah, namun Archie tiba-tiba ingin makan bubur tadi, makanya ia langsung membelinya.


"Pedas, Sayang." Ucap Kaivan setelah menelan suapan pertama dari istrinya.


Archie lekas mengambil air mineral, lalu membantu suaminya untuk minum.


"Pedas darimana sih, Mas. Nggak kok, ini enak malah." Sahut Archie tidak merasakan pedas sama sekali.


Kaivan geleng-geleng kepala, ia menoleh menatap istrinya lalu menghentikan mobilnya karena memang sedang lampu merah.


Kaivan membuka seatbelt nya, lalu menunduk dan menciumi perut istrinya yang sudah semakin terlihat besar.


"Pedas kan, Nak? Mami makan nya terlalu banyak sambal ya, baby kepedasan nggak?" Tanya Kaivan sembari mengusap-usap perut istrinya.


"Nggak ih, pedas darimana sih mas." Archie menjawabnya dengan cepat.


Kaivan menegakkan tubuhnya lagi, lalu melempar senyuman pada wanita berpakaian dress dan blezer putih itu.


Memang, karena perutnya yang sudah semakin besar, membuat Archie tidak bisa memakai rok span yang ketat lagi sehingga ia ke kantor dengan menggunakan dress dan blezer agar lebih formal.


"Perut kamu sudah makin besar, Sayang. Berhenti bekerja ya?" Ucap Kaivan mengusulkan.


Sudah berkali-kali Kaivan mengusulkan hal ini, namun Archie selalu menolak dengan alasan yang sama.


"Nanti, Mas. Kantor masih butuh aku, apalagi jadwal kamu sedang padat-padatnya. Kasihan Karin kalau aku tinggal." Sahut Archie menolak.


Kaivan menghela nafas. Jika istrinya sudah beralasan begini, maka apa yang bisa Kaivan lakukan selain diam.


Mereka pun sampai di kantor dan keluar bersamaan. Kaivan tidak malu lagi ketika dirinya ingin merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya jalan bersama.


"Selamat pagi, Pak, Bu." Sapa para karyawan dengan sopan.


"Pagi." Balas Archie ramah, sementara Kaivan tetap pada sikapnya yang dingin.


Keduanya masuk ke dalam lift bersama dengan karyawan yang lain. Archie dan Kaivan berdiri paling belakang diantara karyawan nya.


"Nanti mau aku buatin kopi dulu?" Tanya Archie menawarkan.


"Iya, Sayang. Bawa ke ruangan ku ya, sekalian sama dokumen urgent yang harus aku tanda tangani." Jawab Kaivan.


Karyawan yang berada satu lift dengan Archie dan Kaivan hanya bisa menahan senyum mendengar panggilan bos mereka yang begitu khawatir.


Sampai akhirnya Archie dan Kaivan turun, barulah mereka menjerit iri. Mereka ingin seperti Archie yang begitu di ratukan oleh sosok pria seperti Kaivan.


"Pagi, Mbak Archie." Sapa Karin yang baru saja dari pantry dan membuat sarapan.


"Makan mie pagi-pagi? Ya ampun, itu nggak bagus untuk kesehatan, Karin." Archie geleng-geleng kepala melihat sarapan yang Karin buat.


"Abis gimana mbak, aku cuma cari yang simpel. Tadi ke bawah cari bubur nggak ada." Sahut Karin.


Archie hanya bisa menghela nafas, lalu ia pun pergi ke pantry untuk membuatkan suaminya kopi.


Archie meninggalkan Karin sendirian di meja kerja. Gadis itu tampak sedang asik menikmati sarapannya, sebelum sebuah ketukan di meja nya tiba-tiba membuat ia tersedak.


Karin batuk-batuk, dan untung saja dia sudah mengambil air minum. Karin lekas menenggaknya.


"Makan mie pagi-pagi. Kaivan ada nggak?!" Tanya pria itu dengan ketus.


Karin mengusap bibirnya. "Yang sopan dong, Dok. Permisi kek, bukan malah ketuk meja kayak nagih hutang." Karin bicara tak kalah ketus.


"Saya nggak butuh protes kamu itu. Jawab saya, Kaivan ada nggak?" Tanya Aldavi dengan cepat.


"Ada, baru datang dan anda tidak boleh masuk." Jawab Karin langsung melarang.


"Kenapa saya nggak boleh masuk? Kamu lupa siapa saya?" Tanya Aldavi menatap Karin dengan tajam.


"Tahu, anda dokter Aldavi. Tapi ini masih pagi, pak Kaivan nggak terima tamu di pagi hari." Jawab Karin tidak kalah tajam tatapannya.


"Makanya pagi-pagi jangan suka makan mie, otaknya jadi nggak berfungsi." Cibir Aldavi.


"Saya sudah ada janji sama Kaivan, jadi saya mau langsung masuk saja." Aldavi langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Kaivan.


Karin menatap pria itu dengan tatapan melongo. Jika memang Davi sudah ada janji, dan bisa menerobos masuk, lalu untuk apa izin dengan Karin.


Tidak lama kemudian Archie kembali dan menatap Karin yang misuh-misuh dengan bingung.


"Kenapa?" Tanya Archie.


"Teman pak Kaivan itu mbak, nyebelin." Jawab Karin, membuat Archie langsung paham.


Archie tersenyum. "Dokter Davi? Ribut lagi sama dia?" Tebak Archie dan Karin tidak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan helaan nafas.


"Lama-lama jodoh loh karena sering barantem gitu." Celetuk Archie bergurau.


"Nggak ya, Mbak. Aku nggak suka cowok banyak mulut." Sahut Karin pelan, namun cepat.


Archie tertawa lepas, lalu lekas membawa kopi serta dokumen yang harus suaminya tanda tangani ke dalam ruangan Kaivan.


Ketika Archie masuk, ia bingung melihat suaminya memijat pelipisnya, sementara Davi tampak panik.


"Ada apa, Pak?" Tanya Archie sembari meletakkan kopi di atas meja kerja Kaivan.


"Sayang, sini deh." Pinta Kaivan sembari menepuk pahanya.


"Heh! Jangan tebar pesona depan gue ya!!" Tegur Davi melototkan matanya.


"Ada apa sih? Kok kelihatan panik gitu?" Tanya Archie pada Aldavi.


"Orang tuanya suruh dia nikah cepat, Sayang. Panik, karena dia nggak punya pacar." Kaivan menjawab, diakhiri dengan tawa yang lepas.


Archie manggut-manggut, kini ia paham mengapa pria itu sampai panik sekali. Sepertinya Aldavi sedang curhat dengan Kaivan.


"Kai, gue selalu kasih lo solusi kesehatan ya. Sekarang gantian, gue minta solusi." Ucap Aldavi sedikit memaksa.


"Kasih solusi kesehatan ke gue itu emang tugas lo sebagai dokter, Dav." Sahut Kaivan ketus.


"Lagian sudah tua, bukannya cari pacar malah cari masalah." Tambah Kaivan meledek.


"Masalah sama siapa? Gue nggak punya masalah ya sama siapapun." Ujar Aldavi dengan cepat.


"Sama Karin, Dok. Dokter kan punya masalah mulu sama Karin, lama-lama jodoh lohh …" Archie menyahut ikut meledek.


Aldavi mendengus. "Suami istri sama aja." Cibir Aldavi, lalu membuang nafasnya kasar.


Kaivan dan Archie hanya bisa terkekeh melihat Aldavi yang misuh-misuh. Persis seperti ekspresi Karin yang Archie lihat tadi.


JODOH DI TANGANKU 😭😭


Bersambung........................................


Note. Ada satu pembaca yang kasih rate 1 bintang dan itu 2 kali di lakukan sama dia. Sebenarnya aku nggak masalah kalau dia benar-benar baca, tapi kadang itu cuma tangan usil yang mau rate novelnya turun😫😪