
Archie meletakkan segelas kopi di meja kerja Kaivan. Ia tahu suaminya saat ini masih berusaha meredakan emosi, dan Archie sudah memiliki sesuatu yang bisa membuat suaminya kembali ceria.
Setelah meletakkan kopi, Archie berdiri sedikit lebih dekat dengan suaminya lalu mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
Kaivan tersadar, ia tersenyum tipis lalu mengangkat wajahnya sehingga kini bertatapan dengan istrinya.
"Sepulang dari kantor, gimana kalau kita jangan langsung pulang mas?" Usil Archie dengan tiba-tiba.
Kening Kaivan mengkerut. "Kenapa?" Tanya Kaivan balik.
Archie tersenyum manis, lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Archie kemudian meletakkan ponselnya itu dan mendekatkannya pada sang suami agar Kaivan bisa melihatnya.
Ketika Kaivan sudah melihat, pria itu sontak menatap istrinya dengan pandangan tak percaya.
"Archie, bagaimana kamu tahu?" Tanya Kaivan dengan wajah bahagianya.
Archie mengerutkan keningnya, memasang ekspresi wajah yang pura-pura berpikir.
"Mama Fia pernah bilang sama aku kalau mas suka resital, jadi aku sengaja deh cari jadwal pertunjukan resital hari ini." Jawab Archie dengan jujur.
Kaivan terkekeh pelan, pria itu bangkit dari duduknya lalu memeluk Archie dengan erat.
Archie benar-benar bisa mengerti dirinya, bahkan tahu apa yang dia sukai salah satunya resital, pertunjukan piano solo.
"Kenapa bisa mama tiba-tiba kasih tahu kamu kalau saya suka pertunjukan piano?" Tanya Kaivan sembari mengusap bahu istrinya.
Archie tidak langsung menjawab, gadis itu pertama mengeratkan pelukannya dulu, lalu mendongakkan kepalanya.
"Di rumah aku lihat ada foto kamu, Mas. Foto kamu lagi main piano, aku penasaran jadi aku tanya deh sama mama. Ternyata kamu dulu juara main piano di sekolah ya." Jawab Archie lalu menunjukkan kedua ibu jarinya sebagai apresiasi.
Kaivan tersenyum, pria itu mengacak-acak rambut istrinya sedikit namun sesaat kemudian dia juga yang merapikannya.
"Sejak kecil saya memang suka main piano, bahkan punya cita-cita untuk menjadi seorang gitaris." Jelas Kaivan sedikit dengan gurauan.
"Eh, kok gitaris. Pianis dong!!" Protes Archie sambil tertawa.
Kaivan ikut tertawa, namun tidak selepas istrinya. Pria itu senang bisa membuat Archie tertawa meski dengan hal-hal kecil seperti ini.
"Jadi nanti mau menontonnya?" Tanya Archie usai menghentikan tawanya.
"Tentu saja, sudah lama saya tidak menyaksikan pertunjukan piano." Jawab Kaivan mengangguk semangat.
Archie melepaskan diri dari pelukan suaminya, ia lalu menatap Kaivan dengan perasaan lega. Setidaknya senyuman Kaivan yang setipis tisu itu sudah kembali.
Walaupun hanya setipis tisu, tapi itu jauh lebih baik daripada Kaivan yang sedang marah atau menahan amarahnya.
"Jangan lupa kopi buatan saya di minum ya, Pak." Tutur Archie kembali formal.
"Pak, Pak, Pak. Saya bukan bapak kamu." Sahut Kaivan sewot.
Pria itu meraih secangkir kopi yang sudah istrinya buatkan lalu meminumnya pelan-pelan karena panas. Seperti biasa, kopi buatan Archie selalu menjadi yang terbaik.
Archie tergelak. "Karyawan tadi, mas pecat?" Tanya Archie dengan ragu.
"Bukan hanya pecat, tapi saya polisikan." Jawab Kaivan dengan serius.
"Kenapa bertanya?" Tanya Kaivan balik.
"Nggak apa-apa, aku suka sama ucapan mas tadi. Bahkan mas mengakui aku sebagai istri." Jawab Archie tersenyum malu-malu.
Kaivan menatap istrinya yang tersenyum malu-malu, hal itu mengudang senyuman tertahan dari bibirnya.
"Jika perlu, saya bisa mengumumkan status kamu kepada seluruh dunia." Timpal Kaivan tanpa menatap istrinya.
"Sini." Kaivan menjentikkan jarinya, meminta istrinya itu untuk mendekat.
Archie lekas menurut, ia mendekat dan terkejut ketika Kaivan malah mencium kening dan kedua pipinya.
"Sudah, saya cuma mau itu." Kata Kaivan lalu mengusir Archie agar menjauh.
Archie hanya melongo, tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibirnya. Gadis itu pasrah sekali.
***
Sepulang dari kantor di sore hari, Archie dan Kaivan pun pergi ke pertunjukan piano di salah satu gedung yang memang biasa mengadakan resital.
Mereka duduk di kursi bagian tengah, tentu dengan posisi bersebalahan. Tidak terlalu banyak yang menonton sehingga ada beberapa kursi yang masih kosong.
"Saya dulu biasa menonton ini sendiri, karena jarang sekali orang menyukai resital." Ucap Kaivan tanpa menatap istrinya.
"Sekarang nggak perlu sendiri, kalau mau nonton mas bisa ajak aku." Sahut Archie sambil menatap wajah suaminya.
Kaivan menoleh, membuat pandangan mereka bertabrakan. Pria itu tersenyum tipis, lalu meraih tangan istrinya untuk ia genggam dengan erat.
"Terima kasih." Ucap Kaivan dan Archie membalasnya dengan senyuman manis.
Pertunjukan pun dimulai. Bisa Archie lihat jika suaminya sangat menikmati pertunjukan itu. Bahkan matanya sampai terpejam ketika mendengar alunan musik yang begitu sopan mengetuk gendang telinga.
Pantas saja, pertunjukan seperti ini memang bisa membuat penontonnya tenang.
"Mas Kaivan tampan sekali, aku tidak bisa berhenti mengagumi ketampanannya apalagi ketika sedang memejamkan mata penuh ketenangan begini." Batin Archie penuh rasa kagum.
Kaivan membuka matanya, membuat Archie buru-buru mengalihkan pandangannya dan bertepuk tangan lalu bangkit mengikuti yang lainnya.
Pertunjukan yang telah selesai itu membuat Archie dan Kaivan memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka akan pulang besok karena hari ini cukup melelahkan.
Sebelum pulang, Kaivan mengajak istrinya untuk makan malam di salah satu restoran yang menjual makanan khas daerah.
Mereka sudah memesan dan tinggal menunggu pesanan mereka datang.
"Terima kasih untuk hadiahnya, Archie." Ucap Kaivan dengan pandangan tulus dan penuh cinta.
Archie tersenyum. "Sama-sama, Mas. Aku senang jika mas suka." Sahut Archiena.
"Sebelumnya apa kamu pernah menonton resital atau kamu menyukainya?" Tanya Kaivan.
"Belum, Mas. Ini pertama kalinya aku nonton pertunjukan piano." Jawab Archie dengan jujur.
"Aku biasa nonton konser K-Pop, hehehe." Tambah Archie tersenyum malu-malu.
Kaivan hanya tersenyum, ia membalas dengan mengusap wajah Archie yang terasa lembut dan membuatnya candu untuk mengusapnya.
"Lain kali, jika mas mau nonton resital ajak aku ya. Aku suka lihat mas tenang waktu mendengarkan musik." Ucap Archie dengan semangat.
Kaivan menatap istrinya dengan kening mengerut. "Begitu?" Tanya Kaivan.
"Iya." Jawab Archie manggut-manggut.
Kaivan tersenyum lagi, Archie bukan hanya pengertian tetapi super pengertian. Demi membuatnya tenang, Archie sampai mencari-cari tiket untuk menonton pertunjukan piano.
"Kamu baik sekali, Archie." Ucap Kaivan membuat Archie menatapnya lalu tersenyum.
MEMANG BAIK OM, MIRIP SAMA AUTHOR NYA🙈🤣
Bersambung..................................