
Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, sisanya tetap menjadi kuasa-Nya untuk menentukan takdir para manusia.
Seperti contohnya Archie dan Kaivan. Mereka sudah planning tentang kelahiran Archie yang masih lebih dari satu Minggu. Namun rencana dan perkiraan dokter yang juga manusia biasa tidak direstui takdir.
Dini hari, tepat jarum pendek berada di angka 1. Archie meringis dan membangunkan suaminya. Wanita itu mengeluh kesakitan sambil mengusap perutnya.
Kaivan panik, dia langsung membangunkan mama Fia untuk mengajak Archie ke rumah sakit.
"Hiks … akhhh, sakit Ma!!" Archie terisak sambil terus mengusap perutnya yang besar.
"Tenang, Sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, tahan ya." Tutur mama Fia dengan lembut.
Rasa panik dan takutnya enggan ia tunjukkan pada sang menantu. Dia harus terlihat baik, demi menyemangati menantu kesayangannya itu.
"Mas, hiks … aku takut." Archie tiba-tiba bicara kepada suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Semua akan baik-baik saja, Archie. Jangan berpikir buruk." Sahut Kaivan tanpa menatap istrinya.
Kurang dari 30 menit, akhirnya Kaivan berhasil mengantar istrinya ke rumah sakit. Di lobby, tampak dua suster sudah menunggu dengan brankar.
Kaivan keluar dari mobil, kemudian membuka pintu belakang dan menggendong tubuh istrinya yang terus meringis kesakitan.
Hati Kaivan merasa sangat sesak.
"Sayang, semua akan baik-baik saja. Ingat, baby melon kita sudah mau bertemu papi dan maminya." Tutur Kaivan sembari menyamai laju roda brankar.
Archie menatap suaminya yang begitu khawatir. Dia tidak mengatakan apapun sampai mereka masuk ke ruang persalinan.
"Nyonya Archie, saya periksa dulu ya." Ucap dokter kandungan Archie.
Archie menggenggam tangan suaminya. "Jangan tinggalin aku, Mas." Pinta Archie di tengah rasa sakitnya.
"Nggak akan, Sayang. Aku disini, sama kamu. Kita nantikan baby melon sama-sama." Sahut Kaivan, lalu mengusap peluh di kening sang istri.
"Tuan dan Nyonya, kita masih harus menunggu sebentar lagi. Pembukaannya belum lengkap. Tolong jangan mengejan ya, Nyonya Archie." Kata dokter usai memeriksa Archie.
Archie meringis kesakitan. Rasa sakitnya sampai tidak bisa Archie deskripsikan dengan kata-kata.
"Berapa lama, Dok? Istri saya kesakitan sekali." Ucap Kaivan dengan perasaan resah.
"Tidak bisa diperkirakan, Pak. Tolong bantu istrinya untuk tidak mengejan ya." Jawab dokter itu.
Kaivan kembali menatap istrinya. Dia mengusap kening Archie lagi yang sekarang mudah berkeringat.
"Sakit, Mas. Perut aku mules, aku nggak tahan." Ucap Archie sambil terus mengusap perutnya.
"Tahan ya, Sayang." Balas Kaivan.
Kaivan kemudian ikut mengusap perut istrinya. Dia juga memberikan kecupan penuh kasih sayang.
"Baby melon, dengar papi kan? Kuat ya, Nak. Kita doa sama-sama untuk kamu dan mami, papi menunggu kalian dan akan berdoa semoga kalian baik-baik saja." Bisik Kaivan.
Setelah hampir 2 jam, akhirnya dokter mengatakan jika Archie sudah memasuki pembukaan ke 10, yang mana itu sudah lengkap.
"Nyonya Archie, dalam hitungan tiga maka mengejanlah sekuat anda ya." Tutur dokter memberikan instruksi.
Archie hanya menganggukkan kepalanya. Rasa tidak tahan seperti ada yang ingin keluar membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Kaivan masih setia di sebelah Archie. Membisikkan doa dan kalimat penyemangat untuk sang istri.
Archie menggenggam tangan suaminya sambil mengejan sekuat tenaganya.
"Ayo lagi, Nyonya. Sedikit lagi!!" Ucap dokter.
Archie kembali mengejan. Dia sampai mengangkat tubuhnya dan mengejan sekuatnya.
Tidak lama setelah teriakan penuh perjuangan dari Archie, terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang.
Kaivan memejamkan mata. Dia mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang, dan tidak lupa ucapan terima kasih yang bertubi-tubi.
Bayi yang baru dilahirkan itu langsung dibawa oleh perawat untuk di bersihkan. Begitu pula dengan Archie.
"Makasih, Mas." Ucap Archie sangat pelan.
"Aku yang makasih, kamu sudah berjuang demi anak kita. Kamu ibu yang hebat, Sayang." Balas Kaivan.
Tidak sampai setengah jam, baby melon datang dengan keadaan yang sudah bersih dan sudah di bedong menggunakan popok bayi pemberian mama Fia diluar ruangan.
"Selamat ya tuan dan nyonya, bayinya laki-laki. Sehat dan sangat tampan." Ucap dokter sembari meletakkan di sebelah Archie.
"Terima kasih, Dokter." Kata Archie dengan senyuman manis.
Dokter tersenyum. Dia mundur menjauhi pasangan yang baru dikaruniai anak itu untuk menikmati saat-saat bahagia mereka.
"Anak papi, akhirnya Nak!!" Bisik Kaivan sembari mencolek pipi putranya.
"Kamu azanin dulu, Mas." Tutur Archie, dan Kaivan langsung melakukannya dengan baik.
Setelah diazani, bayi mungil itu kembali ke dalam gendongan ibunya yang siap memberikan asi eksklusif.
"Awww …" Archie cukup kaget begitu merasakan ngeri di dadanya.
"Sakit, Sayang?" Tanya Kaivan lembut.
"Sedikit, Mas. Aku kaget, mungkin karena pertama kali susuin baby melon." Jawab Archie.
"Kan udah biasa susuin aku, Sayang." Ucap Kaivan dengan usil.
***
Kabar kelahiran Archie sampai di telinga keluarga besar. Kini mama Fia, mama Gita dan papa Dito berada di ruang perawatan Archie untuk menjenguk cucu mereka.
Mama Gita menggendong cucunya dengan wajah penuh kebahagiaan. Ini impiannya.
"Cucu nenek ganteng banget, mirip sama papinya." Ucap mama Gita.
"Sama kakeknya kali." Papa Dito menyahut lalu ikut menatap cucunya.
Kaivan dan Archie tersenyum melihat kebahagiaan para orang tua karena kedatangan anggota keluarga baru.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya mama Fia.
"Aku baik, Ma. Mas Kaivan kasih aku semangat dan doanya. Dia penyemangat ku." Jawab Archie lalu menatap suaminya.
Kaivan tersenyum. Dia mencium kening istrinya lagi dengan penuh kasih sayang.
"Siapa namanya, Kai?" Tanya mama Gita.
"Arkan Yazid A. Diando." Jawab Kaivan memberitahu.
"Baby Arkan, Archie dan Kaivan." Ucap papa Dito guna meledek cucunya.
"Jadi Arkan itu gabungan nama kalian?" Tanya mama Fia dan dijawab anggukkan kepala oleh Kaivan.
Sementara Archie hanya tersenyum. Dia suka nama putranya, apalagi nama depannya adalah gabungan antara nama dia dan suaminya, seakan itu membuktikan bahwa Arkan adalah bukti cinta mereka.
"Namanya baby Arkan, bukan baby melon lagi." Bisik Archie sambil tertawa pelan.
"Iya, Sayang. Sekarang maminya aja yang aku panggil melon. Mami melon." Sahut Kaivan.
Archie menekuk wajahnya. "Mami Archie, bukan mami melon." Kata Archie meralat.
Kaivan mengusap kepala istrinya. "Iya, mami Achie, kesayangan papi." Bisik Kaivan.
YEAYY!! AKHIRNYA BABY MELON LAUNCHING. EHH BUKAN BABY MELON, BABY ARKAN😚
Bersambung.............................