Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kondisi Risa dan permintaan maaf


Seorang wanita yang sudah 2 hari ini tidak sadarkan diri, akhirnya hari ini membuka matanya kembali.


Risa menatap ke arah kanan kiri dan arah lainnya namun tidak ada sesuatu yang bisa dilihat olehnya.


Tangan wanita itu yang masih lemas meraba-raba, lalu naik ke wajahnya dan menyentuh matanya yang sudah terbuka namun tetap tidak bisa melihat apapun.


"Mama, mama sudah sadar!!"


Risa mendengar seseorang yang sangat ke kenali suaranya, namun tidak bisa ia lihat wujudnya.


Semuanya gelap.


"A-adit, mama … mama nggak bisa lihat apa-apa." Ucap Risa setengah terisak karena rasa panik.


"Mama, tenang ya. Dokter akan datang dan memeriksa mama, semua akan baik-baik saja." Tutur Aditya sembari menggenggam tangan ibunya.


Tidak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Risa yang sejak tadi meraung, mempertanyakan tentang matanya yang tidak bisa melihat.


"Nyonya, tenanglah. Saya sudah memeriksa anda, dan dengan berat hati saya harus katakan jika anda mengalami kebutaan permanen." Ucap dokter itu pada akhirnya.


"NGGAK!! Saya nggak mau dokter, saya tidak mau buta." Sahut Risa menolak dengan rauangan yang semakin menjadi-jadi.


Aditya menutup mulutnya, menahan tangisannya ketika melihat ibunya menangis tidak terima pada kondisinya.


"Serpihan kaca yang masuk ke dalam mata anda membuat bagian-bagian mata anda rusak, dan mengakibatkan kebutaan ini." Jelas dokter lagi dengan berat hati.


Aditya mendekat, lalu memeluk sang mama yang menangis semakin keras. Ia mengusap bahu dan punggung Risa dengan penuh kasih sayang.


"Ma, tenanglah. Ini semua pasti teguran setelah apa yang kita lakukan pada Archie dan keluarga oma Fia." Bisik Aditya dengan lembut.


"Nggak! Minggir kamu, Adit." Risa mendorong putranya.


"Dimana mas Anto? Papa kamu dimana?" Tanya Risa sembari meraba-raba.


"Mas, mas tolong aku hiks … aku nggak bisa melihat, Mas." Risa memanggil-manggil suaminya.


Aditya kembali memeluk sang mama. "Ma, papa sudah tiada. Papa sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya." Bisik Aditya.


Risa mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menggelengkan kepalanya.


"Bohong kan, Dit? Kamu bohong kan?" Tanya Risa dengan takut dan panik.


"Mama selamat dalam kecelakaan itu, tapi tidak dengan papa. Papa sudah pergi, Ma." Ucap Aditya sambil terisak.


"Nggak mungkin papamu meninggalkan mama, mama mau cari papa. Papa pasti baik-baik saja." Ucap Risa hendak turun, namun ia tiba-tiba merasakan sesuatu.


Risa meraba kakinya dengan tangan yang gemetaran.


"A-adit, kaki mama kenapa nggak bisa di gerakin?" Tanya Risa dengan suara yang bergetar.


Aditya tidak mampu menjawabnya, ia takut sang mama semakin hancur jika tahu bahwa dia juga mengalami kelumpuhan total. Kaki Risa tidak bisa di gerakan kembali.


"Dokter, kaki saya kenapa?" Tanya Risa dengan wajah paniknya.


"Anda lumpuh, Nyonya. Anda tidak akan bisa berjalan kembali." Jawab dokter itu memberitahu.


Risa menutup mulutnya, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali tanda bahwa ia tidak bisa menerima kenyataan ini.


Risa kembali di peluk oleh Aditya, namun tidak membuat tangisannya berhenti. Risa sangat menderita, kebutaan, kelumpuhan dan kehilangan suaminya.


"Aaaaaa … kenapa semua ini terjadi sama mama, Adit. Mama tidak mau hidup lagi, mama mau mati saja sama papa kamu." Ucap Risa dengan tangisan yang semakin pecah.


"Ma, tenanglah. Semua akan baik-baik saja, mama harus semangat lagi dalam menjalani kehidupan." Bisik Aditya berusaha menguatkan sang mama.


Karena Risa semakin tidak terkendali, dokter pun menyuntikkan obat penenang kepada Risa dan wanita itu pun berhenti meraung, bahkan langsung tidur.


"Dok, jika begini mama saya pasti bisa stress. Saya tidak mau itu, Dok." Ucap Aditya sembari menatap Risa.


"Anda dan orang-orang terdekatnya berperan penting dalam hal ini, Tuan. Cobalah untuk mengajaknya bicara dan memberinya motivasi." Sahut dokter mencoba memberikan solusi non medis.


Aditya menganggukkan kepalanya, ia kemudian duduk sambil menggenggam tangan sang mama.


Aditya menundukkan kepalanya, bahkan meneteskan air matanya. Aditya baru menyadari jika semua ini adalah hukuman atas perbuatan mereka selama ini.


Di antara dirinya dan kedua orang tuanya, sang mama lah yang paling menderita disini.


Aditya dan keluarganya sudah sangat jahat pada Archie dan mama Fia, inilah balasan yang mereka dapatkan.


***


Kabar Risa yang sudah sadar telah sampai di telinga Archie, Kaivan dan mama Fia. Ketiganya langsung bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan wanita itu.


Bukan hanya mereka, bahkan Adinda dan kedua orang tuanya pun ikut datang ke rumah sakit untuk menjenguk Risa.


Sampai disana, mereka terkejut melihat Risa sedang menangis sambil berteriak memanggil nama suaminya.


Ada Aditya dan papa Jefry di ruangan itu yang berusaha untuk menenangkan Risa.


"Risa, tenanglah nak. Semua orang datang untuk menjenguk kamu." Ucap papa Jefry lembut.


"Aku nggak mau, Pa. Aku mau mas Anto, aku mau suami aku." Sahut Risa dengan lirih.


Risa meraba dan menemukan tangan yaitu tangan papa Jefry.


"Papa pasti marah sama Anto sehingga papa mengusirnya, iya kan? Hiks … jangan, Pa. Dia nggak salah, selama ini dia hanya mengikuti permintaanku." Ucap Risa dengan tangisan yang semakin deras.


"Mas Anto tidak pernah ingin menyakiti siapapun, tapi aku lah yang memintanya melakukan itu. Dia suami yang baik, Pa." Tambah Risa.


Mama Fia mendekati Risa, lalu mengusap kepala wanita itu tanpa berkata apapun.


Risa beralih memegang tangan mama Fia yang berada di kepalanya, lalu menggenggamnya erat.


"Mama, mama tidak pernah berbohong. Aku mohon jawab pertanyaanku." Pinta Risa.


"Suami aku baik-baik saja kan, Ma? Apa papa mengusirnya dari kehidupanku?" Tanya Risa dengan tergesa-gesa.


Mama Fia menutup mulutnya, berusaha menahan tangisannya.


"Mama, jangan diam saja. Jawab pertanyaanku." Pinta Risa memohon sambil menangis.


"Risa, Anto sudah tiada. Dia sudah meninggalkan kita semua." Ucap mama Fia dengan lirih.


Mendengar itu, tangisan Risa semakin keras namun sudah tidak ada lagi kalimat yang menyangkal dari mulut Risa. Risa mempercayai ucapan mama Fia.


"Mas Anto, kenapa kamu ninggalin aku mas. Hiks … ajak aku, Mas!!" Erang Risa dalam pelukan mama Fia.


Mama Fia mengusap punggung dan kepala Risa dengan penuh kasih sayang dan cinta. Mama Fia lagi-lagi melupakan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Risa.


"Ikhlaskan suami kamu ya, Nak. Dia sudah tenang disana." Tutur mama Fia lembut.


"Hiks … maafin aku dan mas Anto, Ma. Maaf sudah membuat pernikahan mama dan papa berantakan." Ucap Risa lalu mencium punggung tangan mama Fia.


"Aku orang yang jahat, Ma. Tapi mas Anto tidak, dia tidak pernah mau ini semua terjadi, aku yang menyuruhnya melakukan kejahatan." Tambah Risa dengan tangis penuh penyesalan.


Mama Fia mengusap kepala putrinya. "Mama sudah memaafkan kamu, Risa. Sekarang kamu harus semangat untuk berubah, yakin jika kebahagiaan bisa datang dari mana saja." Tutur mama Fia.


Risa lalu menatap kanan dan kiri, tangannya pun meraba-raba di udara seperti mencari-cari sesuatu.


"Archie." Panggil Risa tiba-tiba.


Archie yang mendengar namanya dipanggil lantas menyeka air matanya, lalu mendekati Risa.


"Iya, Tante. Aku disini." Sahut Archie dengan suara yang sedikit dengung karena sejak kemarin ia menangis.


"Archie, tolong maafin Mama ya. Selama ini mama sudah jahat sama kamu, bahkan hampir membuat rumah tangga kamu rusak. Hiks … mama menyesal, Archie." Ucap Risa sembari memegangi tangan Archie.


Archie meneteskan air mata tanpa suara tangisan, ia menarik tangan Risa lalu mencium punggung tangannya.


"Sama seperti mama Fia, aku juga sudah memaafkan Tante. Tante jangan merasa bersalah lagi, semua sudah baik-baik saja. Sekarang waktunya Tante melanjutkan hidup dengan penuh semangat." Balas Archie dengan lembut.


Risa meraba tangan Archie, lalu memeluk wanita itu dengan erat.


"Kamu memang wanita yang baik, Archie. Mama sangat menyesal tidak menjadikan kamu sebagai menantu mama, makasih banyak ya, Nak." Ucap Risa sembari mengusap punggung Archie.


"Semuanya sudah takdir, Tante. Meski aku bukan menantu Tante, tapi aku tetap kerabat Tante. Aku istri adiknya Tante." Timpal Archie.


Risa tidak menyahut, wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya bahkan membuat perut Archie sedikit tertekan.


"Sabar ya, Tante. Kebahagiaan bisa datang dari mana saja, jika Tuhan merestui maka Aditya bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dari aku ataupun Adinda." Ucap Archie lembut.


Kaivan mendekat, lalu melepaskan pelukan mereka. Bukan Kaivan tidak suka Risa memeluk istrinya, tapi ia bisa melihat jika istrinya merasa tidak nyaman dengan pelukan yang terlalu erat.


"Kaivan." Panggil Risa seperti bisa merasakan kehadiran Kaivan di dekatnya.


"Aku juga sudah memaafkan, Mbak. Tidak perlu meminta maaf. Selama mbak mau berubah, aku pasti akan mendukung mbak." Ucap Kaivan to the point.


Usai mengatakan itu, Kaivan menarik tangan istrinya menjauh dari Risa. Entah mengapa ia merasa jika kakaknya itu ingin Archie kembali pada Aditya.


"Risa, ada Dinda dan orang tuanya juga. Kamu juga harus minta maaf sama mereka." Tutur papa Jefry.


Adinda mendekat, lalu langsung memeluk Risa. Selama jadi menantu, Dinda tidak pernah merasakan pelukan ibu mertuanya.


"Mama minta maaf jika belum bisa jadi mertua yang baik, Dinda. Tapi Mama mohon sama kamu, kamu kembali ya sama Aditya." Pinta Risa dengan lirih.


"Mama adalah mertua yang baik, dan aku sangat sayang sama mama. Tapi maaf, Ma. Aku nggak bisa kembali sama kak Adit, aku sudah memutuskan untuk bercerai dengannya." Sahut Adinda menolak.


"Meski hubungan diantara anak-anak kita sudah putus, tapi anda tetap kerabat kamu, Bu Risa." Ucap mama Gita.


"Hiks … kalian semua sangat baik, saya semakin menyesali perbuatan saya selama ini." Lirih Risa menundukkan kepalanya.


Aditya ikut mendekat, lalu mengusap kedua bahu sang mama. Aditya bisa merasakan seberapa besar penderitaan yang mama nya itu rasakan.


"Kami doakan, semoga Aditya, anda dan pak Jefry bisa bahagia. Kalian harus kembali menjalani kehidupan yang lebih baik." Tutur papa Dito.


Risa memanggil papa Jefry dan langsung memeluknya. Wanita itu kembali menangis mengingat perbuatannya yang sudah sangat durhaka pada orang tuanya itu.


"Papa juga sudah memaafkan kamu, Risa. Papa yakin kamu bisa bahagia, begitupula dengan Aditya." Balas papa Jefry lembut.


Papa Jefry lalu menatap mama Fia dengan senyuman. "Terima kasih." Ucap papa Jefry tanpa suara.


Mama Fia membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman yang manis.


Sementara Archie pun ikut tersenyum, lain hal nya dengan Kaivan yang memasang wajah biasa saja. Bukan karena tidak bahagia, tapi memang sudah tabiatnya Kaivan memasang wajah datar.


"Senyum, Mas. Ini waktunya kita bahagia, seluruh keluarga sudah bersatu kembali." Tutur Archie pelan.


Tangan Archie terulur untuk menyentuh bibir suaminya dan menariknya agar membentuk senyuman.


Kaivan tersenyum dengan tingkah istrinya yang menggemaskan. Archie memang baik, dan Kaivan sangat mencintai dan menyayangi nya.


SEMOGA BAHAGIA SELALU YA KALIAN❤️


Bersambung.................................


.