Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Bahagia diatas penderitaan orang


Adinda merasa begitu senang dengan kepulangan suaminya. Ia menyambut Aditya dengan penuh senyuman bahagia di wajahnya.


Demi menyambut suaminya pulang, bahkan Adinda kembali ke rumah mertuanya sebelum di jemput oleh Aditya, Adinda melupakan bahwa sebelumnya ia dan suaminya sedang bertengkar.


“Aku senang kamu sudah pulang, Kak.” Ucap Adinda sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Aditya melepaskan pelukan Adinda dengan sedikit kasar. “Ya, aku capek mau istirahat.” Balas Aditya cuek.


Aditya berlalu begitu saja dari harapan Adinda. Ia bahkan tidak memperdulikan istrinya yang seperti mau memeluknya karena rasa rindu.


“Kak, tunggu.” Adinda lekas mengejar suaminya menuju kamar mereka.


Kini di ruang tamu itu tinggal Risa, Anto dan papa Jefry. Anto dan Risa bahagia karena bisa kembali berkumpul, namun tidak dengan papa Jefry yang memilih nekat membebaskan anak dan cucunya dan pergi dari istrinya.


Papa Jefry tampak sangat murung, dan itu tentu saja disadari oleh Risa dan juga Anto. Mereka bisa melihat kesedihan di mata papa Jefry yang harus berpisah dari istrinya.


“Pa, sudahlah. Jangan sedih lagi, nanti juga mama Fia balik lagi.” Kata Risa dengan entengnya.


“Benar, Pa. Papa lihat saja Dinda, dia kembali tanpa dijemput dulu oleh Aditya.” Tambah Anto lagi dengan santai.


“Kalian tidak perlu pikirkan papa, pikirkan saja kelakuan kalian. Jangan sampai apa yang sudah papa lakukan, semuanya sia-sia.” Timpal papa Jefry penuh sindiran.


Papa Jefry tidak bicara lagi, ia memilih untuk bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Kesedihannya masih terasa, bukannya menenangkan dirinya Risa dan Anto malah bicara hal yang membuatnya semakin sedih.


Sebagai suaminya, papa Jefry sangat tahu jika istrinya itu adalah orang yang tidak mudah luluh. Jika dia sudah mengambil keputusan, maka itulah akhirnya.


Kembali lagi ke ruang tamu dimana ada Risa dan Anto yang masih mau duduk di sana. Keduanya sangat senang bisa bersama-sama lagi setelah berpisah selama beberapa hari.


“Akhirnya aku bisa pulang dan bersantai di rumah.” Ucap Risa dengan senyuman dan kedua tangan terbuka lebar, seperti orang yang sedang menikmati udara.


Anto tersenyum. “Untung saja papa bisa membebaskan kamu dan Aditya dengan jaminan.” Sahut Anto.


Risa menoleh, menatap suaminya lalu terkekeh. “Tentu saja, Mas. Kejahatan aku dan Aditya adalah pelanggaran ringan.” Kata Risa dengan santai.


“Tanggung banget ya, seharusnya sekalian saja buat kejahatan berat.” Gurau Anto dengan tawa yang terdengar nyaring.


Risa memukul suaminya, namun tidak ayal ia juga ikut tertawa mendengar candaan dari Anto barusan.


“Hustt, diam-diam saja. Aku mau pikirkan rencana yang baru dan kali ini akan benar-benar memisahkan Kaivan dan Archie.” Ujar Risa dengan senyuman smirk.


“Sebenarnya alasan kamu begitu membenci Archie dan Kaivan itu apa, Ma?" Tanya Anto mengerutkan keningnya.


“Sebenarnya mama nggak punya masalah sama Kaivan, tapi masalahnya ada pada Archie.” Jawab Risa menjelaskan.


“Archie sudah menolak Aditya dan membuat anak kesayangan mama itu menikahi Adinda yang tidak berguna.” Tambah Risa dengan wajah kesalnya.


Anto manggut-manggut, ia tidak bicara lebih banyak dan mengajak istrinya untuk ke kamar saja. Tidak berguna juga membicarakan Kaivan dan Archie saat ini.


Sementara itu di kamar Aditya dan Adinda, tampak pasangan suami istri itu hanya duduk tanpa bicara apapun. Adinda terus berusaha mengajak suaminya bicara, namun Aditya seperti malas menyahuti.


“Kak, kakak nggak kangen sama aku?” tanya Adinda sambil mengusap bahu suaminya dengan lembut.


Aditya yang sedang memainkan ponselnya lantas menoleh, ia menatap Adinda lalu meletakkan ponselnya begitu saja diatas ranjang.


Aditya tersenyum smirk. “Aku? tentu saja kangen, terutama dengan …” Aditya menggantung ucapannya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri.


“Sentuhanmu.”Tambah Aditya berbisik.


"Kalau begitu, ayo aku manjakan dengan sentuhanku." Bisik Adinda dengan suara yang berat.


Aditya tersenyum, kemudian lekas menyatukan bibirnya ke bibir istrinya. Sambil mencium, Aditya membawa tubuh Adinda untuk berbaring diatas ranjang.


Aditya dan Adinda begitu nikmatnya melepas rindu. Suara-suara yang terdengar dari mulut keduanya seakan begitu menggambarkan permainan hari ini.


Mereka tidak peduli jika kebahagiaan mereka itu berada di atas penderitaan papa Jefry yang saat ini harus berpisah dari istrinya demi bisa membebaskan dia dan Risa.


"Ahh, aku merindukan ini. Sangat merindukannya!!" Erang Aditya dengan kepala mendongak keatas.


Adinda pun sama mengeluarkan suara indahnya ketika merasakan hujaman demi hujaman dari suaminya.


Adinda mencengkram tangan suaminya yang sedikit licin karena keringat. Permainan siang itu benar-benar menciptakan banyak peluh.


***


Kaivan membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Pria itu memang memaksa untuk menggendong istrinya meski Archie mengatakan bahwa ia sudah baik-baik saja.


Kaivan menundukkan kepalanya, mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Istirahat ya, aku sudah minta bibi untuk buatin kamu makan." Tutur Kaivan sembari menggenggam tangan istrinya.


"Kamu mau kemana, Mas?" Tanya Archie pelan.


"Aku? Tentu saja disini menemani kamu." Jawab Kaivan.


Archie menarik tangan Kaivan, kemudian memeluknya erat. "jangan kemana-mana, temani aku ya." Pinta Archie.


"Iya, Sayangku. Sekarang tidur hmm?" Tutur Kaivan dan Archie manggut-manggut.


Setidaknya sampai makanan matang, Archie bisa tidur. Selama di rumah sakit kemarin, tidur Archie kurang cukup.


Tidak butuh waktu lama untuk Archie tidur, hal itu membuat Kaivan sangat senang. Ia pun pelan-pelan melepaskan pelukan tangan istrinya dan beralih mengusap kepalanya.


"Maaf ya, Sayang. Aku selalu membuatku kamu sedih, meski begitu kamu harus tahu jika aku sangat mencintai kamu." Bisik Kaivan.


Kaivan tiba-tiba terdistraksi dengan suara ketukan pintu kamarnya. Ia lantas menoleh dan melihat mama Fia disana.


Mama Fia masuk ke dalam kamar anak dan menantunya, lalu mengusap kepala Archie.


"Syukurlah Archie sudah tidur, kamu bilang tidurnya kurang nyenyak kan." Ucap mama Fia sambil terus menatap menantunya.


Kaivan manggut-manggut. "Iya, Ma. Mama sudah makan?" Tanya Kaivan.


"Sudah, mama tadi pesan ayam geprek." Jawab mama Fia lalu menatap putranya.


"Mumpung tidak ada kamu yang akan melarang." Tambahnya sambil tertawa pelan.


Kaivan hanya tersenyum, ia tahu jika sang mama sedang berusaha menutupi kesedihannya dengan candaan ringan seperti ini.


BUAT APA SEDIH YA MAMA FIA, YANG PENTING PUNYA ARCHIE DAN KAIVAN 😉


Bersambung..............................