Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Bertemu sahabat lama


Hari ini Archie izin pulang kantor lebih awal karena ia akan menemui temannya yang sudah lama berpisah dengannya.


Kaivan tentu saja mengizinkan istri kesayangannya itu untuk pergi asalkan diantar oleh sopir kantor.


Archie mau tidak mau akhirnya mengangguk. Wanita itu pergi dengan diantar oleh sopir kantor menuju salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan di kota itu.


"Bapak santai-santai saja dulu, aku mau temuin tamanku dulu ya." Ucap Archie pada sang sopir.


"Siap, Bu. Nanti hubungi saya saja, saya akan tunggu sambil minum kopi di depan." Sahut sopir itu dengan sopan.


Archie tersenyum, ia pun merogoh tas selempang miliknya dan mengeluarkan dua lembar uang kertas dengan gambar mantan presiden dan wakil presiden Indonesia.


"Ini, Pak. Buat minum kopi." Ucap Archie lalu langsung keluar setelah memberikannya.


Sopir kantor itu berusaha untuk memanggil dan mengatakan bahwa yang diberikan atasannya itu sangat banyak, namun istri di pemilik perusahaan malah lari begitu saja.


Sementara itu Archie langsung naik ke lantai 3 dimana tempat janjiannya sudah dikatakan sebelumnya.


Sampai di sana, Archie memasang wajah penuh senyuman lalu melambaikan tangannya.


"Jihan!!!" Archie berlari kecil lalu memeluk sahabatnya.


Wanita bernama Jihan itu tentu saja membalas pelukan sahabatnya, namun ia buru-buru melepaskan ketika meraskaan sesuatu.


"Ya ampun, sahabat gue sebentar lagi jadi ibu!! Aaaa … selamat ya." Kata Jihan dengan penuh rasa bahagia.


Archie terkekeh lalu menganggukkan kepalanya. "Makasih ya, Sayang." Sahut Archie.


"Lo apa kabar?" Tanya Archie sembari duduk di depan Jihan.


"Seperti yang lo lihat, gue baik walaupun aslinya stress jadi budak korporat." Jawab Jihan sambil bergurau.


Archie tergelak. "Capek? Nikah sayang, nikah." Timpal Archie.


"Ck, mentang-mentang lo kerja sama suami. Bisa ya sambil ciuman, sambil ngetik." Bisik Jihan, seketika membuat Archie melototkan matanya.


Archie menepuk punggung tangan sahabatnya itu mendengar ucapan nya yang memang selalu asal-asalan sejak dulu.


"Mulut lo." Tegur Archie geleng-geleng kepala.


"Tapi benar kata lo, gue capek dan seharusnya nikah. Jadi …" Jihan menggantung ucapannya, lalu menyodorkan undangan pernikahan pada Archie.


"Jadi datang ya ke pernikahan gue." Tambah Jihan.


Archie melototkan matanya melihat undangan yang sahabatnya itu berikan, bahkan saking tidak menyangka nya Archie sampai menutup mulutnya.


"Kok lo nggak bilang-bilang mau nikah, ya ampun." Ucap Archie lalu membuka undangan pernikahan temannya itu.


Tertulis nama Jihan dan calon suaminya, Andi. Archie manggut-manggut.


"Gue pasti datang, sama kesayangan gue." Ucap Archie lalu menyimpan undangan tersebut.


"Iya deh 'kesayangan'." Kata Jihan manggut-manggut.


"Tapi Chie, gue senang lihat lo bahagia sama suami lo, seenggaknya lo nggak menderita setelah kejadian Aditya dan adik lo." Jihan bicara dengan serius, bahkan tangannya menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Iya, gue bersyukur banget karena Tuhan kasih jodoh yang jauh lebih baik dari Aditya." Sahut Archie mengakui.


"Tapi apa kabar sama mereka, pernikahan mereka baik-baik saja?" Tanya Jihan.


"Gue kurang tahu, sudah sebulan lebih gue nggak komunikasi sama adik gue. Terakhir gue cuma papasan sama dia, itu juga dia nggak mau ngomong sama gue." Jawab Archie dengan sedikit sedih.


Jihan mengulurkan tangannya, lalu mengusap bahu sahabatnya.


"Gue tahu banget perasaan lo gimana, Chie. Lo orang yang baik, baik banget malah." Ucap Jihan pelan.


"Walaupun Dinda yang salah dan seharusnya minta maaf, tapi gue tahu kalau lo yang ngerasa nggak enak. Lo pasti nggak bisa kayak gini, musuhan sama adik sendiri. Gue tahu banget seberapa sayang lo sama Dinda." Tambah Jihan.


Archie menghela nafas, ia lalu meraih segelas jus miliknya yang sudah dipesankan oleh Jihan untuk meredam rasa sedih di hatinya.


"Gue udah nggak bisa paksa Dinda, dia punya hak untuk hidupnya. Gue cuma berdoa, semoga dia bahagia sama pilihannya." Kata Archie dengan tenang.


Selalu, Archie selalu mendoakan yang terbaik untuk adiknya meskipun terakhir kali ia mengatakan tentang hubungannya yang telah putus dengan Adinda. Nyatanya itu hanya sebuah reaksi akan emosi saat itu, karena Archie masih menganggap Dinda sebagai adiknya.


"Btw, berapa usia kandungan lo?" Tanya Jihan.


"Jalan lima bulan." Jawab Archie sembari mengusap perutnya.


"Duhh, idul fitri tahun depan berarti gue harus kasih THR buat ponakan gue ya." Ucap Jihan lalu ikut mengusap perut sahabatnya.


Archie terkekeh pelan, ia membiarkan Jihan mengusap-usap perutnya karena akan jarang sekali Jihan melakukannya sebab rumah mereka yang berjauhan.


Jika Archie sedang menikmati waktu bersama dengan sahabatnya, maka berbeda dengan Adinda yang sekarang berada di rumah untuk mengurusi suaminya.


Sudah satu minggu semenjak Aditya pulang dari rumah sakit, dan selama itu Aditya tidak pernah beranjak dari ranjang.


"Cepetan bangun, biasanya juga kamu suka keluyuran sampai malam. Aku capek kayak gini." Ucap Adinda sambil menyuapi suaminya.


"Nggak sopan kamu sama suami, Dinda." Tegur Aditya dengan sedikit kesal.


"Aku sopan kalau kamu menghargai aku sebagai istri, tapi apa? Kamu malah selingkuh, dan sekarang giliran kamu sakit, aku yang harus urusin." Ujar Adinda dengan lantang.


"Seharusnya kamu itu minta diobati sama selingkuhan kamu, orang yang sudah menyebarkan virus itu." Tambah Adinda dengan ketus.


"Dinda!! Jika aku sudah sehat, maka aku akan langsung menceraikan kamu." Kata Aditya dengan sedikit kesulitan.


"Nunggu sembuh? Penyakit HIV itu susah sembuh, obatnya cuma kematian." Sahut Adinda dengan tangan terlipat di dada.


"DINDA!!!" Suara yang begitu lantang dan memiliki arti amarah yang besar.


Adinda menghela nafas, ia menoleh ke belakang dan menemukan ibu mertuanya berdiri dengan mata yang melotot.


Risa mendekat, lalu tanpa ragu langsung menampar wajah menantunya itu.


"Kurang ajar, tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih!!" Ketus Risa dengan penuh amarah.


"Jaga bicaramu, Dinda. Aditya akan baik-baik saja!" Tegur Risa dengan jari telunjuk yang mengacung di depan wajah Adinda.


Dinda mengusap pipinya yang terasa panas. "Mama nggak punya hak nampar aku!!" Sahut Adinda dengan nada tinggi.


"Diam kamu, dasar istri dan menantu nggak tahu diri." Risa tidak kalah tinggi nada bicaranya sampai menggelegar di kamar Aditya.


"Mama nggak pernah menghargai aku sebagai menantu. Tapi sekarang, di saat Aditya sudah sekarat mama malah mengungkit statusku hah?!" Tanya Adinda dengan kesal.


"Selama ini aku hanya teman ranjang Aditya, bukan istri apalagi menantu." Tambah Adinda.


"Sialann, pergi dari rumah ini sekarang." Anto datang dan mendengar semua pembicaraan istri dan menantunya.


Adinda menoleh. "Baik, aku akan pergi. Lagipula aku nggak sudi terus berada di rumah yang menyesakkan ini." Balas Adinda dengan begitu berani.


"Mau pergi kemana kamu? Ke rumah orang tua yang sudah kamu maki-maki? Yakin kamu bakal di terima?" Risa berbicara dengan nada mengejek.


"Ingat, bukan cuma orang tuamu yang kau hina, tapi juga kakakmu. Mereka semua tidak akan mau menerima gadis pembangkang sepertimu." Tambah Anto tidak kalah mengejek.


Adinda terdiam, ia menatap ke sana kemari dengan perasaan cemas. Apa yang mertuanya katakan barusan mengingatkan dia tentang sikapnya dulu.


"Jadilah orang yang tahu terima kasih, Dinda. Walaupun aku sakit, tapi aku tetap suami kamu." Ucap Aditya sambil terbatuk-batuk.


"Yakin mau pergi?" Risa bertanya lagi dengan nada ejekan yang jelas terlihat.


Adinda mengepalkan tangannya. "Ya, tentu saja. Aku akan pergi dari rumah ini." Jawab Adinda lantang.


Adinda memejamkan matanya, ia yakin akan pergi dari rumah ini. Aditya yang sakit bukan menjadi alasan utama Adinda mau pergi, tapi karena pria itu berselingkuh lah yang membuat tekad Adinda bulat.


Adinda tidak mau terus di bodohi, ia ingin terbebas meski semuanya mungkin terlambat.


Karena bagaimanapun, memori tidak bisa dilupakan begitu saja. Hubungannya dengan keluarganya telah hancur.


"Aku sebatang kara karena perbuatanku sendiri." Batin Adinda dengan mata berkaca-kaca.


DINDA, MINTA MAAF YUK. AKU TEMENIN DEH😭😭


Bersambung.............................