Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Karin bertemu mama Dewiya


Kaivan sampai di rumah mertuanya setelah semua pekerjaannya di kantor selesai. Jujur saja, pekerjaan kantor sudah selesai sejak siang namun karena ia mendengarkan curhatan Aldavi makanya ia sampai pulang sedikit sore.


Ketika Kaivan sampai di rumah mertuanya, pintunya tertutup sehingga ia harus menekan bel yang ada di sana.


Tidak butuh waktu lama, seseorang membukakan pintu untuk Kaivan.


"Om Kaivan, silahkan masuk om." Ucap Adinda, wanita yang membukakan pintu untuk Kaivan.


Kaivan langsung masuk tanpa banyak bicara, dan tidak lama kemudian papa Gito datang dari arah dapur sambil membawa segelas jus.


"Lhoo, ada Kaivan. Duduk, Nak." Tutur papa Dito.


Kaivan mencium punggung tangan ayah mertuanya dengan penuh rasa hormat. Kaivan lalu menatap jus di tangan papa Dito bergantian menatap Adinda.


"Papa buat jus sendiri?" Tanya Kaivan setelah kembali menatap ayah mertuanya.


Maksud Kaivan bertanya itu karena ia merasa kasihan. Jelas-jelas papa Dito punya Adinda dan Archie, belum lagi para asisten rumah tangga. Bagaimana bisa membuat jus sendiri.


Papa Dito terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. Ia duduk di sofa lalu menghela nafas lega.


"Papa baru saja pulang dari kantor, Kai. Papa nggak mungkin buat jus sendiri, ini Archie yang buat, less sugar khusus papa." Ucap papa Dito.


Papa Dito lalu menatap Adinda yang masih setia berdiri di sana.


"Dinda, tolong minta bibi buatkan minuman untuk Kaivan ya. Kasihan, dia baru pulang dari kantor." Ucap papa Dito dengan lembut.


Sejak Archie bicara tentang memaafkan Adinda, papa Dito akhirnya bisa memaafkan anak keduanya. Jujur saja, jika bukan karena Archie mungkin ia masih marah pada sikap Adinda.


"Tidak, Pa. Biar aku saja yang buatkan, bibi baru saja mengantar beberapa pakaian ke tempat laundry." Kata Adinda hendak pergi, namun Kaivan mencegahnya.


"Nggak, Dinda. Itu tidak perlu, saya bisa ambil sendiri nanti." Ujar Kaivan menolak.


"Archie dimana, Pa?" Tanya Kaivan pada ayah mertuanya.


"Archie di kamar, dia bilang perutnya kram. Mama nya pun disana menemani." Jawab papa Dito memberitahu.


Mendengar itu, sontak Kaivan melototkan matanya. Ia langsung bangkit dari duduknya.


"Aku permisi ke kamar Archie, Pa." Pamit Kaivan lalu berlari menuju kamar istrinya.


Adinda dan papa Dito menatap Kaivan dengan senyuman masing-masing. Archie begitu beruntung karena sangat dicintai oleh suaminya.


Baru mendengar istrinya sakit sedikit saja, Kaivan sudah kelimpungan dan khawatir. Bahkan langsung melompat dari tempatnya.


Sementara Kaivan tentu saja tahu dimana kamar Archie, sebab ia pernah tidur di sana bahkan sekali mengajak istrinya itu untuk bermain.


Sesampainya di kamar Archie, Kaivan melihat mama Gita sedang menggosok-gosok pinggang Archie yang tidur membelakanginya.


Mama Gita yang melihat kedatangan Kaivan hendak menegur, namun Kaivan menggelengkan kepalanya dengan senyuman.


Mama Gita paham, ia pun bangkit dari duduknya dan membiarkan Kaivan mencium punggung tangannya.


"Temani dia ya, Kai. Hari ini dia sangat manja, katanya perutnya kram dan maunya sama kamu yang usapin." Ucap mama Gita pelan.


"Iya, Ma. Terima kasih." Balas Kaivan mengangguk paham.


Mama Gita mengangguk lalu lekas pergi dari kamar Archie. Membiarkan anak dan menantunya di sana.


"Ma, hiks … usapin lagi, mas Kaivan belum pulang." Ucap Archie dengan manja.


Kaivan tersenyum, ia pun lekas mendekat dan duduk di ranjang, tepat di belakang istrinya.


Kaivan mengusap-usap pinggang Archie lalu sesekali tangannya ke depan dan mengusap perut istrinya itu.


"Tangan mama kok jadi kayak mas Kaivan, nyaman nya beda. Ada rasa cinta-cintanya gitu." Celetuk Archie dengan nata terpejam.


"Kalau usapan mama hangat juga, ada cinta dan sayangnya juga tapi beda. Mungkin karena mas Kaivan suami aku kali ya, kesayangan aku." Tambah Archie berceloteh.


Kaivan tersenyum, ia menunduk lalu mencium kening dan bahu istrinya. Setelah itu, Kaivan ikut berbaring dan memeluk tubuh Archie dari belakang.


Merasakan ada yang berbeda, Archie lantas membuka matanya dan menemukan tangan kekar di balut jam tangan ratusan juta.


"Mas Kai, sejak kapan? Aku pikir masih mama yang ada disini!!" Ucap Archie memekik terkejut.


Archie mengusap tangan suaminya, lalu meletakkannya kembali ke perutnya agar memberikan usapan.


"Kata papa perut kamu kram? Benar?" Tanya Kaivan dengan lembut.


"Sedikit, tapi nggak apa-apa kok. Kayaknya baby melon rindu papinya." Jawab Archie sambil menarik tangan suaminya agar semakin mengeratkan pelukannya.


"Wajar sih baby melon rindu sama aku, soalnya kamu nggak kasih aku jatah." Sahut Kaivan, mudah sekali baginya mencari-cari kesempatan.


"APA!!!" Archie melototkan matanya lalu membalik badan.


Archie menatap suaminya dengan tatapan tajam, kemudian mencubit perut pria itu yang tidak ada lemaknya.


"Kamu bilang nggak di kasih jatah, terus yang kemarin itu apa?" Tanya Archie sewot.


Kaivan terkekeh. Ia memegang dagu istrinya, lalu dirinya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya yang.


"Aku bercanda, Sayang. Maaf ya," bukannya menjawab, Kaivan malah balik meminta maaf.


Archie merengut. "Kalau aja baby melon nggak lagi ngambek mau ketemu papinya, aku nggak mau deket-deket kamu." Ketus Archie.


Ketus sih ketus, tapi pelukan tetap terus. Archie langsung memeluk suaminya bahkan sengaja mendusel ke dada bidang suaminya.


"Aku belum mandi, Sayang." Ucap Kaivan mengingatkan.


Sengaja Archie tidak menghubungi suaminya karena takut Kaivan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Kamu pulang lebih awal dari biasanya, Mas. Hari ini jadwal nggak padat?" Tanya Archie tanpa menatap suaminya.


"Nggak, Sayang. Bahkan seharusnya aku bisa pulang lebih awal lagi tadi." Jawab Kaivan dengan gregetan.


"Terus? Kamu kemana dulu?" Tanya Archie, wanita itu mendongakkan kepalanya untuk menatap suaminya.


"Di kantor, tapi cuma duduk diam sambil dengerin story telling nya Aldavi." Jawab Kaivan dengan sedikit kesal.


"Curhat soal Karin dia." Tambah Kaivan.


Archie lekas mengangkat tubuhnya dan berubah menjadi duduk. Kaivan pun jadi ikutan duduk bersama istrinya.


"Tentang Karin? Ada apa sama Karin?" Tanya Archie dengan wajah penuh rasa penasaran.


Kaivan hendak menjawab, namun tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Kesempatan, pikirnya.


"Kamu mau tahu?" Tanya Kaivan dan Archie langsung mengangguk dengan polos.


"Nanti malam aku jenguk baby melon ya, baru deh aku kasih tahu." Ucap Kaivan dengan mata yang berbinar.


Archie berdecak. "Bisa banget memanfaatkan kesempatan dari cewek polos kayak aku." Cibir Archie.


"Hah? Polos? Cewek polos mana yang perutnya melendung gini?" Tanya Kaivan bergurau.


"Itu kan gara-gara kamu, bukan cuma perut yang melendung besar tapi ini juga." Jawab Archie lalu menunjuk ke arah dadanya.


Kaivan semakin tergelak mendengar ucapan istrinya, namun selanjutnya ia menarik wanita itu hingga duduk diatas pangkuannya.


"Istrinya siapa sih, kok gemesin banget." Bisik Kaivan sembari menciumi pipi istrinya.


"Istri orang." Balas Archie ketus.


Ketus-ketus manis, kata Kaivan.


Sementara itu di tempat lain. Karin masih sibuk bekerja di kantor meski atasannya sudah pulang.


Ada beberapa yang harus Karin urus sehingga dirinya tidak bisa pulang sebelum pekerjaannya selesai.


"Ya ampun, staf finance masih ada nggak ya." Gumam Karin seraya melangkah menuju ruangan staf finance.


Karin ingin memberikan laporan keuangan yang sudah Kaivan tanda tangani.


"Bu, aku pikir sudah pulang. Ini laporan yang sudah pak Kaivan tanda tangani ya." Ucap Karin pada salah satu staf.


"Oke, Rin. Makasih ya, sekarang siap-siap pulang sana." Sahut wanita yang usianya lebih tua darinya, bahkan dari Kaivan.


"Siap, Bu. Aku pergi ya, dahhh …" Karin pun pergi dan kembali ke meja kerjanya.


Sebelum pergi, Karin merapikan meja kerjanya itu. Tentunya kebiasaan ini diajarkan oleh Archie, katanya agar besok tidak perlu beres-beres.


Setelah di rasa selesai, Karin pun lekas keluar dari gedung kantornya dan menunggu taksi pesanannya di lobby.


Ketika Karin masih menunggu, tiba-tiba saja ada yang menghampirinya, bahkan sampai menyebut namanya.


"Karin kan?" Tanya seorang wanita cantik, meski usianya tidak muda lagi.


Karin mengerutkan keningnya bingung. "Maaf, Bu. Tapi ibu siapa ya? Dan ada apa?" Tanya Karin sopan.


Wanita itu mengusap kepala Karin. "Saya Dewiya, ibunya Aldavi." Jawab mama Dewiya.


Karin sontak terkejut, ia menatap mama Dewiya dengan perasaan takut.


"Jangan-jangan dokter ngeselin itu ngadu ke emaknya kalau tadi gue injek kakinya. Wahh, mampus gue!!" Jerit Karin dalam hati.


Sedikit cerita. Saat Aldavi memutuskan untuk pulang tadi, lagi-lagi pria itu berpapasan dengan Karin.


Aldavi melempar tatapan tajam, bahkan berbicara sesuatu yang membuat Karin geram sekali.


"Dasar gadis ngeselin." Begitulah yang Aldavi katakan.


Mendengar itu, sontak Karin tanpa ragu langsung menginjak kaki Aldavi dengan sepatu heels nya.


Aldavi memekik sakit, dan membuat secercah rasa bersalah timbul dalam hati Karin.


Karin kembali menatap wanita yang mengaku sebagai ibunya Aldavi itu.


"T-tante, apa pak Aldavi cerita tentang saya?" Tanya Karin dengan gugup.


Wajah mama Dewiya berbinar. "Ya, dia cerita tentang kamu." Jawab mama Dewiya.


"Apa benar kamu–" ucapan mama Dewiya terhenti ketika Karin memotongnya.


"Ya, Tante. Aku melakukannya, aku melakukannya dengan pak Aldavi." Potong Karin dengan cepat.


Karin berpikir ibunya Aldavi akan marah, namun ternyata ia salah. Ibunya Aldavi itu malah memeluknya.


Karin kebingungan, ia ingin bertanya namun mama Dewiya malah semakin mengeratkan pelukannya.


WADUHHH, PAK DOK EMAK MU GERCEP TUH😭🤣


Bersambung.....................................