
Archie sampai tidak makan siang karena menemui Nisa tadi. Wanita itu bukan hanya menghabiskan waktu disana, tapi kalut dalam pikirannya ketika sampai di kantor.
Archie merapikan dokumennya sambil melamun, ia berpikir apakah harus menceritakan ini atau tidak kepada suaminya.
"Ke ruangan saya, Archie." Bisik seseorang yang berdiri di belakang Archie.
Archie yang sedang melamun tentu saja terkejut, wanita itu untung tidak memekik dan hanya memegangi dadanya.
Archie menyipitkan matanya, menatap suaminya yang sudah masuk ke dalam ruangannya. Archie menghela nafas, ia lekas membawa beberapa dokumen serta iPad yang biasa ia gunakan.
Archie merapikan penampilannya sedikit, ia juga ingin tampil cantik di depan suaminya dan menguat Kaivan senang menatapnya.
Setelah dirasa rapi, Archie pun masuk ke dalam ruangan sang suami usai dipersilahkan. Wanita itu melangkah mendekati meja kerja suaminya dengan wajah penuh senyuman.
"Selamat sore, Pak." Sapa Archie dengan sopan.
Kaivan bangkit dari duduknya, lalu meletakkan dua buah paperbag di atas meja kerjanya.
"Kebetulan tadi saya ada pertemuan di restoran dekat mall, saya lalu mampir kesana dan membeli ini untuk kamu." Ucap Kaivan dengan lembut.
Archie terkejut, ia menatap suaminya dengan bingung. Archie pun mengambil paper bag itu dan melihat isinya.
Archie menutup mulutnya ketika melihat hadiah yang Kaivan berikan, itu merupakan satu set perhiasan yang cukup mewah.
"Pak, ini buat saya? Buat sekretaris bapak?" Tanya Archie tidak menyangka.
"Saya cium kamu sekali lagi panggil bapak, ini perhiasan buat kamu, istri saya." Sahut Kaivan, melempar tatapan yang sulit diartikan.
Archie terkekeh, ia lekas mendekati suaminya lalu mengecup pipinya. Perlakuan Archie membuat Kaivan melototkan matanya. Kaivan tidak menyangka jika Archie akan menciumnya duluan.
Kaivan bangkit dari duduknya, lalu buru-buru merengkuh pinggang ramping istrinya yang hendak menjauh.
"Berani mencium saya, berani bertanggung jawab." Ucap Kaivan menyipitkan matanya.
Archie terkekeh. "Aku kan belum buka paper bag yang satu lagi." Kata Archie menunjuk ke arah paper bag berwarna hitam dengan merk cenel.
"Nanti saja di rumah, itu hadiah dari istri rekan saya tadi. Entah apa isinya, dia bilang suruh buka di rumah." Sahut Kaivan.
Archie melingkarkan tangannya di leher sang suami, yang dimanfaatkan oleh Kaivan untuk mempererat pegangannya di pinggang wanita itu.
"Mas ketemu rekan yang bawa istri?" Tanya Archie.
"Iya, saya jadi iri. Seharusnya tadi saya juga membawa istri." Jawab Kaivan manggut-manggut.
"Padahal istrinya juga mau ikut tadi." Sahut Archie lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Memang kamu tahu istri saya siapa?" Tanya Kaivan mengangkat sebelah alisnya.
Archie menunjuk dirinya. "Aku, aku kan istrinya mas Kaivan, nyonya Archiena Arsangga Diando." Jawab Archie membuat Kaivan terkekeh.
Melihat Kaivan tertawa, membuat Archie terdiam. Ia berpikir apakah harus merusak momen mereka berdua dengan menceritakan pertemuannya dengan Nisa.
Archie yang hanya diam membuat Kaivan bingung, ia pun mengusap wajah Archie dan mencium keningnya.
"Sayang, kenapa diam saja?" Tanya Kaivan.
"Ada yang mau aku ceritakan, tapi nanti saja di rumah." Jawab Archie, lalu mengusap dada sang suami.
Kaivan mengangguk, ia tidak akan memaksa Archie untuk bercerita segera. Niat Archie untuk cerita saja sudah membuat Kaivan senang dan akan sabar menunggu.
"Sepulang dari kantor, kita ke rumah mama dulu ya. Kasihan, sudah sangat ingin bertemu putrinya." Ucap Kaivan.
"Iya, Mas. Kebetulan oleh-olehnya juga aku bawa, jadi nggak perlu pulang ke rumah dulu." Sahut Archie manggut-manggut.
Kaivan melonggarkan pelukannya, ia mencium kening istrinya lalu benar-benar menjauh dan duduk di kursi kebesarannya.
Kaivan dan Archie harus kembali bekerja, ingat sekali jika pekerjaan mereka sangat banyak.
"Ada dokumen yang perlu saya tanda tangani?" Tanya Kaivan mengulurkan tangannya.
Archie lekas memberikan tiga buah map yang sudah ia beri tanda 'sign me' dengan kertas penanda sehingga Kaivan tak perlu lagi mencari letak yang harus ia tanda tangani.
"Archie, ada apa?" Tanya Kaivan.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma sakit perut sedikit." Jawab Archiena menggelengkan kepalanya.
"Bohong, kamu makan apa tadi?" Tanya Kaivan lalu bangkit dari duduknya.
Kaivan mendekati Archie, lalu mendorong tubuh kecil istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Jawab saya, kamu makan apa tadi?" Tanya Kaivan sembari mengusap perut istrinya penuh perhatian.
Archie merinding, ia merasa geli mendapat usapan dari suaminya di perutnya.
"G-geli." Cicit Archie dengan suara yang pelan.
Mendengar itu malah semakin membuat Kaivan mengusap perutnya.
"Jawab pertanyaan saya, apa yang kamu makan tadi." Pinta Kaivan untuk yang kesekian kalinya.
"Sebenarnya aku belum makan, Mas. Aku tadi bertemu seseorang dan lupa makan." Jawab Archie jujur.
Kening Kaivan mengkerut, siapa yang Archie temui sampai-sampai lupa makan begini. Tiba-tiba saja Kaivan merasa was-was, ia menekan perasaan nya yang mendadak curiga.
"Siapa yang kamu temui?" Tanya Kaivan dengan suara yang rendah.
"Maaf, Mas. Aku pergi menemui Nisa tanpa seizin kamu." Jawab Archie menunduk penuh rasa bersalah.
"Apa? Nisa? Kamu menemui Nisa, dimana?" Tanya Kaivan bertubi-tubi sembari memegang kedua bahu Archie.
"Di kafe dekat sini, Mas. Sejak waktu itu aku memang dapat pesan darinya, namun aku tidak hiraukan. Sampai akhirnya hari ini dia menelpon dan membuatku penasaran untuk menemuinya." Jawab Archie jujur.
"Apa yang dia bicarakan sama kamu sampai-sampai kamu nggak makan heuh?" Tanya Kaivan dengan nada yang berubah.
Nada bicara Kaivan terdengar tidak suka ketika Archie bercerita tentang menemui Nisa.
"Mas nggak suka ya aku bertemu Nisa? Aku minta maaf, Mas." Ucap Archie.
"Jawab pertanyaan saya, apa yang dia bicarakan sama kamu." Pinta Kaivan tanpa menyahuti permintaan maaf istrinya.
"Tentang Inka." Sahut Archie akhirnya menjawab.
"Dia bicara tentang Inka yang ingin kembali sama mas dan merusak rumah tangga kita." Tambah Archie memperjelas.
Kaivan mengerutkan keningnya, ia berpikir bagaimana Nisa mengenal Inka dan menceritakannya pada Archie.
Pegangan di bahu Archie semakin kencang, bahkan tanpa sadar membuat Archie kesakitan.
"Mas, sakit …" ucap Archie pelan.
Tersadar, Kaivan pun melepaskan cengkraman di bahu istrinya lalu menarik Archie ke dalam pelukannya.
"Maaf, Sayang. Maaf saya membuatmu kesakitan." Kaivan merasa bersalah telah membuat istrinya kesakitan.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku tahu aku salah, sekarang aku tidak akan menemui siapapun tanpa izin dari kamu." Sahut Archie semakin mengeratkan pelukannya.
"Saya akan ceritakan soal Inka di rumah, saya tidak mau kamu salah paham. Lagipula saya tidak bisa percaya begitu saja dengan Nisa." Ucap Kaivan lembut.
Archie manggut-manggut. "Iya, Mas. Aku menunggu itu." Balas Archie.
"Sekarang kita pesan makanan untuk kamu, jangan keluar dan tetap disini. Bisa-bisanya kamu belum makan." Ucap Kaivan lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada sang istri.
Archie mengerti, ia pun memesan makanan yang sedang ia inginkan.
"Nakal, awas jika sampai telat makan lagi." Ucap Kaivan menyentak dahi istrinya pelan, namun sesaat kemudian ia mencium nya.
Archie terkekeh, namun tak ayal kepalanya mengangguk. Archie pasti akan menuruti perkataan suaminya, apapun itu.
TIGA BAB NIH GAIS, KHUSUS BUAT KAMU-KAMU YANG SETIA BACA 🖤
Bersambung...................................