Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Nyaris bangkrut


Tubuh Risa dan Anto gemetaran begitu melihat kemarahan papa Jefry. Pria tua itu sampai membanting dokumen berisi catatan laporan keuangan yang tidak stabil.


Papa Jefry yang memiliki kulit putih itu tampak memerah, tanda bahwa ia sangat marah dan emosi.


"Dimana bajingann itu hah!!" Bentak papa Jefry sembari celingak-celinguk.


Meja makan yang seharusnya diisi untuk sarapan bersama justru malah dijadikan meja sidang oleh papa Jefry.


Sudah sebulan terakhir ia terus-menerus melihat keuangan perusahaannya semakin menipis, bahkan nyaris membuat perusahaan nya bangkrut.


"DIMANA!!" Bentak papa Jefry lagi.


"A-ada di kamarnya, Pa." Jawab Risa dengan sedikit gugup.


"Panggil sebelum aku menyeretnya." Kata papa Jefry memerintah.


Risa menatap Adinda, wanita yang pasca keguguran malah malas-malasan menurutnya.


"Dinda, panggil suami kamu." Ucap Risa memerintah.


Dinda tidak bicara apa-apa dan langsung melangkah pergi, ia meninggalkan piring yang sedang ia tata untuk sarapan.


Wanita itu mengetuk pintu kamar, lalu membukanya. Ia melihat Aditya baru saja selesai mandi dan tengah bersiap ke kantor.


Satu bulan sejak dirinya mengalami keguguran, Dinda jarang berkomunikasi dengan Aditya, apalagi suaminya itu seringkali pergi dan pulang di tengah malam.


"Ada apa?" Tanya Aditya dengan ketus.


"Opa memanggil." Jawab Adinda singkat.


"Sepertinya kamu dalam masalah, Kak. Dan masalah ini juga yang akan menjawab segala pertanyaanku setiap hari." Tambah Adinda dengan penuh penekanan.


"Apa maksud kamu?" Tanya Aditya mengerutkan keningnya.


Adinda tidak menyahut, wanita itu melenggang pergi begitu saja dan kembali turun ke meja makan.


Setiap hari Adinda selalu menanyakan kemana suaminya itu pergi, namun Aditya tidak menjawabnya. Dan hari ini, ia yakin suaminya akan menjawab segala pertanyaan nya melalui Jefry Jefry secara tidak langsung.


"Dimana manusia itu?" Tanya papa Jefry.


Adinda tidak menjawab karena Aditya sudah datang. Baru saja Aditya ingin menyapa, map berwana merah itu sudah mendarat di wajahnya.


Aditya terkejut bukan main, ia lekas memungut map itu dengan tatapan yang syok.


Aditya menoleh ke samping, menatap kedua orang tuanya yang biasa saja dan tidak memberikan reaksi apapun.


"Opa, ada apa ini?" Tanya Aditya sembari meletakkan map merah itu di meja.


"Kamu tanya ada apa? Lihat laporan itu dan jelaskan pada opa sekarang!!" Jawab papa Jefry dengan tegas.


Aditya pun melihat isi laporan itu. Wajahnya seketika berubah tegang dengan jantung yang berdegup kencang.


Aditya panik, ia sudah ketahuan telah memakai uang perusahaan untuk membiayai simpanannya.


"Kamu kemanakan uang ratusan juta bahkan miliaran itu, Aditya!!" Bentak papa Jefry.


Risa memegang bahu putranya ketika Aditya diam saja. Tentu saja pria itu diam, karena ia tidak punya jawaban yang bisa menyelamatkan dirinya dari amarah sang Opa.


"Adit, jawab pertanyaan kakek kamu." Bisik Risa sembari mengusap bahu putranya lembut.


"A-aku … aku memakainya untuk …" Aditya menggantung ucapannya, benar-benar bingung harus menjawab dengan apa.


Papa Jefry berdecak, ia menarik kursi lalu duduk di sana sambil memijat kepalanya.


Ia benar-benar merasa sangat pusing. Perusahaan yang ia bangun dengan susah payah kini terancam mengalami kebangkrutan.


"Perusahaan terancam bangkrut, dan itu gara-gara kamu!!" Ucap papa Jefry sembari menunjuk Aditya.


"Opa harus membayar hutang dan gaji karyawan, kamu lah penyebab semua ini." Tambah papa Jefry penuh emosi.


"Bangkrut? Tidak mungkin, Opa. Aku tidak menggunakan uang sebanyak itu sampai perusahaan bisa bangkrut." Kata Aditya syok.


"Masih belum terima heuh? Bukan hanya perusahaan, tapi rumah mewah ini juga akan di sita untuk membayar hutang-hutang." Ujar papa Jefry.


"Nggak bisa gitu dong, Pa!" Anto membuka suaranya.


"Apa kamu? Hidup mu hanya terus berleha-leha seperti putramu. Aku menyesal mempercayakan perusahaan ini kepada kalian." Timpal papa Jefry dengan galak.


Risa juga panik, ia tidak mau jika rumah mewahnya sampai dijual untuk membayar hutang. Risa tidak akan rela dan tidak akan mau tinggal di rumah kecil.


"Papa, apa tidak ada cara lain? Aku nggak mau pergi dari rumah ini." Ucap Risa sembari memegangi tangan papa Jefry.


Papa Jefry tidak menyahut, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Aditya.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, kamu kemanakan uang sebanyak itu?!" Tanya papa Jefry.


"Aku menggunakannya untuk membelanjakan kekasihku." Jawab Aditya pelan.


"APA!!" Dinda memekik terkejut lalu mendekati suaminya.


"Kekasih apa maksud kamu?" Tanya Adinda dengan lantang.


"Aku selingkuh, puas kamu!! Ini kan jawaban yang kamu mau." Jawab Aditya tidak kalah lantang.


Adinda mengepalkan tangannya, lalu menampar wajah Aditya dengan keras. Bisa-bisanya pria itu mengkhianatinya setelah membuat seluruh hidupnya hancur.


"Tega sekali kamu menyelingkuhi aku setelah apa yang kamu lakukan, Kak!!" Ucap Adinda memprotes.


"Jangan sok tersakiti, ingat jika kita bersatu juga karena kamu dulu selingkuhanku. Anggap saja impas, rasa ini juga pernah di terima oleh kakakmu." Sahut Aditya dengan tidak tahu malunya.


"KAK!!" bentak Adinda melototkan matanya.


"Cukup, kalian tidak seharusnya bertengkar. Sekarang kehidupan kita berada diambang kehancuran. Ini semua karena kalian terlalu suka berfoya-foya." Papa Jefry menegur.


"Adinda seharusnya tidak bicara begitu, seolah-olah dia adalah wanita baik. Jelas-jelas dia adalah mantan perusak hubungan kakaknya sendiri." Kata Risa memojokkan Adinda.


Adinda hanya bisa menangis. Ia benar-benar sudah hancur, sehancur-hancurnya. Bukan hanya masa depannya, tapi juga cintanya.


"Kamu keterlaluan, Kak. Aku mau kita cerai!!" Teriak Adinda dengan lantang.


Semua orang terkejut, tak terkecuali Aditya sendiri. Mereka semua tercengang mendengar permintaan Adinda.


"Cerai? Yakin kamu hah! Oh, kamu mau cerai dan kembali menjadi perusak hubungan kakakmu, iya kan?" Tanya Aditya penuh hinaan.


"Kak!!" Adinda kembali menampar wajah Aditya, namun kali ini membuat Aditya sampai tersungkur.


"Jaga bicaramu, Kak. Kalaupun aku berusaha untuk merusak rumah tangga mbak Archie, om Kaivan tidak mungkin tergoda. Karena apa? Karena dia tidak murahan sepertimu!" Tambah Adinda dengan lantang.


Aditya hendak bicara, namun tiba-tiba saja ia merasakan tenggorokannya sakit dan punggungnya nyeri.


"Akhhh!!" Aditya memekik kesakitan secara tiba-tiba dan membuat semua orang terkejut.


Risa lekas menolong putranya, begitupula dengan Anto. Mereka khawatir pada Aditya yang tiba-tiba kesakitan.


"Sakit!!!" Aditya berteriak sambil memegangi bagian bawahnya.


"Adit, Adit … kamu kenapa, Nak?" Tanya Risa dengan panik.


"Sakit sekali, Ma. Akhhhh …" Aditya kembali menjerit kesakitan.


"Kita bawa ke rumah sakit." Kata Anto dengan nada panik.


Papa Jefry tampak biasa saja, apalagi Adinda yang begitu murka pada pria itu. Ia enggan untuk peduli setelah segala sikap Aditya selama ini.


ADITYA KARMA NYA UDAH LANDING 😭😭


Bersambung........................................