Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Diusir?


Adinda begitu marah setelah pulang dari rumah orang tuanya. Ia tidak terima dan merasa iri dengan kakaknya, Archie.


Dinda tadi bisa melihat dengan jelas sang mama yang begitu bahagia mendengar kehamilannya, bahkan sangat perhatian dengan Archie.


Dinda tidak mendapatkan itu ketika dirinya memberitahu tentang kehamilannya. Sang mama hanya mendoakan nya saja, namun wajahnya tidak sebahagia hari ini.


"Kenapa sih, pulang langsung marah." Aditya bicara dengan ketus sembari memainkan ponselnya.


"Kamu nggak lihat tadi, Kak. Mama begitu bahagia mendengar kabar kehamilan mbak Archie." Ucap Adinda dengan kesal.


"Kamu gila ya, Dinda? Mama bahagia mendengar kehamilan Archie itu wajar, dia kan anaknya juga." Sahut Aditya dengan tatapan sinis.


"Lagipula Archie itu kan memang anak kesayangan mama, sedangkan kamu tidak karena kamu hanya bisa membuat orang tuamu malu." Tambah Aditya mencibir.


Adinda menatap suaminya. "Kak! Aku lagi kesal dan kakak malah semakin membuatku marah." Ujar Adinda dengan tangan terkepal.


"Aku yang istri kamu, Kak. Bukan mbak Archie, kalian hanya masa lalu saja jadi berhenti membelanya." Tambah Adinda dengan perasaan murka.


Aditya yang mendengar itu lantas bangkit dari duduknya, ia melempar ponselnya lalu mencekal lengan istrinya itu dengan penuh tenaga.


"Kamu memang istri aku, tapi jika saja aku tidak bodoh maka Archie lah yang menjadi istriku." Sahut Aditya penuh penekanan.


Adinda melepaskan cekalan suaminya, lalu mendorong Aditya agar menjauh darinya.


"Cukup, Kak! Jangan bicara seakan aku yang buruk disini, harusnya kamu sadar kalau semua ini juga salah kamu." Teriak Adinda.


"Bukan hanya keluarga, tapi masa depanku juga hancur karena kamu, Kak." Tambah Adinda dengan air mata yang mulai berderai.


"JAGA UCAPANMU!!" bentak Aditya lalu mencekik leher istrinya.


Aditya mendorong tubuh Adinda sampai terbentur ke tembok, hal itu mengundang rasa sakit di tubuh Adinda.


"Sadar dan ingatlah, Dinda. Kamu yang datang dan menggodaku." Ucap Aditya.


Adinda terbatuk-batuk, ia mendorong sambil menepuk-nepuk dada Aditya agar mau melepaskan cekikan nya.


Aditya akhirnya melepaskan cekikan itu.


"Sekarang Archie bahagia, dan lihat aku. Aku sangat menderita hidup bersama wanita sepertimu." Lagi, Aditya kembali bicara dengan nada tinggi.


"KAK!!" Bentak Adinda semakin tidak terima.


"Aku capek bertengkar terus, kamu selalu membela mbak Archie dan aku muak." Ujar Adinda hendak pergi, namun Aditya memegang tangannya.


Pria itu memegang tangan Adinda bukan karena melarangnya pergi, tapi ada hal yang ingin ia bicarakan dulu.


"Muak? Aku lebih muak. Menikahi wanita banyak permintaan seperti kamu adalah kesalahan besar." Sahut Aditya.


"Pergi dan urus saja anakmu sendiri." Usir Aditya dengan lantang.


Adinda terkejut bukan main mendengar ucapan suaminya yang mengusir nya pergi. Adinda tidak bisa menahan air matanya, apalagi langkahnya.


Wanita itu lekas mendekati lemari pakaian dan membereskan barang-barangnya. Adinda akan pulang ke rumah orang tuanya, dia sudah cukup muak.


Tapi Adinda bisa apa, dia lelah dengan semua ini. Bukan hanya Aditya, tapi mertuanya juga sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang menantu.


Dulu ketika dia berada di rumah orang tuanya, tak pernah sekalipun dia mendapatkan bentakan apalagi disuruh melakukan pekerjaan, tapi disini dia sudah seperti seorang pelayan.


Bukan hanya itu, Adinda bahkan selalu disalahkan untuk apapun yang dia kerjakan. Dinda sangat lelah.


"Aku senang jika kita bisa bercerai, dan aku akan mendekati kakak mu lagi. Aku akan merebut Archie." Ucap Aditya dengan lantang.


Adinda tidak menyahut, dia hanya diam saja dan tetap merapikan barang-barangnya.


"Awww …" Adinda merintis tiba-tiba, merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"Kak, perut aku sakit. Tolong aku, Kak …" Adinda meringis bahkan sampai terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.


Aditya hanya memandangnya, namun sesaat kemudian ia pun menolong dan membawanya ke rumah sakit.


"Sangat merepotkan, tapi tidak masalah aku membantu sebelum kita bercerai." Ucap Aditya dengan kesal.


Adinda tidak menyahut, dia hanya fokus pada rasa sakit yang diterimanya saat ini.


Sementara itu di tempat lain, Kaivan terpaksa harus meninggalkan istrinya di kamar atas permintaan Archie sendiri.


Dia awalnya berat untuk pergi, namun karena Archie memaksa akhirnya dia pun pergi untuk berkumpul bersama para karyawannya yang mau menikmati pantai.


"Pak, anda melihat Archie?" Tanya Monika dengan sopan.


"Archie? Tidak, mungkin dia di kamarnya." Jawab Kaivan singkat dan cuek.


"Kita datangi saja kamarnya, bagaimana jika dia sakit. Aku tiba-tiba khawatir." Rafi bicara dengan rasa cemas.


Kaivan menyipitkan matanya mendengar ucapan bawahannya itu. Ia merasa tidak suka mendengar ada yang khawatir dengan istrinya.


"Memang kamu siapa sangat khawatir pada Archie?" Tanya Kaivan.


"Saya, saya hanya temannya Pak." Jawab Rafi sopan.


Kaivan pun pergi dari sana dengan perasaan yang sedikit kesal. Tidak rela saja, dan Kaivan tentu punya alasan.


"Eh, pak Kaivan wangi parfum Archie ya?" Tanya Amber.


"Hus, jangan sebar gosip. Ayo pergi." Ajak Monika setelah menegur temannya itu.


Monika dan Amber pun memilih untuk pergi, sementara Rafi masih terdiam. Pria itu menghela nafas, lalu lekas menyusul teman-temannya.


PERNIKAHAN ADINDA SAMA ADITYA GOYAH GUYS, NGERI-NGERI SEDAP 😭😭


1 BAB LAGI, TAPI NGGAK JANJI 😉


Bersambung...............................