Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Perkara tuli


Karin tengah membereskan berkas-berkas yang tidak sengaja ia jatuhkan dari meja kerja Archie.


Berkas yang tadinya ada di tempat map kini berpindah ke lantai dan berserakan di mana-mana.


Karin benar-benar kerepotan dan ketakutan sampai-sampai ia membuat kesalahan dengan menyenggol tempat kertas.


"Nambah kerjaan saja, ternyata jadi mbak Archie nggak mudah ya." Gumam Karin sambil memunguti kertas demi kertas yang berjatuhan di lantai.


Ketika tangannya masih memunguti satu persatu kertas, tiba-tiba pintu ruangan Kaivan terbuka, membuat gadis itu langsung bangkit dan memberikan senyuman sopan.


"Saya tidak terima siapapun masuk ke ruangan saya kecuali pria bernama Aldavi. Jika dia datang, langsung persilahkan dia masuk." Ucap Kaivan dengan wajah tanpa ekspresi.


"Baik, Pak." Balas Karin menganggukkan kepalanya cepat.


Pintu ruangan Kaivan kembali tertutup, dan Karin pun kembali jongkok guna memunguti kertas yang berserakan dimana-mana.


"Tadi namanya siapa? Alfani? Eh siapa sih? Pak Kaivan tadi bilang siapa?" Karin bertanya-tanya.


Jujur saja tadi Karin tidak terlalu mendengar ucapan atasannya itu, ia tidak fokus karena rasa lelahnya.


"Alfani iya, Alfani." Ujar Karin mengangguk yakin.


Karin pun selesai memunguti kertas, namun ia salah karena ternyata masih ada satu kertas lagi di dekat lift.


Karin buru-buru mendekat, ia berjongkok dan mengambil kertas tersebut. Ketika Karin berdiri, ternyata ada seseorang yang keluar dari lift sambil memainkan ponselnya.


"Awww …" orang itu meringis, bukan karena sakit tapi karena ponselnya jatuh ke lantai.


"Ya ampun, maaf pak." Ucap Karin kemudian buru-buru memungut ponsel puluhan juta itu.


"Maaf ya, Pak. Aman kok, nggak pecah." Ucap Karin lagi sembari memberikannya pada si pemilik.


Orang itu menghela nafas, lalu menerimanya dengan sedikit kasar.


"Saya mau ketemu Kaivan." Ucap orang itu yang tidak lain adalah Aldavi.


"Maaf, Pak. Tapi pak Kaivan sedang tidak mau menerima tamu, jadi silahkan anda pergi." Kata Karin dengan sopan.


Aldavi mengangkat sebelah alisnya. "Kau tahu siapa saya? Saya adalah Aldavi, saya mau bertemu dengan Kaivan." Ucap Aldavi penuh penekanan.


Karin geleng-geleng kepala. "Anda Aldavi, bukan Alfani. Orang yang mau di temui pak Kaivan itu Alfani." Kata Karin memberitahu.


"Alfani apanya, saya yang mau Kaivan temui. Dokter Aldavi." Sahut Davi dengan kesal.


Karin memegang kedua sisi pinggangnya, lalu tertawa pelan.


"Sekarang semakin tidak mungkin. Pak Kaivan baik-baik saja, jadi tidak mungkin dia mau menemui dokter." Ujar Karin dengan yakin.


"Kau ini siapa sebenarnya, heuh? Dimana Archie? Sekretaris Kaivan itu Archie kan." Ucap Davi kesal.


Aldavi hanya meliriknya sinis, ia lalu mencoba menghubungi Kaivan namun tidak kunjung diangkat.


"Ck, minggir. Saya mau masuk." Usir Davi dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal, saat ini dia memiliki urusan penting dengan Kaivan tapi gadis bertubuh kecil didepannya ini malah menahannya.


"Pak, tolong jangan persulit saya. Saya bisa di pecat pak Kaivan jika melanggar perintahnya." Pinta Karin menyatukan kedua tangannya.


Aldavi mengepalkan tangannya, ia ingin melampiaskan kekesalannya namun tidak bisa sehingga ia hanya bisa membuang nafasnya kasar.


"Heh anak kecil, ingat ya. Kau akan di pecat dengan menahan ku masuk kesana." Ujar Davi dengan tenang.


"Itu tidak akan mungkin." Sahut Karin dengan yakin.


Aldavi berdecak, dan kebetulan sekali Kaivan menelponnya.


"Kai, cepat keluar. Anak kecil yang mengaku sebagai asisten Archie ini melarangku untuk masuk." Ucap Davi langsung.


Kaivan menutup panggilannya, membuat Davi langsung menyimpan ponselnya. Tidak lama kemudian pintu ruangan Kaivan terbuka.


"Karin, kenapa kamu melarang dia masuk?" Tanya Kaivan.


"Tadi anda bilang tidak mau menerima tamu kecuali orang bernama Alfani kan, Pak." Jawab Karin.


Kaivan menghela nafas. "Aldavi, bukan Alfani." Kata Kaivan pelan dan sedikit mengeja nya.


Kaivan lalu beralih menatap Aldavi. "Masuklah, Dav." Ucap Kaivan.


Aldavi menatap sinis Karin, lalu selanjutnya memberikan senyuman meremehkan.


Melihat itu Karin pun melototkan matanya, ia ternyata sudah salah dengar dan bodohnya lagi ia malah ngotot jika Alfani dan bukan Aldavi.


"Satu lagi, periksakan telingamu itu ke dokter. Jangan sampai kamu salah dengar ucapan saya lagi." Ucap Kaivan lalu masuk tanpa mendengar sahutan Karin.


Karin menghela nafas, ia memegangi kedua telinganya dengan perasaan malu. Ia sampai di suruh periksa ke dokter karena terlalu tuli sampai-sampai tidak bisa membedakan Aldavi dan Alfani.


"Hah, dokter itu pasti menertawakan ku." Gumam Karin lalu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum jam makan siang 1 setengah jam lagi.


Belum ada setengah hari ia bekerja, namun rasanya sudah sangat melelahkan. Biasanya ada Archie yang akan mau membantunya, tapi hari ini tidak.


"Mbak Archie cepat pulih ya, supaya suami mbak nggak suruh aku ke dokter lain lagi karena bodoh." Gumam Karin dengan wajah di tekuk.


SUDAH SELESAI UAS, AKU USAHIN UP BANYAK MULAI BESOK YAA SYG 😙


Bersambung................................