
Karin keluar dari kantornya dan langsung masuk ke dalam taksi pesanannya. Hari ini Karin bisa pulang tepat waktu karena Kaivan tidak ada.
Memang biasanya bagaimana? Yakin kalian bertanya begitu, maka jawabannya sama saja. Ada Kaivan atau tidak, Karin tetap pulang tepat waktu.
Karin ada orang yang sangat menjunjung TENG GO atau pulang tepat waktu.
"Restoran Kuring ya, Pak." Ucap Karin pada sang sopir taksi.
"Baik." Balas sopir itu.
Karin pun meninggalkan area kantor. Ia sudah berjanji akan datang menemui ibunya Aldavi, maka ia akan melakukannya.
Karin tidak suka ingkar janji, karena itulah ia pasti datang apalagi mama Dewiya sangat memohon padanya agar dia datang.
Karin tidak tahu apa yang mau dibicarakan oleh ibunya Aldavi, namun yang pasti ini tentang ucapannya yang salah waktu itu.
"Kalau gue nggak salah ngomong, mungkin gue nggak bakal kenal sama emaknya dokter reseh itu kali ya." Gumam Karin sembari menatap keluar jendela.
Ketika masih dalam perjalanan, tiba-tiba saja ponselnya berdenting. Ia lekas melihat pesan yang masuk itu dan ternyata dari sang mama.
Karin lekas membalas pesan permintaan dari ibunya yang memintanya untuk pulang di hari libur nanti.
Karin menghela nafas. "kalau aja nggak ngejar pendidikan sama karir, gue pasti milih rebahan di rumah daripada kerja gini." Ucap Karin sambil mengetik balasan untuk sang mama.
Setelah selesai membalas pesan, Karin pun menyimpan ponselnya karena hampir sampai di tempat tujuannya.
"Wahh agak macet nih, Mbak. Gimana?" Tanya pak sopir sembari menatap Karin dari kaca tengah mobil.
"Masih jauh nggak sih, Pak? Saya nggak mau terlambat soalnya." Kata Karin celingukan.
Karin bisa melihat jika memang jalanan sangat macet, namun ia tidak mau sampai terlambat menemui ibunya Aldavi.
"Nggak terlalu jauh, Mbak. Ini kayaknya macet di persimpangan, dan restoran Kuring kan dekat persimpangan." Jawab sopir itu memberitahu.
"Kalau gitu saya jalan saja, Pak. Uangnya sudah di bayar via dompet digital ya." Kata Karin lalu lekas keluar dari taksi online itu.
Karin jalan kaki melalui trotoar jalanan dan melewati orang-orang yang terjebak kemacetan. Karin hanya bisa menghela nafas melihat kemacetan itu.
"Ya ampun, Jakarta benar-benar tanpa spasi." Gumam Karin geleng-geleng kepala.
Karin berjalan cukup jauh, ternyata tidak sedekat yang ia pikirkan. Karin cukup lelah namun akhirnya perjuangannya itu membuahkan hasil manis.
Karin tersenyum menatap restoran yang ia tuju. Ia pun hendak melangkah masuk, namun melihat mama Dewiya dari jendela restoran sambil tersenyum padanya.
Karin balas tersenyum, ia pun langsung ingin masuk begitu melihat dimana tempat duduk orang yang janjian dengannya.
Ketika Karin hampir sampai di pintu restoran, tiba-tiba saja terdengar sebuah ledakan dan orang-orang langsung berhamburan keluar dari restoran.
"Kebakaran!!!!" Teriak banyak orang sambil berbondong-bondong keluar dari restoran itu.
Karin panik, ia melihat jika tempat itu seketika dipenuhi oleh api. Karin menjatuhkan barang-barang nya dan langsung masuk ke dalam restoran.
Gadis itu tidak memikirkan keselamatannya. Dalam pikirannya, ia hanya harus menyelamatkan mama Dewiya.
"Tante Dewiya!!" Panggil Karin berteriak.
Orang-orang masih berusaha menyelamatkan diri dengan keluarga dari restoran, namun Karin malah masuk untuk menyelamatkan seseorang.
"Tante!!" Panggil Karin lagi sambil menoleh kanan dan kiri.
"Karin, Tante disini." Panggil mama Dewiya di dekat jendela sebelah kanan.
Karin buru-buru mendekat, ia melihat jika mama Dewiya terjepit kursi dan meja yang berantakan karena kepanikan para pengunjung restoran.
"Tante, ayo pegang tanganku dan naik ke atas meja ya. Kita harus keluar segera atau kita bisa …" Karin menggantung ucapannya dan memilih untuk tidak melanjutkannya.
Mama Dewiya bisa lolos dari kursi dan meja yang menjepitnya. Ia berdiri di sebelah Karin yang tampak panik.
Karin melepaskan blazer miliknya, lalu memakaikannya ke mama Dewiya.
"Karin, apa yang kamu lakukan?" Tanya mama Dewiya terkejut.
"Apinya sudah mulai besar, kita harus keluar." Ajak Karin lalu lekas menarik tangan mama Dewiya.
Mereka berhasil mencapai pintu, dan Karin mendorong mama Dewiya untuk keluar duluan.
Karin hendak menyusul, namun kayu dari atas jatuh dan menimpa kaki Karin.
"AWWWWW!!" erang Karin kesakitan.
"KARIN!!!!" Mama Dewiya histeris melihat Karin yang tersungkur dengan kaki tertimpa balok kayu.
Orang-orang menarik tangan mama Dewiya yang hendak menolong Karin. Mereka semua tidak bisa membiarkan mama Dewiya masuk karena api semakin besar.
Karin sendiri berusaha untuk bangun, namun kakinya terasa sakit sekali.
"Apa aku akan mati terpanggang disini, apa aku benar-benar akan mati sebelum menikah dan meraskan ciuman bibir." Batin Karin sambil menangis.
Karin berusaha merangkak, namun ia tidak bisa. Api sudah semakin besar saja.
Tiba-tiba jendela restoran pecah. Seseorang masuk lalu lekas mendekati Karin.
"Ayo, saya bantu." Ucap pria itu setelah bersusah payah memindahkan balok kayu.
"Kaki saya sakit, Pak." Ucap Karin memberitahu.
Aldavi menggendong Karin lalu segera membawa gadis itu keluar dari restoran yang hampir habis di lalap si jago merah dalam sekejap.
"Karin, buka mata kamu." Pinta Aldavi sembari menepuk pipi Karin.
Mama Dewiya mendekat, lalu ikut duduk di samping Karin. Dia memegang tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Aku ambil peralatan ku dulu, Ma. Tunggu sebentar, aku akan kembali." Ucap Aldavi lalu lekas berlari.
Aldavi pergi ke pinggir jalan dimana mobilnya terparkir. Memang Aldavi niat untuk datang ke restoran itu, namun ia terjebak macet tadi.
Aldavi melihat Karin yang jalan kaki, namun ia tiba-tiba saja terkejut mendengar ledakan dari arah restoran dan benar saja jika terjadi kebakaran disana.
Aldavi mengambil peralatan dan kontak p3k nya, lalu dirinya kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Karin tadi.
"Davi, selamatkan Karin. Dia mengorbankan nyawanya demi mama, dia hampir mati karena mama Davi." Ucap mama Dewiya sambil menangis.
"Hiks … Karin bangunlah." Pinta mama Dewiya histeris.
Aldavi tidak menyahuti ucapan sang mama. Ia memeriksa Karin lalu memberikan obat seadanya.
"Karin, saya mohon bangunlah." Pinta Aldavi dengan nada panik.
"Kita harus bawa dia ke rumah sakit, Davi. Ayo ke rumah sakit agar peralatannya lengkap. Mama nggak mau sesuatu terjadi pada Karin." Ajak mama Dewiya.
Aldavi tidak menolak. Ia lekas menggendong Karin dan mengajaknya ke mobilnya. Tidak lupa peralatannya di bawa juga.
Barang-barang Karin pun di bawa. Gadis itu tadi meninggalkannya begitu saja saking paniknya.
Aldavi tidak banyak bicara, namun ia terus menatap ke arah Karin yang masih belum sadarkan diri sampai sekarang.
"Karin, hiks … kenapa kamu harus menyelamatkan Tante, kamu mengorbankan nyawa kamu demi Tante." Ucap mama Dewiya sambil mengusap wajah Karin.
"Davi cepatlah." Pinta mama Dewiya.
***
Aldavi sedang menangani Karin di dalam ruang periksa, sementara mama Dewiya menunggu diluar ruangan.
Mama Dewiya sudah menghubungi suaminya dan memintanya datang. Ia ingin menghubungi keluarga Karin, namun ponsel gadis itu mati.
Alhasil mama Dewiya menghubungi Kaivan dan Archie saja. Mama Dewiya berpikir jika mereka akan tahu siapa keluarga Karin.
"Mama!!!" Panggil papa Firman langsung mendekati istrinya.
Mama Dewiya memeluk suaminya dan menangis. Ia menumpahkan air matanya dalam pelukan suaminya itu.
"Apa yang terjadi, Ma?" Tanya papa Firman.
"Karin, Pa. Karin menyelamatkan nyawa mama dari kebakaran. Dia mengorbankan nyawanya sendiri." Ucap mama Dewiya memberitahu.
"Dia bahkan rela memberikan ini pada mama agar mama tidak terluka. Dia gadis yang baik, Pa. Mama nggak mau terjadi sesuatu padanya." Tambah mama Dewiya lalu melepaskan pelukannya.
Papa Firman berusaha menenangkan istrinya. Ia mengajak mama Dewiya untuk duduk di kursi tunggu, lalu memberikan air minum.
"Hiks … Karin, Pa. Karin yang sudah membuat mama tetap hidup." Ucap mama Dewiya dengan rasa trauma besar.
"Iya, Ma. Mama tenang ya, Davi pasti bisa menyelamatkannya." Tutur papa Firman.
Tidak lama kemudian Aldavi keluar dari ruangannya. Hal itu membuat mama Dewiya dan papa Firman bangkit dari duduknya.
"Davi, bagaimana Karin?" Tanya mama Dewiya.
"Dia akan baik-baik saja, Ma. Aku sudah merawatnya. Mama jangan khawatir." Jawab Aldavi lembut.
Mama Dewiya menggenggam tangan putranya.
"Kamu harus ingat, Davi. Karin sudah menyelamatkan nyawa mama, kita berhutang budi padanya." Ucap mama Dewiya.
"Dia gadis yang baik dan mama tahu itu, sekarang mama yakin kamu juga tahu bahwa dia memang baik." Tambah mama Dewiya.
"Ma, kita bahas ini nanti. Mama duduklah." Tutur Aldavi.
"Iya, Ma. Duduk dulu ya. Semua akan baik-baik saja." Sambung papa Firman.
Tidak lama kemudian Archie dan Kaivan datang. Mereka datang tentu saja setelah mama Dewiya menelponnya.
"Tante, apa yang terjadi?" Tanya Kaivan saat datang.
"Karin, dia menyelamatkan Tante Kai. Kamu tahu siapa keluarganya? Tante mau memberitahu keluarganya." Jawab mama Dewiya.
"Ma, lebih baik tidak usah. Karin sebentar lagi sadar dan biarkan dia yang memberitahu keluarganya." Ujar Aldavi mengusulkan.
"Kita tidak tahu, bagaimana jika Karin tidak mau keluarganya khawatir tentang hal ini. Jadi kita tunggu Karin sadar saja." Tambah Aldavi.
"Davi benar, Tante. Kita tunggu Karin sampai sadar saja." Ujar Kaivan menimpali.
Archie mendekati mama Dewiya, lalu mengusap tangan wanita itu.
"Tante, tenang ya. Karin pasti baik-baik saja." Tutur Archie lembut.
"Cantik sekali kamu, Nak." Puji mama Dewiya sembari mengusap wajah Archie.
"Terima kasih sudah mau datang ya." Ucap mama Dewiya lagi.
Archie menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Ia tidak banyak bicara dan langsung mengajak mama Dewiya untuk duduk di kursi tunggu.
Bersambung...............................