Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Marahnya orang sabar


Mama Gita menatap putrinya dengan tatapan hancur dan tidak menyangka, ia benar-benar syok ketika mendengar jika putri keduanya itu membencinya, bahkan seluruh keluarganya.


Gadis kecil yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang berbicara begitu lantang tentang rasa bencinya terhadap keluarga yang telah memberikan kasih sayang padanya.


Mama Gita berdiri sambil di pegangi oleh suaminya. Lemas yang ia rasakan karena sakit bertambah karena mendengar kenyataan dari Adinda.


"Mama salah dengarkan kan, Adek?" Tanya mama Gita dengan lirih.


Adek, panggilan yang selalu mama Gita tujukan pada Adinda sebagai tanda bahwa dia adalah putri bungsunya.


Sementara Adinda, ia tampak acuh tak acuh melihat kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba. Ia hanya diam sambil menatap kukunya.


"Mama salah dengar tentang ujaran kebencian kamu pada keluarga kita kan, Dek?" Tanya mama Gita lagi.


Adinda masih diam saja, ia benar-benar merasa tidak peduli dengan ocehan dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Dinda, mama sedang bicara sama kamu." Tegur Archie.


"Mbak diam deh, aku bosan dengar suara mbak. Mending mbak pergi, sekalian ajak nih keluarga kesayangan mbak." Sahut Adinda mengusir.


"Mama nggak nyangka kamu begitu, Dinda. Selama ini yang paling menyayangi kamu adalah kakak kamu, dia yang selalu siap melakukan apa saja untuk kamu." Ucap mama Gita pelan.


Mama Gita kemudian memaksakan diri untuk melangkah, mendekati Adinda meski sedikit gontai.


"Kamu masih ingat kan? Disini." Ucap mama Gita sembari menunjuk kepala Adinda.


"Kamu pasti masih ingat gimana Archie menyelamatkan kamu dari kecelakaan di sekolah dulu. Kakak kamu itu sampai harus di operasi demi menyelamatkan kamu, adik kesayangannya. Tapi ini balasan kamu padanya?!" Tambah mama Gita terdengar begitu kecewa.


Archie menangis tanpa suara mendengar sang mama mengungkit masa lalu.


Ia kemudian memegangi kepalanya yang harus mendapatkan tindakan operasi setelah menyelamatkan Adinda yang nyaris tertabrak mobil truk dulu.


"Archie menyelamatkan nyawa kamu, dia rela membahayakan nyawanya sendiri demi kamu, Adek!!" Tambah mama Gita semakin histeris dan kecewa.


Papa Dito lekas mendekat, ia kemudian menarik istrinya untuk menjauh dari Adinda yang masih memasang wajah tidak peduli.


"Sudah, Ma. Tidak perlu di jelaskan, kita tidak harus buang-buang waktu untuk bicara pada gadis sepertinya." Tegur papa Dito pelan.


"Kita tidak punya anak sepertinya, dia bukan anak kita." Tambah papa Dito sembari menatap Adinda tajam.


"Ya, aku sudah tahu itu. Aku memang bukan anak kalian, dan akhirnya hari ini kalian mengakuinya." Sahut Adinda dengan tenang.


"Selama ini Archie selalu berbuat baik sama kamu, dia mengajarkan kamu bahkan sampai rela menjemput kamu di tengah hujan deras. Dia juga mengikhlaskan kekasihnya di ambil kamu, tapi kamu masih saja membencinya." Ucap mama Gita lagi.


"Dimana hati nurani kamu sampai kamu menginginkan penderitaan untuknya, Dinda." Tambah mama Gita semakin histeris saja.


Archie semakin tidak bisa membendung tangisannya, ia tidak menyangka jika hari ini akan datang.


"Sayang …" bisik Kaivan sembari mengusap bahu istrinya.


Archie menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia mendongakkan kepalanya guna mencegah air matanya yang semakin bertambah banyak.


Archie lalu menatap Adinda dan sedikit mendekat padanya.


"Mbak selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk kamu, mbak bahkan ikhlas ketika Aditya diambil kamu karena Tuhan memberikan suami yang lebih baik pada mbak. Tapi …" Archie menggantung ucapannya.


"Tapi tidak lagi, Dinda. Setelah semua yang kamu katakan hari ini, mbak tidak bisa terima lagi. Mbak tidak bisa memaafkan siapapun yang membenci orang tua mbak." Tambah Archie dengan pelan.


"Aku nggak peduli, terserah mbak mau maafin atau nggak. Nggak ada bedanya buat aku." Sahut Adinda.


"Selama ini mbak tidak pernah mengungkit apapun yang sudah mbak berikan sama kamu, termasuk budi mbak ketika menyelamatkan kamu, tapi semua itu cukup sampai disini." Ucap Archie masih terus bicara walaupun tahu adiknya sudah enggan mendengar ucapannya.


"Mulai hari ini, kamu bukan adik mbak lagi. Mbak akan berhenti menganggap bahwa mbak pernah punya seorang adik yang sangat mbak sayangi. KAMU BUKAN ADIK MBAK LAGI." Kata Archie penuh penekanan diakhir kalimatnya.


Kaivan terkejut, bahkan semua orang yang ada di sana termasuk Adinda. Wanita yang tadi begitu angkuh seketika terdiam dengan pandangan tidak menyangka.


"Archie …" mama Gita mendekati anak pertamanya, lalu memeluknya erat.


"Mulai sekarang, tidak ada hubungan diantara kita. Saya berdoa semoga kamu bahagia setelah melakukan ini semua pada kami, Adinda Febiola." Ucap Archie.


"Ayo kita pergi, Ma, Pa." Ajak Archie pada kedua orang tuanya.


"Ayo, Mas." Archie pun tidak lupa mengajak suaminya.


Adinda menatap kepergian kakak dan kedua orang tuanya dengan nanar, namun ia buru-buru menyeka air matanya.


Adinda berlari kecil, keluar dari rumah mertuanya itu guna mengejar keluarganya.


Untuk meminta maaf? Tentu saja tidak.


"Jangan pernah kalian menginjakkan kaki kalian di sini lagi, bahkan ketika aku mati pun kalian tidak perlu datang." Ucap Adinda dengan lantang.


"Aku benci kalian semua." Tambah Adinda penuh penekanan.


Archie memejamkan matanya, air matanya langsung jatuh ke pipi mendengar ucapan Adinda barusan.


Archie enggan peduli, ia pun menarik tangan suami serta kedua orang tuanya untuk pergi dari sana.


GILAKKK, DINDA KAYAK KESURUPAN YA😪😭


Bersambung................................