
Aditya baru saja selesai periksa kesehatan di rumah sakit. Hari ini ia izin datang telat ke kantor karena cek up kesehatannya.
Aditya pergi sendirian. Tidak ada yang menemaninya untuk bisa berjuang hidup seperti sekarang.
Teman, sahabat, pacar apalagi istri. Aditya sudah tidak memiliki itu semua. Dulu dia punya, tapi sekarang tidak lagi apalagi semenjak orang-orang mengetahui penyakitnya.
Kesehatan Aditya tetap jalan di tempat. HIV tidak bisa disembuhkan, tapi bisa diobati agar hidup Aditya bisa lebih lama.
Dan Aditya tidak akan pernah menyerah. Ia akan berjuang untuk hidup lebih lama, agar dia bisa memperbaiki hidupnya yang telah rusak ini.
Mungkin tidak bisa sepenuhnya, tapi setidaknya akan ada secercah harapan untuk Aditya bisa merasakan kebahagiaan lagi setelah penderitaan.
"Aku harus menebus obatnya dulu." Gumam Aditya lalu melangkah menuju apotek.
Aditya memperhatikan secarik kertas di tangannya, sampai membuatnya tidak bisa fokus pada jalanan.
Tanpa Aditya sadari, di depannya ada wanita yang sedang bermain ponsel sehingga mereka sama-sama tidak fokus.
Keduanya pun langsung bertabrakan satu sama lain dan membuat ponsel wanita itu jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin.
"Ya ampun, maaf. Saya nggak sengaja, apa ponselnya retak." Ucap Aditya lalu lekas menunduk dan mengambil ponsel milik wanita itu.
Ketika Aditya akan memberikannya. Ia melihat siapa sosok wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Adinda." Ucap Aditya sangat pelan.
Adinda juga menatap Aditya. Mata wanita itu berkaca-kaca melihat penampilan mantan suaminya yang sangat jauh berbeda dari biasanya.
Aditya dengan rambut yang dicukur sedikit serta wajah yang lebih pucat dan mata merah. Benar-benar ciri-ciri orang yang mengidap penyakit HIV.
Adinda tidak menyahut panggilan mantan suaminya. Ia masih terus menatap pria itu dengan air mata yang mulai menetes.
Adinda tidak bersandiwara, ia sangat terpukul melihat penampilan Aditya yang jauh dari kata normal.
"Adinda." Panggil Aditya sembari melambaikan tangannya di depan wajah Adinda.
Adinda tersadar, ia mengalihkan pandangannya lalu menyeka air matanya. Wanita itu memejamkan mata, dan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum kembali menatap Aditya.
"Kak Adit, apa kabar?" Tanya Adinda sembari menerima ponselnya.
Aditya menatap senyuman Adinda lalu menundukkan kepalanya.
"Kamu masih bisa senyum sama aku setelah apa yang telah aku lakukan, Dinda?" Tanya Aditya dengan lirih.
Adinda tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja." Jawab Adinda.
"Aku sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu, dan aku berusaha untuk hidup normal kembali." Tambah Adinda dengan senyuman lebar.
"Kamu memaafkan ku, Dinda?" Tanya Aditya.
"Ya, aku sudah memaafkan kakak. Aku tahu dan sadar jika dalam hal ini bukan cuma kamu yang salah. Aku juga salah, dan mungkin ini sudah takdirku." Jawab Adinda dengan tenang.
Adinda lalu menatap secarik kertas di tangan Aditya.
"Mau menebus obat?" Tanya Adinda.
"Iya, kamu sedang apa di rumah sakit?" Tanya Aditya lagi.
"Hanya cek kesehatan, aku akan melanjutkan sekolahku." Jawab Adinda memberitahu.
"Oh ya, selamat. Maaf, karena menikah denganku kamu sampai harus berhenti kuliah dan syukur jika sekarang masih bisa melanjutkannya." Ucap Aditya penuh senyuman.
Adinda menganggukkan kepalanya. Ia menghela nafas, lalu menatap ke arah lain untuk menghilangkan kecanggungan.
Aditya tersenyum lalu mengangguk mantap. "Kamu juga. Dah …" Aditya langsung pergi dari hadapan Adinda.
Adinda pun pergi, namun ia masih sesekali menoleh ke belakang untuk sekedar menatap Aditya.
Adinda akan mendoakan kesehatan Aditya, walaupun mereka sudah tidak bersama lagi.
Adinda masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Ia sudah selesai mengurus pemberkasan untuk melanjutkan kuliah, kini ia harus pulang atau orang tuanya akan khawatir padanya.
Sekarang Adinda lebih banyak diam dirumah. Ia tidak pernah berkumpul bersama teman-temannya. Adinda menjadi anak penurut, ia mau seperti kakaknya.
***
Adinda sampai di rumah dan melihat ada sebuah mobil yang terparkir di garasi. Ia mengerutkan keningnya, dan bertanya-tanya apakah ada tamu yang datang.
Adinda melangkah masuk, dan benar saja jika ada tamu yang datang ke rumahnya. Seorang pria duduk bersama dengan kedua orang tuanya.
"Dinda, sudah pulang." Ucap mama Gita pada putrinya.
"Iya, Ma. Aku langsung ke kamar ya, aku mau ganti pakaian dulu." Sahut Adinda langsung pamit.
"Baiklah, tapi kemari dulu sebentar." Pinta papa Dito meminta Adinda untuk mendekat.
Adinda lekas mendekati sang papa. Ia duduk di sebelah papa Dito.
"Ada apa, papa?" Tanya Adinda.
"Ini rekan kerja papa, namanya pak Zayn." Ucap papa Dito memperkenalkan.
Adinda menatap pria yang menjadi tamu kedua orang tuanya. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Adinda." Ucap Adinda.
"Zayn." Balasnya ramah.
Setelah berkenalan, Adinda pun pamit ke kamar dan kali ini kedua orang tuanya tidak menghentikan nya.
Mereka sedang sibuk membahas tentang proyek baru dengan pria bernama Zayn itu.
Adinda masuk ke dalam kamar dan langsung mandi. Ia mau menghubungi kakaknya dan bertanya tentang calon keponakannya.
Jika dulu Adinda jarang menghubungi Archie, maka berbeda dengan sekarang. Hampir setiap hari Adinda menghubungi kakaknya dan menanyakan tentang kabar bayi dalam kandungan kakaknya.
Adinda ingin hubungannya dengan Archie semakin dekat setelah apa yang terjadi selama ini. Ia mau kakaknya itu tahu bahwa ia telah berubah dan menjadi lebih baik.
Setelah mandi. Adinda langsung berbaring dengan tangan memegang ponsel. Ia menghubungi sang kakak namun tidak kunjung diangkat.
"Mbak Archie sibuk kali ya." Gumam Adinda lalu memilih untuk menyimpan ponselnya.
Adinda memilih untuk bangkit. Dari tempatnya, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aku jauh lebih baik, tapi kak Aditya tampak sangat menderita." Gumam Adinda.
"Ya Tuhan, tolong bantu kak Aditya agar tetap baik-baik saja." Tambahnya pelan.
Adinda tidak menyangka jika keadaan Aditya akan seburuk tadi. Bukan buruk, hanya saja jauh berbeda dengan Aditya yang dulu.
Aditya yang selalu tampan dan modis.
Bersambung......................................