
Adinda menatap rumah mewah yang sudah cukup lama tidak ia datangi dengan tatapan berkaca-kaca. Ada perasaan takut, namun kakaknya berhasil menyakinkan nya.
Adinda datang ke rumah orang tuanya tentu dengan diantar oleh Archie dan juga Kaivan, sementara mama Fia sudah diantar pulang ke rumah duluan.
Kaivan bukan mengantar Adinda, melainkan mengantar Archie. Tentu saja, karena Kaivan tidak mungkin membiarkan istrinya pergi sendirian.
"Ayo masuk, Dinda." Ajak Archie sembari merangkul bahu adiknya.
"Aku takut, Mbak." Cicit Adinda sangat pelan.
Archie menghela nafas, lalu menatap suaminya sebelum akhirnya kembali menatap wajah adiknya.
"Tidak perlu takut, kita masuk dan kamu lihat jika papa dan mama pasti memaafkan kamu. Percayalah pada mbak, Dinda." Tutur Archie penuh pengertian.
Akhirnya setelah dibujuk sedikit oleh Archie, Adinda pun mau masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat favoritnya sepulang kuliah atau sekedar main dengan teman-temannya.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat ia mendapatkan kasih sayang yang begitu melimpah, bukan hanya dari papa dan mamanya, tapi juga dari kakaknya.
Archie dan Adinda melangkah duluan masuk ke dalam rumah, sementara Kaivan menyusul di belakang mereka.
"Assalamualaikum, Ma, Pa." Salam Archie ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam, masuk sayang." Terdengar suara mama Gita, namun tidak terlihat wujudnya.
Archie pun menarik tangan Adinda untuk masuk dan menyuruh adiknya itu untuk duduk di sofa.
"Mas, kamu mau minum apa?" Tanya Archie kepada suaminya.
"Nggak usah, Sayang. Jika aku mau, aku bisa ambil sendiri." Jawab Kaivan menolak.
"Sini duduk." Kaivan menepuk sofa di sebelahnya dan meminta istrinya untuk duduk.
Archie pun nurut, ia duduk di sebelah suaminya sambil menunggu sang mama datang.
"Eh Kaivan dan Archie main." Terdengar suara papa Dito dari arah tangga.
Papa Dito melangkah menuruni anak tangga guna menghampiri anak dan menantunya. Papa Dito belum menyadari kehadiran Adinda disana.
Saat papa Dito semakin dekat, barulah ia menyadari jika ada orang lain disana.
Papa Dito mengerutkan keningnya melihat gadis yang merupakan anak bungsunya duduk di sofa dengan kepala yang menunduk.
Archie mengerti tatapan sang papa, ia lekas mendekat lalu meminta papa Dito untuk duduk di single sofa yang ada di sana.
"Mama lagi di dapur, lagi masak pa?" Tanya Archie sekedar mengisi kekosongan.
Papa Dito tidak menjawab, tatapan matanya yang tajam dan menusuk itu terus mengarah pada Adinda.
Papa Dito masih jelas mengingat setiap kalimat yang keluar dari mulut Adinda. Kalimat yang membuat hatinya sakit bahkan sampai hari ini.
"Dia datang bersamamu, Kai?" Tanya papa Dito pada menantunya.
Kaivan menganggukkan kepalanya. "Archie yang membawanya, saya hanya mengantarnya, Pa." Jawab Kaivan menjelaskan.
Papa Dito menghela nafas, sengaja ia tidak bertanya pada Archie karena putrinya itu pasti akan menjawab dengan kalimat yang berbelit-belit.
"Pa, Adinda–" ucapan Archie terhenti ketika papa Dito mengangkat tangannya, seakan memintanya untuk diam.
"Mau apa anda kesini, Nyonya Aditya." Suara papa Dito sangat ditekan, menunjukkan sebuah ketidaksukaan.
Mendengar pertanyaan sang papa, Adinda lantas mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap papa Dito.
"Papa …" lirih Adinda dengan mata yang penuh air mata.
"Papa? Siapa yang kamu panggil papa? Saya?" Tanya papa Dito bertubi-tubi.
"Saya tidak memiliki anak selain Archie, apalagi anak yang sudah berani bicara buruk kepada kedua orang tuanya dan mengkhianati saudaranya sendiri." Tambah papa Dito.
Kalimat yang begitu menyakitkan itu berhasil membuat dada Adinda sesak. Ia bahkan sampai mengepalkan tangannya guna melampiaskan rasa sesak dan sakitnya.
"Mau apa anda kesini?!" Papa Dito kembali bertanya.
"Papa, Adinda ingin meminta maaf. Tolong maafkan dia." Ucap Archie akhirnya menyahut.
Papa Dito tidak menghiraukan ucapan putri sulungnya, ia malah terus menatap Adinda dan menunggu jawaban gadis itu.
"Jawab saya, Nona Adinda." Pinta papa Dito dengan nada yang sedikit tinggi.
Adinda kembali menundukkan kepalanya dan menangis. Bahunya sampai gemetar karena tangisan yang pecah.
Archie hanya bisa diam melihat Adinda menangis. Ia tahu dan paham jika sang papa sangat kecewa pada adiknya, dan wajar saja jika papa Dito bersikap begini.
"Archie, Kaivan. Kebetulan kalian datang, mama sudah buat kue untuk–" ucapan mama Gita terhenti bersama dengan langkahnya yang juga terhenti.
Mama Gita tak melanjutkan ucapannya ketika dirinya melihat sosok gadis yang duduk di sofanya dengan kepala menunduk.
"Mau apa dia kesini?" Mama Gita bertanya dengan lantang dan tidak suka.
Archie mendekati sang mama, lalu mengusap kedua bahunya. Namun siapa sangka jika mama Gita menepisnya.
"Archie, katakan pada Mama. Mau apa dia disini?" Tanya mama Gita lagi.
"Ma, Adinda datang dengan niat baik. Tolong terima dan sambut dia." Pinta Archie lembut.
"Kamu diam, Archie. Mama mau mendengar jawaban dari gadis yang pernah menghina mama habis-habisan!" Tegur mama Gita dengan tegas.
Mama Gita berdiri di depan Adinda. "Jangan terus menunduk, jawab pertanyaan saya. Sedang apa kamu disini?" Tanya mama Gita lagi.
Adinda mengangkat wajahnya sesaat lalu langsung bersujud di bawah kaki ibu kandungnya.
Adinda menangis sembari memegangi kaki mama Gita. Adinda benar-benar bersujud di bawah kaki wanita yang pernah ia sakiti perasaanya.
"Hiks … mama … maafin aku, Ma. Aku menyesal, sangat menyesal. Hiks … ampuni aku, Ma." Ucap Adinda dengan tangis tersedu-sedu.
"Ampuni aku, Ma. Hiks … aku memang durhaka, tapi aku mohon ampuni aku." Pinta Adinda lagi.
Mama Gita memejamkan matanya, ia bisa merasakan kakinya basah dengan air mata putrinya.
"Mama bisa memukul, menampar atau membunuhku, tapi tolong maafkan aku, Ma." Adinda mendongakkan kepalanya, menatap sang mama yang hanya diam dengan mata terpejam.
Archie yang ada disana tak kuasa menahan air matanya ketika melihat dan mendengar ucapan adiknya.
Adinda benar-benar menyesali perbuatannya, bahkan sampai bersujud di bawah kaki mama Gita.
Menyadari jika sang papa mendekati, Adinda mendongakkan kepalanya. Wanita itu lalu beralih memegang kaki sang papa.
"Jangan menyentuh kakiku." Ucap papa Dito tegas.
Adinda tersentak, ia bahkan sampai mundur sedikit karena terkejut.
"Aku tahu papa membenciku, papa kecewa dan marah padaku. Tapi bisakah aku mendapatkan maaf? Aku hanya ingin maaf papa dan mama, setelah aku mendapatkannya, aku tidak peduli jika aku harus mati." Ucap Adinda dengan sesegukan.
Mama Gita mendongakkan kepalanya keatas, mencegah air mata yang sudah hampir meluruh mendengar permohonan maaf dari putrinya.
"Hidupku sudah hancur, aku benar-benar tidak punya apapun lagi, Ma, Pa. Aku sudah sadar jika semua penderitaan yang aku rasakan adalah buah atas perbuatanku pada mama dan papa, serta mbak Archie." Ujar Adinda lagi pelan.
Mama Gita memejamkan matanya, lalu menghela nafas. Ia pun menundukkan kepalanya, lalu membantu anaknya itu untuk berdiri.
"Mama kecewa, marah dan sakit hati sama kamu Adinda. Tapi mama tidak pernah membenci kamu." Ucap mama Gita pelan.
"Mama juga sudah memaafkan kamu sejak lama, Nak." Ucap mama Gita lagi sembari menyeka air mata di wajah putrinya.
Mendengar itu, Adinda sontak langsung memeluk tubuh sang mama. Wanita itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan mama Gita.
"Mama, hiks … aku janji akan berubah, Ma. Aku akan menjadi anak yang baik, aku tidak akan menyakiti mama lagi." Ucap Adinda masih dengan tangisan yang semakin pecah.
Mama Gita menganggukkan kepalanya sembari terus mengusap punggung putrinya.
Mama Gita kemudian melepaskan pelukannya, membuatnya kembali berhadapan dengan wajah putrinya yang sembab.
"Mama senang akhirnya kamu sadar jika perbuatan kamu salah, Nak. Mama sangat bahagia." Ucap mama Gita lembut.
Adinda tersenyum tipis, ia kemudian menatap sang papa yang juga menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu bilang papa dan mama bisa menampar, memukul bahkan membunuh kamu. Benar?" Tanya papa Dito.
"Iya, Pa. Lakukan saja, asal papa mau memaafkanku maka aku siap." Jawab Adinda.
"Bik, ambilkan pisau!!" Papa Dito berteriak.
Archie, Kaivan dan mama Gita terkejut mendengar ucapan papa Dito yang meminta pisah, sementara Adinda biasa saja.
"Papa, apa-apaan ini?" Tanya Archie seraya mendekati sang papa.
Papa Dito tidak menjawab, pria itu hanya diam saja sampai akhirnya menerima pisau yang diberikan oleh asisten rumah tangganya.
"Pa, papa apaan sih, papa mau membunuh anak kita sendiri?" Mama Gita berujar dengan penuh rasa terkejut.
"Kamu diam, Ma. Papa akan memberikan apa yang sepantasnya dia terima." Balas papa Dito tanpa menatap istrinya.
Adinda memejamkan matanya ketika pisau di tangan sang papa sudah dekat dengan lehernya, namun siapa sangka jika papa Dito malah menunduk dan mengambil sesuatu di belakang Adinda.
Papa Dito mengambil buah apel, lalu memotongnya dengan menggunakan pisau yang ia minta tadi.
"Saat kamu bersalah dan meminta maaf pada papa, papa selalu memberikan kamu potongan buah apel. Kamu ingat?" Tanya papa Dito.
Adinda membuka matanya, ia terkejut mendengar ucapan sang papa barusan.
"Papa …" panggil Adinda lirih.
Papa Dito meletakkan pisau itu di atas meja, lalu dirinya membuka kedua tangannya.
"Papa memaafkan kamu, Dinda. Papa akan menerima kamu kembali jika kamu memang benar-benar ingin berubah." Ucap papa Dito.
Tanpa menunggu lagi, Adinda langsung memeluk tubuh sang papa dengan sangat erat dan menumpahkan air matanya dalam pelukan ayahnya.
"Hiks papa … aku minta maaf, Pa. Aku minta maaf sudah membuat papa kecewa, aku sangat menyesal." Ucap Adinda dengan lirih.
Papa Dito mengusap punggung putrinya, lalu mencium keningnya. Adinda adalah putrinya, ia menyayangi Adinda sama seperti dirinya menyayangi Archie.
Archie memeluk tangan suaminya dengan perasaan senang dan lega. Ia pikir akan ada masalah, tapi syukurlah karena semuanya baik-baik saja.
"Kamu bahagia hmm?" Tanya Kaivan sembari mengusap pipi istrinya.
"Sangat, Mas. Sekarang keluargaku sudah bersatu kembali." Jawab Archie manggut-manggut.
Kaivan mencium kening Archie. Jika Archie bahagia, maka Kaivan juga bahagia.
"Apa saja yang sudah Aditya lakukan sama kamu, Nak? Aditya kan yang sudah membuat kamu keguguran?" Tanya papa Dito penuh perhatian.
"Pa, aku sudah memutuskan untuk bercerai, artinya aku sudah tidak mau berurusan dengannya. Keguguran yang aku alami, akan aku anggap sebagai musibah." Ucap Adinda dengan tenang.
Mama Gita mengusap kepala putrinya. "Mama berdoa, semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan di tempat lain, Nak." Tutur mama Gita.
Begitu mudah mama Gita dan papa Dito memaafkan Adinda karena sejatinya mereka memang sangat menyayangi Adinda, sama seperti mereka menyayangi Archie.
Selain itu, Adinda mau berubah dan sebagai orang tua maka mereka harus mendukungnya.
Adinda lalu beralih menatap Archie. "Mbak …" panggil Adinda.
Adinda mendekat, ia pun bersujud di kaki Archie.
"Dinda, apa yang kamu lakukan." Archie buru-buru membantu adiknya untuk berdiri.
"Maafin aku, Mbak. Aku sudah sangat jahat, tapi mbak tetap baik sama aku." Kata Adinda lalu memeluk kakaknya.
Archie tersenyum dan membalas pelukan adiknya.
"Mbak juga minta maaf jika belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu ya." Balas Archie.
Adinda melepaskan pelukannya lalu menggelengkan kepalanya.
"Mbak adalah kakak terbaik di dunia ini." Kata Adinda.
Adinda lalu menatap Kaivan. "Jika om masih ingat, aku pernah mengatakan bahwa om akan menyesal menikahi mbak Archie yang membosankan, tapi hari ini aku menarik semua kata-kataku." Ucap Adinda mengingat masa lalu.
"Hari ini aku mengatakan bahwa om sangat beruntung memiliki mbak Archie sebagai istri om, mbak Archie wanita yang sangat baik, dan aku akan selalu mendoakan kalian agar terus bahagia." Tambah Adinda dengan tulus.
Kaivan merengkuh pinggang istrinya. "Kamu benar, saya memang beruntung. Terima kasih atas doanya." Balas Kaivan cuek.
Archie tersenyum, ia menatap suaminya lalu mengusap tangan Kaivan yang ada di pinggangnya.
Sementara mama Gita dan papa Dito sangat bahagia melihat anak-anaknya kembali akur, kini mereka akan kembali berdoa dan terus berdoa untuk kebahagiaan Archie dan Adinda.
BAB KALI INI LEBIH PANJANG DARI BIASANYA, BIAR PUAS KALIAN BACANYA 😙
Bersambung......................................