Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Mertua sebaik mama Dewiya


Jangan tanya bagaimana kondisi Kaivan setelah istrinya marah. Kini pria itu berdiri di depan kamar tamu dan berharap istrinya mau membuka pintu kamar.


Ya, Archie marah dan membawa Arkan untuk tidur di kamar tamu. Bukan hanya karena marah, namun juga karena Archie takut suaminya itu membuat Arkan kembali bangun nantinya.


“Sayang … mau tidur disini juga, kamu kan tahu aku nggak bisa tidur kalo nggak peluk kamu.” Ucap Kaivan pelan, berharap istrinya bisa dengar.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam, dan hal itu membuat Kaivan sangat sedih. Dia tidak bisa berkutik jika istrinya sudah marah begini.


Kaivan menghela nafas. Dua pun memilih untuk pergi dari sana. Ketika sampai di ruang tamu, dia berpapasan dengan mama Fia yang malah asik tertawa.


“Kasihan banget, dicuekin istrinya … makanya Kai, jangan suka bikin istri kesal!” celetuk mama Fia yang asik meledek putranya.


Kaivan memberengut. “Ma … mama harusnya bantu bujuk Archie, bukan malah ledekin aku disini.” Kata Kaivan sedikit sewot.


“Nggak mau, kan kamu yang bikin masalah sama Archie.” Tolak mama Fia kembali tertawa meledek.


“Tapi mama dari mana? abis ketemu papa Jef ya??” gantian Kaivan yang menggoda ibunya.


Mama Fia tampak gelagapan kemudian menggeleng. “Nggak lah, ngapain mama ketemu papa kamu.” Jawab mama Fia dengan cepat.


Usai mengatakan itu, mama Fia langsung pergi meninggalkan Kaivan yang sedang dilema sendirian. Mama Fia hanya mau menghindari pertanyaan dari putranya itu.


Sementara itu Archie yang sudah berhasil menidurkan Arkan lantas keluar dari kamar. Dia bisa mendengar suara suaminya tadi, namun dia memilih untuk tidak mempedulikannya.


Archie pergi ke dapur. Niatnya hanya ingin minum, namun saat melewat ruang tamu dia melihat suaminya sedang duduk sendirian disana.


“Ngapain kamu?” tanya Archie dengan sedikit jutek.


“Sayang!!” Kaivan berbinar dan langsung mendekati istrinya.


“Ngapain??” ulang Archie dengan pertanyaan yang sama.


“Nungguin kamu keluar kamar, aku mau ajak tidur di kamar kita. Shaka udah tidur kan?” tanya Kaivan dengan takut-takut.


“Kenapa emang? mau kamu gangguin lagi anak aku heuh?” Archie bicara dengan nada tidak santai, dia masih kesal.


“Nggak, Sayang. Udah yuk, tidur di kamar kita aja abis itu makan. Kamu belum makan kan?” tebak Kaivan namun tidak dijawab oleh Archie.


Archie melangkah meninggalkan suaminya, namun bukan Kaivan namanya jika tidak mengekori istrinya itu.


“Sayang …” Kaivan memeluk Archie dari belakang dan mendusel dengan manja.


“Apa sih, Mas! lepasin ah, kamu jangan manja gini. Malu sama Arkan,” kata Archie sembari berusaha melepaskan pelukan suaminya.


“Maafin aku dulu, terus kita pindah ke kamar kita aja.” Pinta Kaivan dengan suara yang melas.


Archie hendak menjawab, namun keduanya terdistraksi oleh suara dari ruang depan. Mereka sepertinya kedatangan tamu, dan membuat keduanya memutuskan untuk melihat siapa yang datang.


“Papa?” Kaivan mengerutkan keningnya, namun dia tetap menyalami tangan papanya itu.


Archie melakukan hal yang sama. Dia mencium punggung tangan ayah mertuanya.


“Duduk, Pa. Aku akan buat minum,” ucap Archie dengan sopan.


“Tidak usah, Nak. Papa cuma mau antar ini, ponsel milik Fia ketinggalan.” Papa Jefry menyodorkan ponsel milik mama Fia.


Archie dan Kaivan saling pandang, selanjutnya mereka sama-sama melempar senyuman yang usil.


“Ada yang berjuang, Sayang …” Ucap Kaivan dengan penuh godaan.


“Iya, aku yakin perjuangannya bakal kayak pahlawan Indonesia.” Sahut Archie yang juga bicara dengan nada penuh godaan.


“Apa tuh??” tanya Kaivan sembari menahan tawa.


“Berhasil dan merdeka dong!!” usai menjawab itu, Archie pun tertawa dan Kaivan melakukan hal yang sama.


Papa Jefry merasa panas, dia telah diusili oleh anak dan menantunya. Dia tidak bisa menepis jika saat ini dia sedang berjuang untuk mendapatkan hati dan kepercayaan mantan istrinya.


“Doain aja, dan pastinya papa minta restu dari kalian.” Sahut papa Jefry dengan lugas.


***


Karin menghela nafas. Derita menjadi anak rantauan adalah harus serba bisa dan pastinya mandiri. Seperti sekarang ini, dia sedang berbelanja kebutuhan di salah satu pusat perbelanjaan.


Kalimat diskon 50% untuk produk kecantikan sukses membuat Karin kalap. Dia membeli semua kebutuhannya, terutama untuk makanan.


“Duhh … tiap bulan aja sih diskon gede-gedean gini. Lumayan kan peralatan mandi sama body lotion murah meriah gini.” Gumam Karin sambil terkikik.


Karin pun mengantri untuk bayar di kasir, namun tiba-tiba saja ada yang memanggil dirinya. Karin lantas menoleh untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.


“Tante Dewiya.” Karin langsung menyalami tangan wanita yang begitu baik padanya itu.


Mama Dewiya-ibu Aldavi itu tersenyum. Dia mengusap rambut panjang Karin dengan penuh kasih sayang.


“Gimana kabar kamu, Sayang? udah lama kita nggak ketemu, eh nggak nyangka malah ketemu disini.” Ucap mama Dewiya.


“Aku baik, Tante. Tante sendiri gimana?” Tanya Karin balik.


“Tante baik, Nak. Sehat, dan masih mengharapkan kamu sebagai menantu tante.” Jawab mama Dewiya dibarengi dengan gurauan.


Karin tersenyum canggung. “Tante bisa aja, inget kan aku udah mau nikah bentar lagi …” Sahut Karin dengan nada bercanda, namun ucapannya mengandung fakta.


Mama Dewiya tersenyum. “Pasti tante inget, Sayang. Oh ya, nanti pulang sama tante ya, kebetulan tante di jemput sama Davi.” Kata mama Dewiya.


Mendengar nama Aldavi, sontak saja Karin menegang. Dia teringat pada kejadian beberapa hari lalu.


“Jangan nolak ya, Nak. Tante cuma mau anterin kamu aja kok, nggak maksud lain.” Pinta mama Dewiya dan dibalas anggukkan kepala oleh Karin.


Setelah Karin dan mama Dewiya sudah membayar, keduanya pun langsung pergi ke lobby untuk menunggu Aldavi. Karin dan mama Deiya terlihat begitu akrab bagai ibu dan anak.


Tidak lama kemudian Aldavi datang. Dia cukup terkejut melihat Karin, namun dia tidak bicara apapun dan memutuskan untuk membantu memasukkan barang ke bagasi.


“Awalnya mama pikir bukan Karin, soalnya tambah cantik aja.” Celetuk mama Dewiya di tengah perjalanan.


Karin tersenyum malu. “Tante bisa aja …” Sahut Karin.


Aldavi hanya menjadi pendengar antara sang mama dan Karin, namun sesekali matanya melirik ke arah Karin yang tersenyum manis.


Aldavi membenarkan ucapan sang mama diam-diam, tentang Karin yang bertambah cantik.


“Davi, sariawan kamu?” tanya mama Dewiya.


“Apa sih, Ma. Aku diem salah, banyak ngomong salah.” Jawab Aldavi dengan pasrah.


“Yaudah makanya banyak duit aja, biar nggak serba salah.” Timpal mama Dewiya membuat Karin tanpa sadar ikut tertawa.


Aldavi memperhatikan tawa itu. Terlihat menggemaskan.


Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di depan kost Karin. Niatnya mama Dewiya ingin mengajak Karin makan dulu, namun gadis itu menolaknya.


“Dok, boleh tunggu sebentar dulu? saya mau balikin jaket yang waktu itu.” Pinta Karin dan dibalas anggukkan kecil oleh Aldavi.


Karin masuk ke dalam kostnya, dan tidak sampai 5 menit gadis itu sudah keluar sambil membawa jaket denim di tangannya. Karin memberikan itu kepada Aldavi.


“Terima kasih, Dok.” Ucap Karin dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.


“Terima kasih juga, Tante.” Karin kembali bicara dan mencium punggung tangan mama Dewiya.


“Sama-sama, Nak.” Balas mama Dewiya.


Karin pun pergi meninggalkan mobil Aldavi. Dia menunggu sampai mobil pria itu menghilang dari hadapannya.


“Semoga mertua gue sama baiknya kayak mama Dewiya.” Gumam Karin.


MAU YANG MIRIP MAMA DEWIYA ATAU MAMA DEWIYA AJA, RIN??


Bersambung .............................