Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Saya bucin sekali


Kaivan bersiap untuk berangkat bersama dengan istrinya pagi-pagi sekali. Mereka tidak membawa mobil, melainkan berangkat menggunakan jasa taksi online menuju bandara.


Seluruh karyawan Kaivan sudah ada di bandara, dan tinggal menunggu kedatangan Kaivan saja.


"Nanti di Bali kita jangan tinggal sekamar ya, Mas. Kalau sekamar, nanti nggak enak sama yang lain." Ucap Archie pada suaminya.


Mereka di perjalanan, dan Kaivan masih sibuk dengan beberapa pekerjaanya di bidang lain. Meski begitu, Kaivan tetap menyimak apa yang istrinya ucapkan.


"Iya, saya sudah pesan dua kamar untuk kita. Tapi kamu tidur tetap sama saya, nggak boleh misah." Sahut Kaivan tanpa menatap istrinya.


"Jadi setiap malam aku ke kamar kamu? Masa iya, aku kayak maling nanti." Celetuk Archie, membuat Kaivan terkekeh.


Kaivan memberikan ponselnya untuk di simpan oleh istrinya itu. Archie menerima, dan memasukkannya ke dalam tas selempang miliknya.


"Nggak, saya yang akan ke kamar kamu." Ujar Kaivan.


"Nggak mungkin lah saya suruh kamu ke kamar saya, saya yang nyamperin kamu." Tambah Kaivan memperjelas.


Archie manggut-manggut, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Jika begitu, maka terserah saja. Asal bukan Archie yang keluar masuk kamar Kaivan.


Sejujurnya bisa saja Archie mengadu pada suaminya tentang gosip di kantor, namun Archie masih ingin melihat sejauh mana orang akan bergosip dan juga siapa dalang di balik penyebaran gosip itu.


Setelah perjalanan yang memakan waktu lebih dari 1 jam itu, akhirnya mereka sampai di bandara.


Archie keluar duluan, di susul oleh Kaivan. Mereka menurunkan barang-barang mereka dan tidak lupa mengucapkan terima kasih sebelum pergi kepada sopir taksinya.


"Ayo, Sayang." Ajak Kaivan mendorong koper berukuran sedang.


"Ssttt, sayang-sayang. Nanti kelepasan berabe urusannya." Tegur Archie.


Kaivan hanya tersenyum, pria itu melangkah duluan dan disusul oleh Archie di belakangnya yang mendorong koper kecil.


Mereka pun bertemu dengan para karyawan yang sudah siap juga untuk berangkat ke Bali.


Kaivan bicara dengan seluruh kepala divisi perusahaan nya. Bukan hal yang penting, hanya sekedar basa-basi saja.


"Archie!!" Seseorang memanggil Archie, membuat wanita itu menoleh.


Archie tersenyum lalu lekas mendekati teman-temannya. Monika dan Amber. Ada Rafi juga, namun Archie hanya menyapa dengan kode anggukkan kecil.


"Kamu cuma bawa koper kecil?" Tanya Monika mengerutkan keningnya.


"Iya ya, koper kamu kecil. Kamu nggak bawa baju, Chie?" Tanya Amber ikutan bingung.


Archie gelagapan, ia begitu ceroboh karena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dari teman-temannya.


Rafi yang mendengar ucapan Archie dan teman-temannya menjadi ikut penasaran. Lalu pria itu menoleh, menatap koper yang Kaivan bawa.


Koper Kaivan cukup besar dan muat untuk barang-barang dua orang. Selanjutnya Rafi pun menatap Archie.


"Mungkin Archie nggak bawa baju, dia mau beli saja di sana atau malah nitip ke seseorang." Ucap Rafi menimpali.


Archie menatap Rafi, ia tidak menyahut apapun dan memilih untuk diam saja sementara kedua temannya menyangkal ucapan Rafi barusan.


"Mau nitip sama siapa, aneh-aneh aja pak Rafi ini." Celetuk Monika sambil terkekeh.


"Tentu, Pak." Jawab Archie mengangguk kecil.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesawat tujuan mereka pun diumumkan untuk segera diberangkatkan.


Kaivan tidak pilih kasih, ia mengangkut semua karyawannya menggunakan penerbangan kelas bisnis sama sepertinya.


Sudah dibilang, Kaivan itu adalah atasan yang tegas dan keras. Namun dibalik itu semua, Kaivan adalah sosok yang sangat memanusiakan manusia, dan menjunjung tinggi integritas karyawannya.


Kaivan dan Archie duduk bersebelahan dengan Archie yang duduk di pinggir sedangkan Kaivan di dekat jendela.


Andai saja ini bukan penerbangan bersama karyawan, Archie pasti memilih untuk duduk dekat jendela, sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Anda mau sesuatu, Pak?" Tawar Archie, dan Kaivan menggelengkan kepalanya.


"Sini." Pinta Kaivan menepuk bahunya.


"Nanti dilihat yang lain, aku nggak mau." Tolak Archie.


"Beberapa kursi di belakang membatasi kita dengan yang lain, kamu tidak perlu khawatir." Jelas Kaivan, lalu menarik Archie untuk bersandar di dadanya.


Archie tidak menolak, ia memang butuh sandaran seperti ini karena cukup lelah. Kemarin ia bekerja sampai malam bersama suaminya, dan hari ini berangkat pagi-pagi sekali.


Archie kurang tidur.


"Kalau aku tidur nggak apa-apa, Mas?" Tanya Archie pelan.


"Nggak apa-apa dong." Jawab Kaivan.


Kaivan mengusap kepala Archie, lalu memberikan kecupan di keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Tidurlah." Bisik Kaivan lembut.


Archie pun mulai memejamkan matanya, sampai akhirnya Archie tertidur dengan begitu pulas di dada suaminya.


Sementara Archie tidur, Kaivan memainkan ponselnya yang tadi ia ambil di tas milik istrinya. Kaivan melihat pesan chatting dengan Aldavi yang menanyakan tentang kondisinya sebelum terbang tadi.


"Kondisi gue jauh lebih baik. Sama kayak ucapan lo, sejak gue cerita sama Archie, gue ngerasa lebih hidup. Bahkan gue nggak pernah konsumsi obat penenang lagi untuk tidur." Tulis Kaivan dalam pesannya.


Setelah membaca pesan itu, Kaivan menatap istrinya yang sudah pulas dalam tidurnya.


Sejak hidup bersama Archie, Kaivan merasa lebih baik. Tidak ada kemarahan, tidak ada emosi apalagi kemurkaan. Hidupnya penuh dengan tawa dan rasa bahagia.


Kaivan bersyukur atas kekayaan yang ia miliki saat ini, namun yang membuatnya lebih bersyukur adalah memiliki Archie sebagai istrinya.


"Saya bersyukur ditakdirkan bertemu kamu, Archie. Meski awalnya kamu adalah kekasih keponakan saya, tapi pada akhirnya kamu adalah milik saya." Bisik Kaivan, lalu mencium kening istrinya.


Kaivan semakin mendekap tubuh istrinya, merasakan kehangatan yang membuatnya tak ingin jauh-jauh dari Archiena.


"Saya bucin sekali sama kamu, Archie." Ungkap Kaivan dengan sungguh-sungguh.


AKU JUGA BUCIN BANGET SAMA MAS KAIVAN 😙 BANYAK KOMEN, AKU UP 3 BAB HARI INI


Bersambung....................................