Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Aku takut


Archie dan Kaivan baru saja sampai di rumah setelah pergi ke rumah orang tua Archie. Niatnya akan ke rumah Risa juga, namun karena bertemu dengan Adinda disana, maka mereka menitipkan oleh-olehnya kepada wanita itu.


Keduanya melangkah masuk menuju kamar, mereka akan mandi dulu sebelum makan. Tadi di tawari makan malam bersama orang tua Archie, namun mereka menolaknya.


Ketika keduanya sudah sampai di kamar, Archie menghentikan langkahnya lalu menatap suaminya.


"Kamu hutang penjelasan sama aku, Mas. Tapi kalau kamu memang belum mau bercerita, aku nggak masalah." Ucap Archie pelan.


Kaivan ikut menghentikan langkahnya, ia membalik badan dan menatap istrinya yang berdiri di dekat pintu kamar.


Kaivan menghela nafas, lalu melangkah mendekati Archie. Pria itu menarik pergelangan tangan istrinya lembut, kemudian mengajak nya duduk di sofa.


"Saya jelasin sekarang ya, kita mandi setelah bicara saja. Sepertinya kamu tidak sabar." Ucap Kaivan sembari mencubit pelan pipi istrinya.


Archie manggut-manggut, ia membenarkan posisi duduknya agar nyaman ketika mendengarkan suaminya berbicara.


"Inka itu memang mantan kekasih saya setelah Nisa, dulu saya juga sudah niat untuk menikah dengannya, tapi tiba-tiba dia menolak dengan alasan fokus karir." Ucap Kaivan lalu membuang nafasnya kasar.


"Saya sempat memaksanya, dan mengatakan bahwa saya akan tetap mengizinkan dia bekerja setelah menikah, tapi dia tetap menolak bahkan meninggalkan saya begitu saja." Tambah Kaivan sembari mengusap punggung tangan istrinya.


"Jadi kamu hampir menikah dengan Nisa dan Inka itu ya, Mas?" Tanya Archie.


"Iya, hampir. Dan berhasilnya sama kamu, Archiena Kinan Xeviola." Jawab Kaivan lembut.


"Apa mas tahu kalau Inka itu sepupunya Nisa?" Tanya Archie tiba-tiba.


"Apa? Sepupu Nisa?" Beo Kaivan menajamkan pendengarannya.


"Jadi mas sungguh nggak tahu ya. Nisa mengatakan jika Inka itu adalah sepupunya, dia mendekati kamu karena kamu tampan, dan dia meninggalkan kamu karena …" Archie menggantung ucapannya, ragu akan berkata karena takut suaminya tersinggung.


"Karena saya pemarah? Saya suka main fisik dan posesif?" Tebak Kaivan yang jawabannya benar sekali.


Kaivan mengambil jeda sebentar lalu kembali berbicara.


"Saya tahu, Archie. Saya tahu mereka berdua pasti meninggalkan saya karena itu, tapi saya benar-benar tidak tahu jika Inka adalah sepupunya Nisa." Tambah Kaivan.


"Mas, seperti yang Nisa katakan jika Inka berusaha kembali sama kamu, dia mau kalian kembali bersama." Ujar Archiena.


"Soal ini saya juga tahu, beberapa kali dia datang menemui saya dan mencoba membuat saya kembali padanya." Balas Kaivan dengan tenang.


Archie terkejut, ia menatap suaminya dengan mata yang terbuka.


"Lalu, apa tanggapan kamu, Mas?" Tanya Archie pelan.


"Tentu saja saya menolak, saya sudah menikah dan memiliki istri." Jawab Kaivan.


"Jika kamu masih ingat, saya pernah meninggalkan kamu saat makan malam. Alasan saya pergi adalah untuk menemui wanita itu, saya memberinya peringatan untuk tidak mengganggu rumah tangga kita." Ucap Kaivan mengingatkan.


Archie tentu masih ingat, ia sampai menangis waktu itu dan berusaha menekan rasa cemburu di hatinya.


"Saya sempat beberapa kali takut karena dia mengancam akan menceritakan kondisi dan masa lalu saya sama kamu, tapi setelah saya bercerita sama kamu dengan jujur dan kamu menerima kondisi saya, saya tidak takut lagi." Kaivan kembali bicara.


"Maksud kamu, kamu takut karena dia mengancam akan cerita kondisi kamu ke aku dan aku ninggalin kamu, Mas?" Tanya Archie dan Kaivan menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Saya benar-benar takut kamu pergi, Archie. Saya tidak mau itu terjadi." Jawab Kaivan lalu memeluk tubuh istrinya.


"Jangan tinggalkan saya …" pinta Kaivan sembari menciumi bahu istrinya.


Archie mengusap bahu suaminya dengan lembut, berusaha menenangkan rasa takut dan sedih yang Kaivan rasakan.


Wajar sekali jika Kaivan takut ditinggalkan, dia sudah merasakan itu dua kali dalam hidupnya. Sekarang, dia takut Archie juga pergi.


"Aku nggak akan tinggalin kamu, Mas." Balas Archie.


Kaivan melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik istrinya lalu menghadiahi kening istrinya dengan kecupan penuh kasih sayang.


"Tidak mungkin saya minta kamu pergi, dan saya juga tidak akan mungkin berkhianat setelah memiliki istri seperti kamu, Sayang." Balas Kaivan sungguh-sungguh.


"Kedepannya, kita saling cerita jika ada apa-apa ya, Mas. Aku nggak mau ada salah paham karena pengaruh orang luar." Ucap Archie mengingatkan dan meminta.


"Iya, Sayang. Saya akan cerita sama kamu jika ada masalah apapun." Balas Kaivan.


Archie menghela nafas, lalu manggut-manggut. Wanita itu mengusap punggung tangan sang suami dan Kaivan balas dengan mencium punggung tangannya.


"Mas." Panggil Archie.


"Apa, Sayang?" Sahut Kaivan lembut.


Wajah Archie bersemu merah mendengar panggilan suaminya. Mungkin terdengar biasa saja bagi sebagian orang, tapi bagi Archie sangat spesial apalagi suaminya itu dulu sangat dingin.


"Aku sebenarnya agak takut waktu Nisa minta aku ketemu dan mau ceritakan tentang kamu." Ucap Archie tiba-tiba.


"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Kaivan dengan serius.


Archie menggigit bibirnya. "Aku pikir kamu …" Archie menggantung ucapannya dengan perasaan ragu.


"Apa?" Kaivan penasaran, ia ingin tahu apa yang Archie takutkan dan akan berusaha untuk merubah sikap yang memang membuat Archie takut.


"Aku takut kamu lemah syahhwattt." Jawab Archie malu-malu.


Kaivan tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar ucapan istrinya. Sesaat kemudian diamnya berubah menjadi tawa yang lepas.


Archie tersenyum mendengar tawa suaminya, sebenarnya apa yang ia katakan barusan hanyalah candaan untuk mencairkan suasana.


"Bisa-bisanya kamu takut hal itu, memang wajah saya kelihatan begitu?" Tanya Kaivan dengan gemas.


"Ya nggak gitu, Mas. Aku kan cuma takut, takut itu nggak dipaksakan." Jawab Archie lalu mengerucutkan bibirnya.


Kaivan mengecup bibir istrinya dengan gemas, lalu mengusap kedua pipi Archie dengan lembut.


"Apa yang kamu takutkan terbukti nggak?" Tanya Kaivan dengan usil.


Archie berdecak. "Ishh, ngapain tanya itu sih." Bukannya menjawab, Archie malah melengos.


"Lhoo, kan saya tanya Sayang." Ucap Kaivan sembari mengusap pergelangan tangan istrinya.


"Ihh, enggak. Kamu kuat banget." Sahut Archie dengan jujur.


Kaivan kembali tertawa mendengar jawaban istrinya barusan, wajah Archie terlihat begitu menggemaskan.


"Yuk." Ajak Kaivan.


"Kemana?" Tanya Archie bingung.


"Buktikan, saya lemah atau tidak." Jawab Kaivan lalu bangkit dari duduknya.


Kaivan tanpa berkata apa-apa lagi langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke walk in closet.


Niatnya mengajak Archie mandi akan terwujud sekarang, tentu bukan hanya sekedar mandi, tapi mandi plus plus.


"Jika begini, aku pasti akan cepat hamil." Batin Archie pasrah menerima sentuhan suaminya.


NGERI BANGET NGERI 🙈😫😫


Bersambung........................................