
Karin menatap cincin yang tersemat di jari manisnya dengan perasaan resah. Dia tidak menyukai pertunangan ini, namun terpaksa harus menerimanya demi permintaan sang mama.
Karin tidak mencintai Aldavi, namun entah mengapa perasaannya terus saja tertuju pada pria itu.
"Aku boleh kan ke Jakarta untuk melihat kamu sesekali?" Tanya Yogi sembari menoleh ke samping.
Karin yang sedang melamun tidak mendengarkan ucapan tunangannya itu. Dia hanya diam sambil memegangi cincin pertunangannya.
Yogi melihat itu, dan ia tersenyum. Dalam pikiran Yogi, Karin merasa bahagia atas pertunangan mereka padahal sebaliknya.
"Karin." Panggil Yogi sembari memegang tangan Karin.
Karin tersentak. Dia menarik tangannya lalu menatap Yogi dengan tatapan terkejut dan sedikit marah.
"Maaf, tapi kamu diam saja saat aku bicara. Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Yogi dengan lembut.
Karin menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum paksa.
"Ya, semuanya baik. Kamu ngomong apa tadi?" Tanya Karin.
"Aku mau ke Jakarta setiap hari Minggu, untuk sekedar melihat kamu. Boleh kan?" Tanya Yogi.
Karin tidak langsung menjawab. Dia diam sebentar dan itu membuat Yogi manggut-manggut dengan pikirannya sendiri.
"Aku tahu, kamu masih belum menerima pertunangan ini karena aku bukan pria yang kamu suka, ditambah lagi aku bukan pria pekerja keras." Ucap Yogi membuat Karin langsung menoleh.
"Aku tidak–" ucapan Karin terhenti saat Yogi kembali bicara.
"Aku akan berubah, Karin. Aku akan bekerja dan tidak terus bergantung pada kedua orang tuaku. Aku akan berusaha bekerja keras sebelum menikahi kamu." Tambah Yogi dengan yakin.
"Kenapa kamu sampai seperti ini, Yogi? Kita sebelumnya tidak saling mengenal." Kata Karin pelan.
"Memang, tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu. Pria mana yang tidak akan jatuh cinta pada gadis secantik kamu." Sahut Yogi sambil tertawa.
Karin mendengus pelan. "Banyak, dokter Davi salah satunya." Ucap Karin sangat pelan sehingga Yogi tidak mendengarnya.
Yogi fokus menyetir mobil. Memang setelah pertunangan tadi pagi, Karin langsung diantar pulang ke Jakarta oleh Yogi karena besok gadis itu sudah mau kembali bekerja.
"Oh ya, dokter yang sama kamu waktu itu?" Tanya Yogi menoleh sebentar ke arah Karin.
"Dia sudah pergi." Jawab Karin tanpa menatap Yogi.
Yogi manggut-manggut. Dia tidak banyak bicara dan memilih fokus pada jalanan di depannya. Sementara Karin malah mengingat dokter Davi lagi.
"Jangan terus mengingatnya, Karin. Dia pria yang tidak mencintaimu, dia pergi dengan rasa bahagia setelah tahu kamu akan dijodohkan." Batin Karin lalu memejamkan matanya.
Sementara itu di rumah Kaivan dan Archiena. Tampak Davi datang setelah mendapatkan panggilan dari Kaivan untuk memeriksa kondisinya.
Kaivan hanya ingin di periksa saja, ia takut ada virus yang menempel di tubuhnya karena terus diikuti Inka selama di luar kota.
"Oh, jadi Kaivan sama Inka terus selama diluar kota. Lo nggak cemburu, Chie?" Tanya Aldavi.
"Gue patahin batang leher lo ya!!" Ancam Kaivan dengan mata yang melotot.
"Iya, tapi untungnya mas Kaivan nggak tergoda. Dia ingat ada istri yang menunggu dirumah." Sahut Archie dengan santai.
"Ngomong-ngomong dokter Davi, bagaimana dengan Karin? Bukankah Anda mengantarnya waktu itu?" Tanya Archie lagi.
"Dia masih di kampungnya, dia juga akan dijodohkan." Jawab Aldavi tanpa menatap Archie.
"Terus kok Lo disini dan bukan disana, lo nggak mau cegah itu?" Tanya Kaivan pelan.
"Nggak lah, buat apa. Gue sama dia nggak saling suka, lagian biarin aja dia nentuin mau nikah sama siapa." Jawab Aldavi dengan enteng.
"Lagian dari awal kan nyokap gue yang ngebet mau jadiin dia menantu, gue sih nggak." Tambah Aldavi lalu mengambil minuman yang disiapkan untuknya.
Kaivan mengusap dagunya lalu manggut-manggut.
"Yaudah, tapi awas nyesel." Timpal Kaivan.
Aldavi meringis kecil begitu merasakan minuman soda kalengan yang ia tenggak.
"Nggak lah, ngapain nyesel." Sahut Aldavi lalu bangkit dari duduknya.
"Gue cabut ya, jaga diri baik-baik. Inget istri lagi hamil." Tutur Aldavi.
"Tahu gue juga." Sahut Kaivan sewot.
Archie melempar senyuman pada Aldavi. "Dokter, makasih ya. Hati-hati di jalan." Ucap Archie ramah.
"Sama-sama, gue cabut ya." Aldavi pun langsung ngeloyor pergi meninggalkan ruang tamu rumah Kaivan.
Kini diruang tamu itu tinggal Archie dan Kaivan. Mereka benar-benar berdua karena mama Fia sedang tidur di kamarnya.
"Kapan cek up kandungan kamu, Sayang?" Tanya Kaivan sembari meminta istrinya mendekat dengan kode jari.
Archie nurut, dia mendekati suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Besok, Mas. Kamu kan sudah tanya, kok tanya lagi." Jawab Archie geleng-geleng kepala.
"Lupa, soalnya cuma ingat sama kamu." Ungkap Kaivan lalu tertawa lepas.
Archie mencubit perut suaminya, namun bukannya kesakitan pria itu malah meringis tertawa.
***
Karin sampai di kostnya dengan diantar oleh Yogi pastinya. Gadis itu tidak terlalu membawa banyak barang sehingga pulang pun dia tidak terlalu ribet.
Yogi dan Karin berdiri di sebelah mobil. Yogi menatap Karin, sementara yang ditatap diam saja.
"Hati-hati ya, Rin. Aku harap kamu bisa jaga sematan cincin aku." Ucap Yogi sembari menatap cincin di jari manis Karin.
"Iya, aku pasti jaga. Yang penting kamu sabar menunggu aku lulus kuliah dan bekerja." Balas Karin tanpa menatapnya Yogi.
"Yaudah, sana masuk. Aku harus pulang karena nggak mau malam di jalan." Tutur Yogi.
Karin mengangguk patah-patah, dia menatap Yogi sebentar dan melempar senyuman tipis.
"Makasih ya." Ucap Karin lalu melangkah pelan menuju kostnya.
Karin berdiri di ambang pintu dan melambaikan tangannya, sampai akhirnya mobil Yogi sudah pergi dan tak terlihat di pandangannya.
Karin menutup dan mengunci pintunya. Dia meletakkan tas nya di ranjang, lalu duduk di sana.
"Berangkatnya sama siapa, pulangnya sama siapa." Gumam Karin lalu memilih untuk berbaring.
Bersambung................................