Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Berbahagialah


Seperti ajakan Kaivan kemarin jika weekend ini ia akan membawa istrinya untuk liburan di puncak Bogor.


Planningnya hanya berdua saja, namun mendadak si dokter sahabat Kaivan ingin ikut demi lepas dari ocehan ibunya.


Karena Aldavi ikut, maka Archie pun memutuskan untuk mengajak Karin serta Adinda juga. Archie hanya ingin lebih ramai liburannya.


"Lagian kenapa pakai acara kabur-kaburan sih dari Tante Dewiya?" Tanya Kaivan sambil mengambil beberapa barang di rak minimarket.


Aldavi menghela nafas. Dia menatap sahabatnya itu.


"Harusnya lo tahu sih, Kai. Gue kan pernah cerita soal rencana mama gue yang mau gue nikah." Jawab Aldavi.


Saat ini Kaivan dan Aldavi sedang belanja di minimarket untuk kebutuhan mereka selama liburan. Mereka hanya menginap satu malam, jadi barang yang mereka beli tidak terlalu banyak.


"Oh, Karin?" Tebak Kaivan dan Aldavi tidak menyahutinya.


"Lah terus kenapa? Karin sama lo kan sama-sama jomblo, jadi sah sah aja sih." Tambah Kaivan sembari melangkah menuju kasir.


"Gue nggak suka sama si Karin itu, terus dia juga sudah punya tunangan." Ujar Aldavi memberitahu.


"Hah? Siapa sudah punya tunangan?" Tanya Kaivan cukup terkejut dengan ucapan Aldavi.


"Akhir-akhir ini lo lupaan deh, Kai. Bukannya gue sudah pernah cerita kalau Karin tunangan sama cowok di kampungnya." Jawab Aldavi sedikit sewot.


"Dan walaupun udah tahu Karin tunangan, nyokap gue mau gue tetep maju buat deketin dia. Gue sampe heran, kenapa sih nyokap gue pengen banget dia jadi mantunya." Tambah Aldavi sembari mengusap wajahnya kasar.


"Totalnya 243rb, Pak." Ucap sang kasir yang memotong pembicaraan antara Kaivan dan Aldavi.


Kaivan memberikan kartu miliknya untuk digunakan sebagai alat pembayaran. Dia pun kembali menatap sahabatnya.


"Ya menurut gue sih, selama janur kuning belum melengkung masih bisa kita tikung." Ujar Kaivan dengan enteng.


"Bahkan janur kuning udah melengkung aja, kalau belum ada kata sah masih bisa kok. Lihat gue, gue nikahin Archie beberapa menit sebelum akad dia sama Aditya." Tambah Kaivan.


Aldavi melirik sahabatnya, lalu mengekori langkah Kaivan yang berjalan keluar minimarket.


Mereka tidak langsung ke mobil. Kaivan berhenti karena Aldavi berhenti sembari menatap mobil Pajero milik Aldavi.


"Kisah gue kan beda sama kisah kalian. Lo memang cinta sama Archie, wajah aja kalau lo nikung." Ujar Aldavi.


"Lo yakin nggak cinta, atau seenggaknya ada rasa dikit gitu sama Karin?" Tanya Kaivan dengan santai.


Aldavi membalas tatapan Kaivan, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.


"Mas." Archie memanggil, mendistraksi Kaivan dan Aldavi.


"Istri gue manggil, ayo pergi." Ajak Kaivan lalu melangkah duluan ke arah mobil.


Aldavi lekas menyusul, dan dia kembali duduk di depan. Archie seperti paham sehingga dia duduk di kursi penumpang bersama Dinda dan Karin.


Mereka pergi berlima, dan ketiga perempuan duduk di belakang. Kaivan harus mau istrinya duduk di belakang meski biasanya dia duduk di sebelahnya.


Perjalanan terasa canggung antara Karin dan Aldavi, sementara Adinda sesekali mengajak kakaknya untuk bicara.


Adinda sendiri awalnya belum terlalu mengenal Karin maupun Aldavi, namun ia berusaha untuk bersikap santai.


"Makasih ya, Mbak. Udah mau ajak kita buat ikut liburan di puncak." Ucap Adinda kepada kakaknya.


"Iya, Dinda. Lagian, aku sama mas Kai kan juga mau liburan sama-sama. Kalau berdua saja nanti, saat bulan madu." Sahut Archie lalu tertawa.


Kaivan terkekeh pelan mendengar ucapan istrinya. Dia senang dan tidak keberatan sama sekali ketika istrinya itu mengusulkan untuk mengajak yang lain agar ikut berlibur di puncak.


"Eh iya, Mbak. Nggak apa-apa kok, cuma lagi chatting." Jawab Karin mengangkat ponselnya.


Aldavi yang mendengar itu hanya bisa mencibir dalam hati.


"Pamer sekali sedang chatting dengan tunangannya." Batin Aldavi panas sendiri.


***


Setelah perjalanan lebih dari 3 jam dengan kemacetan yang tidak terlalu panjang, akhirnya mereka semua sampai di villa pribadi milik mama Fia.


Mereka bekerja sama untuk menurunkan beberapa barang, termasuk bahan masakan dan menatanya di dapur.


"Mbak Archie, aku petik daun pandan dulu ya. Tadi katanya mbak mau makan nasi yang wangi pandan kan." Ucap Karin pada Archie.


"Lhoo, ada memang daunnya?" Tanya Archiena.


"Ada, Mbak. Tadi aku lihat di depan, sebentar aku ambil ya." Jawab Karin lalu lekas pergi.


Ketika Karin keluar, dia berpapasan dengan Aldavi yang membawa tentengan berisi bahan makanan terakhir yang harus diturunkan dari mobil.


Langkah Karin dan Aldavi sama-sama terhenti. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain.


"Jadi kau benar-benar sudah bertunangan?" Tanya Aldavi pada akhirnya.


"Iya, Dok." Jawab Karin singkat.


Aldavi menunduk, melihat jari manis Karin yang sudah tersemat sebuah cincin cantik yang begitu cocok dengan jari lentik Karin.


"Maaf untuk perjanjian tiga bulan, itu–" ucapan Karin terhenti.


"Tidak masalah, lupakan saja. Lagipula saya tidak menyukai kamu, begitupun sebaliknya. Sejak awal perjanjian itu seharusnya tidak ada." Potong Aldavi dengan cepat.


Aldavi melangkah, namun berhenti lagi dan menatap Karin.


"Berbahagia lah, buat mama saya berhenti mengharapkan kamu." Ucap Aldavi lagi kemudian masuk ke dalam villa.


Karin pun langsung melangkah menuju daun pandan yang ia lihat tadi. Ia cukup bingung dengan ucapan dokter muda tadi.


Tanpa keduanya sadari, Kaivan dan Archie melihat interaksi diantara mereka berdua.


"Mereka kenapa ya?" Tanya Archie.


"Mau tahu?" Tanya Kaivan dan Archie mengangguk dengan polos.


"Cium dulu." Pinta Kaivan lalu mulai mendekatkan wajahnya.


Archie tidak menolak, dia bahkan sudah memejamkan matanya. Sayangnya, ada gangguan yang membuat mereka buru-buru menjauh.


"Mbak, aku pinjam charger punya mbak ya." Ucap Adinda dengan sedikit berteriak.


Archie terkekeh, dia mengusap wajah Kaivan dan mencium pipinya untuk menghibur suaminya itu.


"Iya, pakai saja." Sahut Archie tidak kalah berteriak.


KALIAN NUNGGU AKU UP? AKU NUNGGU KALIAN KOMEN LHOO🤗


Bersambung..............................