
Karin sampai di kost nya dan language berbaring. Ia hari ini terpaksa lembur karena atasannya tiba-tiba saja ada meeting mendadak.
Tubuh Karin terasa remuk redam karena kelelahan. Ia benar-benar butuh istirahat yang banyak. Belum lagi nanti dia harus membuat laporan atas magangnya yang hampir habis.
Memang, Karin sekarang bukan anak magang lagi dan sudah menjadi pegawai kontrak. Namun soal magang yang sebelumnya ia lakukan harus di pertanggung jawabkan ke kampusnya.
"Orang kalau mau ngejar karir sama cita-cita ternyata nggak mudah ya. Aku sampai mules-mules rasanya." Gumam Karin menatap langit-langit kamarnya.
Karin memainkan jari tengahnya yang terdapat sebuah cincin. Tiba-tiba saja, entah mengapa dan bagaimana dia teringat pada ucapan Aldavi.
"Cowok itu. Maksudnya apa ya, masa iya mamanya suruh dia nikahin gue." Karin mengerutkan keningnya bingung.
"Kayaknya nggak mungkin deh, ini pasti cuma akal-akalan dokter Davi buat ngerjain gue. Buat gue kepikiran nggak jelas. Emang bener-bener deh tuh dokter, ganteng-ganteng reseh." Geram Karin mengepalkan tangannya.
Karin mengakui Aldavi itu tampan, namun ia tidak akan mengakui jika Aldavi itu cowok baik dan lembut.
Info dari Archie sih Aldavi temannya Kaivan, namun mereka sangat berbeda. Kaivan begitu lembut pada istrinya, sedangkan Aldavi sangat mengesalkan dan membuat orang geram.
"Itu dia gimana ya kalo lagi periksa pasiennya. Jangan-jangan kalo pasiennya rewel dikit langsung di bungkam mulutnya sama dia." Gumam Karin bergidik ngeri.
Karin menghela nafas. Ia bangkit dari posisinya dan berubah duduk.
"Mandi, makan terus ngapain ya. Tidur deh, badan rasanya pegal banget." Gumam Karin lalu lekas bangkit dari duduknya.
Karin mengambil handuk yang ia jemur di luar kost, lalu masuk kembali untuk mandi sebelum makan dan istirahat.
Karin baru memegang gagang pintu, namun tiba-tiba ponselnya berdering diatas meja.
Karin mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon. Gadis itu langsung hendak berucap, namun sudah didahului oleh si penelpon.
"Kamu sudah buat masalah di hidup saya, Karin. Kamu harus tanggung jawab."
Karin terkejut. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat nomor yang menelponnya dan ternyata nomor tidak dikenal.
"Heh, ini siapa sih. Nelpon langsung minta tanggung jawab, emang saya hamili kamu." Balas Karin tak mau kalah ketus.
"Kamu seharusnya tahu suara saya karena saya sudah seringkali kamu buat susah sampai hari ini."
"Anda ini, tidak jelas. Sebutkan saja siapa anda." Pinta Karin dengan geram.
Rasanya Karin sangat kesal. Ia lelah dan ingin istirahat namun malah mendapatkan panggilan penipuan seperti ini.
"Cepetan deh, saya mau mandi. Anda penipu ya, mau memeras saya." Tuduh Karin langsung.
"Saya Aldavi, Karin. Dokter Aldavi. Orang yang hidupnya sudah kamu buat runyam."
"Oh dokter Aldavi, pantesan saya dari tadi merinding dengar suara anda. Ternyata orang yang suka cari masalah yang telepon." Ejek Karin lalu tertawa.
"Udah ya, Dok. Saya mau istirahat, capek kalo meladeni dokter terus. Di kantor sudah capek debat sama anda, masa di rumah juga." Tambah Karin lalu langsung menutupi teleponnya.
Karin langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Ia harus makan sebelum istirahat agar besok bisa kembali produktif.
Karin membuka seluruh pakaiannya dan meletakkannya di keranjang baju kotor. Gadis itu jongkok dan mulai mandi.
Ini bukan rumah orang kaya yang terdapat shower, namun kost Karin cukup lumayan karena kamar mandi di dalam meski tidak ada shower dan hanya ada ember saja.
Karin membasahi rambutnya dan tidak lupa memakaikan shampo. Dia juga menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun mandi beraroma floral itu.
"Ahhh segarnya!!!" Ungkap Karin mendongakkan kepalanya keatas.
Setelah lebih dari 10 menit. Karin akhirnya keluar hanya dengan memakai handuk saja. Handuk menutupi dada sampai pangkal paha, serta handuk di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.
Ketika Karin masih asik dengan kegiatannya. Lagi-lagi ponselnya berdering dan itu dari nomor Aldavi.
"Bodo amat, nggak mau gue angkat." Ketus Karin lalu melangkah mendekati kaca kecil yang tertempel di tembok kostnya.
Karin memakai skincare dan bodycare sebelum tidur. Ia rutin melakukan itu karena Karin suka jika tubuhnya wangi.
"Padahal nggak ada yang jamah juga, tapi gue rajin banget bebersih sebelum tidur." Gumam Karin senyum-senyum sendiri.
"Kalo di Drakor gitu kan lucu, istrinya wangi terus dicium sama suaminya." Tambah Karin menghalu sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Tiba-tiba saja terlintas bayangan Aldavi yang lewat di kepalanya. Karin memukul kepalanya itu karena merasa aneh dan geram dengan pikirannya saat ini.
Karin pun memilih menyudahi perawatannya itu. Ia langsung melangkah mengambil pakaiannya yang ada di lemari pakaian dan mengenakannya.
Karin biasa memakai baju piyama bermotif kartun anak-anak terutama hello Kitty. Ia sangat menyukai itu bahkan punya beberapa baju dengan gambar itu.
Karin naik ke atas ranjang. Ia mengambil ponselnya dan melihat ada 5 panggilan tak terjawab dari nomor asing yang Aldavi pemiliknya.
Karin memilih untuk tidak memperdulikan. Gadis itu mengabaikannya dan memilih untuk membuka sosial media. Karin biasa membuka sosial media di malam hari dan menonton video orang sampai dirinya tidur.
Menurut Karin itu adalah tidur paling nyaman. Tidur tanpa sadar.
Karin sudah mulai memejamkan matanya, namun ia teringat jika dirinya belum makan. Karin buru-buru beranjak dan berlari untuk mencari mie instan.
"Yahh habis, gue makan apa dong. Malas banget kalau harus keluar beli makanan." Gumam Karin lalu membuang nafasnya.
Karin pun memilih untuk memesannya secara online. Ia sedang pilih-pilih, namun tiba-tiba nomor Aldavi kembali menghubunginya.
"Dokter ini!!!" Geram Karin lalu lekas mengangkat panggilan tersebut.
"Dokter maunya apa sih, apa yang harus saya pertanggung jawabkan. Saya capek diteror sama dokter." Karin langsung nyerobot.
"Karin." Suara seorang wanita yang begitu lembut langsung menyapa indera pendengaran Karin.
Wajah Karin berubah. Gadis itu menjauhkan ponselnya untuk memastikan jika yang menelepon adalah nomor Aldavi.
"Karin, ini saya Dewiya. Kamu masih ingat kan?"
"I-iya, Tante. Ingat kok, ibunya dokter Aldavi kan." Jawab Karin dengan gugup.
"Karin, besok bisa kamu ketemu sama saya dan keluarga Aldavi yang lain. Ada yang ingin kami bicarakan."
"Maaf, Tante. Tapi untuk membicarakan apa ya?" Karin memberanikan diri untuk bertanya agar dia tidak planga-plongo disana.
"Tentu tentang masalah yang kamu katakan waktu itu. Aldavi akan bertanggung jawab dengan menikahi kamu."
"Apa?! Eh maksud saya, pak Aldavi nggak perlu tanggung jawab Tante, saya–" ucapan Karin terpotong.
"Jangan takut pada Davi, ada kami semua bersama mu. Sudah ya, sampai bertemu besok cantik."
Karin hendak bicara, namun bibirnya terasa kelu sehingga ia hanya bisa berkata iya saja dan menutup panggilannya.
Karin duduk di pinggir ranjangnya. Ia melongo lalu mulai berpikir mengapa bisa Aldavi dan keluarganya berbicara soal pernikahan.
"Kayaknya ini ada yang salah, tapi apa ya." Gumam Karin mencoba untuk berpikir.
Karin pun flashback ke pertemuannya dengan ibunya Aldavi waktu itu. Ya, dia pasti salah paham dengan kalimat yang Karin ucapkan.
"Arghhhh, mampus gue. Kenapa gue ambigu sih, dia pasti mikir yang enggak-enggak!!" Teriak Karin sembari menjambak rambutnya sendiri.
Karin merebahkan tubuhnya. Ia guling sana, guling sini karena merasa gemas dengan jawabannya yang ambigu waktu itu.
"Siapapun bakal mikir yang sama karena omongan lo Karin! Lho kok bodoh banget sih." Ucap Karin menggerutu dirinya sendiri.
Karin menggelengkan kepalanya. Ia harus meluruskan kesalahpahaman ini dan mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Aldavi.
Saat itu dia hanya salah bicara. Karin yang mungkin kelelahan jadi blank dan tidak mencerna dulu maksud ibunya Davi menemuinya.
"Duh gimana ya, apa gue curhat sama mbak Archie saja. Tapi ini sudah malam, bisa-bisa gue dipecat pak Kaivan." Gumam Karin gusar sendiri.
Karin mengacak-acak rambutnya. Inilah dirinya, suka ceroboh dan terburu-buru. Karin terkadang tidak mendengar dulu apa yang mau dibicarakan dengannya dan langsung mengatakan sesuatu yang aneh.
Belum lagi kalimatnya waktu itu sangat ambigu. Siapapun yang mendengar pasti akan berpikir hal yang sama seperti mama Dewiya.
"Pak Aldavi hamilin gue, mana mungkin!!!" Ucap Karin lalu merengek sendirian di kamar kostnya.
HAYOLOHH KARIN😭
Btw hari ini aku crazy up karena kemarin bolong dan up dikit. Jangan bosan yaa✨
Bersambung...................................