Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Pingsan


Archie masih duduk di ruang tamu seorang diri sambil menikmati potongan buah. Belakangan ini memang Archie suka mengkonsumsi buah-buahan karena itu baik untuk kesehatan.


Archie sudah sejak tadi di ruang tamu, ia ingin pergi ke kamar dan bicara dengan suaminya namun ragu. Kaivan masih marah, dan Archie akan memberikan kesempatan kepada suaminya untuk menenangkan diri.


"Ihh, kok kayak enak ya makan waffle gitu. Aku jadi pengen." Gumam Archie ketika melihat iklan televisi.


Archie lalu menundukkan kepalanya, menatap perutnya.


"Baby mau itu ya? Kita beli yuk, ajak papi." Ujar Archie lagi.


Archie meletakkan piring buah di atas meja. Wanita itu baru saja ingin bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba fokusnya teralihkan  pada suara derap langkah yang menuruni tangga.


Archie lantas menoleh dan melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian santai. Celana panjang hitam, kaos putih dan luaran kemeja.


Kaivan terlihat begitu kece, bahkan lebih muda. Seperti anak-anak kuliahan yang baru berusia 23 tahun.


"Mas." Archie mendekat dengan senyuman manisnya.


Archie hendak memuji ketampanan suaminya, namun Kaivan sudah duluan berbicara.


"Aku mau ketemuan sama Aldavi, pulangnya agak sore." Ucap Kaivan lalu melangkah keluar tanpa bicara panjang lebar lagi.


Mendengar itu, sontak Archie buru-buru mengejar. Ia memegang tangan suaminya, lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.


"Mas, kenapa? Kamu kenapa nggak mau cerita sama aku?" Tanya Archie lembut.


"Aku buru-buru." Bukannya menjawab, Kaivan malah langsung pergi begitu saja meninggalkan istrinya.


Archie menatap kepergian suaminya dengan pandangan berkaca-kaca. Ia ingin mengajak Kaivan membeli waffle, makanan yang sedang sangat diinginkannya itu. Sayangnya, Kaivan malah sedang tidak mood.


Archie kembali menundukkan kepalanya, menatap perutnya dan memberikan usapan lembut di sana.


“Pergi sama mami saja ya, nanti kita kirim pesan sama papi kalau kita mau pergi beli jajan.” Celetuk Archie, mengajak anaknya itu untuk berbicara.


Archiena bisa saja memesan online, namun sayangnya ia sedang ingin makan di tempat sambil jalan-jalan. Libur bekerja, membuat Archie sangat bosan.


Archie pun memutuskan untuk bersiap, dan ia akan pergi dengan menggunakan taksi online saja. Archie tidak berani untuk membawa mobil sendiri, ia terbiasa duduk sebagai penumpang di sebelah suaminya.


Archie tidak terlalu lama bersiap, sebab sejak tadi ia memang sudah berdandan cantik untuk suaminya, namun Kaivan malah tidak meliriknya sama sekali.


“Bi Sari, mau temani aku beli jajan nggak?” tanya Archie pada asisten rumah tangganya itu.


Bi Sari yang sedang mengelap meja lantas menatap majikannya itu, ia lalu celingukan mencari sosok majikan laki-lakinya.


“Nyonya nggak mau pergi sama tuan Kaivan?” tanya bi Sari bingung.


Selama ini yang bi Sari tahu majikannya itu selalu keluar bersama, namun hari ini sangat berbeda.


“Mas Kaivan lagi sibuk, Bi. Jadi bibi mau temenin aku atau nggak?” jawab Archie dan diakhiri dengan pertanyaan lagi.


“Mau, Nyonya. Saya boleh ganti baju dulu?” tanya bi Sari dan Archie menjawabnya dengan anggukkan kepala.


Archie pun menunggu sambil mengirim pesan pada suaminya jika dia akan pergi bersama bi Sari untuk mencari waffle dan sekedar bersantai di kafe nanti.


Setelah beberapa menit, akhirnya Archie dan bi Sari pun pergi meninggalkan rumah. Mereka tidak lupa pamit pada suami bi Sari yang menjadi penjaga di rumah Archie dan Kaivan.


Mereka pergi dengan taksi online sesuai rencana Archie tadi. Selama perjalanan, Archie hanya diam saja, ia menatap keluar jendela yang menampilkan pemandangan siang itu.


Archie memilih kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah, agar ia tidak terlalu memakan waktu di perjalanan.


Sampai disana, Archie dan bi Sari pun turun dari mobil dan tidak membayar lagi sebab Archie sudah melakukannya via dompet online.


“Bibi mau pesan apa, pesan saja ya. Jangan ragu.” Tutur Archie pada sang asisten rumah tangga.


“Bibi mau es kopi, Non. Boleh nggak, mau cobain soalnya.” Ucap bi Sari.


“Tentu saja, sama roti nya juga ya. Masa minum kopi doang.” Balas Archie lalu lekas memesankan dan membayarnya juga dengan kartu pemberian suaminya.


Setelah memesan Archie mengajak bi Sari untuk duduk di kursi dekat jendela. Kebetulan siang itu kafe cukup ramai, dan sebagian kursi sudah penuh.


Ketika Archie baru saja duduk, sudah ada seseorang yang menghampirinya. Orang itu mengetuk meja Archie, membuat Archie mendongakkan kepalanya.


“Aku pikir, aku salah orang dan ternyata tidak. Senang bertemu denganmu lagi, Chie.” Ucap Ryan, mantan Archie saat SMA.


Archie tentu saja terkejut, ia bahkan sampai bangkit dari duduknya.


“Ryan …” sahut Archie pelan.


“Yes, it’s me. Kamu nggak sama pak Kaivan?” Tanya Ryan, celingak-celinguk namun tidak menemukan pesaing bisnisnya itu.


Archie menggelengkan kepalanya. “Suami aku sedang sibuk.” Jawab Archie seadanya lalu kembali duduk.


Ryan tersenyum mendengarnya, ia lalu menatap bi Sari. “Kamu nggak mau nawarin aku untuk gabung, Chie?” tanya Ryan.


Ryan terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku hanya bercanda.” Tambah Ryan dengan cepat.


Archie tersenyum tipis dan dipaksakan. “Iya.” Sahut Archie singkat.


“Aku tahu kamu nggak mungkin biarin aku duduk disini, apalagi kalau sampai ketahuan pak Kaivan. Tapi sayang kan kalau cewek secantik kamu nggak ada laki-laki yang jagain.” Ucap Ryan yang tidak kunjung pergi.


Archie mendongakkan kepalanya. “Aku senang kamu mengenal suami aku dengan baik, jadi aku tidak perlu sulit-sulit untuk menjelaskan.” Sahut Archie seadanya.


Bi Sari yang duduk duduk di sana hanya menjadi penonton saja, ia tentu tidak berani jika harus ikut menyahut dan menimpali obrolan majikannya dengan orang asing itu.


“Aku harap kita bisa bertemu lain kali, Chie. Aku selalu nunggu kamu.” Ungkap Ryan dengan jujur.


Archie tidak menyahut lebih jauh, ia hanya menatap Ryan lalu menatap asal ke arah depan. Tidak lama kemudian pesanannya datang.


“Aku pergi dulu, sampai nanti Archiena.” Pamit Ryan lalu melangkah menjauhi meja Archie.


Ketika Ryan pergi, Archie benar-benar merasa mual. Wanita itu sepertinya mual mencium parfum Ryan yang begitu menyengat.


Bukan hanya itu, Archie juga merasakan pusing yang begitu hebat.


“Nyonya, anda tidak apa-apa?” tanya bi Sari panik.


“Kepala aku tiba-tiba pusing banget, Bi.” Jawab Archie pelan sembari masih memegangi kepalanya.


Tubuh Archie pun mulai oleng dan kehilangan keseimbangan. Archie nyaris jatuh jika Ryan yang sudah pergi tidak kembali dan buru-buru menolong wanita itu.


“Archie!!” Ryan memanggil Archie sambil menggoyangkan bahunya.


Ryan lalu menatap bi Sari. “Kita bawa ke rumah sakit, tolong hubungi suaminya.” Ucap Ryan dengan panik.


Usai mengatakan itu, Ryan pun menggendong Archie dan membawanya keluar dari kafe. Ryan akan membawa Archie ke rumah sakit, dan tentu saja bi Sari ikut juga.


KAIVAN, BINI LO DI SENTUH ORANG TUH WKWKWK😭🤣


Bersambung.......................................