Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Menyesakkan


Tubuh Karin gemetaran, dia bersandar di pintu sambil mencengkram ujung bajunya yang basah.


Gadis itu menangis. Tangannya mengusap keningnya dengan kasar, tubuhnya pun perlahan merosot dan duduk di lantai.


Karin merasa telah mengkhianati tunangannya. Karin telah mengkhianati janjinya kepada Yogi untuk selalu menjaga diri dan hatinya.


"Nggak! Aku … aku nggak berkhianat, semua ini terlalu cepat. Aku minta maaf, hiks …" lirih Karin sembari terus mengusap keningnya.


Karin kemudian bangkit dari duduknya. Dia berlari dan meninggalkan bungkus nasi goreng yang sudah basah itu begitu saja.


Di kamar mandi, Karin mencuci wajahnya dengan sabun. Kemudian membilasnya, seakan ingin membersihkan sesuatu.


Gadis itu bukannya lebay, dia hanya tidak mau terbayang akan kata 'pengkhianat'.


Jika saja ini semua terjadi sebelum Karin bertunangan, maka kemungkinan Karin akan merasa bahagia. Namun sekarang semuanya berbeda.


Karin sudah bertunangan, dia akan menjadi milik orang lain.


Setelah mencuci muka, dan berganti pakaian. Karin langsung berbaring diatas tempat tidurnya tanpa makan dulu. Gadis itu sudah tidak berselera makan.


Sebelum memejamkan matanya, Karin sempat mengecek ponselnya, namun tidak ada pesan dari Yogi sejak pagi.


"Mungkin disana susah sinyal, atau mungkin Yogi sedang sibuk." Gumam Karin, kemudian meletakkan kembali ponselnya diatas nakas.


Karin tidak menaruh rasa curiga sama sekali kepada Yogi, dia sepenuhnya percaya pada sang tunangan. Sama halnya dengan Yogi yang begitu percaya pada Karin.


Karin pun memutuskan untuk tidur dan melupakan apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Sementara itu di tempat lain. Tampak seorang pria berdiri di dekat pintu balkon kamarnya.


Dia menatap keluar jendela yang kini sedang hujan deras. Hujan yang membuatnya teringat kejadian di mobil tadi.


"Bodohh! Dia pasti sangat terkejut, dia pasti merasa di lecehkan olehku." Gumam Aldavi kesal sendiri.


Aldavi mengacak-acak rambutnya. Dia merasa frustasi sekali. Tindakannya tadi begitu reflek, bahkan hanya menyisakan penyesalan setelahnya.


"Karin pasti akan marah. Dia pasti akan memaki diriku saat bertemu, bagaimana jika dia melapor pada polisi?" Aldavi kembali bertanya pada dirinya sendiri.


"Davi." Panggilan itu seketika membuyarkan kegelisahan Aldavi.


Davi menatap ke arah pintu, tampak sang mama berdiri disana sambil membawa nampan berisi makanan.


"Kamu ketemu karin? Mama dengar kamu sebut nama Karin tadi." Ucap mama Dewiya lagi.


Mama Dewiya mendekati putranya, kemudian meletakkan nampan itu di meja.


"Bukan Karin yang mama kenal, tapi Karin rekan kerjaku di rumah sakit." Sahut Aldavi berbohong.


Mama Dewiya menekuk alisnya. "Masa sih?" Tanyanya curiga.


"Iya, Ma. Lagian Mama ngapain sih masih nanyain dia." Jawab Aldavi dengan sedikit kesal.


"Lhoo, memangnya salah kalo mama nanyain calon mantu mama." Timpal mama Dewiya sambil tertawa.


Aldavi mengerem. "Ma, aku bilang buang jauh-jauh pikiran mama itu, dia udah mau nikah!" Tegur Aldavi.


"Jangan ngomong soal janur kuning, aku nggak percaya itu. Namanya sudah tunangan, mereka pasti akan segera menikah." Tambah Aldavi semakin sewot.


"Kata siapa, banyak kok yang gagal nikah setelah tunangan. Nggak usah jauh-jauh deh, Kaivan tuh lihat. Dia dapetin istrinya di hari H pernikahannya kan." Ujar mama Dewiya tidak mau kalah.


"Ya tapi kan–" ucapan Aldavi terpotong oleh Mama Dewiya.


Aldavi menghela nafas. Dia pun duduk dan menikmati makanan nya. Ingatannya kembali pada Karin yang membeli nasi goreng tadi.


"Apa dia sudah makan? Makan nasi goreng basah tadi?" Gumam Aldavi.


***


Karin sampai di kantornya lebih pagi hari ini. Bukan karena pekerjaannya banyak, tapi karena dia memang bangun lebih awal.


Dia hampir memasuki area kantor usai berjalan kurang lebih 100 meter dari halte bus. Namun langkahnya terhenti begitu namanya di sebut seseorang.


"Karin." Panggil Aldavi kemudian mendekati gadis itu.


Melihat Davi, sontak Karin terkejut. Gadis itu berusaha untuk biasa saja, dia memutuskan untuk melupakan semuanya.


"Dokter Davi, anda disini?" Tanya Karin dengan ramah.


Tatapan Aldavi seketika berubah bingung. Dia pikir Karin akan marah dan memaki dirinya, tapi ternyata tidak.


"Dok?" Karin kembali memanggil ketika Davi hanya diam menatapnya.


"Ahh iya, saya ingin bertemu Kaivan dan … kamu." Jawab Aldavi sedikit menggantung kata terakhirnya.


"Saya? Ada perlu apa, Dok?" Tanya Karin.


"Soal semalam … saya minta maaf. Itu pasti membuat kamu tidak nyaman, saya menyesal." Ucap Aldavi dengan suara rendah.


"Kamu boleh memaki atau bahkan memukul saya, Karin." Tambah Aldavi.


Karin terhenyak sesaat. Selanjutnya dia tertawa agar terlihat baik-baik saja.


"Apa yang anda katakan. Mana mungkin saya melakukan itu." Kata Karin dengan tawa manisnya.


"Soal semalam lupakan saja, kita berdua sama-sama tahu jika itu hanya reflek. Mungkin saja anda membayangkan saya sebagai gadis yang sedang anda cintai." Karin kembali berujar.


Aldavi termenung. "Tidak, saya …" Aldavi menggantung ucapannya.


"Kamu benar, Rin. Saya membayangkan gadis yang saya cintai, dan gadis itu kamu." Batin Aldavi.


"Sudah tidak apa-apa, Dok. Sejujurnya semalam saya diam itu karena membayangkan tunangan saya." Ujar Karin dengan entengnya.


Sakit. Hati Davi seperti tertusuk sesuatu mendengar ucapan Karin barusan.


"Saya sudah terlambat. Mau masuk bersama?" Tawar Karin setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Aldavi menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu duluan saja." Tolak Aldavi.


"Yaudah, kalo gitu saya duluan. Permisi …" usai mengatakan itu, Karin pun pergi dari hadapan Aldavi.


Setelah Karin pergi, Aldavi langsung memegangi dadanya yang sakit.


"Sepertinya aku harus memeriksakan kesehatanku." Gumam Aldavi.


Sementara Karin di lift. Dia memukul kepalanya sendiri pelan. Gadis itu pandai mengatur ekspresi wajahnya.


"Aku yakin dokter Davi percaya, meskipun sebenernya hatiku juga terguncang karena kecupan ringannya itu." Gumam Karin geleng-geleng kepala.


BARU KECUPAN RINGAN, KALO YANG BERAT GIMANA??


Bersambung....................................