
Aldavi membuka ruang perawatan Karin dengan hati-hati lalu melihat gadis itu sedang tidur. Karin sudah sadar sejak semalam, namun hanya suster yang memeriksanya dan bukan Aldavi.
Kini Karin hanya sedang tidur dan belum bangun. Aldavi harus memeriksa sekarang untuk tahu keadaan gadis itu.
Aldavi mendekat, ia memasang stetoskopnya lalu menempelkannya di dada Karin guna memeriksa gadis itu.
"Dia sudah lebih baik, syukurlah." Ucap Aldavi dengan helaan nafas pelan.
Aldavi mendekati infusan Karin guna memeriksanya. Ini memang tugas suster, tapi Kaivan hanya ingin memeriksa saja.
Ketika Aldavi sedang memeriksa infusan, tanpa ia sadari jika Karin membuka matanya. Gadis itu sudah bangun.
Samar-samar Karin melihat seorang pria berdiri di dekat tiang infusannya, lalu pelan-pelan pandangannya mulai jelas dan ia bisa tahu siapa yang ada di sana.
Karin memegangi kepalanya dan berusaha untuk bangun, namun entah mengapa tangannya lekas sekali.
Tubuh Karin hampir rebahan kembali, namun siapa sangka jika Aldavi memegang pinggangnya dan menahan dirinya agar tidak berbaring.
Karin dan Aldavi saling pandang. Posisi mereka membuat wajah keduanya lebih dekat dari kemarin.
Karin bisa merasakan terpaan nafas Aldavi di wajahnya, begitupun sebaliknya. Pandangan mereka benar-benar terkunci satu sama lain.
"Terima kasih, Dok." Ucap Karin dengan suara pelan.
"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya kemarin." Tambah Karin dengan nada bicara yang berbeda dari biasanya Karin bicara pada Aldavi.
Aldavi menatap dalam mata Karin, ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Karin karena sedang mengagumi wajah gadis itu yang cantik.
Wajah Karin yang tanpa makeup itu terlihat sangat manis dan natural. Aldavi menyukai gadis manis seperti itu, demi Tuhan Aldavi sangat menyukainya.
"Dokter." Ucap Karin lalu memberanikan diri untuk memegang bahu Aldavi.
Aldavi tersadar, ia mengalihkan pandangannya lalu membantu Karin untuk duduk bersandar.
"Sebentar." Ucap Aldavi lalu menaikan sedikit brankar otomatis itu.
Karin memperhatikan sikap Aldavi saat ini. Dokter Aldavi begitu berbeda dengan Aldavi yang biasa ia temui diluar rumah sakit.
"Bagaimana kondisi mu?" Tanya Aldavi dengan suara yang lebih lembut.
"Saya sudah baik-baik aja, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan saya kemarin." Jawab Karin dengan suara yang masih lemah.
Aldavi menghela nafas. Ia menarik kursi lalu dirinya duduk tepat di samping brankar Karin.
"Yang seharusnya berterima kasih itu saya, Karin. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawa ibu saya." Ucap Aldavi lalu tanpa sadar memegang tangan gadis itu.
Karin cukup tersentak, namun ia tidak menolak dan membiarkan tangan pria itu memegang tangannya.
"Sama-sama, Dok. Saya hanya tidak bisa melihat seseorang dalam bahaya, dan saya benar-benar melakukannya hanya karena itu." Sahut Karin denhan sungguh-sungguh.
"Saya tidak punya maksud apapun." Tambah Karin menjelaskan.
Karin takut jika Aldavi akan berpikir jika dia punya niat lain makanya bersedia menyelamatkan nyawa mama Dewiya.
"Saya tahu, Karin. Saya minta maaf sudah salah paham sama kamu selama ini. Mama saya memang benar, kamu adalah gadis yang baik." Kata Aldavi dengan jujur.
Karin terkejut. Ia menatap Aldavi dengan tatapan tidak menyangka. Ia tidak menyangka jika pria itu akan berkata demikian padanya.
Karin menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Tapi saya belum sempat menjelaskan kesalahpahaman diantara kita, Pak. Saya belum sempat bicara dengan Tante Dewiya." Ucap Karin menundukkan kepalanya.
"Saya tahu, dan tidak apa-apa." Sahut Aldavi lembut.
"Kamu tidak perlu mengatakan apapun lagi pada mama saya, karena sekarang saya sendiri lah yang bersedia menikah dengan kamu." Ungkap Aldavi dengan sungguh-sungguh.
Karin terbatuk mendengar ucapan Aldavi. Ia menatap pria itu dengan sangat syok. Bibir Karin terasa kelu untuk sekedar bertanya.
Aldavi bangkit dari duduknya. "Saya tahu kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba bersedia menikahi kamu." Ucap Aldavi lalu melangkah mendekati jendela kamar rawat Karin.
Karin menatap Aldavi yang berdiri membelakanginya.
"Kenapa, Dok? Baru kemarin anda ingin saya berkata hal yang merujuk pada penolakan bukan?" Tanya Karin dengan suara lemahnya.
Aldavi membalik badannya. Ia menatap Karin dengan tangan yang terlihat di dada. Pria itu mengambil jeda sebentar, kemudian membuang nafasnya.
"Bohong jika saya menjawab jika saya menikahi kamu karena cinta, karena sejujurnya saya tidak mencintai kamu, Karin." Jawab Aldavi dengan tenang.
"Saya akan berkata jujur, bahwa siap saya menikahi kamu karena kamu adalah gadis pilihan mama saya sekaligus orang yang sudah menyelamatkan nyawa mama saya." Tambah Aldavi dengan sedikit pelan.
"Maksud dokter karena membalas budi?" Tanya Karin dan Aldavi menjawabnya dengan anggukan kepala.
Karin hendak bicara, namun Aldavi sudah bicara duluan dan mencegah kalimat yang ingin keluar dari mulutnya.
"Saya tahu kamu tidak akan mau jika alasannya itu, makanya saya mau memberikan kamu waktu selama 3 bulan untuk kita saling mengenal dan jatuh cinta." Ucap Aldavi sembari melangkah mendekati Karin.
"Bagaimana jika dalam 3 bulan itu kita tidak saling jatuh cinta?" Tanya Karin menatap Aldavi dengan mata menyipit.
"Maka dia boleh menentukan keputusan selanjutnya. Mau lanjut menikah, atau berhenti." Jawab Aldavi.
Karin terdiam untuk sesaat, namun selanjutnya siapa sangka jika gadis itu langsung menjabat tangan Aldavi.
"Saya bersedia. Saya mau waktu 3 bulan itu." Ucap Karin dengan lantang.
"Kamu yakin?" Tanya Aldavi dan Karin mengangguk mantap.
Aldavi tersenyum senang mendengarnya. Kesepakatan yang dibuat olah mama Dewiya telah disetujui oleh Aldavi dan Karin.
Aldavi setuju karena Karin telah menyelamatkan nyawa ibunya, dan karena gadis itu adalah pilihan mama Dewiya.
Namun beda dengan Karin yang setuju karena ia ingin mengenal Aldavi lebih jauh. Setalah diselamatkan oleh nya kemarin entah mengapa Karin jadi penasaran untuk mengenal Aldavi lebih jauh.
Menurut Karin, Aldavi punya sifat yang baik namun tertutup oleh sikapnya yang cuek dan suka berkata apa adanya.
Selain itu, menurut Karin Aldavi juga penyayang. Terbukti dari kepedulian terhadap sang mama.
Cowok yang sayang pada ibunya, maka pasti juga sayang pada pasangannya. Ini adalah persepsi Karin seorang.
Aldavi tersenyum. "Istirahatlah, aku akan pergi dan kembali untuk memeriksamu lagi." Tutur Aldavi.
"Saya baru bangun langsung disuruh istirahat, Dok?" Tanya Karin sambil menahan tawanya.
Aldavi menggigit bibirnya. Ia menepuk jidat lalu membalik badan. Saking fokusnya pada perjanjian, ia sampai lupa jika Karin baru bangun.
"Astaga, maaf. Baiklah, kamu tunggu disini ya, suster akan datang membawa makanan." Tutur Aldavi dengan suara malu karena tidak fokus.
"Tidak apa-apa, Dok. Kapan saya bisa pulang?" Tanya Karin lagi.
"Hari ini kamu sudah bisa pulang, Karin. Saya akan memberikan obat dan vitamin agar tenagamu dan stamina mu kembali." Jawab Aldavi.
Karin tersenyum senang. Ia pun menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan Aldavi barusan.
***
Archie harus ke kantor untuk menggantikan Karin sehari. Wanita itu melakukannya tentu sudah seizin suaminya.
Kaivan awalnya ingin melarang, namun mengingat pekerjaan yang sedang sangat banyak akhirnya Kaivan setuju saja.
Kaivan sebenarnya bisa saja menyuruh pegawainya yang lain untuk membantu pekerjaannya, namun karena istrinya memaksa maka Kaivan tidak bisa menolaknya.
Dan yang membuat Kaivan tidak bisa menolak adalah karena Archiena membawa-bawa baby melon. Archie bilang diam ngidam mau ke kantor dan bekerja.
Aneh? Memang, sangat aneh dan hanya istri Kaivan lah yang punya ngidam aneh-aneh seperti ini.
Kaivan tidak marah, ia malah gemas sekali.
Kini Archie berdiri di depan cermin lalu memakai lition dan parfum agar ia tetap wangi dan bersih.
Ketika masih bersiap-siap, Kaivan datang dan langsung memeluknya dari belakang. Bukan hanya itu, Kaivan juga menciumi bahu sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Wanginya istri aku." Bisik Kaivan lalu beralih menciumi leher sang istri.
Archie sampai harus memiringkan kepalanya mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Kita harus berangkat ke kantor, Mas. Jangan sampai lembur karena aku nggak mau." Celetuk Archiena.
Kaivan mencubit pipi istrinya. "Baiklah, Nyonya besar." Sahut Kaivan lalu melepaskan pelukannya.
Kaivan mengambil tas kerjanya dan tas selempang istrinya. Lalu mereka pun keluar dari kamar untuk pergi sarapan sebelum ke kantor.
Sampai di lantai bawah. Mereka melihat mama Fia sarapan sendiri. Lantas mereka lekas menyusul dan menikmati sarapan bersama.
Kali ini bi Sari yang memasak dan bukan Archie. Kemarin kebetulan saja Archiena masak, tapi tidak lagi. Apalagi Archie harus bekerja menggantikan sekretaris suaminya sementara waktu.
"Jangan capek-capek ya, Sayang. Ingat, kamu hanya menggantikan, jadi kerjakan yang benar-benar urgent saja." Tutur Mama Fia memberi pesan dengan lembut.
"Iya, Ma. Siap, aku nggak akan capek-capek kok kerjanya." Sahut Archie mengangguk yakin.
Setelah sarapan, Archiena dan Kaivan pun berangkat ke kantor. Tidak lupa mereka tadi pamit kepada mama Fia.
Di tengah perjalanan menuju kantor, Archie minta berhenti karena mau beli kue pukis. Kue berbahan dasar terigu dengan topping cokelat dan keju.
Kaivan tentu saja mengabulkannya, apalagi yang menikmati kue nya bukan hanya Archie tapi Kaivan juga.
"Enak, tapi enakan makan kamu." Celetuk Kaivan membuat Archie melototkan matanya.
ENAKAN MAKAN KUE LAH OM, MAKAN MBAK ARCHIE CUMA BISA DILAKUIN OM KAI DOANG 😕
Bersambung.........................................