
Seperti yang Kaivan ucapakan tadi jika dia akan pulang untuk makan siang bersama dengan istri dan ibunya.
Kaivan baru saja sampai di rumah sambil menenteng rujak buah yang ia beli di pinggir jalan tadi untuk istrinya.
Kaivan tersenyum lebar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja ingin memanggil istrinya, Kaivan malah dibuat terkejut melihat Archie menangis dalam pelukan ibunya.
Kaivan menjatuhkan rujak yang ia beli beserta jas miliknya. Pria itu lalu berlari dan mendekati Archie.
"Sayang, ada apa?" Tanya Kaivan sembari menarik Archie sehingga kini wanita itu berada di pelukannya.
Baru beberapa detik dipeluk Kaivan, Archie langsung menjatuhkan diri. Bukan hanya itu, Archie bahkan memukul pelan lengan suaminya dengan kepalan tangan.
"Jahat!" Ucap Archie sambil menangis.
Archie menyeka air matanya lalu menatap mama Fia. Wanita itu meraih tangan ibu mertuanya lalu menundukkan kepalanya.
"Maafin aku ya, Ma. Aku nggak tahu jika masalahnya akan serumit ini." Ucap Archie lirih.
Mama Fia mengangkat wajah menantunya, lalu menyeka air matanya dan terakhir mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, Archie. Ini bukan salah kamu, mama sudah bilang jika ini adalah keputusan mama dan papa." Sahut mama Fia.
Kaivan menatap sang mama. "Ada apa sebenarnya, Ma?" Tanya Kaivan.
Archie menegakkan tubuhnya, kemudian menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu jahat, Mas. Kenapa tidak bilang jika papa dan mama mengalami masalah." Ucap Archie dengan kesal.
Kaivan yang tadi mengerutkan keningnya bingung kini berubah menjadi biasa saja. Kaivan menghela nafas, kemudian meraih tangan istrinya.
"Sayang, aku bukan nggak mau cerita sama kamu, tapi mama melarang ku." Kata Kaivan.
"Mama nggak mau kamu kepikiran, Sayang." Tambah Kaivan menjelaskan.
"Tapi jika begini aku jadi sangat merasa bersalah, aku–" ucapan Archie terhenti ketika Kaivan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Ini bukan salah kamu, Sayang. Yang pantas di salahkan adalah Aditya dan mbak Risa." Potong Kaivan.
Mama Fia mengusap bahu menantunya, lalu naik ke kepala. Ia akan berusaha untuk membuat menantunya itu mengerti.
"Mama nggak suka kalau kamu menyalahkan diri kamu, Archie. Jadi mama mohon agar kamu tidak terus menyalahkan diri ya." Tutur mama Fia dengan lembut dan tenang.
Archie menatap ibu mertuanya, lalu kembali memeluknya. Kepala wanita itu mengangguk mendengar permintaan ibu mertuanya.
"Iya, Ma. Sekali lagi maaf ya," balas Archie pelan.
Mama Fia tersenyum mendengar jika Archie mau menuruti permintaannya. Jika begini maka semua akan baik-baik saja.
"Mama adalah orang yang berprinsip dan kami berdua memang punya perbedaan yang cukup terlihat, jadi masalah seperti ini sebelumnya sudah kami kira akan terjadi." Ucap mama Fia.
"Mama tidak terlalu terpengaruh, ini adalah kesepakatan bersama. Mama dan papa berpisah secara baik-baik dengan pilihan masing-masing." Tambah mama Fia.
Kaivan menatap sang mama, ia juga bisa merasakan sakit yang tidak bisa terucap dari mulut mama Fia tapi bisa terungkap dari tatapannya.
Kaivan memegang sebelah tangan sang mama, lalu menciumnya. Kaivan berjanji akan menjaga keluarganya dengan baik, dan ia tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyakitinya.
Mungkin kemarin Kaivan diam saja saat papa Jefry memutuskan untuk membebaskan anak cucunya dan menceraikan sang mama.
Tapi selanjutnya, jika Risa dan Aditya kembali berulah. Jangan papa Jefry, Archie sekalipun yang meminta dirinya menahan diri, ia tidak akan mengabulkannya.
Kaivan akan membunuh dua orang itu langsung jika mereka memang terbukti menyakiti keluarganya.
"Kaivan pulang untuk makan siang kan, ayo kita makan sama-sama." Ajak mama Fia sembari melepaskan pelukannya.
Archie menyeka air matanya lalu merapikan rambutnya agar tergerai ke belakang.
"Sudah matang semua, Bi?" Tanya Archie pada asisten rumah tangganya yang sejak tadi diam memperhatikan.
"Sudah, Nyonya." Jawab bi Sari menganggukkan kepalanya.
Mama Fia bangkit dari duduknya, lalu melangkah duluan menuju dapur. Kini tinggal Archie dan Kaivan disana.
Kaivan memeluk istrinya lalu mengecup bibirnya singkat.
"Ingat pesan mama ya, jangan menyalahkan diri lagi. Dan ingat juga pesanku untuk jangan pedulikan hal-hal tidak penting, seperti urusan adik kamu itu." Ucap Kaivan mengingatkan.
Archie tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mulai sekarang Archie janji akan selalu mendengarkan perintah dan perkataan suami serta mertuanya.
Archie tidak mau terus terperdaya dan membuat keluarganya benar-benar hancur dibuat Aditya dan ibunya.
Untuk urusan Adinda, Archie tentu saja menyayangi adiknya itu, namun ia tahu jika Dinda sudah terpengaruh oleh keluarga Aditya dan bisa membuatnya dalam bahaya kapan pun.
Archie akan memasukkan Adinda ke dalam daftar orang tidak penting selama wanita itu masih berhubungan baik dengan Aditya dan keluarganya.
"Mbak akan mendoakan kamu dari jauh, Dinda. Semoga kamu tidak menyesali pilihanmu." Batin Archie lalu membuang nafasnya pelan.
"Sayang." Panggil Kaivan.
Archie menoleh, lalu tersenyum menatap suaminya yang mengangkat kantong kresek berisi rujak.
Archie lekas mendekat. "Nanti dicuci, lagian nggak berceceran di lantai kok. Cuma jatuh kan." Kata Archie lalu mengambil rujak yang suaminya beli.
Kaivan manggut-manggut, ia pun mengajak istrinya itu untuk ke dapur dimana mama Fia pasti sudah menunggu mereka.
Kaivan harus kembali ke kantor lagi sebab ia masih memiliki pekerjaan, namun sebelum itu ia akan mengeluh dulu soal Karin yang malah membuatnya lelah di kantor tadi.
MAAF YA, UP KEMALAMAN 😭🤣
Bersambung...........................