Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Pengakuan yang salah


Karin menatap Aldavi dan keluarganya dengan tatapan bingung dan terkejut. Sudah hampir 5 menit ruangan itu penuh dengan tatapan planga-plongo dari Karin dan keluarga pak RW.


Kedatangan Aldavi berhasil menyita perhatian, juga kesadaran orang-orang yang ada di ruang tamu terutama Karin.


"Kalian mau apa kesini? Dan apa maksud ucapan dia ini?" Tanya ibunya Karin sembari menunjuk Aldavi.


"Bu, kami minta maaf jika kedatangan kami ini tiba-tiba. Tapi apa yang putra saya ucapkan itu memang benar." Kata mama Dewiya dengan lembut.


"Karin dan Aldavi sudah punya rencana untuk menikah." Tambah mama Dewiya.


"Apa?! Bagaimana bisa mereka berencana tapi saya tidak tahu!" Ujar mama Karin lantang.


"Saya tidak setuju, saya mau menikahkan anak saya dengan anak pak RW." Tolaknya langsung.


"Ma! Aku nggak mau." Ujar Karin dengan tegas.


"Diam kamu, Karin. Mama nggak suka kamu melawan, kamu hanya akan menikah dengan anak pak RW." Balas mama Karin lantang.


"Bu, anda tidak bisa memaksa Karin. Dia berhak atas hidupnya, termasuk pernikahannya." Kata Aldavi dengan tenang.


"Halah, tahu apa kamu. Saya nggak kenal sama kamu, jadi nggak usah ikut campur. Saya nggak mau anak saya nikah sama kamu." Timpal mama nya Karin dengan ketus.


"Bu, tenang ya. Kita bicara baik-baik. Kami datang dengan niat baik untuk Karin dan keluarga anda." Ujar mama Dewiya dengan penuh kelembutan.


"Nggak! Lebih baik kalian pergi, saya mau menjodohkan anak sama dengan anak pan RW." Tolak mama Karin sembari menunjuk ke arah pintu.


"Ma, aku sama dokter Davi itu sudah tidur bersama. Mama mau anak mama nanti hamil nggak punya ayah?!" Ujar Karin dengan lantang.


Nyerocos begitu saja tanpa bisa di rem. Karin dan semua orang terkejut mendengar pengakuannya sendiri.


"APA!!!" Kejut ibunya Karin dengan mata yang melotot sempurna.


"Karin?" Aldavi yang memanggil dengan tatapan terkejut dan bingungnya.


"Davi, kamu benar-benar curi start?" Tanya mama Dewiya.


Mama Karin menatap Karin lalu beralih menatap Aldavi. Dia tanpa ragu langsung menampar wajah Aldavi dengan keras.


"MAMA!!!" Teriak Karin buru-buru berdiri di depan Aldavi untuk melindungi pria itu dari kemarahan sang mama.


"Minggir kamu, Karin. Pria ini sudah merusak kamu, dia harus bertanggung jawab dan mendapatkan pelajaran." Kata mama Karin dengan emosi.


"Ma, jangan." Tegur Karin menggelengkan kepalanya.


"Bu, anak anda sudah membuat kampung kita malu. Mereka harus dinikahkan, selain itu dia juga sudah menginjak-injak harga diri saya sebagai ketua RW." Ujar pak RW dengan kesal.


Kini giliran Karin yang ditampar oleh ibunya. Wajah Karin sampai menoleh dan menyisakan bekas merah di pipinya yang mulus.


"Karin." Mama Dewiya mendekat lalu mengusap-usap pipi Karin yang tadi di tampar.


Mama Dewiya menatap ibunya Karin. "Bu, jangan kasar sama anak." Tegur mama Dewiya.


"Ibu nggak usah ikut campur, anak kayak dia yang biasanya cuma mempermalukan keluarga memang hanya pantas di tampar." Balas mama Karin dengan kesal dan sedih.


Karin tampak menangis, sedangkan Aldavi masih diam dengan wajah bingung. Ia masih syok dengan pengakuan Karin tadi.


"Kamu benar-benar membuat mama malu, Karin. Mama sudah gagal mendidik kamu, hiks …" mama Karin menangis sambil menunjuk-nunjuk wajah Karin.


"Bu, besok kami akan panggil warga untuk menikahkan mereka. Jika mereka menolak, maka silahkan kalian pergi dari kampung ini." Ujar pak RW.


"Ayo kita pergi." Tambahnya lalu mengajak istri dan anaknya pergi.


Setelah kepergian pak RW, Karin memegang tangan ibunya dan berlutut di hadapannya.


"Ma, dengarkan aku dulu. Aku tidak–" ucapan Karin terhenti ketika pipinya kembali di tampar.


"Cukup, Bu. Jangan memukul nya lagi, saya akan bertanggung jawab." Ujar Aldavi sembari menarik Karin untuk berdiri.


"Memang kamu harus bertanggung jawab, saya benar-benar malu." Balas mama Karin lalu pergi meninggalkan ruang tamu itu.


Setelah mama Karin pergi, giliran Karin menatap Aldavi dan Ibunya dengan perasaan bersalah. Karin menyesali ucapan demi menyelamatkan dirinya sendiri tadi.


"Dokter Davi, Tante Dewiya. Aku minta maaf, aku tadi tidak sadar mengatakannya. Tapi aku janji akan menceritakan semuanya sama mama, aku nggak mau merepotkan kalian." Ucap Karin sambil menangis.


"Aku tidak mau menikah dengan pria tadi, karena itulah aku mengatakan hal ini. Tapi sekarang aku menyesal, tolong maafkan aku." Tambah Karin.


Mama Dewiya memeluk Karin, lalu mengusap punggungnya.


"Tidak apa-apa, Nak." Tutur mama Dewiya lembut.


"Tidak perlu minta maaf, Karin. Saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahi kamu." Kata Aldavi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dokter?" Karin menatap Aldavi dengan tatapan melongo.


KOK BISA YAA, KARIN. REJEKI NOMPLOK NAMANYA😭😭


Bersambung............................