
Dinda keluar dari gedung pencakar langit usai seharian bekerja sebagai pegawai magang. Seperti setiap harinya, dia akan dijemput oleh calon tunangannya.
Wajah Adinda tercipta senyuman manis, ia kemudian mendekat dan menyalami tangan Zayn seperti biasanya.
"Gimana hari ini? Capek?" Tanya Zayn sembari merapikan rambut calon tunangannya.
Adinda memasang senyuman, kemudian memijat ringan tengkuknya.
"Sedikit. Hari ini banyak kerjaan, soalnya mbak sebelah aku nggak masuk." Jawab Adinda memberitahu.
Zayn melempar senyuman manis. Dia menggenggam tangan Adinda dan mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Ayo makan, setelah itu saya antar kamu pulang 'ya?" Usul Zayn yang dibalas anggukan oleh Adinda.
Adinda pun masuk ke dalam mobil Zayn, dan disusul oleh pria itu. Mereka langsung pergi meninggalkan area kantor menuju rumah makan yang mereka inginkan.
Selama perjalanan Zayn tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Dia begitu mencintai Adinda, tanpa peduli pada masa lalunya.
"Calista gimana, Mas?" Tanya Adinda tiba-tiba.
"Gimana apa? Dia sehat, cantik juga kayak kamu." Jawab Zayn sambil tertawa pelan.
Adinda ikut tertawa. Jarang sekali Zayn akan menunjukkan tawa, biasanya hanya senyuman khas yang selalu disukai oleh Adinda.
"Minggu ini ikut saya ya, kita cek tempat tunangan?" Kata Zayn dengan lembut.
"Iya, Mas. Boleh aja, sekalian antar aku ke mall ya." Sahut Adinda.
Kening Zayn mengkerut bingung. "Mall? Kamu mau beli sesuatu?" Tanya Zayn.
"Nggak, Mas. Aku ada janji ajak Calista ke mall, main-main aja." Jawab Adinda menjelaskan.
Zayn mengusap rambut panjang Adinda. "Saya suka lihat kamu sama Calista makin dekat." Kata Zayn dengan jujur.
Adinda tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum lalu menatap lurus ke depan.
Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di restoran yang sudah beberapa kali mereka datangi.
Keduanya berjalan dengan Zayn yang setia menggenggam tangan Adinda. Mereka begitu serasi.
"Kamu mau pesan apa, Din?" Tanya Zayn begitu mereka duduk.
"Aku mau makan sate taichan, sama jus jeruk aja Mas." Jawab Adinda tanpa melihat menu.
Zayn menganggukkan kepalanya. Dia pun menyebutkan menu makanan yang ingin mereka makan kepada pelayan restoran disana.
"Mas, aku ke toilet dulu ya." Ucap Adinda lalu bangkit dari duduknya.
"Iya, mau aku antar?" Tawar Zayn, terdengar seperti sebuah candaan.
"Nggak perlu, Mas. Aku ke toilet, bukan ke pelaminan sampai harus diantar." Balas Adinda yang juga bercanda.
Baru beberapa langkah Adinda menjauhi meja, dia tiba-tiba saja bertabrakan dengan seorang pria yang sedang menelpon.
"Ya ampun, maaf-maaf …" ucap Adinda kemudian melihat siapa yang ia tabrak.
"Dinda." Kata orang itu menyebut nama Adinda.
Adinda terhenyak, kemudian dia tersenyum. "Kak Adit, apa kabar?" Tanya Adinda dengan ramah.
"Aku baik. Kamu sendiri? Aku dengar kamu akan menikah." Jawab Aditya kemudian berujar sesuatu yang diketahuinya.
"Itu benar. Kurang dari satu bulan aku akan bertunangan, dan dua bulan setelahnya akan menikah. Aku harap kau bisa datang." Jelas Adinda.
Aditya manggut-manggut. Tercipta senyuman yang canggung di wajahnya.
"Aku senang kau sudah bisa melanjutkan hidupmu. Jika kamu bersedia, tolong doakan aku juga." Ujar Aditya dengan ragu.
"Tentu, aku pasti doain. Semoga kau bisa melanjutkan hidup lagi." Sahut Adinda.
Usai bicara begitu, Adinda pun pergi meninggalkan Aditya. Dia melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Aditya menatap kepergian Adinda. Wanita itu dianggap banyak berubah, dan itu perubahan baik.
"Berbahagialah, Din. Sudah cukup kamu menderita karenaku." Gumam Aditya.
Tanpa Aditya sadari jika Zayn melihat itu semua. Pria itu melihat Adinda bicara dengan mantan suami calon tunangannya itu.
"Maaf, tapi aku cemburu Din." Gumam Zayn, lalu kembali duduk di tempatnya.
***
Archie memegangi kepalanya. Dia baru saja menidurkan Arkan setelah berusaha keras.
Setelah mendapat imunisasi, Arkan menjadi lebih rewel. Bocah itu terus saja menangis dan membuat Archie cukup lelah.
Archie membuka lemari pakaian dan mengambil daster. Dia akan mandi sebelum suaminya pulang bekerja.
Ketika Archie masuk, Kaivan pulang. Dia melihat Arkan sedang tidur dan langsung mendekatinya.
"Anak kesayangan papi, ya ampun ganteng banget sih Nak!!!" Ucap Kaivan dengan gemas.
Kaivan mencium wajah putranya. Dia melakukannya dengan pelan, namun siapa sangka membuat bocah mungil itu terbangun dan menangis.
Tangisan Arkan membuat Archie keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Ar– lhoo, Mas!!!" Pekik Archie melototkan matanya.
"Sayang, aku cuma cium sedikit. Aku nggak usilin Arkan, aku nggak bohong." Ucap Kaivan menjelaskan.
Archie menatap Kaivan tajam. "Aku susah payah tidurin Arkan, tapi kamu malah bangunin dia." Ucap Archie sedikit ketus.
"Sayang, maaf …" ucap Kaivan dengan penuh rasa bersalah.
"Aku capek, hiks … Arkan rewel, kamu juga malah ganggu." Archie tiba-tiba saja menangis, membuat Kaivan panik.
"Sayang …" Kaivan mendekat, kemudian memeluk tubuh istrinya.
"Lepasin! Kamu cuma nambahin kerjaan aku, sekarang lihat kan. Arkan nangis terus!!" Ucap Archie kemudian keluar dari kamar membawa anaknya.
Kaivan mengusap kasar wajahnya. Istrinya seperti terkena baby blues, mood-nya naik turun dan membuat Kaivan cukup kelimpungan.
"Beginilah jadi Daddy pemula." Gumam Kaivan kemudian keluar dari kamar untuk menyusul anak dan istrinya.
PAPI KAIVAN SIHH, MAMI MARAH TUHH :'(
Bersambung...............................