
Kaivan tersenyum sambil menatap foto istrinya yang sengaja ia letakkan di meja kerjanya sebagai bahan semangatnya.
Baru sehari Archie tidak bekerja, namun rasanya Kaivan sudah sangat merindukan istrinya itu. Ia yang biasanya melihat Archie kesana-kemari di kantornya, kini tidak lagi.
Kaivan menghela nafas. "Baru sehari sayang, ya ampun aku sudah sangat merindukanmu." Ucap Kaivan dengan gemas.
Kaivan meletakkan foto istrinya yang sedang tersenyum manis dengan bando dan dress bunga-bunga tanpa lengan.
Archie itu sangat cantik, dan Kaivan benar-benar sangat memuja istrinya itu.
"Ck, sayang. Aku mau pulang!!" Kaivan berdecak lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Hal itu membuat Kaivan seketika mengangkat wajahnya dan merapikan penampilannya.
Kaivan berdehem. "Masuk." Ucap Kaivan mempersilahkan.
Karin masuk dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Gadis itu benar-benar menjadi sekretaris Kaivan sebagai pengganti Archie untuk sementara waktu.
Karin melangkah mendekati Kaivan, lalu memberikan senyuman sopan. Gadis itu lalu menundukkan kepalanya sebagai sapaan penuh rasa hormat.
"Siang, Pak. Ini dokumen yang perlu anda tanda tangani. Saya sudah memberi tanda agar anda mudah menemukan bagian mana saja yang harus di tanda tangani." Ucap Karin lalu menyodorkan map berwarna merah.
Kaivan berdehem singkat, ia pun lekas mengambil dokumen itu dan lekas membaca isinya.
Setelah dirasa semua baik, Kaivan langsung menandantangani nya dan memberikannya kembali pada Karin.
"Dan ini proposal, Pak. Anda perlu mempelajarinya dulu sebelum menandatangani agar tidak ada kesalahan." Ucap Karin lagi berganti memberikan map berwarna biru.
Kaivan hanya memberikan anggukkan singkat. Pria itu benar-benar dingin dan tidak berekspresi.
Karin menghela nafas. Sikap atasannya sekarang itu sangat jauh berbeda ketika istrinya yang jadi sekretaris.
Sekarang Kaivan irit bicara dan tidak mau menatap lawan bicaranya lama-lama. Sedangkan bersama Archie dulu, Kaivan malah enggan memutus pandangannya.
"Istri saya mempercayakan kamu untuk menjadi penggantinya, jadi tolong jangan mengecewakannya." Ucap Kaivan tanpa menatap Karin.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha untuk mengerjakan semuanya dengan benar, dan saya tidak akan merusak kepercayaan mbak Archie." Sahut Karin lalu mengangguk dengan yakin.
Kaivan menyimpan pulpen nya kembali di tempatnya setelah ia gunakan, lalu ia menatap Karin sebentar.
"Apa jadwal saya?" Tanya Kaivan dengan wajah datar-datar saja.
"Hari ini jadwal anda kosong, Pak. Pertemuan tadi pagi adalah pertama dan terakhir di hari ini." Jawab Karin memberitahu.
"Tapi besok jadwal anda sangat padat, bahkan kemungkinan anda akan lembur." Tambah Karin.
"Baiklah, kamu boleh pergi." Ujar Kaivan mengusir secara halus.
Karin memberikan tundukan kepala yang sopan sebagai bentuk rasa hormatnya, setelah itu ia pun pamit pergi dari sana.
Ketika Karin memegang gagang pintu dan siap menariknya, pintu itu sudah terdorong duluan dan membuat kepala Karin terbentur pintu.
Suara yang nyaring dan keras itu membuat perhatian Kaivan teralihkan, begitupula dengan perhatian si pembuka pintu.
"Ada apa itu?" Tanya Kaivan sampai bangkit dari duduknya.
Karin mendesis, lalu mengusap keningnya. Ia menatap Kaivan, lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada apa-apa, Pak." Jawab Karin dengan senyuman garingnya.
"Lain kali itu pakai matanya." Bukannya meminta maaf, pria pembuka pintu itu malah bicara dengan ketus dan dingin.
Karin menoleh ke belakang. Wajahnya yang tadi garing karena tidak enak pada Kaivan berubah menjadi ekspresi wajah kesal.
"Anda menyuruh saya untuk memakai mata, sedangkan anda saja tidak pakai etika." Sahut Karin tidak kalah ketus.
Aldavi mengepalkan tangannya, ia hendak menyahuti ucapan Karin namun tidak jadi karena gadis itu kembali bicara mendahului Aldavi.
"Anda dokter, seharusnya bisa mengobati orang. Bukan malah membuat terluka, gimana sih." Ucap Karin lagi dengan sewot.
"Kamu—" ucapan Aldavi yang hendak menyahuti Karin terhenti ketika Kaivan berdehem.
Kaivan tampak melipat tangannya di dada dan menatap keduanya dengan tatapan tajam serta penuh ketidaksukaan.
"Drama rumah tangga tidak seharusnya diributkan di dalam ruang kerja saya." Tegur Kaivan dengan tegas.
Aldavi dan Karin melototkan matanya, keduanya menatap Kaivan dengan terkejut lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Siapa, Pak? Saya? Berumah tangga dengan pria ini? Heuh, tidak mungkin Pak!" Ujar Karin sembari mengibas rambutnya ke belakang.
Aldavi mencibir. "Siapa juga yang mau sama kamu, saya nggak dulu deh. Nggak suka saya sama perempuan banyak omong." Sahut Aldavi tidak mau kalah.
Karin menganga, ia ingin menyahuti ucapan Aldavi namun ia urungkan ketika melihat ekspresi wajah atasannya yang semakin tidak enak saja.
Karin menghela nafas. "Permisi, Pak." Pamit Karin lalu lekas pergi dari ruangan Kaivan.
Aldavi melirik Karin ketika melewati dirinya, bukan tanpa alasan tapi karena Karin dengan sengaja menyenggol bahunya dengan sedikit kasar.
"Kalau lo datang cuma mau cari ribut sama Karin, mending keluar dari ruangan gue." Usir Kaivan seraya kembali duduk di kursi kerjanya.
Aldavi menggeleng cepat. Ia datang ke kantor Kaivan tentu saja bukan tanpa alasan, tapi ia ingin bercerita dengan pria itu.
Aldavi lekas berlari dan duduk di kursi yang berada tepat di depan Kaivan.
"Kai gue mau cerita, semalam gue ketemu kan sama sekretaris lo itu dan keponakan gue cerita sama mama gue soal dia." Ucap Aldavi dengan panik.
"Oh, terus?" Tanya Kaivan dengan santai.
Aldavi melongo. Ia dengan penuh semangat ingin cerita, namun tanggapan Kaivan sangat santai.
"Lo sesantai ini, Kai? Gue lagi cerita lho ini." Ucap Aldavi dengan tatapan tidak menyangka.
"Reaksi lo jangan santai-santai banget kek." Tambah Davi memprotes.
Kaivan mengangkat bahunya acuh, ia tidak terlalu tertarik dengan cerita sahabatnya tapi kasihan juga jika tidak di dengarkan.
"Yaudah iya, cepetan. Gue mau balik, nyusuin istri gue di rumah orang tuanya." Ucap Kaivan dengan sedikit malas.
"Eh iya, Archie ke rumah orang tuanya? Kalian barantem?" Tanya Aldavi dengan penasaran.
"Enak aja lo! Gue sama Archie nggak berantem ya, dia cuma lagi main." Jawab Kaivan sewot.
"Sekali lagi lo nanya, gue fotokopi bibir lo." Tambah Kaivan penuh ancaman.
Aldavi bergidik. "Oh gitu, yaudah gue ikut deh jemput istri lo." Ucap Davi.
"Nggak, ikut-ikut. Lo pikir gue bapak lo yang mau diintilin." Tolak Kaivan menggelengkan kepalanya cepat.
"Cepetan, lo jadi cerita atau nggak?" Tanya Kaivan.
Aldavi pun lekas bercerita kepada Kaivan tentang niat orang tuanya untuk mencaritahu sosok Karin.
Memang, ibunya Aldavi begitu ingin Davi menikah sampai-sampai siap untuk mencaritahu sosok Karin yang di sebutkan oleh Zahid dalam ceritanya kemarin.
Aldavi sudah berusaha untuk menolak, namun tetap saja sang mama kekeh untuk mencaritahu tentang Karin.
YOK BISA YOK DAVI SAMA KAIVAN EH MAKSUDNYA SAMA KARIN😭😭
Bersambung.......................................