Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Terikat selamanya


Apa yang dinanti akhirnya datang. Hari ini adalah hari pernikahan Karin dan Aldavi. Dua orang yang secara terpaksa menikah karena tanggung jawab, khususnya Aldavi.


Aldavi bertanggung jawab seumur hidup kepada Karin untuk dia bahagiakan dan sayangi selamanya sesuai dengan wasiat yang Yogi katakan sebelum kecelakaan terjadi.


Pernikahan diadakan di rumah mempelai wanita, tidak jarang para tamu berbisik karena Karin malah menikah dengan pria lain ketika Yogi belum lama pergi.


Karin merasa sedih, dia sakit hati dan gelisah namun bingung harus melakukan apa. Ini semua juga atas permintaan mendiang Yogi.


Tamu yang hadir bukan hanya orang di lingkungan rumah Karin saja, tetapi dari pihak Aldavi pun banyak yang datang termasuk Kaivan dan keluarganya, Aditya dan juga Adinda bersama calon suami dan calon anaknya.


Beberapa menit yang lalu Aldavi baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dan membuat Karin terikat dengannya sebagai pasangan suami istri.


Pernikahan digelar tidak terlalu mewah, namun tetap memberikan kesan bagi para tamu yang datang.


“Karin …” Panggil Aldavi dengan lembut.


Kari menoleh. “Iya, kenapa Dok?” sahut Karin dengan senyuman tipisnya.


“Mau makan sesuatu? saya bisa ambilkan untukmu.” Tawar Aldavi dengan sedikit gugup.


Padahal saat ini masih ramai dan banyak tamu, namun Aldavi sudah merasa sangat canggung dengan gadis yang kini telah menjadi istrinya.


“Tidak, Dok. Saya hanya haus, dari tadi nggak sempet minum.” Jawab Karin pelan.


Aldavi mengangguk kecil, ia bangkit dari duduknya dan berniat untuk mengambilkan istrinya minum, namun langkahnya terhenti begitu orang tua Yogi naik ke atas pelaminan.


“Ibu …” Karin bangkit dari duduknya, lalu memeluk wanita yang hampir menjadi ibu mertuanya.


Ibunya Yogi membalas pelukan Karin, dia bahkan mengusap juga mencium kening Karin dengan penuh kasih sayang.


“Berbahagialah, Nak. Kamu harus bahagia, karena ini semua keinginan Yogi kan.” Tutur ibunya Yogi dengan hangat.


Karin menyeka air matanya, dan itu di saksikan oleh Aldavi.


Seketika banyak pertanyaan yang muncul di kepala pria yang merangkap menjadi seorang dokter itu.


Apa karin sedih? apa cinta Karin sebesar itu pada Yogi? apa Karin merasa terbebani karena pernikahan ini? apa karin menyesal telah menikah dengannya??


Itu nyata. Aldavi benar-benar memikirkannya, bahkan raut wajah resahnya dapat terbaca oleh ayah mendiang Yogi yang langsung menepuk bahunya pelan.


“Bahagiakanlah Karin, dia sangat mencintaimu. Cintanya pada anak saya mungkin ada, tapi tidak sebesar cinta untukmu.” Kata ayah Yogi dengan sangat pelan.


Aldavi membalas tatapan ayahnya Yogi, dia tidak bicara apapun dan hanya menganggukkan kepala sebagai balasan atas ucapan pria berbaju batik itu.


“Jika kamu tidak bisa membahagiakan Karin, maka pulangkan dia kepada saya secara baik-baik.” Ujar ibunya Yogi.


Kasih sayang ibunya Yogi begitu besar kepada Karin, karena merupakan cinta putranya. Saking sayangnya, dia bahkan harus rela Karin menikah dengan pria lain dan melupakan putranya yang tidak di takdirkan bersama dengan Karin.


Aldavi mengangguk dengan mantap, bahkan tangannya merangkul pinggang kecil Karin dengan gerakan yang begitu reflek.


“Ibu jangan khawatir, sebisa mungkin saya akan membahagiakan Karin, saya janji kepada mendiang Yogi, dan kepada diri saya sendiri.” Sahut Aldavi dengan mantap.


Karin melongo, dia mengerjapkan matanya berkali-kali begitu mendengar ucapan Aldavi ditambah lagi dengan gerakannya yang begitu luwes ketika memegang pinggangnya.


“Astaga, kenapa aku harus deg-deg’an begini.” Batin Karin seraya mencuri-curi pandangan dengan Aldavi.


Aldavi baru ingin melepaskan tangannya dari pinggang Karin, namun Kaivan dan Archie naik ke atas pelaminan bersama dengan si kecil Arkan.


“Karin!!!” Archie langsung memeluk Karin, ia bimbang antara mencurahkan rasa bahagia atau sedih kepada Karin.


“Makasih banyak udah mau dateng ya, Mbak. Aku senang lihat mbak datang, apalagi bawa si kecil Arkan.” Kata Karin dengan sungguh-sungguh.


“Sama-sama, aku pasti dateng. Ini kan pernikahan kamu dan Davi.” Balas Archie.


“Selamat ya, Dav. Gue doain yang terbaik, yang utama pokoknya bahagia selalu sama istri lo.” Ucap Kaivan sembari memeluk Aldavi sebentar.


“Tapi gue udah–” Aldavi rasanya selalu saja hampir keceplosan mengutarakan kesalahannya di depan Karin.


“Udah apa sih? udah nggak tahan? mau malem pertama nih ceritanya?” Potong Kaivan dengan cepat begitu paham kemana arah pembicaraan temannya.


Aldavi melototkan matanya, sedangkan Karin memilih untuk menatap kearah lain. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah begitu mendengar ucapan Kaivan.


“Mas jangan gitu, lihat nih Karin jadi malu …” Kata Archie, namun ucapannya terdengar ikut menggoda pengantin baru itu.


Aldavi melempar tatapan tajam, namun selanjutnya ia tersenyum melihat anak Archie dan Kaivan.


“Ganteng amat anak lo, padahal bapaknya modelan begini.” Cetus Aldavi sembari menahan tawa.


“Kurang ajar lo!!” Timpal Kaivan dengan kesal.


***


Acara pernikahan telah selesai pada pukul 3 sore. Para tamu undangan sudah pergi, kini tinggal pengantin baru yang siap untuk bersih-bersih dan istirahat di kamar pribadi milik Karin.


“Kalian istirahat saja dulu, ibu mau bagiin makanan yang masih sisa banyak ke tetangga.” Ucap ibunya Karin dengan wajah datar.


“Mau saya bantu, Bu?” Aldavi menawarkan diri dengan tulus.


Ibunya Karin tidak menjawab, dia langsung pergi setelah melirik Aldavi dengan tajam. Tentu saja rasa marah wanita itu ada terhadap Aldavi.


“Anda mandi duluan saja, Dok. Saya mau buatin anda teh dulu …” Tutur Karin tanpa menatap suaminya.


“Nggak usah, kamu aja mandi duluan. Saya tahu kamu capek pakai baju pengantin gini.” Sahut Aldavi menggelengkan kepalanya.


Karin tersenyum. “Baiklah, saya akan buat teh nya setelah mandi.” Kata Karin lalu pergi ke kamar mandi yang ada di luar kamarnya.


Aldavi menatap kepergian Karin, pria itu lalu menghela nafas dengan pelan.


“Ya Tuhan, hamba tahu pernikahan ini terjadi sebagai tanggung jawab hamba, tapi hamba mohon restui pernikahan ini dengan cinta dan kebahagiaan.” Gumam Aldavi dengan sungguh-sungguh.


Sementara itu di kamar mandi. Karin duduk di lantai sambil melamun. Meski kamar mandinya tidak mewah, namun masih ada tempat untuk melamun.


“Nggak nyangka aku udah nikah, sama dokter Davi lagi. Orang yang nggak pernah aku sangka akan jadi bagian dari masa depanku.” Gumam Karin sambil terus menyiram air ke lantai.


Karin menghela nafas. “Mas Yogi … kamu bahagia kan? ini kan yang kamu mau??” Lirih Karin.


KANGEN NGGAK SIH??


Bersambung ................................