Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Dia sudah tunangan


Adinda duduk sendirian di kamarnya sambil membaca pesan yang terus masuk. Dia menghela nafas, kemudian mulai mengetik balasan kepada pria yang seminggu belakangan ini terus menghubunginya.


Zayn. Mungkin kalian lupa pada pria bernama Zayn ini. Sosok pria yang merupakan rekan kerja papa Dito yang entah darimana mendapatkan nomor Dinda.


“Aku nggak tahu dia bakal kayak gimana kalau tahu masa lalu dan kekuranganku.” Gumam Adinda dengan lirih.


Masa iddahnya belum selesai, selain itu kekurangannya yang tidak bisa punya anak lagi membuat Adinda memilih untuk tidak dekat-dekat dengan pria manapun. Tapi entah bagaimana tiba-tiba pria dewasa bernama Zayn itu menghubunginya.


“Jika kamu punya waktu, boleh saya mengajak kamu untuk keluar?” begitulah kalimat yang Adinda baca dengan si pengirim adalah Zayn.


Adinda tidak ingin percaya diri, namun segala bentuk perhatian dan kepedulian Zayn untuk sekedar bertanya makan dan aktivitas Adinda menunjukkan bahwa pria itu memiliki ketertarikan padanya.


Adinda tidak mau merugikan pihak manapun jika sampai berhubungan dengannya, apalagi jika Zayn adalah pria yang baik maka Adinda akan lebih memilih untuk mundur.


“Boleh saja, Pak.” Balas Adinda lalu lekas menekan tombol kirim.


Adinda melempar ponselnya ke ranjang, lalu dirinya melangkah mendekati meja rias. Adinda berdiri sambil menatap dirinya sendiri di cermin.


“Andai saja aku nggak keguguran, pasti perutku sudah besar.” Ucap Adinda dengan lirih.


Adinda menundukkan kepalanya, memegang perutnya sendiri kemudian mengusapnya.


“Sekarang, mungkin aku nggak akan dikasih kesempatan untuk hamil lagi.” Tambahnya dengan suara bergetar.


Adinda menoleh ketika getaran disusul dering ponselnya berbunyi. Dia mendekat dan melihat pesan yang kembali masuk dari pengirim yang sama.


“Terima kasih, Dinda. Saya harap. kita bisa lebih saling mengenal.” - Zayn Bagaskara.


Adinda memilih untuk tidak membalas pesan dari pria itu dan meletakkan kembali ponselnya.


Hari semakin sore, Adinda beranjak dari tempatnya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih diri.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah supermarket. Tampak Karin yang sedang jalan-jalan seorang diri untuk sekedar membeli kebutuhan di kostnya. Dia yang sibuk memasukkan barang sesuai list itu terkejut ketika ada yang menabraknya.


“Aduhh … Tante, aku minta maaf ya.” suara anak kecil yang terdengar merasa bersalah.


Adinda membalik badan, mendorong troli yang menabraknya itu pelan. Gadis itu berlutut di hadapan bocah yang menundukkan kepalanya.


“Tidak apa-apa, Sayang. Tapi dimana ibu kamu, kenapa kamu dorong troli sendiri?” tanya Karin dengan lembut.


Bocah itu mendongak. “Kakak cantik pacarnya paman Davi!!!” pekik bocah itu usai melihat wajah Karin.


Karin terdiam, ia cukup kaget melihat bocah laki-laki yang sebelumnya pernah ia temui di minimarket. Dia Zahid, keponakan Aldavi.


“Zahid, ya ampun kamu tuh ya. Mama cari-cari malah disini.” Seorang wanita datang dan langsung menegur Zahid.


Wanita itu lalu menatap Karin. “Maaf ya, Mbak. Anak saya merepotkan ya, apa anda terluka?” tanya wanita itu.


Karin mendongakkan kepalanya lalu bangkit. “Tidak, Nyonya. Saya baik-baik saja.” Jawab Karin dengan senyuman ramah.


“Sayang, kalian lama sekali.” Adrian yang merupakan ayah Zahid datang.


“Papa!! ini kakak cantik, pacarnya paman Davi.” Ucap Zahid dengan suara yang begitu melengking.


Mendengar ucapan Zahid sontak membuat Karin dan kedua orang tua bocah itu terkejut. Baik Alice dan Adrian langsung menatap Karin dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Astaga, jadi kamu pacarnya Davi?” tanya Alice lalu memeluk Karin dengan erat.


Karin kebingungan. Dia menatap Zahid, kemudian pasrah saja pada akhirnya. Gadis itu bahkan tetap diam ketika Alice melepaskan pelukannya.


"Kenapa nggak main? Davi nggak ajak kamu ya, yaudah sama kita aja yuk." Ajak wanita berbaju olive itu.


"Kakak, ayo ikut kami. Paman Davi pasti senang melihat kakak!!" Zahid ikut mengajak Karin.


Karin tersadar, dia lalu menunduk dan menatap Zahid yang menarik-narik bajunya.


"Maaf ya, Zahid. Kakak nggak bisa ikut." Ucap Karin dengan lembut.


"Kenapa??" Raut wajah kecewa seketika tercetak di wajahnya yang tampan dan imut.


Karin tidak menjawab, ia lebih memilih untuk memberitahu ibunya Zahid yang tentu lebih mengerti.


"Maaf, Kak. Tapi aku sama dokter Davi nggak punya dan nggak pernah punya hubungan apa-apa. Aku sudah bertunangan." Ucap Karin memberitahu.


Karin tidak mau jika berpapasan dengan keluarga Aldavi yang lain, lalu dipikir dirinya masih ada hubungan dengan Aldavi.


Tapi tunggu, hubungan apa? Karin dan Aldavi tidak pernah memulai hubungan.


"Tunangan?" Beo Alice lalu memandang suaminya.


***


Alice, Adrian dan juga Zahid sampai di rumah keluarga Aldavi. Mereka memang kembali menginap karena Zahid yang suka sekali bermain dengan pamannya.


Saat mereka kembali, kebetulan semuanya sedang kumpul di ruang tamu. Ada Aldavi, mama Dewiya dan papa Firman.


"Wahh, keponakan Paman beli apa?" Tanya Aldavi sembari mengusap kepala Zahid.


"Paman!!" Zahid memanggil Aldavi dengan riang.


"Apa, Tampan?" Sahut Aldavi lembut.


"Aku tadi bertemu kakak baik, pacar paman." Jawab Zahid dengan polosnya.


Aldavi mengerutkan keningnya, ia kemudian menatap sepupunya yang mengangkat kedua bahunya.


"Iya, Karin kan namanya? Kami bertemu dengannya tadi." Ucap Alice memberitahukan.


"Karin, lalu dimana dia? Kenapa kalian nggak ajak dia kesini?" Tanya mama Dewiya.


"Dia nggak mau, Tante. Katanya …" Alice menggantung ucapannya.


"Katanya apa, Lice?" Tanya papa Firman.


"Dia nggak punya hubungan apa-apa sama Davi, bahkan sudah bertunangan dengan seseorang." Jawab Adrian menjelaskan.


Mendengar itu, sontak Aldavi menatap Adrian. Dia terdiam sesaat.


"Jadi gadis itu benar-benar bertunangan." Gumam Aldavi sangat pelan.


Mama Dewiya menghela nafas, kemudian menatap putranya yang terdiam.


"Mama nggak akan paksa kamu lagi, Davi. Percuma, dia sudah tunangan dan akan segera menikah." Ucap mama Dewiya.


Semuanya diam. Tidak ada yang bicara atau sekedar menyahuti ucapan mama Dewiya terutama Aldavi.


NAH KAN KAN, UDAH TUNANGAN NOH SI KARIN. SUKURIN B SI DAVI🤣🤣


Bersambung..............................