
Kaivan membuka pintu kamar perlahan sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Ia awalnya ingin memanggil istrinya, namun ketika masuk ke melihat istrinya itu sedang duduk sambil melamun di dekat jendela kamar.
Kaivan berdiri di tempatnya, memperhatikan istrinya yang sedang menangis. Terlihat jelas air mata yang menetes ke pipi Archie meski dari kejauhan.
Kaivan menghela nafas, ia meletakkan nampan berisi makanan yang ia bawa di meja lalu melangkah mendekati Archie.
"Sayang." Panggil Kaivan sembari memegang bahu istrinya.
Archie tersasar, wanita itu membuang muka lalu menyeka air matanya dengan cepat.
"Iya, Mas?" Sahut Archie sembari menatap Kaivan dengan penuh senyuman.
Kaivan tersenyum, pandai sekali istrinya itu langsung menyeka air matanya ketika dirinya datang. Archie seakan enggan jika dia tahu.
"Ngapain hmm?" Tanya Kaivan dengan lembut.
Kaivan mengambil posisi duduk di sebelah istrinya, lalu menggenggam tangannya dengan erat.
"Lihat-lihat saja, Mas. Sekalian cari angin, duduk di sini ternyata enak." Jawab Archie.
"Aku sudah bawa makanan, kamu makan dulu ya." Tutur Kaivan, lalu memandang ke arah meja dimana nampan berisi makanan ada di sana.
Archie mengikuti arah pandang suaminya, ia kemudian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Mas. Aku cuci muka dulu sebentar ya, sama sekalian tangan soalnya habis pegang jendela." Kata Archie lalu bangkit dari duduknya.
Ketika Archie hendak melangkah, Kaivan memegang tangan wanita itu sehingga mencegah Archie untuk pergi.
Kaivan ikut bangkit dari duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan Archie yang tampak kebingungan.
Tanpa bicara apapun, Archie langsung menarik tangan istrinya masuk ke dalam pelukannya.
Kaivan mendekap dengan erat tubuh wanita yang teramat di cintainya itu, lalu menciumi kepalanya.
"Aku tahu kamu sedih, Sayang. Jangan memendamnya sendiri." Bisik Kaivan dengan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan suaminya, Archie lantas memejamkan matanya. Ia membalas pelukan dari suaminya dan kembali mengeluarkan air matanya.
"Harusnya aku nggak bilang gitu, Mas." Ucap Archie dengan lirih.
Kaivan melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata istrinya yang kembali jatuh dan membasahi pipinya yang halus.
"Jangan merasa bersalah, Sayang. Apa yang kamu lakukan adalah bentuk reaksi dari segala sikap Dinda." Ujar Kaivan memberi penjelasan.
"Andai saja Dinda tidak bersikap seperti tadi, mungkin kamu juga nggak akan mengatakan itu semua. Kamu nggak salah." Tambah Kaivan.
Archie mendengarkan ucapan suaminya dengan seksama, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Mungkin Dinda biasa-biasa saja, tapi aku nggak bisa mas. Bagaimanapun Dinda adalah adikku, aku selalu ingin yang terbaik meski kadang aku mengatakan bahwa aku marah padanya." Ucap Archie lagi sembari melangkah mendekati jendela kamar lagi.
Kaivan mendekat, ia memeluk tubuh istrinya itu dengan erat lalu mengusap perutnya.
"Aku tahu, kamu memang wanita yang baik." Sahut Kaivan mengangguk paham.
"Tapi sayang, jangan terlalu memikirkan ini ya. Kasihan anak kita." Tambah Kaivan meminta.
Archie mengusap wajah suaminya lalu menganggukkan kepalanya. Archie akan menuruti kemauan suaminya.
Archie lalu membalik badan. "Aku cuci tangan, tapi kamu tetap suapin aku ya?" Pinta Archie.
Kaivan terkekeh, kemudian menganggukkan kepalanya. Pria itu tentu saja tidak akan menolak jika istrinya minta disuapi.
Tidak sampai 5 menit, Archie keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di sebelah suaminya.
"Makanan sehat untuk ibu hamil yang paling cantik." Ucap Kaivan sembari menyodorkan satu sendok makan nasi dan lauk pauk.
Archie tersenyum, ia pun lekas membuka mulutnya dan melahap suapan dari sang suami.
"Selalu enak kalau disuapin sama mas Kaivan." Ujar Archie sambil terus mengunyah.
Mendengar itu tentu saja memotivasi Kaivan untuk semakin bersemangat dalam menyuapi istrinya.
Sementara itu di tempat lain, di rumah keluarga pasangan Risa dan Anto. Tampak papa Jefry yang baru kembali dari kantor.
Pria yang sudah tua itu terpaksa harus kembali ke kantor karena cucunya enggan untuk datang dan masih ingin berleha-leha di rumah.
Ketika papa Jefry pulang, ia cukup bingung melihat semua orang berkumpul dengan ketegangan yang tinggi.
"Ada apa?" Tanya papa Jefry, menatap keempat keluarganya.
"Archie dan Kaivan tadi datang, bahkan orang tua Archie juga." Jawab mama Risa singkat.
"Itu bagus, lalu kenapa kalian semua tegang?" Tanya papa Jefry masih bingung.
"Papa tanya kenapa? Papa itu nggak tahu apa-apa jadi diam saja, tadi disini ada keributan besar." Jawab Risa dengan sewot.
"Risa! Jaga nada bicara kamu." Tegur papa Jefry pelan, namun terkesan tegas.
"Seharusnya tadi papa disini dan membantu kita." Ucap Anto menyindir.
"Apa? Aku bahkan pergi bukan untuk bersenang-senang. Andai saja anakmu ini mau ke kantor maka aku pasti tidak perlu pergi tadi." Sahut papa Jefry.
"Aditya memang berbeda dengan Kaivan." Tambah papa Jefry frontal.
"Opa!!" Tegur Aditya sampai bangkit dari duduknya.
Papa Jefry tidak memberikan reaksi apapun, ia hanya diam saja dan menatap lurus ke depan.
"Opa seharusnya tidak bicara seperti itu, walaupun …" Aditya menggantung ucapannya.
Papa Jefry menatap cucunya. "Walaupun apa? Walaupun kenyataannya memang benar jika Kaivan jauh lebih baik dari kamu? Iya?" Tanya papa Jefry.
Aditya tidak menjawab, ia mengepalkan tangannya mendengar ucapan sang kakek yang malah memuji Kaivan.
"Jika papa membela Kaivan, kenapa papa tidak tinggal dengan mereka saja." Ujar Risa dengan lantang.
"RISA!!" bentak papa Jefry.
"Kamu sadar ucapan kamu barusan hah? Papa berpisah dari istri papa adalah karena kamu dan anak kamu yang jahat itu." Tambah papa Jefry.
"Sudahlah, Pa. Lebih baik papa istirahat saja daripada membuat kami semua tambah pusing." Ujar Anto dengan nada malas.
Papa Jefry bangkit dari duduknya. "Kalian semua memang keterlaluan." Kata papa Jefry dengan kesal.
Papa Jefry pun memilih untuk pergi daripada mendengar ucapan tidak mengenakan dari anak serta cucunya.
Sementara Adinda yang ada disana hanya diam saja. Wanita itu bahkan tidak peduli pada perdebatan antara suami, mertua dan kakek suaminya.
Wanita itu melamun dengan pandangan yang kosong.
SEKARANG KALO UP MALAM TERUS YA GUYS, AKU SUDAH KEMBALI JADI BUDAK KORPORAT SOALNYA 😭😭
Bersambung......................................