
“Ayo kita lanjutkan lagi.” Ucap Tuan Rangga sambil menyerahkan cangkir kopi nya kepada Juna, karena telah habis isi nya.
Tuan Rangga lalu mengambil kaca pembesar yang tadi dia taruh di atas pangkuan nya. Dan selanjutnya dia mengarahkan kaca pembesar pads lembar manuskrip yang masih di pegang oleh Vadeo.
Tuan Rangga pun memulai lagi membaca dan menerjemahkan lembar manuskrip di depan nya.....
Raja Mahadiraja terus menanyakan kepada kedua Puterinya. Beliau pun juga memberi saran agar kedua Puterinya mau menerima pinangan Sang Raja Kerajaan besar demi masa depan kedua Puterinya itu sebab mengingat persediaan makanan sudah menipis dan tidak ada kerajaan juga negara lain yang mau membantu. Sedangkan para petani dan nelayan sudah mati begitu pun tanaman dan tanah sudah penuh racun.
Akan tetapi kedua Puteri Raja Mahadiraja tetap menolak karena cintanya pada kedua orang tua nya dan pulau Kemakmuran tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Kedua Puteri itu tidak mau meninggalkan pulau Kemakmuran. Apalagi dia juga sudah sangat membenci Sang Raja Kerajaan besar yang telah membuat seluruh rakyat nya menjadi bangkai dan semua tanaman dan hewan menjadi mati. Kedua Puteri itu tetap menolak pinangan Sang Raja dan tidak mau dibawa ke kerajaan besar untuk dijadikan selir selir nya Sang Raja Kerajaan besar.
Saat mendengar penolakan dari kedua Puteri kerajaan Asasta itu, utusan kerajaan besar murka dan menghunuskan senjatanya pada tubuh kedua Puteri kerajaan Asasta itu.
Melihat kedua Puterinya bersimbah darah. Raja Mahadiraja murka lalu beliau pun membunuh para utusan kerajaan besar itu.
“Kedua Puteri itu apa meninggal?” tanya Bang Bule Vincent sambil jari jari nya masih terus mengetik di atas layar hand phone nya.
“Bul, diam dulu napa.” Ucap Vadeo sambil membuka manuskrip selanjutnya. Dan Tuan Rangga pun melanjutkan membaca dan menerjemahkan lembar manuskrip itu.....
Tabib kerajaan Asasta berusaha untuk menyelamatkan kedua Puteri kerajaan itu, akan tetapi karena sudah sulit didapatkan bahan bahan obat akhirnya kedua Puteri itu meninggal dunia.
“Innalillahi wa innaillaihi ro'jiun....” gumam mereka yang ada di ruangan itu.
Tuan Rangga pun lalu melanjutkan lagi membaca dan menerjemahkan lembar manuskrip itu....
Raja Mahadiraja dan Sang permaisuri sangat sedih hati nya. Sang permaisuri tidak bisa tidur dan tidak mau makan. Beberapa hari kemudian Sang permaisuri pun meninggal dunia.
“Innalillahi wa innaillaihi ro'jiun....” gumam mereka yang ada di ruangan itu lagi.
“Sangat menyedihkan.” Gumam Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan.
“Ayo lanjut lagi.” Ucap Tuan Rangga sambil menatap Vadeo agar membuka kembali lembar halaman manuskrip berikut nya.
Tuan Rangga pun kembali membaca dan menerjemahkan lembar manuskrip itu....
Karena lumbung pangan semakin menipis , sang penasihat kerajaan menyarankan kepada Raja Mahadiraja untuk menyamar menjadi rakyat biasa dan meninggalkan pulau Kemakmuran yang sudah tidak ada tanaman dan binatang yang bisa dimakan. Akan tetapi Raja Mahadiraja tidak mau meninggalkan makam kedua puterinya dan permaisuri nya itu.
Raja Mahadiraja tetap tinggal di pulau Kemakmuran itu menjaga makam kedua putri dan permaisuri nya. Sedang kan sang patih, penasihat kerajaan, tabib dan orang orang yang masih hidup di perintahkan oleh Sang Raja Mahadiraja untuk menyamar menjadi rakyat biasa dan mencari hidup keluar dari pulau Kemakmuran.
Dan pulau Kemakmuran yang subur makmur menjadi kering kerontang karena akibat racun yang disebar dari atas udara.
“Kerongkonganku juga kering nih Jun...” ucap Tuan Rangga sambil menatap Juna yang duduk tenang serius ikut mendengarkan. Juna pun lalu bangkit berdiri untuk mengambilkan air mineral.
“Dari subur menjadi kering namun sekarang subur lagi ..” gumam Vadeo sambil menatap Bang Bule Vincent yang tampak masih mengetik dengan ekspresi wajah yang tampak sedih.
“Iya sekarang subur dan sangat indah untung aku menyuruh kamu untuk membeli.” Ucap Bang Bule Vincent
“Masih ada kan lembar lembar kelanjutan nya?” tanya Tuan Rangga kemudian pada Vadeo yang masih memegang manuskrip itu.
“Masih Tuan.” Jawab Vadeo.
Akan tetapi tiba tiba hand phone di dalam saku jas nya Vadeo berdering. Vadeo pun segera mengambil hand phone dari saku jas nya. Saat dilihat di layar hand phone nya ada nama kontak Sang isteri tercinta sedang melakukan panggilan suara. Vadeo segera menggeser tombol hijau.
“Pa, aku sudah sampai Mansion dan di kamar. Ini Valexa dan Deondria rewel mencari Papa.” Suara Alexandria dengan nada khawatir
“Heleh tadi mereka tenang tenang saja meskipun sedih. Yang mencari aku, anak anak apa kamu hemmm?” ucap Vadeo pelan
“Pa, bener Pa badan kedua nya panas.” Ucap Alexandria lagi dengan nada agak meninggi .
“Hah? Aca dan Aya panas badannya?” tanya Vadeo dengan nada kaget dan khawatir juga minta kepastian dari Alexandria. Dan Alexandria pun mengiyakan.
“Tuan kita istirahat dulu saja. Ini juga sudah sore. Coba lihat Nona Nona cantik tadi.” Ucap Tuan Rangga yang mendengar percakapan Vadeo dengan Alexandria lewat hand phone itu. Vadeo pun lalu menganggukkan kepala nya dan mengatakan pada Alexandria jika dirinya akan segera menuju ke mansion utama.
“Haduh Bro lupa aku juga harus menjemput Ixora.” Ucap Bang Bule Vincent yang juga langsung bangkit berdiri.
“Kek nanti malam dilanjut ya...” ucap Bang Bule Vincent sambil terus melangkah.
“Bro jangan kelupaan lagi itu manuskrip dan tas kerja mu.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menoleh menatap Vadeo yang masih menghabiskan kopi di dalam cangkir nya.
Vadeo pun juga segera bangkit berdiri dengan tidak lupa membawa manuskrip dan tas kerja nya.
Tidak lama kemudian Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah berada dindekat mobil nya. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.
“Aca dan Aya apa masih sedih dengan cerita di manuskrip itu ya Bul?” gumam Vadeo sambil menyalakan mesin mobil nya.
“Mungkin. Apa dia sudah tahu isi cerita di dalam manuskrip itu ya?”ucap Bang Bule Vincent balik bertanya sambil menoleh menatap wajah Vadeo yang sudah mulai menjalankan mobil .
“Bro bagaimana kalau Aca dan Aya ... “ ucap Bang Bule Vincent selanjutnya dengan nada serius namun tidak berlanjut
“Apa?” tanya Vadeo dengan nada serius sambil sekilas menatap wajah Bang Bule Vincent lalu kembali fokus ke depan sambil terus menjalankan mobilnya menuju ke mansion utama.
“Ga jadi.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Jangan semakin menambah aku penasaran Bul.” Ucap Vadeo sambil terus menjalankan mobil nya.
“Di mana letak makam mereka ya? Jangan jangan kita membuat bangunan di atas makam mereka Bul?” tanya Vadeo yang kini nada suaranya khawatir.
“Mana aku tahu.” Ucap Bang Bule Vincent jujur karena memang tidak tahu.
....