Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 76. Aura yang Terpancar


“Aca .. Aya jangan bermain di taman bunga, nanti kalian disengat lebah.” Ucap Vadeo dengan suara keras karena saking khawatir nya.


“Dulu ada Dokter yang main main di taman bunga wajahnya bengkak.” Ucap Vadeo lagi saat sudah berada di dekat kedua anak nya.


“Papa... tita baek baek tok. ... (Papa.. Kita baik baik kok).” Ucap Valexa dan Deondria sambil mendongak menatap Sang Papa. Tampak di atas masing masing kepala kedua anak itu pun ada satu ekor kupu kupu yang berwarna indah, bertengger manis menghiasi rambut kepala mereka semakin menambah cantik kedua bocah itu.


“Kamu lihat itu Deo.” Suara Nyonya William


“Dua kupu cantik itu sejak tadi yang ada di kepala Aca dan Aya. Tidak ada lebah dan ulat gatal mengganggu. Mama mau potong bunga untuk hiasan di dalam rumah.” Ucap Nyonya William sambil melihat ke dua cucu nya lalu kembali melihat lihat bunga bunga.


“Kenapa tidak menyuruh pelayan saja Ma?” tanya Vadeo yang khawatir musibah Dokter Loly menimpa pada kedua anak nya dan Mama Mertua nya.


“Mama mau pilih bunga sendiri, dan senang melihat lihat bunga indah ini.” Ucap Nyonya William yang masih sibuk memilih milih bunga di taman.


“Cudah banak Oma.. Ayo cudah... (Sudah banyak Oma .. Ayo sudah).“ ucap Valexa dan tiba tiba kupu berwarna indah yang tadi bertengger di kepala nya terbang.


“Bentar.” Ucap Nyonya William sambil masih memotong bunga sedap malam.


“Ayo tita macuk yumah... (Ayo kita masuk rumah).” Ucap Deondria sambil menggandeng tangan Valexa dan Sang Papa. Kupu indah yang ada di atas kepalanya pun terbang.


“Ayo Ma, jangan sampai wajah Mama bengkak macam Dokter Loly, Mama ga bisa ikut pesta nanti.” Ucap Vadeo sambil melangkah. Nyonya William pun akhirnya juga cepat cepat mengikuti langkah Vadeo dan kedua cucu nya, dia tidak mau wajah bengkak dan kesakitan berhari hari lama nya.


Waktu pun terus berlalu. Malam pesta yang dinanti nanti pun telah tiba. Vadeo dan Alexandria sudah tampil dengan sangat memesona. Vadeo tampak gagah dan tampan dengan tuxedo yang serasi dengan gaun yang dikenakan oleh Alexandria yang tampil cantik elegan dan anggun. Valexa dan Deondria pun tampil cantik dengan gaun mungil kembaran dengan Sang Mama namun dengan model gaun untuk anak anak. Tidak lupa Vadeo menaruh kotak perhiasan pada saku tuxedo nya.


Mereka berjalan keluar rumah menuju ke mobil yang akan mengantar ke hall yang lokasinya berada di dekat guest house. Gedung yang digunakan untuk pertemuan bersama. Richardo sudah menunggu di dalam mobil. Sedangkan orang tua dan mertua sudah lebih dulu menuju ke sana.


Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di depan gedung tempat pesta. Lampu lampu bersinar indah. Vadeo turun dari mobil dan membantu Alexandria turun dari mobil. Richardo sudah berdiri di luar mobil menunggu Nona Nona kecil nya.


“Aca dan Aya digendong apa jalan sendiri?” tanya Vadeo pada kedua anak nya yang masih berada di dalam mobil. Dia heran sebab biasanya kedua nya langsung lari saat pintu mobil sudah dibuka.


“Dayan cendiyi Pa.. ( jalan sendiri Pa).” Jawab mereka berdua.


Vadeo lalu menggandeng tangan mungil Valexa dan Deondria digandeng tangannya oleh Sang Mama. Richardo berjalan di belakang mereka. Mereka terus berjalan memasuki gedung. Tampak di dalam gedung para tamu dan juga para karyawan sudah bersenang menikmati jamuan awal. Tuan dan Nyonya Jonathan juga Tuan dan Nyonya William tampak sibuk menemui para tamu.


Sesaat mereka menoleh dan menatap kagum sosok keluarga kecil yang baru masuk ke dalam gedung itu. Valexa dan Deondria yang tahu jika semua mata tertuju ke pada nya, tampak tangan mungil mereka melambai lambai memberikan salam dan bibir yang tersenyum cantik dan anggun. Aura puteri bangsawan terpancar pada mereka berdua.


Sesaat keluarga kecil itu sudah sampai di depan. Vadeo dengan suara berwibawa nya mengucapkan selamat datang dan ucapan terima kasih pada semua yang ada di dalam gedung.


“Kini tiba pada acara yang kita tunggu tunggu pemasangan cincin di jari Tuan dan Nyonya Vadeo. Semoga cinta mereka abadi selama nya.” Suara sang master of Ceremony. Tamu undangan dan semua yang ada di dalam gedung itu bertepuk tangan. Nyonya Jonathan yang sudah tahu cincin yang akan terpasang pada jari anak dan menantunya itu, jantung nya berdebar debar kencang.


Vadeo dan Alexandria lalu bangkit berdiri dan berjalan ke depan. Valexa dan Deondria pun turut serta.


Di saat Vadeo mengambil kotak perhiasan dari saku tuxedo nya. Tiba tiba...


“Pa..” suara Valexa dan Deondria sambil tangan mungilnya menengadah meminta kotak perhiasan itu.


Vadeo tampak kaget akan tetapi dia pun memberikan kotak perhiasan itu pada Valexa dan Deondria. Nyonya Jonathan yang melihat semakin berdebar debar jantungnya hingga dia pun secara spontan bangkit berdiri, lalu diingatkan oleh Tuan Jonathan agar kembali duduk di kursi.


“Kamu pasti mubeng kalau melihat perhiasan.” Bisik lirih Tuan Jonathan di telinga Sang Istri.


Sementara itu Valexa pelan pelan membuka kotak perhiasan itu, dan Deondria mengambil satu cincin wanita.


“Mama...” ucap Deondria sambil menatap Sang Mama dan Alexandria pun mengarahkan jari tangannya pada Deondria dan Deondria pun memasangkan cincin itu di jari manis Sang Mama. Alexandria sangat kagum dan terpesona dengan indahnya cincin yang sudah terpasang di jari manisnya.


Dan selanjutnya Valexa mengambil cincin pria.


“Papa.” Ucap Valexa sambil menatap sang Papa. Vadeo pun mengarahkan jari nya pada Valexa dan Valexa memasangkan cincin itu di jari manis Sang Papa.


Aura kewibawaan dan kharismatik Vadeo semakin memancar demikian juga Alexandria aura anggun dan cantik luar dalam nya semakin menguat.


Tepuk tangan bergemuruh di dalam gedung. Keluarga kecil itu saling cium penuh kasih cinta dan bahagia.


Dan di saat suara gemuruh tepuk tangan sudah mereda.


“Saya ucapkan banyak terima kasih pada saudara saudara semua atas dukungan dan doa terbaik buat keluarga kami.” Ucap Alexandria sambil menatap ke arah para tamu dan orang orang yang ada di dalam gedung itu.


“Dan secara khusus juga saya ucapkan terima kasih atas hadiah ulang tahun pernikahan kami ini.” Ucap Alexandria lagi dengan pandangan mata tertuju ke arah pimpinan tim misi dan Bang Bule Vincent.


“Haduh bakal ada yang mengejar ngejar aku nih..” gumam Bang Bule Vincent dalam hati sambil mengusap wajah nya dengan kasar. Sedangkan pimpinan tim misi yang tidak tahu apa apa tampak bingung menoleh ke kiri dan ke kanan, mengira pandangan mata Alexandria tertuju pada orang di samping nya.


....