
“Aku harus memberi tahu pada Amelia, ada barang khusus free untuk keluarga Jonathan ha... ha...” ucap Richie lagi sambil masih tertawa bahagia.
Richie pun lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Amelia. Akan tetapi sudah berkali kali mencoba menghubungi tidak terhubung pada Amelia.
“Kenapa tidak aktif hand phone Amelia.” Gumam Richie lalu dia mencoba mengirim pesan chat, dan hasil nya hanya centang satu.
“Hah! Apa masih sibuk kerja orang itu.” Gumam Richie lagi lalu dia mengusap usap lagi layar hand phone nya untuk menghubungi teman lainnya guna memastikan semua rencananya ber jalan lancar.
Sementara itu Vadeo di dalam ruang meeting di gedung Jonathan Co, dia sedang memimpin acara meeting para kepala divisi.
Hand phone yang berada di dalam saku jas nya terasa bergetar getar. Vadeo memang mengaktifkan mode senyap dan hanya mode getar saja pada hand phone nya.
“Kalau sudah tidak ada lagi pertanyaan, rapat kita akhiri. Dan kerjakan sesuai dengan hasil kesepakatan kita hari ini.” Ucap Vadeo sambil mengedarkan pandangan mata ke seluruh peserta meeting. Tampak peserta meeting sudah tidak ada lagi yang bertanya.
“Pak Rio tolong tutup acara meeting hari ini.” Ucap Vadeo sambil mengambil hand phone dari saku jas nya dan bangkit berdiri.
Saat melihat di layar hand phone Bang Bule Vincent yang melakukan panggilan suara, Vadeo menggeser tombol hijau sambil terus melangkah menuju ke pintu ruang meeting itu.
“Apa Bul?” tanya Vadeo sambil melangkah meninggalkan ruang meeting itu.
“Lama banget Bro kamu terima panggilan ku, ada masalah penting nih.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo.
“Ada meeting tadi, ini baru selesai.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah ke ruang kerja nya.
“Bro, meeting sudah selesai kan? kamu cepat ke Mansion William ya. Ini ada kaitannya dengan kontrak kerja yang sudah kamu tanda tangani.” Suara Bang Bule Vincent dengan nada penuh permohonan.
“Ada masalah apa?” tanya Vadeo sambil menekan pass word pintu ruang kerja nya.
“Apa kamu berada di tempat yang aman jika aku sampaikan saat ini?” ucap Bang Bule ganti bertanya.
“Aman, tidak ada siapa siapa.” Ucap Vadeo sambil melangkah masuk ke ruang kerja nya dan menutup pintu ruang kerja nya itu.
Sesaat dia melihat Tuan Jonathan yang duduk di kursi kerja tampak melotot ke arah nya.
“Ada Papa Jo.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil tersenyum menatap Sang Papa.
“Bro, barang itu tidak lagi terlacak dan ada kemungkinan sudah masuk Indonesia.” Ucap Bang Bule dengan suara pelan. Vadeo pun melangkah menuju ke sofa dan segera duduk di sana.
“Hah? Bagaimana detektor nya Kok tidak bisa melacak?” tanya Vadeo pelan meskipun dia sebenarnya kaget.
“Sejak di Singapore Bro. Nah hanya pada dua anak itu harapanku, barang bisa terlacak lagi. Meskipun aku sudah menyuruh tim mengup grade detektor tapi aku yakin tidak mungkin secepat itu, mereka bisa memperbaiki alat alat nya.” Ucap Bang Bule dengan suara pelan.
“Ya sudah tanya saja ke mereka.” Ucap Vadeo dengan suara lirih pula sambil melirik ke arah Tuan Jonathan.
“Masalahnya mereka sedang jadi model.” Ucap Bang Bule dengan nada kesal
“Hah? Model apa?” tanya Vadeo dengan nada dan ekspresi wajah kaget.
“Maka kamu cepat ke sini ke Mansion William.” Ucap Bang Bule dengan tidak sabar.
“Okey okey...” ucap Vadeo lalu dia segera memutus sambungan telponnya dengan Bang Bule Vincent. Vadeo pun segera menaruh hand phone nya lagi ke dalam saku jas nya.
“Ada apa Deo?” tanya Tuan Jonathan sambil menatap Vadeo yang sudah berdiri lagi.
“Pa aku izin pulang lebih dulu ya. Ini juga sudah menjelang sore, ada yang penting masalah ke dua cucu mu.” Ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Tuan Jonathan dan selanjutnya melangkah menuju ke pintu ruang kerja nya.
“Ada apa dengan cucu cucuku?” tanya Tuan Jonathan dengan nada khawatir sambil menoleh ke arah Vadeo.
“Jadi model Pa.” Ucap Vadeo lalu melangkah keluar dari ruang kerja nya, meninggalkan Tuan Jonathan yang masih bengong menatap ke arah pintu.
Vadeo segera melangkah menuju ke lift yang akan membawa dirinya menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.
“Hmmmm Mama Mertua pasti masih terobsesi menjadikan kedua anakku untuk menjadi artis.” Gumam Vadeo sambil melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh. Dia memang tidak ingin wajah cantik kedua anak nya dan aktivitas kedua anak nya itu menjadi konsumsi publik apalagi dimanfaatkan untuk mencari uang. Sebab menurut pemikiran Vadeo, bahaya bagi kedua anak nya akan lebih besar dari pada uang yang di dapatkan.
Vadeo terus melajukan mobil nya. Dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman mansion Willam. Vadeo segera menjalankan mobilnya menuju ke dekat mobil Bang Bule yang terparkir di belakang mobil yang membawa kedua anak nya.
Vadeo segera melangkah turun saat sudah mematikan mesin mobilnya. Saat dia melangkah tampak pintu utama Mansion William sudah terbuka. Dan sosok Bang Bule sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan nya. Bang Bule Vincent memang sejak tadi melacak perjalanan Vadeo.
“Ayo cepat Bro.” Suara Bang Bule Vincent yang sudah tidak sabar.
“Di mana anak anak ku?” tanya Vadeo sambil berjalan menaiki anak tangga.
“Di kamar Mama.” Jawab Bang Bule dengan cepat.
“Kamar Mama dijadikan studio foto.” Ucap Bang Bule lagi. Vadeo pun segera melangkah memasuki Mansion William dan segera berjalan menuju ke kamar Sang Mertua. Bang Bule Vincent berjalan di belakang nya dan tentu saja sudah menutup pintu utama mansion.
“Kamu kenapa tidak mengatakan pada ku kalau Aca dan Aya dijadikan model!” suara Vadeo agak meninggi saat berada di dalam ruang keluarga dan melihat Richardo duduk di sofa di ruang keluarga itu.
“Saya tidak tahu kalau Nona Nona dijadikan model Tuan. Kata mereka hanya bermain main barbie saja.” Ucap Richardo sambil menatap Vadeo yang terus berlalu.
Saat Vadeo sudah sampai di depan pintu kamar Sang Mertua, Vadeo segera mengetuk ngetuk pintu itu dengan keras sambil memanggil manggil kedua anak nya.
TOK TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK TOK
“ACA.... AYA... CEPAT KELUAR!” suara Vadeo dengan keras.
Sementara itu di dalam kamar Valexa dan Deondria yang baru saja berganti kostum kini sedang memakai kostum baju santai dengan atasan blues motif bunga bunga cantik dan bawahan rok jeans imut, menoleh ke arah pintu.
“Papa....” teriak mereka berdua.
“Papa .....” teriak mereka berdua lagi lalu berlari menuju ke pintu. Sementara itu Nyonya William dan Dealova hanya bisa saling pandang dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan dan sedikit kekhawatiran.
“Oma... Enti ... buta tunci pintu na... (Oma... Aunty ... buka kunci pintu nya). ” teriak Valexa sambil menoleh ke arah Dealova sebab dia dan saudara kembarnya tidak bisa membuka pintu.
“Ma...” ucap lirih Dealova sambil menatap Sang Mama, Nyonya William.
“Buka, dari pada pintu kamar ku jebol. Tambah dimarah oleh Papa. Dan suruh pelayan memberesi kamar, sebelum Papa pulang.” Ucap Nyonya William sambil menatap Dealova.
Dealova pun dengan cepat melangkah menuju ke pintu untuk membukakan kunci pintu.
Sesaat pintu sudah terbuka. Dan tampak wajah Vadeo bersemu merah karena menahan marah.
“Awas kalau kamu posting foto foto mereka!” ucap Vadeo sambil menatap wajah Dealova yang masih berdiri di depan pintu.
“Enggak Kak...” jawab Dealova dengan takut takut.
“Dimana cih enti, tata na atu mo dadi model teyus nanti bica te yual nedeli tetemu Mama... ( Gimana sih aunty , kata nya aku mau jadi model terus nanti bisa ke luar negeri ketemu Mama).” Ucap Deondria sambil mendongak menatap Dealova tidak lupa tangan mungilnya menarik celana kulit Dealova dengan keras hingga tertarik ke bawah. Tangan Dealova pun segera mempertahankan celana kulot nya.
“Iya cih atu cudah cape cape bedaya (iya sih.. aku sudah capek capek bergaya).” Ucap Valexa dengan bibir cemberut.
“Hmmm Kalau kalian mau ke luar negeri tidak usah capek capek menjadi model.” Ucap Vadeo sambil berjongkok menatap wajah kedua anaknya yang tampak kecewa.
“Tapi atu mau tetemu Mama.. (tapi aku mau ketemu Mama).” Ucap Valexa dan Deondria dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca. Dan selanjutnya kedua nya memeluk tubuh Sang Papa. Tangan kekar Vadeo pun segera memeluk tubuh mungil kedua nya.
“Atu tangen Mama .. Pa.. (Aku kangen Mama .. Pa...).” Ucap mereka berdua dan sudah terisak isak menangis di dalam pelukan sang Papa.
....