
Mobil yang ditumpangi oleh mereka sudah masuk ke dalam suatu pintu pagar yang terbuat dari kayu dengan hiasan ornamen ornamen benda benda antik akan tetapi tidak menarik untuk dibeli oleh Tuan Njun Liong. Ornamen ornamen semacam tulang tulang dan juga benda benda hitam semacam ijuk. Sedangkan Richie yang melihat tampak begidik.
“Tuan itu benda benda antik apa Tuan juga berniat untuk membelinya?” tanya Richie yang duduk di jok belakang Tuan Njun Liong. Richie berucap dengan suara lirih agar pak sopir tidak mendengarnya. Tampak Tuan Njun Liong mengangkat kedua pundaknya sambil menggeleng gelengkan kepalanya, bibirnya pun tampak mencibir sebagai isyarat tidak tertarik.
“Kamu jangan sembarang Tuan Richie itu adalah benda benda penolak bala.” Ucap Nyonya Siu Lie yang mendengar percakapan mereka berdua. Dan saat mobil masuk ke dalam halaman semakin banyak ornamen ornamen antik dan aneh yang menjurus mengerikan. Banyak tengkorak tengkorak binatang ada di halaman tersebut. Tuan Njun Liong pun tampak ekspresi wajahnya kaku. Tidak menyangka akan diajak oleh Nyonya Siu Lie ke tempat seperti itu.
“Lie kamu tidak salah?” gumam Tuan Njun Liong saat mobil sudah berhenti di depan pintu rumah, dan sama di dekat pintu itu di samping kiri kanan di atas ada ornamen ornamen antik yang istilahnya penolak bala seperti yang dikatakan oleh Nyonya Siu Lie.
Saat mereka semua sudah turun dari mobil, pintu terbuka tampak di dalam rumah itu gelap, karena tidak ada jendela di rumah itu dan tidak ada sinar lampu di dalam rumah, hanya ada sinar dari luar yang masuk lewat pintu yang baru sedikit terbuka. Sesaat kemudian muncul satu sosok perempuan setengah baya, dengan memakai baju hitam hitam atasan dan bawahan longgar, dan penutup kepala bukan sejenis kerudung atau hijab. Akan tetapi semacam kain yang dibalut balutkan untuk menutup kepalanya dan tampak menjulang agak tinggi balutan kain di kepalanya itu. Warna kain penutup kepala itu pun juga hitam.
“Selamat datang Lie... “ ucap perempuan itu dengan senyum lebarnya tampak di antara celah celah giginya ada warna coklat coklat agak merah karena pengaruh sirih pinang yang sering dia kunyah.
“Mamah Mimi... Aku sangat rindu pada Mamah Mimi dan akhirnya aku bisa lagi menginjakkan kakiku di rumah ini...” Ucap Nyonya Siu Lie sambil mempercepat jalannya lalu memeluk perempuan pemilik rumah itu yang tidak lain adalah Mamah Mimi teman yang dia bangga banggakan.
“Ayo, masuk ajak teman teman kamu itu masuk ke dalam. Aku akan memperlihatkan pada kalian semua.” Ucap Mamah Mimi langsung berjalan menuju ke dalam rumahnya dan terus menuju ke dalam ruangannya. Nyonya Siu Lie pun mengajak tiga laki laki itu untuk melangkah mengikuti dirinya.
Nyonya Siu Lie yang sudah pernah datang ke rumah itu hafal jalan menuju ke ruangan praktek Mamah Mimi, meskipun suasana di dalam rumah itu gelap hanya ada cahaya dari atas karena ada beberapa genting kaca di pasang di atas atap. Tidak banyak hanya mampu memberi sedikit cahaya.
Tiba tiba Tuan Njun Liong, Richie dan Sang Pengawal melonjak kaget saat melihat ada tengkorak semacam tengkorak manusia berada di dalam rumah itu apalagi suasana rumah itu gelap pas tidak ada genting kaca di atas.
“Lie!” teriak Tuan Njun Liong yang mulai ketakutan.
“Jangan takut Liong. Itu leluhur Mamah Mimi yang diawetkan untuk memberi kekuatan pada Mamah Mimi juga menjaga Mamah Mimi dan orang orang Mamah Mimi.” Ucap Nyonya Siu Lie dan terus saja berjalan menuju ke ruang Mamah Mimi. Tampak Tuan Njun Liong menggandeng lengan Nyonya Siu Lie erat erat.
“Datanglah mendekat!” suara Mamah Mimi tanpa menoleh ke arah pada mereka semua yang baru masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk bersila di atas tikar, wajah dan pandangan matanya menghadap pada satu buah bola kristal yang ada di depan nya.
Nyonya Siu Lie pun segera melangkah dan duduk bersila juga du depan Mamah Mimi. Nyonya Siu Lie juga melihat bola kristal itu. Tampak telapak tangan Mamah Mimi masih mengusap usap bola kristal itu. Tuan Njun Liong dan Richie pun duduk di samping kiri dan kanan Nyonya Siu Lie, sedangkan Sang Pengawal Tuan Njun Liong duduk di belakang Tuan Njun Liong. Sesaat mata Richie menatap di belakang tempat duduk Mamah Mimi ada banyak boneka boneka kecil kecil yang terbuat dari kain. Richie begidik ngeri melihatnya.
“Hmmm kenapa sekarang susah aku melihat mereka.” Gumam Mamah Mimi yang masih terus mengusap usap bola kristalnya.
“Siapa Mah?” tanya Nyonya Siu Lie. Tuan Njun Liong dan Richie yang juga penasaran pun menunggu jawaban dari mulut Mamah Mimi. Tampak Mamah Mimi belum juga menjawab akan tetapi mulutnya masih komat kamit membaca mantra dan kedua telapak tangannya masih mengusap usap bola kristalnya.
“Hmmm saat ada angin badai besar di lautan pulau keramat itu aku penasaran dan aku mencoba melihat apa yang terjadi lewat bola kristalku ini.” Ucap Mamah Mimi sambil menatap wajah Nyonya Siu Lie. Tuan Njun Liong yang mendengar ucapan Mamah Mimi pun mempertajam pendengarannya termasuk juga Richie.
“Terus apa yang terlihat Mamah?” tanya Tuan Njun Liong yang tidak sabar untuk mengerti apa yang menyebabkan kapalnya tenggelam.
“Hmmm aku melihat ada dua anak kecil yang bermain main dan itu yang menyebabkan hujan badai yang sangat hebat. Aku pikir kini penunggu pulau itu menggunakan tubuh kedua bocah itu.” Ucap Mamah Mimi dengan nada serius sambil menatap wajah keempat orang tamunya itu.
“Dua bocah? Apa mereka bocah kembar perempuan?” tanya Richie yang ingat akan dua bocah anak Alexandria target penculikan nya.
“Hah? Kenapa Tuan juga tahu, apa Tuan juga para normal?” jawab Mamah Mimi malah balik bertanya pada Richie dengan menatap tajam ke arah Richie. Richie yang ditatap tajam oleh Mamah Mimi menjadi ketakutan.
“Bukan Mamah.. Saya bukan seorang para normal.. Saya hanya mengira ngira saja karena pemilik pulau itu kan mempunyai dua anak dan anak mereka kembar perempuan.” Ucap Richie dengan suara pelan sambil menunduk karena tatapan tajam dari Mamah Mimi bagai membunuh dirinya.
“Dia bukan para normal Mamah, tapi ab normal. Coba lihatkan pada saya dua bocah itu. Saya penasaran seperti apa wujud bocah yang sudah bisa menggagalkan rencana saya. Menghancurkan separo kekuatan saya.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap Mamah Mimi.